SUAMI RAHASIA PENYANYI DANGDUT

SUAMI RAHASIA PENYANYI DANGDUT
TRANSFUSI


__ADS_3

Damar langsung berangkat saat itu juga ke rumah sakit. Ia hanya membawa barang-barang yang penting saja ke sana. Sesampai di rumah sakit ternyata kedua temannya sudah berada lebih dahulu di bagian informasi. Mereka bertiga pun langsung diarahkan ke Lab  untuk melakukan pengecekan darah mereka. Selain mereka bertiga juga ada beberapa orang yang antre di Lab untuk melakukan pengujian darah mereka.


“Damar, mantan mertuamu memang orang berduit, ya? Coba kamu lihat orang-orang itu rela antri untuk mendonorkan darah mereka kepada anakmu. Pasti mereka semua menginginkan hadiah dari mantan mertuamu itu,” ujar Yuda dengan sedikit berbisik.


“Hus … Kamu jangan ngomong begitu, Yud! Tidak semua yang akan mendonorkan darahnya itu punya niatan seperti itu. Pasti ada di antara mereka yang tulus untuk membantu menyelamatkan nyawa Arya. Iya kan, Bro?” sela Bagas.


“Untuk saat ini aku hanya bisa berharap Arya segera mendapatkan donor yang cocok,” sahut Damar dengan wajah sedih.


Setelah menunggu selama satu jam, tibalah giliran Damar dan Yuda untuk dicek darahnya. Mereka masuk ke ruangan khusus untuk pengambilan sampel darah. Bagas tetap menunggu di luar karena golongan darahnya B, tidak sama dengan Arya. Ia menunggu kedatangan kedua temannya di ruang depan. Kurang lebih lima belas menit Bagas menunggu di sana sebelum akhirnya Yuda dan Damar keluar dari ruangan khusus tadi.


Setelah melakukan pengambilan sampel darah mereka, ketiga orang itu tidak buru-buru pergi karena mereka diminta oleh petugas medis untuk menunggu hasil tes darah mereka selama beberapa waktu bersama calon pendonor yang lain. Dan sesuatu di luar dugaan terjadi karena di antara para calon pendonor itu, darah Damar lah yang cocok untuk didonorkan kepada Arya.


“Alhamdulillah ….” Damar memekik bahagia karena mendengar berita tersebut.


“Monggo, Pak Damar! Kita langsung laksanakan proses pendonoran darahnya sekarang!” ajak salah seorang tenaga medis yang bertugas di sana.


Bagas dan Yuda mendampingi Damar menuju ke suatu ruangan yang telah disiapkan oleh dokter. Sayangnya, kedua temannya itu hanya boleh mengantar sampai di depan ruangan. Hanya tenaga medis yang boleh masuk ke dalam.


“Semoga sukses ya, Bro!” ucap Yuda dengan sedikit meninggikan suaranya.


“Aamiiin …,” jawab Damar.


Selanjutnya dokter pun mulai mengambil darah Damar untuk didonorkan kepada Arya yang kondisinya sangat lemah. Sambil memperhatikantetes demi tetes darahnya yang disedot ke dalam tabung darah, Damar teringat terus dengan tawa Arya. Matanya sembap begitu mengingat momen-momen kelucuan anaknya itu.


“Arya … Kamu harus sembuh. Kamu harus kuat!” ucap Damar di dalam hati.


Setelah selesai proses transfusi darah, Damar diberikan makanan dan minuman sehat oleh tim medis. Bagas dan Yuda pun sudah diperkenankan untuk masuk ke dalam ruangan menemani Damar.


“Dok, saya boleh keluar sekarang?” tanya Damar pada salah satu petugas medis.


“Hm … Apa Bapak tidak merasa pusing atau mual?” tanya petugas tersebut.


“Tidak, Dok. Saya baik-baik saja. Kalau saya tetap di sini malah saya nggak bisa tidur, Dok,” kilah Damar.


“Ya sudah. Kalau Bapak yakin baik-baik saja. Setelah ini Bapak boleh pulang, tapi saya cek dulu tensi Bapak,” sahut dokter.


“Silakan, Dok!”


Dokter pun mulai mengukur tensi dan detak jantung pria tersebut. Ketiga orang itu menunggu apa yang akan diucapkan oleh dokter tersebut.


“Oke … Kondisi fisik Bapak ternyata memang prima. Sekarang Bapak boleh pulang. Sekali lagi saya mau mengucapkan terima kasih kepada Bapak karena telah menyelamatkan Balita itu.”

__ADS_1


“Bearti kondisi Arya sudah membaik, Dok?” Damar menyeru dengan bahagia.


“Alhamdulillah … anak lucu itu sudah terbebas dari masa kritisnya. Sekarang tim medis sedang berkonsentrasi untuk memulihkan kondisi fisiknya.” Dokter berkata sambil melempar senyuman pada mereka bertiga.


“Alhamdulillah … Makasih banyak ya, Dok. Makasih banyak!” Damar sampai mencium tangan dokter itu saking gembiranya.


Dokter yang tidak tahu kalau Damar adalah ayahnya Arya pun kebingungan melihat reaksi pendonor itu.


“Pak, jangan lupa bawa bukti donor darah ini kepada kakek Balita tersebut. Mereka sekarang berada di ruangan Seroja 1. Kakek Balita tersebut sepertinya ingin memberikan ucapak terima kasih kepada Pak Damar.”


“Tidak, Dok. Saya tidak membutuhkan itu. Saya hanya ingin melihat Arya sembuh, Dok.”


“Bro, ambil!”


