
Damar sedang duduk merenung sambil memetik gitar kesayangannya. Pikirannya masih belum bisa lepas dari kejadian pagi tadi. Ia ingin sedikit mengurangi beban pikirannya dengan memainkan alat musik petik itu sambil menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Saking bagusnya lagu yang dimainkan oleh pemuda itu, teman-teman driver lainnya sampai hanyut dan ikut menikmati lagu yang dimainkan oleh Damar sambil menunggu orderan. Keasyikan Damar memainkan lagu membuat pria itu tidak menyadari kedatangan dua sahabatnya, Bagas dan Yudha.
“Pagi, Bro!” sapa Bagas.
Damar tidak menyahut. Ia masih asyik memetik gitar sambil menyanyikan lagu karyanya sendiri. Yudha yang datang bersamaan dengan Bagas memberi kode kepada temannya itu untuk melakukan sesuatu. Dengan bahasa isyarat yang dilontarkan oleh Yudha, akhirnya Bagas pun mengerti. Ia pun mengeluarkan Ponsel dari dalam sakunya. Setelah itu ia pun merekam Damar yang sedang memetik gitar sambil menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Yudha pun memberi jempolnya untuk aksi yang dilakukan oleh Bagas.
Bagas menekan tombol ‘STOP’ tepat ketika Damar menyelesaikan petikan lagunya. Yudha dan semua teman driver Damar yang sedang mangkal di tempat itu pun memberikan aplause atas permainan musik dan nyanyian yang disajikan oleh Damar barusan.
“Wah, ternyata kamu mahir memainkan gitar ya, Mar? Suara kamu juga bagus. Kenapa kamu nggak ikutan audisi kayak di TV-TV itu?” sapa Pak Yanto yang sejak tadi menonton pertunjukan Damar.
“Ah, Pak Yanto bisa saja.”
“Beneran lo, Mar. Kami tadi sampai terkesima dengan penampilan kamu barusan. Si Jabrik ini malah menolak orderan gara-gara ingin tetap mendengarkan kamu menyanyi barusan. Kamu ini dulunya artis atau apa sih, Mar? Kok kayaknya kamu mahir banget memetik gitar sambil menyanyi begitu?” sela Rustam.
“Artis tingkat kampung lebih tepatnya. He he he …” celetuk Yudha yang baru saja nongol di depan Damar.
“Kamu, Yud … Gas …? Nah, ini dia dua temanku waktu kami masih bergabung dalam suatu band amatir … he he he. Mereka berdua nich lebih jago sari saya kalau urusan memainkan alat musik.”
“Tapi, tetap kalau urusan menciptakan lagu atau vokal, kamu jagonya,” sela Bagas.
Yudha dan Bagas pun menjabat tangan Damar dan semua driver yang ada di tempat itu. Kemudian mereka melanjutkan obrolan sambil menunggu orderan yang masuk ke aplikasi mereka.
Pada saat mereka asyik mengobrol, tiba-tiba Damar mendapatkan pesan masuk dari seseorang. Pemuda itu langsung membuka Ponselnya. Dan raut wajahnya langsung menunjukkan rasa cemas.
“Ada apa,Bro?”
“Ini, rumah Reni disatroni perampok.”
“Apa? Kamu tidak sedang bercanda kan, Bro?”
“Enggak lah. Ibunya Reni sempat disekap di kolong tempat tidur. Sepertinya aku harus ke sana sekarang.”
“Aku ikut, Bro!”
“Aku juga!”
__ADS_1
Mereka bertiga pun langsung berangkat menuju rumah Reni. Tentu saja driver yang lain yang ada di tempat itu heboh setelah mendengar kabar tentang dirampoknya rumah Rani Alaska karena Bagas yang mengatakan bahwa temannya Damar adalah Rani Alaska.
Singkat cerita, Damar dan kedua sahabatnya sudah sampai di rumah Reni. Di tempat itu sudah ada beberapa polisi dan petugas medis yang memeriksa kondisi ibunya Reni. Setelah melalui berbagai pemeriksaan, ibunya Reni memilih untuk tetap dirawat di rumah.
“Kamu dan ibumu gimana, Ren?” tanya Damar.
“Alhamdulillah itu sudah nggak apa-apa sekarang. Awalnya dia masih syok dengan kejadian itu.”
“Apa saja yang diambil oleh perampok itu?”
“Semuanya, Mar. Tabungan dan pakaian-pakaian manggungku disikat habis oleh mereka.”
“Astagfirullah! Tega banget mereka itu. Oh ya, apa polisi sudah menemukan petunjuk siapa pelaku perampokan ini?”
