
Pagi hari sebelum berangkat kerja, Damar dicegat oleh Bu Inggrid. Perempuan itu lari dari rumahnya ketika Damar mengeluarkan motornya dari dalam kamar.
“Mas Damar … Tunggu!”
“Ada apa Miss?”
Bu Inggrid mengatur napasnya yang terengah karena hampir habis.
“Anu, Mas … Kemarin itu mantan istri Mas Damar, ya?”
“Nggak usah bahas itu lagi, Miss. Saya lagi banyak pikiran.” Damar tidak begitu menghiraukan omongan Bu Inggrid.
“Maafkan saya, Mas Damar. Tapi, kalau boleh tahu laki-laki yang bersama dengan perempuan itu kekasih barunya perempuan itu, ya?” Bu Inggrid masih terus memaksa untuk membicarakan Siska.
“Sekali lagi saya sampaikan kepada Miss Inggrid. Itu bukan urusan Miss Inggrid. Jadi, Miss Inggrid nggak usah ikut-ikut urusan orang!” Damar bebicara dengan cukup keras karena sudah tahan dengan tingkah perempuan itu.
“Saya minta maaf kepada Mas Damar kalau saya datang pada saat yang kurang tepat, tapi saya ingin-“
“Sudah … Sudah … Sekarang saya mau kerja. Lebih baik Miss Inggrid pulang dan urus saja pekerjaan di rumah!” jawab Damar sambil menstarter motornya meninggalkan perempuan itu.
*
Sementara itu Bagas dan Yudha sedang membicarakan tentang banyaknya netizen yang memberikan like dan komentar positif atas video yang diunggah oleh Bagas ke akun sosial medianya.
“Wah, keren banget Damar, ya? Padahal kamu ngerekamnya dari belakang, tapi banyak yang suka. Bagaimana kalau direkam dari depan, pasti tambah banyak yang suka.”
“Ya … lumayan lah pengikutku bertambah banyak sekarang. He he he …”
“Hm … Gimana kalau ntar kita sampaikan berita baik ini kepada Damar. Siapa tahu dia mau direkam dari depan?”
“Ide yang bagus itu, Bro”
Beberapa menit kemudian Damar pun datang dengan wajah kusut. Bagas yang sejak tadi ingin menyampaikan tentang banyaknya penonton video temannya itudi sosial media pun langsung nyerocos berbicara kepada Damar.
“Bro, kamu lihat ini! Di sini ada-“
“Stop! Pikiranku sekarang lagi nggak enak. Nggak usah menunjukkan hal aneh kepadaku. Ku mau fokus kerja saja.”
__ADS_1
Yudha pun memberi kode kepada Bagas untuk tidak melanjutkan niat awal mereka untuk membicarakan video itu kepada Damar. Karena ia tahu karakter Damar kalau sudah suntuk, malah tambah emosi ke belakangnya kalau tidak dituruti.
“Gimana kabar Reni, Bro?” sapa Yudha.
“Entahlah! Sejak semalam dia masih belum mengirim kabar apa-apa.”
“Kamu nggak nyoba WA dia duluan? Siapa tahu dia sedang butuh sesuatu. Atau hari ini kamu mau ke sana lagi?”
“Enggak. Aku nunggu kabar dari dia saja. Barangkali dia sedang menenangkan diri setelah musibah itu.”
“Oke …”
Setelah itu mereka tidak berbicara lagi. Mereka bertiga fokus pada orderan masing-masing.
*
Dua hari kemudian papanya Reno meminta alamat Reni. Dan perempuan itu tidak dapat mengelak lagi. Ayahnya Reno pun mengajak Reno pergi ke rumah Reni. Tak lupa mereka juga membawa beberapa kotak makanan and oleh-oleh untuk keluarga Reni. Pikir ayahnya Reno, kedatangan mereka untuk melamar Reni akan menjadi kejutan besar untuk Reni.
“Assalamualaikum …”
“Waalaikumsalam …”
“Si-Silakan masuk, Pak … Bu …” ucap Reni sambil bersalaman dengan mereka bertiga.
“Mana ibumu, Rani? Kami ada perlu dengan ibumu,” ucap mamanya Reno.
“A-Ada, Bu … Sebentar saya panggilkan. Monggo silakan duduk!”
Mereka bertiga pun duduk di kursi yang sederhana itu. Di hati kecil mama dan papanya Reno sebenarnya agak kecewa juga dengan pilihan Reno. Kenapa anak mereka tidak memilih orang yang ekonominya sederajat dengan mereka untuk dijadikan istri. Tapi, mau bagaimana lagi? Reno sudah memilih Reni untuk dijadikan istri.
