
Karena Dave dalam kondisi mabuk, Siska akhirnya yang harus menyetir. Siska pun harus berkonsentrasi tinggi selama menyetir karena dia juga merasa sedikit pusing setelah menenggak sedikit wine untuk menghormati teman-temannya yang datang ke pesta. Semenjak hamil Arya, Siska memang sudah lama tidak minum karena Damar selalu melarangnya dan menakutinya tentang bahaya keguguran. Meskipun ketika selesai lahiran, ia sudah kembali ke kebiasaan lamanya. Namun, ia hanya menenggak sedikit saja karena kerongkongan dan perutnya susah dikompromi kalau terlalu banyak minum. Teman-Teman nongkrongnya sempat protes dengan gaya minumnya yang tidak sebanyak dulu. Tapi, Siska tidak menggubris itu semuanya. Karena, ia selalu ingat bagaimana ia susah BAB dan dadanya panas setiap selesai minum.
Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan akibat jalanan yang agak padat, sampailah mereka berdua di apartemen Dave. Ia meminta tolong salah satu Satpam yang bekerja di sana untuk membantunya memapah tubuh Dave dari mobil menuju ke apartemennya di lantai dua. Setelah membantu melepaskan sepatu dan membenarkan posisi tidur Dave, Siska pun berniat untuk meninggalkan kekasihnya itu dan pulang ke rumahnya sendiri. Namun, Dave tiba-tiba merangkul dan memaksa perempuan itu untuk menginap di sana. Siska pun tak berani melawan kehendak kekasihnya itu. Dan ia pun menginap di apartemen Dave serta melalui malam yang panjang dengan lelaki blasteran Indo-Jerman itu.
Sementara itu di rumah Tuan Hisyam, Nyonya Tiara sedang menunggui Arya dibantu oleh seorang baby sitter.
"Arya sudah makan, Jum?" tanya Nyonya Tiara.
"Belum, Nyah. Sejak tadi Mas Arya nggak mau makan. Dia sering lari-lari ke arah pintu seperti sedang menuggu seseorang,” jawab pembantu yang bernama Juminah tersebut.
“Mungkin dia masih teringat sama Papanya, Jum. Papanya kan biasanya kalau pulang narik ojek membawa oleh-oleh makanan,”tambah Nyonya Tiara.
“Iya mungkin, Nyah. Terus gimana ini, Nyah? Kalau Mas Arya nggak mau makan nanti perutnya kosong, masuk angin, kan bisa sakit, Nyah?” cerocos Juminah.
“Mana sekarang Arya? Biar saya yang merayunya untuk makan. Kamu siapkan saja makanan untuk anak itu!” ujar Nyonya Tiara.
“Mas Arya sekarang di kamarnya, Nyah. Sejak tadi dia min mainan robot-robotan yang dibelikan oleh Mas Damar,” jawab Juminah.
“Ya sudah. Biar saya ke kamarnya Arya dulu. Kamu bawa makanan untuk Arya ke kamarnya, ya?” perintah Nyonya Tiara.
“Baik, Nyah!” sahut Juminah dengan sopan.
Nyonya Tiara pun bergegas menuju kamarnya Arya. Sesampai di kamar Arya, istri Tuan Hisyam langsung duduk di samping Arya yang sedang asyik dengan mainannya.
“Arya … lagi main apa, nih?” sapa Nyonya Tiara.
Arya menoleh ke arah perempuan paruh baya itu.
“Oma … Oma … agus inan Papah!” jawab Arya sembari menunjukkan mainan yang sedang dipegangnya itu.
__ADS_1
“Iya, bagus mainannya Arya. Main sama oma, yuk!” jawab Nyonya Tiara sambil tersenyum kepada anak kecil itu.
“Ayooooh!” sahut Arya dengan kata-kata yang masih belum sempurna.
Nyonya Tiara pun berusaha mengimbangi cara bermain Arya agar anak itu menjadi nyaman dengannya. Sehingga nanti ketika disuruh makan, Arya akan menurut padanya.
“Aduh, Pahlawan Arya menang, deh. Penjahat Oma kalah. Oma nyerah deh sama Arya,” suara Nyonya Tiara ketika tangan Arya kecil merobohkan mainan-mainan lain yang ada di sana.
Sebenarnya mainan Arya itu sangat banyak dan harganya mahal-mahal. Terutama yang dibelikan oleh Opa dan Omanya. Tapi, Arya paling suka dengan mainan pemberian Damar.