“Susah kayaknya, Mar. Pelakunya sepertiya sudah sangat profesional dan sangat minim sekali barang bukti yang ditinggalkan. Tapi, polisi sudah berjanji untuk menyelesaikan kasus ini semaksimal mungkin.”
“Ya. Semoga pelakunya segera tertangkap. Kamu yang sabar, ya? Kalau kamu perlu apa-apa kamu hubungi aku saja.”
“Iya. Makasih, Mar!”
“Siapa yang datang, Nduk?” teriak ibunya Reni dari dalam kamar.
“Oalah … Sini Nak Damar!”
Damar pun mendatangi ibunya Reni yang sedang terbaring di tempat tidur. Pemuda itu prihatin dengan nasib yang menimpa perempuan tua itu. Ia pun berusaha untuk menghiburnya.
Damar dan kedua sahabatnya pulang agak sore. Itu pun setelah mereka memastikan bahwa penduduk sekitar akan melakukan penjagaan di pos penjagaan di dekat rumah mereka.
“Makasih banyak ya, Mar!”
“Kamu jaga diri bak-baik, ya? Hubungi aku kalau ada apa-apa!” Damar mengelus rambut Reni.
Bagas dan Yudha pun senyum-senyum sendiri melihat ulah mereka berdua. Sepertinya mereka berdua akan punya bahan bahan ke depannya untuk merundung Damar.
*
__ADS_1
Keesokan harinya Reni mendapatkan panggilan telepon dari ayahnya Reno. Tentu saja perempuan itu terkejut dengan panggilan tersebut karena selama ini ia jarang berkomunikasi langsung dengan atasannya itu. Biasanya kalau ada panggilan menyanyi, ayahnya Reno tidak menyampaikan sendiri. Melainkan disampaikan melalui bawahannya, Bang Andre.
Ternyata maksud panggilan itu adalah ayahnya Reno mengabari Reni bahwa orkes dangdut mereka akan melakukan rekaman komersil untuk mempromosikan Reni. Bosnya mengklaim bahwa suda ada investor yang sanggup menjadi sponsor rekaman itu. Tentu saja Reni senang mendengarnya. Tapi, perempuan itu mengatakan bahwa untuk saat ini kondisinya belum siap karena ada sesuatu hal. Reni merahasiakan kejadian nahas yang menimpa keluarganya dari bosnya itu karena ia tidak au bosnya dan teman-teman orkesnya tahu dan datang ke rumahnya. Namun, bosnya mengatakan kepada Reni bahwa bosnya ingin mengetahui alamatnya untuk proses penandatanganan kontrak rekamannya. Reni menghindar dengan mengatakan bahwa ia sendiri yang akan berangkat ke studio dua hari lagi, tapi bosnya tetap memaksa mau datang ke rumah Reni saat itu juga. Reni tidak bisa menolak lagi permintaan bosnya itu. Akhirnya, ia meminta waktu dua hari untuk bisa ketemu bosnya. Bosnya boleh datang ke rumahnya dengan syarat setelah mengetahui rumahnya, bosnya akan merahasiakan dari siapapun. Dan bosnya pun menyanggupi permintaan Reni.
“Aneh, gadis yang kamu sukai ini, Reno! Kamu yakin masih mau melanjutkan hubungan dengan dia?”
“Iya, Pa. Reno tetap yakin.”
“Dua hari lagi kita baru bisa ke rumahnya.”
“Rani nggak ngomong apa-apa lagi, Pa?”
“Enggak. Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
Reno seperti kaget mendengar pertanyaan papanya.
“Pa, aku ke salon dulu ya biar lebih ganteng untuk melamar Rani dua hari lagi?”
“Iya, deh …”
Reno pun pergi meninggalkan papanya di studio musik. Kepergiannya menyisakan tanda tanya besar pada benak papanya. Pria itu menangkap sesuatu yang disembunyikan oleh anak laki-lakinya itu.
“Gimana, Ren?”
“Dua hari lagi papa akan melamar Rani.”
“Semoga sukses ya, Ren. Tapi, papamu tidak curiga sama kita kan?”
“Sepertinya sih enggak. Uang dan pakaian-pakaian itu kamu taruh di mana sekarang?”
“Kalau pakaiannya sudah aku bakar. Kalau uangnya sudah aku kasihkan ke keluargaku.”
“Ya sudah. Kalau masalah pakaian nanti kalau Rani sudah jadi sama aku, akan aku ganti dengan seratus kali lipat lebih bagus. Kalau uangnya gampanglah.Yang penting semua harus aman!”
__ADS_1
“Siap, Ren.”
BERSAMBUNG