
Reno langsung merengkuh bagian depan baju Damar sembari berkata.
“Hei, Driver sialan! Kenapa kemarin kamu tiba-tiba menendang perutku?” teriak Reno masih menyimpan amarahnya.
“Maaf, Mas. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya berusaha melindungi customer saya.” Damar menjawab dengan berusaha tetap tenang meskipun posisinya saat itu tidak nyaman. Terlebih Jack sahabat Reno sudah berdiri juga di depannya.
“Maaf kamu bilang! Sakitnya masih terasa sampai sekarang, tahu?”
“Sekali lagi saya mohon maaf. Saya benar-benar spontan saja waktu itu untuk melindungi customer saya.”
“Customer, kamu bilang? Terus, ngapain sekarang kamu ada di sini? Pasti kamu yang mengantar Rani, kan?”
“Ya. Ibunya Reni yang mengontrakku untuk menjadi driver tetap Reni,” jawab Damar kalem.
“Oooooo …. Hebat kamu, ya? Begitu kamu bilang hanya membela customer? Jangan-Jangan kamu suka sama Rani, ya? Apa benar begitu?”
“Hubungan kami berdua hanya sebatas formalitas sebagai driver dan penumpang. Tidak lebih dari itu!”
“Mbacot kamu, ya? Rasain ini!”
Buk!
Sebuah pukulan telak tiba-tiba dilayangkan oleh Jack ke arah wajah Damar.
“Apa yang kamu lakukan, Jack?” pekik Reno terkejut dengan perbuatan sahabatnya itu.
Tentu saja Damar tidak terima dengan perlakuan sahabat Reno itu. Setelah merasakan sakit di bagian wajahnya, pria itu pun berusaha untuk melepaskan diri dari Reno dan berniat untuk membalas pukulan Jack.
__ADS_1
“Hei hei hei …”
Orang-Orang yang berada di sekitar mereka tentu saja langsung memusatkan perhatian pada ketiga pemuda itu. Damar dengan penuh emosi berusaha untuk menyerang Jack secara membabi buta. Awalnya Jack masih berusaha menangkis serangan pemuda itu. Namun, semakin lama serangan Damar semakin brutal saja. Memaksa Reno pun turu tangan untuk mengamankan Jack dari serangan Damar. Namun, Damar yang kalap karena dipukul dalam keadaan tidak siap oleh Jack itu pun menjadi kalap dan serangannya pun semakin membabi buta dan sulit untuk dilawan oleh kedua pemuda itu.
Pada saat keadaan semakin kritis itu lah, Reno berteriak minta tolong kepada orang-orang di sekitar tempat itu untuk membantu menghalangi serangan Damar. Penampilan Reno yang terlihat seperti orang berada itu membuat orang-orang di tempat itu yang semula hanya menjadi penonton pun mulai ada yang membantu Reno untuk memegangi Damar yang sedang mengamuk. Yah, begitulah kebanyakan orang di negeri ini memang masih menilai seseorang dari penampilan saja. Damar yang hanya memakai pakaian driver Ojol tentu saja dipandang sebelah mata dibandingkan dengan Reno dan Jack yang berpakaian rapi dan parlente. Meskipun secara fisik sebenarnya Damar tidak kalah dari mereka berdua.
“Lepaskan saya! Lepaskan saya! Biar saya hajar sialan itu!” protes Damar karena dipegangi oleh beberapa orang di tempat itu.
“Jangan membuat keributan di sini! Nggak usah sok jagoan di sini!” teriak salah seorang dari orang-orang yang ikut memegangi Damar.
“Dia yang mukul saya duluan, Pak!” teriak Damar dengan emosi.
“Sudah! Nggak usah banyak ngomong! Apa kamu mau dikeroyok orang sekampung?” balas orang yang lain.
Sementara itu Reno dan Jack tentu saja tidak ada yang berusaha memegangi karena mereka terlihat lebih tenang dan tidak ada upaya untuk menyerang.
Damar saat itu sebenarnya masih sangat marah kepada Jack. Namun, ia sadar posisinya saat itu sangat tidak memungkinkan. Bisa-Bisa kalau ia terus-terusan emosi, ia bisa dikeroyok warga kampung. Dan ia tidak mau mati konyol karenanya.