“Sikat, Bro! Kamu butuh dana untuk membangun rumahmu. Kalau kamu tidak mau, biar kami berdua yang akan memintanya pada Tuan hisyam.”


Kedua teman Damar mengompori temannya itu untuk mengambil hadiah dari Tuan Hisyam. Awalnya mereka terus memaksa, tapi setelah dipelototi oleh Damar, mereka pun paham dan menolaknya. Damar dan kedua temannya pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.


“Ke mana kita sekarang, Mar?” tanya Yuda.


“Aku mau bertemu dengan Arya.” Damar menjawab dengan serius.


“Kamu yakin, Mar? Bagaimana kalau ada mantan mertua dan mantan istrimu di sana?” protes Bagas.


Mereka bertiga pun mencari ruangan Seroja 1 di rumah sakit tersebut. Setelah berputar-putar selama kurang lebih lima belas menit, akhirnya mereka pun sampai di depan ruangan yang dituju.


Kamar Seroja satu adalah salah satu ruang perawatan termewah di rumah sakit tersebut. Setelah bebas dari masa kritisnya, Arya dipindahkan ke ruangan tersebut. Di dalam sana Arya sedang dikelilingi oleh kakek, nenek, dan ibu kandungnya. Di kasurnya ada mainan terbaru yang sengaja dibeli oleh Tuan Hisyam untuk menghibur Arya. Suara celoteh keluarga yang sedang menghibur Arya terdengar sampai ke luar kamar di mana Damar berdiri di balik pintu dengan ditemani kedua temannya.


“Mar, kamu yakin akan menemui Arya sekarang?” tanya Yuda yang tidak tega kalau sahabatnya itu diusir kembali oleh keluarga mantan istrinya.


“Entahlah, Yud. Aku kangen sekali dengan anakku itu.” Damar  kembali meneteskan air matanya.


“Mar, kondisi Arya sekarang sudah stabil. Aku khawatir kalau kamu masuk ke dalam, psikologis Arya akan kembali terganggu.” Bagas menimpali.


Kembali Damar menitikkan air matanya. Ia menimbang-nimbang ucapan kedua temannya. Setelah itu ia pun menyadari bahwa sebaiknya ia tidak masuk ke dalam untuk bertemu dengan Arya. Bagas dan Yuda menepuk pundak Damar untuk memberikan support pada pria itu.


Baru saja tiga langkah mereka meninggalkan pintu kamar Seroja 1, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seorang wanita dari belakang.


“Damar! Apa yang kamu lakukan di sini?” tegur Siska dengan suara sedikt berteriak.


“S-siska ….” Damar terkejut dengan kemunculan Siska yang mendadak itu.

__ADS_1


“Kamu tidak perlu datang menemui Arya lagi. Dia itu bukan anakmu!” ucap perempuan itu lagi dengan suara ketus.


Tentu saja Yuda dan Bagas terkejut dengan ucapan Siska tersebut.


“A-aku hanya ingin melihat keadaan Arya, Sis …,” jawab Damar dengan terbata-bata.


“Tidak perlu! Kedatanganmu justeru akan mengganggunya. Kamu pergi saja yang jauh!” bentak Siska lagi.


Rupanya suara bentakan Siska terdengar sampai ke dalam ruangan.


“Kek … Mamma ama pa-pa?” Arya berkata dengan nada yang tidak jelas.


“Bukan, Arya! Itu mama lagi ngobrol sama dokter. Kamu istirahat dulu saja ya? Biar kakek lihat ke sana,” sahut Tuan Hisyam sambil melangkah pergi.


Nyonya Tiara yang menyadari kedatangan Damar pun berusaha untuk mengalihkan perhatian Arya.


“Da-mar? Apa yang kamu lakukan di sini?” tegur Tuan Hisyam dengan suara sedikit meninggi


“Damar mau mengganggu istirahat Arya, Pa. Saya mencoba mengusirnya,” sahut Siska dengan nada ketus.


Yuda dan Bagas sampai geregetan dengan sikap keluarga mantan istri sahabatnya itu.


“Eh, Dok! Ketiga orang ini moon disuruh pergi! Mereka mau mengganggu istirahat cucu saya,” ucap Tuan Hisyam ketika melihat ada dokter yang baru keluar dari ruangan sebelah.


Dokter yang mereka panggil langsung menghampiri mereka.


“Ada apa, Pak? Loh, Pak Damar kok ada di sini? Katanya mau pulang habis donor?” sapa dokter tersebut pada Damar.


“Donor? Maksudnya apa, Dok?” Tuan Hisyam memotong omongan dokter tersebut.


“Iya Pak. Bapak Damar ini adalah orang yang darahnya paling cocok dengan Arya dan berkat Pak Damar inilah Arya bisa selamat dari kondisi kritisnya,” jawab dokter tersebut dengan renyah.


Tuan Hisyam dan Siska pun tak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka sepertinya malu telah berusaha untuk mengusir orang yang telah menyelamatkan Arya.


“Dokter, kami sudah mau pulang sekarang.”


“Loh, bukti donornya masih ada sama saya, Pak. Apa Pak Damar beneran tidak mau mengambil hadiah yang sudah disiapkan Pak Hisyam?”


“Tidak, Dok. Terima kasih.”


Damar dan kedua temannya pun pergi meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


“Beruntung Tuhan mengirimkan orang yang baik untuk membantu Arya, Pak Hisyam. Jarang loh orang baik seperti itu di jaman sekarang.” Dokter memuji kebaikan Damar di depan Tuan Hisyam dan Siska yang masih tercengang dengan apa yang sudah mereka lakukan barusan.


BERSAMBUNG


__ADS_2