
Rani tiba-tiba muncul di ruang tamu dengan membawa minuman dan makanan.
"Ngomong apa saja, sih? Kayaknya serius sekali?" tanya Rani kemudian memecah konsentrasi mereka berdua.
"Nggak ada kok, Ren. Kami berdua barusan mengobrol ringan sambil menunggu kamu sibuk di dapur. Sekali lagi aku mohon maaf ya, Ren, karena kedatanganku ke sini malah bikin kamu repot," jawab Damar dengan sopan.
"Cuma minuman sama makanan ringan saja, kok! Coba kamu cicipi bolunya. Itu asli produk khas sini."
"Oh ya? Aku sudah nggak pernah makan kue kayak gini, Ren. Terakhir makan pas-"
Damar berusaha mengingat-ingat waktu terakhir dia makan kue bolu tersebut.
"Jangan bilang pas SMP, ya? Itu kan aku yang bawa dari rumah," potong Rani.
"Kayaknya iya, deh. Waktu SMP itu. Seingatku waktu itu di ruang musik sudah ada kue ini. Kebetulan aku lapar, langsung saja aku comot. Lah kok enak, ya aku ambil lagi beberapa potong dari dalam kantong plastik," cerita Damar mengenang masa SMP-nya.
"Pantas saja, teman-teman ada yang nggak kebagian waktu itu dan komplain ke aku. Ternyata kamu yang menghabiskannya. Yah, nggak apa-apa deh!"
"Habisnya enak banget. Itu buat sendiri apa beli, sih?" tanya Damar sambil mengalihkan arah pembicaraan ibunya Rani tadi yang mengarah ke status Damar sekarang. Jujur, Damar malu mengatakan statusnya saat itu.
"Kalau yang ini pastinya beli, Mar. Tapi, kalau yang sering aku bawa ke sekolah waktu masih SMP itu asli buatan ibu saya. Dulu sewaktu masih sehat, ibuku ini memproduksi kue bolu untuk membiayai sekolahku. Maklumlah, Mar. Aku kan sudah lama ditinggal mati oleh ayah sejak masuk SMP."
"Oooo ... Kamu kok nggak cerita waktu itu kalau kamu anak yatim? Kayaknya anak musik nggak ada yang tahu deh."
"Emangnya kalau tahu mau diapain? Kamu mau bayarin biaya sekolahku?"
"Ya, nggak gitu, Ren. Kan, bisa diajukan beasiswa ke pihak sekolah?"
"Nggak mungkin dapat, Mar."
"Kok, bisa gitu? Banyak loh anak-anak yatim setahuku yang mendapat beasiswa waktu itu? Apalagi waktu itu kamu aktif mewakili sekolah untuk lomba, kan?"
__ADS_1
"Nih, tanya ibuku. Dia bisa jelasin ke kamu!"
Ibunya Rani menatap sedih ke arah Rani.
"Adiknya almarhum papanya Reni ini bekerja di sekolah itu juga. Ia menduduki posisi penting saat itu. Kebetulan, bibinya Reni nggak suka dengan Reni dan ibu. Pernah ibu mau ngajuin beasiswa untuk Reni ke sekolah, tapi bibinya Reni malah mengolok-olok ibu. Katanya ibu ini sok kaya berani-beraninya menyekolahkan Reni di SMP itu. Kalau nggak kuat membiayai kenapa nggak disekolahkan di sekolah lain saja. Ibu malu untuk mengajukan keringanan atau beasiswa lagi sejak saat itu," tutur ibunya Rani sambil mengusap air matanya.
Rani mengusap air mata ibunya dengan menggunakan tisu yang diambilnya di meja.
"Sudah. Nggak usah dipikirkan lagi, Bu. Toh sekarang kita sudah tinggal berdekatan lagi dengan mereka."
"Maaf ya, Ren ... Bu ... kalau pertanyaanku barusan membuat Ibu bersedih?"
"Nggak apa-apa, Nak Damar."
"Oh ya, kalau boleh tahu Ibu sakit sejak kapan?" tanya Damar.
"Sudah agak lama, Mar. Sekitar lima tahun yang lalu. Waktu itu aku dan ibu masih tinggal bersebelahan dengan bibi. Aku kan ditawari job oleh Pak Heru untuk bergabung di group musik Dangdut Alaska. Ya, aku dan ibu seneng banget lah. Secara group musik tersebut cukup terkenal di kampung-kampung waktu itu. Nah, untuk job pertama kebetulan aku harus ke luar kota selama seminggu. Saat itu bu sedang sakit. Aku sudah bilang ke ibuku tentang hal itu. Aku bilang ke ibu, kalau ibu nggak ngijinin, ya aku nggak berangkat nggak apa-apa. Tapi, ibu memberi ijin kepadaku untuk berangkat. Ya,aku berangkat, dong. Tapi, aku sudah nitip ibu ke salah satu tetangga yang kebetulan baik hubungannya dengan keluargaku. Nah, setelah Pak Heru melihat penampilanku di show tersebut, beliau tertarik untuk mengontrakku secara tetap di group musik Alaska. Aku senang sekali menerima kontrak tersebut. Aku pulang naik bus dengan membawa uang dan kontrak tersebut dengan perasaan senang dan ingin segera menunjukkannya kepada ibuku. Ealah, pas sampai di rumah, bukannya memberi kejutan malah aku yang terkejut karena melihat ibuku sudah terbaring tidak berdaya karena serangan stroke. Pokoknya saat itu aku benar-benar syok melihat keadaan ibuku, Mar. Ada perasaan menyesal kenapa aku harus berangkat ke kota meninggalkan ibuku yang sedang tidak enak badan. Saat itu aku juga diomeli oleh bibiku katanya aku ini anak tidak berbakti dan sebagainya. Padahal, kata ibuku, omongan bibi itu satu-satunya yang membuat ibu terkena serangan stroke."