Reno dan Jack yang sebenarnya saat itu sedang ketakutan terhadap Damar pun buru-buru berjalan menuju mobil mereka untuk pergi dari tempat itu. Damar yang masih dipegangi oleh beberap warga kampung pun menatap ke arah Reno dan jack dengan tatapan penuh dendam.
Setelah kedua orang itu pergi cukup lama, warga kampung pun mulai melepaskan pegangan mereka terhadap Damar.
“Jangan diulangi lagi, ya! Jangan membuat keributan di sini! Warga di sini sedang menikmati hiburan. Kalau mau joget ya joget saja nggak usah sok main berkelahi!” ucap salah satu dari mereka.
Tentu saja Damar hanya diam tidak menyahut. Ia kemudian duduk di kursi panjang yang ia duduki semula. Ia benar-benar kesal kepada warga kampung tersebut yang tidak tahu menahu awal pula pertikaiannya dengan Jack, tap langsung menyimpulkan kalau dia yang bersalah. Tapi ada satu hal yang membuat ia merasa cukup geli ketika orang-orang itu mengiranya bertikai karena berjoget dangdut.
“Anti banget aku dengan musik kebanggaan kalian itu!” ucap Damar di dalam hatinya.
__ADS_1
“Aduh! Sakit banget!” pekik Damar tanpa bisa ditahan sambil memegangi bibirnya yang akibat ditonjok Jack.
“Mas, dikompres pakai air hangat, ya?” Bapak-Bapak pemilik warung menawarkan.
“Iya, Pak. Terima kasih.”
Pemilik warung menyodorkan bak kecil berisi air hangat kuku dan kain untuk digunakan oleh Damar mengkompres wajahnya.
“Tadi itu temannya ya, Mas? Pasti rebutan cewek, ya?” tanya pemilik warung.
“Bukan, Pak! Saya tidak kenal mereka.”
“Kalau tidak kenal kok sampai bertengkar begitu?”
“Ada salah paham di antara kami sebelumnya. Tadi sampean ke mana, Pak? Tahu nggak saya hampir dikeroyok orang satu kampung. Coba ada Bapak pasti ada yang belain saya.”
“Lah, saya tadi pulang dulu sebentar untuk ambil piring, Mas.”
“Ya sudah. Semua sudah terlanjur. Ntar biar saya kasih pelajaran bua mereka.”
“Loh kok masih berlanjut, Mas?”
“Gimana nggak berlanjut? Lihat bibir saya sampai jontor begini?”
Pemilik warung hanya bisa diam. Di dalam hatinya hanya berpikir, “Dasar anak muda!”
Damar masih bertahan di tempat itu sambil menahan rasa sakit di wajahnya. Hentakan musik dangdut yang menggema di tempat itu meskipun lokasinya agak jauh dari lokasi, tapi suaranya masih lantang terdengar di tempat itu. Tentu saja Damar yang tidak menyukai musik dangdut pun menjadi semakin merasa linu di wajahnya. Tapi, ia menahan rasa itu semua dan tetap berada di tempat itu karena ia sedang menunggu Reni sesuai janjinya kepada ibunya Reni. Entah ia sulit mendefinisikan perasaannya saat itu, apakah ia melindungi Reni karena perempuan itu adalah teman SMP-nya, ataukah ia ingin melindungi Reni karena Reni sedang berada di dalam bahaya, atau ada alasan lain yang tidak bisa dilukiskan oleh Damar tentang perasaannya kepada perempuan itu. Namun, pemuda itu tentu saja hanya beralasan bahwa saat ini Reni adalah customernya yang harus ia layani dengan sangat baik karena itu adalah sumber penghasilannya sebagai driver ojek daring.
__ADS_1
“Mari kita sambut penampilan paling atraktif dari artis yang sudah kita tunggu-tunggu kehadirannya! Inilah Rani Alaska!” suara MC yang sedang membawakan acara membuat hati Damar tergelitik untuk mendekat ke arah pentas.
BERSAMBUNG