SUAMI RAHASIA PENYANYI DANGDUT

SUAMI RAHASIA PENYANYI DANGDUT
TEMAN


__ADS_3

Damar sampai di tempat mangkalnya agak siang. Yuda dan Bagas masing-masing sudah mendapatkan satu penumpang sebelum Damar datang.


“Bro, gimana tidurmu semalam? Nyenyak, nggak?” tanya Yuda.


“Bukan nyamuk masalahnya, Yud. Semalam hujan deras di tempatku. Terpalnya tidak sanggup menahan derasnya air hujan,” jawab Damar sambil memarkirkan motornya dan duduk merapat dengan kedua sahabatnya.


“Beneran kamu, Bro? Di tempatku terang benderang semalam. Terus, gimana dengan barang-barangmu?” sergah Yuda tidak percaya.


“Tempatmu dan tempatku, kan, beda, Yud? Untung semalam aku masih bisa menyelamatkan dokumen-dokumen berhargaku. Kalau tidak, entahlah! Ijazah-ijazahku mungkin sudah jadi bubur, Yud,” jawab Damar lemah.


“Bro, kayaknya kita harus melakukan sesuatu dengan kamarmu supaya barang-barangmu aman. Soalnya, sekarang sudah musim penghujan, kan?” sela Bagas.


“Mau diapakan, Gas? Dipasangi genteng? Uangnya yang belum ada, kawan!” sahut Damar sambil melempar senyuman.


“Hm … aku ada ide, Bro!” jawab Bagas sambil menunjukkan matanya yang berbinar kepada kedua sahabatnya itu.


“Ide apaan, Gas? Nggak usah aneh-aneh!” tegur Damar.


“Hari ini kita cari orderan sebanyak-banyaknya! Terus, nanti sore kita ke tempat loak untuk membeli seng bekas yang masih layak pakai. Bukankah waktu bersih-bersih kemarin, masih ada balok kayu yang hanya rusak ujung-ujungnya? Jadi, kita bisa potong ujung-ujungnya untuk dijadikan penahan seng itu. Bagus ideku, kan?” Bagas menaikturunkan alisnya yang sebelah kiri untuk membanggakan idenya di hadapan kedua sahabatnya itu.


Damar dan Yuda saling berpandangan sejenak. Kemudian Yuda nyeletuk, “Tumben, idemu masuk, Gas?”


“Otakku sekarang sudah encer, kan?” sahut Bagas.


“Iya. Jangan-Jangan otakmu encer setelah minum kopi buatan Bu Inggrid?” ledek Yuda.


“Sialan kamu, Gas!” gerutu Bagas.


“Oke, sekarang kita aktifkan semua menu yang ada di aplikasi! Jadi, kita tidak hanya menerima orderan mengantar orang saja, tapi juga bisa mengantar barang. Untuk pemesanan makanan dan berbelanja kayaknya aku belum bisa karena uangku masih minim. Masa kita mau ngutang ke warung atau tokonya?” Damar pun mengiyakan ide Bagas.


“Siap, Bro!” sahut mereka berdua.


“Tapi, ingat! Aku tidak mau kalian menghabiskan uang kalian untuk aku saja. Anak dan istri kalian jangan sampai disia-siakan. Dan satu lagi, aku akan mencatat semua uang yang kalian berikan kepadaku untuk aku ganti nanti kalau aku sudah punya uang,” ujar ayahnya Arya itu.


“Jangan ngomong kaya gitu, Bro? Berarti kamu tidak menganggap kami berdua in sahabatmu. Kamu dulu juga sering membantu perekonomian kami berdua sewaktu kami berdua baru awal menikah. Jadi, wajar kalau sekarang giliran kami yang membantu kamu,” protes Yuda.


“Iya, Bro! Aku tidak suka kamu ngomong seperti itu,” keluh Bagas.

__ADS_1


Damar memperhatikan wajah kedua temannya. Ia bersyukur sekali memiliki mereka. Jadi, di saat seperti ini ia tidak merasa sendirian.


“Oke. Maafkan perkataanku barusan, teman-teman!” ucap Damar dengan suara sengaja agak direndahkan.


Setelah itu mereka pun mulai mengaktifkan beberapa menu di aplikasi driver mereka. Tak berselang lama, notifikasi pun muncul di Ponsel mereka masing-masing.


“Saatnya bekerja!” ucap Yuda sambil berpamitan kepada kedua temannya.


“Aku berangkat duluan, Bro!” teriak Bagas kepada Damar sebelum menstarter motornya.


“Alhamdulillah!” ucap Damar di dalam hati saat menerima orderan mengantar barang dari seorang klien.


Ketiga pria itu pun berangkat menunaikan tugasnya masing-masing.


*


Reno masih belum bisa menenangkan kondisi hatinya setelah ditolak oleh Rani. Bahkan ia sudah keluar masuk kafe untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya. Namun, ia tak juga menemukan ketenangan.


“Kamu kenapa, Ren?” tanya Jack sahabatnya.