Rani menarik napas dalam-dalam dan menyeka air matanya menggunakan tisu.
"Sewaktu aku di kota. Bibi itu sering datang ke ibu dan bercerita yang enggak-enggak tentang aku. Katanya, aku ke kota itu bukan untuk jadi penyanyi, tapi jadi perempan nggak bener. Katanya aku ini jadi simpanan bos group musiknya, dan sebagainya pokoknya sampai ibu ini mikir dan drop."
"Loh, kan bisa nelpon utuk nanyain kabar kamu?"
"Aku belum punya handphone waktu itu, Mar. Keluarga dan tetanggaku juga nggak ada yang punya handphone. Namanya juga tinggal di kampung."
"Bibimu aneh ya, Ren?"
"Itulah kenapa akhirnya sambil ngumpulin uang dikit-dikit dari hasil manggung, aku pun membuat rumah di tanah ibuku ini. Yah, meskipun sederhana yang penting hidup kami lebih tenang di sini. Kasihan ibuku juga kalau tinggal di rumah warisan bapak. Jiwanya pasti tertekan. Terutama kalau pas aku tinggal manggung agak lama."
"Yah. Langkahmu sudah tepat, Ren Meskipun akhirnya kamu harus meninggalkan keluarga bapakmu."
__ADS_1
"Sekarang itu sudah lumrah, saudara jadi teman dan teman jadi saudara, Mar."
"Tapi, kayaknya ibu sekarang agak segeran, ya, dibanding yang kamu ceritakan barusan."
"Iya memang, Mar. Dulu, seluruh badan ibu ini nggak bisa digerakkan. Setelah ditelateni menjalani pengobatan dokter dan terapi., alhamdulillah tangannya sudh bisa digerakkan secara normal. Cuma kakinya saja yang belum berfungsi dengan baik. Makanya suda bisa naik kursi roda sekitar tiga tahunan ini. Hanya saja, sudah setahun ini ibu harus menjalani pengobatan paru-paru. Obatnya nggak boleh terlambat kalau yang ini. Ini ang kadang bikin aku kepikiran kalau harus ada job manggung di luar kota."
"Ibu loh nggak apa-apa, Nak Damar. Justeru ibu itu kepikiran sama Reni kalau pergi ke luar kota atau berangkat kerja malam-malam. Ibu keburu anak ibu ini punya pasangan. Biar ada yang menemani dia ke mana-mana. Dan ibu nggak khawatir lagi dengan keselamatannya."
"Ngomong apaan sih Ibu ini?" protes Rani sambil melirik ke arah ibunya.
"Ibu ngomong serius, Ren. Ntar kalau kamu sudah punya anak, pasti kamu mengerti bagaimana kepikirannya seorang ibu kalau anak peremuanya pergi malam-malam atau pergi jauh."
"Kan, Reni bisa naik ojek online, Bu. Dan di tempat manggung biasanya sudah ada panitia yang menjaga Reni?"
"Iya kalau ojek onlinenya sudah ibu kenal kayak Nak Damar ini nggak apa-apa. Kalau orang lain ibu tetap kepikiran. Ntar kamu diapa-apain kayak di TV itu, gimana?"
"Ya nggak bisa, Bu. Namanya ojek online ya sesuai aplikasinya. Damar juga nggak mungkin hanya kerja nganterin aku saja. Dia pasti ada pelanggan yang lain."
"Hm ... Nak Damar bisa nggak nganterin Reni ke tempat Reni manggung? Nak Damar dan Reni tinggalnya di kota yang sama kan?"
"Bu ... Kok ngomong gitu, sih? Kasihan Damar lah!" protes Rani.
"Kamu diam saja, Ren! Biar ibu yang minta tolong sendiri ke Nak Damar. Tolong ya, Nak. Ibu kepikiran sekali kalau bukan Nak Damar yang mengantar Reni?"
Rani malu sekali mendengar permintaan ibunya kepada Damar. Sedangkan Damar santai saja mendapat permintaan itu. Ia tersenyum kepada ibunya Rani. Baginya, itu bukanlah permintaan yang sulit untuk dituruti dari perempuan tua yang sedang sakit.
"Iya, Bu. Saya bersedia ..."
BERSAMBUNG
Jangan lupa like dan komentarnya, ya? Untuk mensupport novel ini biar bisa update rutin.
__ADS_1