Setelah bermain kurang lebih sepuluh menit akhirnya Juminah datang dengan membawa makanan untuk Arya.
“Horeeeee … makanan untuk Pahlawan Arya sudah datang. Saatnya Pahlawan Arya makan, nih!” teriak Nyonya Tiara berusaha mengalihkan perhatian anak kecil itu dari mainannya.
“Arya enyang, Oma!” sahut Arya tiba-tiba.
Ternyata omongan Nyonya Tiara tersebut mempengaruhi psikologia Arya. Arya mulai tertarik untuk diajak makan.
“Arya unggu Papah …,” jawab Arya sambil menatap wajah Omanya.
Nyonya Tiara tertegun dengan jawaban anak kecil di depannya itu. Hatinya seperti teriris pisau yang sangat tajam saat itu karena pada kenyataannya Damar sudah tidak tidak tingga di rumah itu lagi. Juminah yang berada di dekat mereka berdua juga merasa sedih. Ia adalah salah satu saksi betapa Damar itu sangat sayang kepada Arya dan Damar yang paling banyak berinteraksi dengan anak kecil itu.
“Arya, tadi papa nelpon oma. Katanya, Arya harus makan dulu tidak boleh menunggu papa. Papa bisa sedih kalau tahu Arya nggak mau makan,” ucap Nyonya Tiara secara pelan-pelan agar kalimatnya sedikit dimengerti oleh cucunya itu.
“Papa pulang …,” sahut Arya dengan antusias.
“Papa kerja … Arya makan dulu. Nanti papa pulang,” balas Nyonya Tiara lagi untuk merayu anak kecil itu.
Akhirnya Arya pun mengangguk. Nyonya Tiara dan Juminah senang melihat reaksi positif Arya.
__ADS_1
Nyonya Tiara pun menyedok nasi dan lauk dari atas piring yang dibawa Juminah. Kemudian nasi dan lauk itu disuapkan ke mulut kecil Arya.
“Makanan untuk Pahlawan Arya sudah datang. Tolong dibuka pintu gerbangnya!” ucap Nyonya Tiara dengan nada sengaja dibuat seperti pengisi suara film kartun agar Arya senang mendengarnya.
Arya membuka mulutnya. Ternyata cara yang dilakukan Nyonya Tiara berhasil membuat anak kecil itu makan. Nyonya Tiara dan Juminah sangat antusias menyuapi makanan ke mulut Arya sambil memainkan adegan perang-perangan agar Arya senang. Meskipun cara makan Arya saat itu tidak selahap biasanya, setidaknya hari itu ada makanan yang masuk ke perut anak itu.
Setelah makan beberapa suapan, akhirnya Arya pun menguap pertanda kantuknya mulai melanda. Juminah mengangkat tubuh kecil Arya ke atas kasurnya dan Juminah pun mengajak Arya main robot-robotan sampai anaknya Siska itu tertidur.
Pukul sepuluh malam Tuan Hisyam dan Nyonya Tiara sedang berada di atas tempat tidur. Mereka berdua sudah bersiap untuk tidur.
“Ma, Arya sudah tidur?” tanya Tuan Hisyam.
“Sudah tidur, Pa,” jawab Nyonya Tiara kalem.
“Arya rewel nggak seharian ini?” tanya Tuan Hisyam lagi.
“Iya, Pa. Seharian ini Arya tidak mau makan. Dia hanya minum susu saja. Dia juga mondar-mandir berlari ke ruang tamu seperti sedang menunggu Damar. Yah, untunglah sore tadi anaknya mau makan setelah saya rayu bahwa papanya akan pulang nanti,” tutur Nyonya Tiara.
“Baguslah! Saya yakin ini hanya proses adaptasi dia saja. Lambat laun pasti Arya akan terbiasa hidup tanpa ada Damar,” jawab Tuan Hisyam dengan angkuhnya.
Nyonya Tiara tidak berani lagi menyahut. Ia tahu suaminya bukanlah orang yang suka dibantah.
“Siska apa sudah pulang?” tanya Tuan Hisyam.
“Belum, Pa,” jawab Nyonya Tiara jujur.
“Ke mana aja anak itu sudah malam begini belum pulang? Biar saya telepon dia!” sahut Tuan Hisyam dengan ekspresi marah.
BERSAMBUNG
__ADS_1