“Wah wah wah! Hebat sekali penyanyi dangdut satu itu, ya? Sampai bisa membuat playboy terganteng di kota ini jadi patah hati seperti ini!” ucap Jack dengan cukup keras untuk meledek sahabatnya itu.


Reno hanya terdiam dan tidak membalas ledekan sahabatnya itu karena ia paham sekali kalau diladeni Jack akan semakin menjadi.


“Ren … coba pesan wine! Pasti pikiranmu akan kembali jernih. Kamu lihat perempuan-perempuan itu! Mereka itu jauh lebih cantik dari Rani. Dan yang pasti … perempuan-perempuan itu tidak akan menolakmu! Ayo, jangan kamu hancurkan hidupmu hanya gara-gara satu perempuan,” ucap Jack sambil sesekali menepuk pundak Reno.


“Tidak, Jack! Rani itu berbeda dengan perempuan lainnya. Dia itu-“ sahut Reno.


“Oh tidak! Kamu itu pasti sudah kena guna-guna perempuan itu. Dulu kamu tidak seperti ini, Ren,” tegur Jack.


“Untuk apa Rani mengguna-guna aku, Jack? Nyatanya dia malah menolak cintaku, kok!” protes Reno.


“Ya siapa tahu dia mengincar hartamu. Dia itu penyanyi di group musik papamu, kan? Mungkin sekarang dia memang sengaja menolakmu dulu supaya kamu semakin penasaran dan tergila-gila padanya. Nanti, kalau waktunya sudah tepat dia mau menguasai seluruh harta keluargamu. Hari gini kamu masih percaya ada perempuan sepolos itu, Bro?” jawab Jack dengan berapi-api.


“Tidak, Jack. Rani ini memang beda,” sahut Reno dengan tatapan mata tertuju pada air mineral di depannya.


“Reno … Reno … Ternyata kamu bisa senaif ini, ya?” ucap Jack sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Cukup lama Reno berada di tempat tersebut menemani Jack. Pikiran pria itu menerawang jauh dan kembali mengenang perjumpaannya dengan Siska.


“Betapa beruntungnya pria bernama Dave yang sebentar lagi akan menikahi perempuan cantik bernama Siska itu. Sudah teler seperti itu, tapi Siska masih setia menemaninya malahan mau membopongnya. Padahal tubuhnya kan kecil? Sedangkan aku? Rani … Rani …,” Reno berkata pada dirinya sendiri.


Setelah lelah berlama-lama di tempat itu, Reno pun memutuskan untuk mengajak Jack pulang. Jack pun menuruti ajakan sahabatnya itu. Mereka berdua berkendara menuju ke rumah Reno yang berada di salah satu kawasan elit di kota tersebut. Namun, saat mereka baru saja masuk ke kawasan elit tersebut, mata Reno tiba-tiba menangkap seorang driver ojek online yang baru saja keluar dari salah satu rumah besar. Pada saat itu Reno yang menyetir mobilnya sendiri. Pria itu pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


“Kok berhenti, Ren?” tanya Jack dengan penasaran.


“Tunggu di sini sebentar, Jack!” jawab Reno sambil keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah seberang jalan.


Mata Reno tetap terfokus pada sosok driver ojek online yang saat ini akan naik ke atas motornya itu.


“Mas!” panggil Reno pada driver ojek online tersebut sambil terus berjalan mendekatinya.


Driver itu terkejut ketika dipanggil oleh Reno. Kemudian driver itu memusatkan pandangan matanya pada Reno. Reno berjalan menyeberangi jalan dan sudah hampir mendekati driver tersebut. Driver menyadari sesuatu dan ia pun buru-buru naik ke atas jok motornya dan segera menstarter motornya meninggalkan Reno yang sedang berusaha mendekat padanya.


“Wooooy! Driver sialan!” umpat Reno dengan cukup keras.


Jack yang awalnya hanya menunggu di dalam mobil pun ikut turun dan berjalan mendekati Reno setelah mendengar teriakan sahabatnya itu.


“Kenapa, Ren?” tanya Jack dengan panik.


“Driver tadi itu yang menjemput Rani kemarin. Dia juga yang telah menghantam perutku,” omel Reno.


“Apa? Ayo, kita kejar dia!” sahut Jack sambil menarik lengan Reno.


“Tidak usah! Percuma saja! Dia pasti sudah pergi jauh,” jawab Reno.


“Terus? Kamu mau diam saja dihajar oleh driver itu? Kamu nggak menghargai aku kalau gitu? Tanganku sudah gatal ingin menghajar orang, Ren!” omel Jack sambil memutar-mutar tangannya.


“Kamu diam dulu! Biar aku yang bekerja!” sahut Reno sambil menekan bel rumah tetangga kompleksnya yang baru memakai jasa driver tadi.


Jack menggeleng-gelengkan kepala tanda kagum dengan kecerdasan sahabatnya itu.


BERSAMBUNG


Jangan lupa like dan komentarnya, ya? Biar aku semangat update.

__ADS_1


__ADS_2