Reni mengeluarkan ibunya dari kamar dengan menggunakan kursi roda untuk bertemu dengan ketiga tamunya. Setelah memperkenalkan masing-masing dari mereka, Reni masuk ke dalam kamar untuk membuatkan minuman untuk para tamunya. Sedangkan kedua orang tua Reni berbicara serius dengan ibunya Reni.
Setelah selesai membuat minuman untuk mereka semuanya, Reni bergegas membawakan minuman itu ke depan. Setelah itu papanya Reno berkata.
“Rani, barusan kami sudah ngomong tujuan kami datang ke sini kepada ibumu.”
“Loh, bukankah tujuan Bapak ke sini untuk tanda tangan kontrak saya dengan label?”
__ADS_1
“Ren, barusan bapak dan ibunya Nak Reno ini bilang kepada ibu bahwa kedatangan mereka ke sini untuk melamar kamu untu dijadikan istri oleh Nak Reno. Mengenai kontrak rekaman itu akan menjadi salah satu mas kawin pernikahan kalian nanti. Ibu sih memasrahkan semua keputusannya kepada kamu. Karena yang akan menjalaninya nanti kamu sendiri. Bagaimana pendapatmu, Ren?”
Reni tercengang dengan apa yang sedang ia hadapi di depannya saat ini. Pikirannya campur aduk. Belum selesai satu masalah sudah bertambah dengan masalah yang lain.
“Bagaimana, Rani?” Mamanya Reno bertanya kepada Reni.
Reno menunggu jawaban Reni dengan penuh kecemasan. Begitu pula dengan kedua orang tua pemuda itu. Mereka sangat yakin Reni pasti akan menerima lamaran Reno.
“Bagaimana, Nak?” Ibunya Reni mengulangi pertanyaannya.
Reni mengatur ada bicaranya dengan sangat apik.
“Pak … Bu … Reno … Terima kasih atas bantuan kalian semua selama ini terutama pada karir saya. Saya juga berterima kasih karena kalian sudah menghargai saya dengan melamar saya sekarang. Tapi, saya mohon maaf saya tidak bisa menerima lamaran ini karena saya belum kepikiran ke arah sana.”
Papa dan mama Reno tercengang dengan jawaban Reni.
“Jadi, kamu menolak lamaran anak saya, Rani?” Mamanya Reno berkata dengan nada agak meninggi.
“Mohon maaf, Bu. Saya belum siap,” jawab Reni dengan sopan.
“Coba kamu pikirkan sekali lagi keputusanmu, Rani! Reno ini sayang sekali sama kamu. Kamu pasti akan bahagia hidup dengan Reno.” Ucap papanya Reno.
“Sekali lagi mohon maaf,Pak!” Reni berkata dengan kekeuh.
Saat itu Reno benar-benar malu karena ditolak mentah-mentah oleh Reni. Apalagi papa dan mamanya Reno.
“Bu, bagaimana anak ibu ini? Dia tidak ingat dengan pertolongan saya selama ini!” protes papanya Reno kepada ibunya Reni.
“Mohon maaf, Pak. Saya sebagai ibunya tidak bisa berbuat banyak. Sekali lagi saya mohon maaf atas kekurangsopanan anak saya.” Ibunya Reni mau bersujud kepada papanya Reno.
“Sudah! Rani, mulai hari ini kamu saya pecat dari group orkes saya! Saya mau lihat jadi apa kamu tanpa pertolongan saya!” teriak bapaknya Reno sambil berdiri diikuti oleh istri dan anaknya.
“Maafkan saya, Pak! Saya tidak bermaksud seperti itu. Tolong jangan pecat saya, Pak!” Reni memohon kepada atasannya.
“Reno! Bawa kembali kado-kado ini! Kita pergi dari sini dan lupakan perempuan tidak tahu diri itu!” teriak mamany Reno.
Reno hanya bisa menuruti perintah mamanya. Di dalam hatinya, ia masih sayang sekali dengan Reni. Makanya ketika membawa kotak-kotak itu ke dalam mobil, ia masih sempat-sempatnya meminta maaf kepada Reni dan ibunya.
__ADS_1
Reni dan ibunya menangis dan meminta maaf kepada papanya Reno dan berharap ia mencabut perkataannya tentang pekerjaanya sebagai penyanyi di group orkes ayahnya Reno, tapi permintaanmaafnya tidak digubris oleh kedua orang tua Reno yang merasa terhina atas penolakan Reni. Mereka membanting pintu mobil saat pergi sebagai ekspresi rasa marah mereka.
BERSAMBUNG