
Pagi hari itu Bu Inggrid datang ke rumah Damar sambil membawa sarapan.
“Selamat pagi, My Darling … Duh, rajin amat sih Mas Damar ini pagi-pagi sudah bersih-bersih?” sapa Bu Inggrid dengan kenesnya.
Damar sedikit terkejut dengan kehadiran Bu Inggrid yang suaranya cukup membahana itu.
“Selamat pagi, Bu .. Eh Miss,” sahut Damar ramah.
“Semalam hujan deras banget loh, Mas? Gimana kamar Mas Damar? Kebanjiran pasti, ya?” tanya Bu Inggrid dengan ekspresi wajah panik.
Damar menatap aneh ke arah perempuan itu. Bagaimana tidak? Saat ini Bu Inggrid sedang melihat Damar berusaha mengalirkan air kotor dari dalam menuju ke luar rumah. Pikir Damar, seharusnya Bu Inggrid sudah tahu bahwa semalam kamarnya banjir. Bu Inggrid akhirnya menyadari kesalahan pada bunyi pertanyaannya.
“Eh, maaf. Pasti banjir, ya? Duh, semalam itu aku kepikiran loh sama Mas Damar. Mau aku samperin ke sini untuk aku ajak tidur di rumah, tapi aku takut digerebek warga sekitar. Ntar kita malah dikawinan. Enak sih, tapi kan aku malu? Emangnya aku perempuan apaan? Aku ini kan High Qualty Janda. Iya kan, Mas?” cerocos Bu Inggrid sambil berlaga bak ratu kecantikan.
“Nggak apa-apa, Miss. Semua bisa teratasi,” jawab Damar dengan santai karena ia sudah paham tabiat tetanganya itu.
“Nggak apa-apa gimana? Wong rumah Mas Damar sampai kebanjiran begitu? Pasti barang-barangnya basah semua, ya? Kalau Mas Damar sampai sakit, bagaimana?” protes Bu Inggrid karena Damar hanya santai menanggapi kekhawatirannya.
“Alhamdulillah …. Semua barang saya sudah saya amankan sebelum terkena air hujan,” jawab Damar dengan tenang untuk meyakinkan tetangganya itu.
“Mas Damar yakin? Handphone dan pakaian, aman kah?” tanya Bu Inggrid memastikan.
“Aman, Bu!” jawab Damar dengan sedikit naik nadanya agar lebih meyakinkan.
“Syukurlah kalau begitu. Sekarang Mas Damar sarapan saja dulu! Ini aku bawain sarapan dan minuman hangat untuk Mas Damar biar nggak sakit,” timpal Bu Inggrid mengalihkan pembicaraan.
“Waduh, Miss ini nggak perlu repot-repot begitu. Saya jadi tidak enak ini sama Miss Inggrid,” jawab Damar sambil tersenyum pada perempuan itu.
“Sudah, terima saja. Ini aku buat dengan kasih sayang dan penuh keikhlasan,” jawab Bu Inggrid sambil melenggak-lenggokkan bodinya.
__ADS_1
Damar menahan geli ketika melihat aksi lucu perempuan itu. Tapi, ia menahannya karena tidak ingin membuat orang di depannya itu tersinggung.
“Makasih banyak ya, Miss, atas makanan dan bantuannya selama ini,” ucap Damar sambil menerima makanan dari perempuan itu.
“Ya sudah, Mas, aku pamit dulu. Mas Damar buruan makan mumpung masih hangat. Nanti nampannya aku ambil kalau ke sini lagi saja. Sekarang aku mau mempersiapkan anakku untuk berangkat ke sekolah,” jawab Bu Inggrid sambil berlalu pergi meninggalkan Damar.
Damar merasa lega juga dengan kepergian perempuan itu. Tapi di satu sisi meskipun ia agak risih dengan Bu Inggrid, sebenarnya ia juga butuh Bu Inggrid karena Bu Inggrid sudah banyak membantunya selama memulai tinggal di rumah warisan ibunya tersebut.
Begitu Bu Inggrid pulang ke rumahnya, Damar pun buru-buru mencuci tangannya dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang diberi oleh Bu Inggrid. Pria itu menyantap dengan lahap makanan dan minuman itu yang rasanya memang enak tersebut. Setelah selesai sarapan, Damar pun melanjutkan aktifitasnya menguras air dari dalam rumah dan juga membersihkan barang-barang yang masih kurang rapi. Setelah hari mulai agak siang, Damar pun memutuskan untuk mandi dan berangkat mencari penumpang.
Setelah Damar membuka Ponselnya, ia baru tahu kalau banyak sekali pesan yang masuk ke nomornya. Damar pun membalas satu persatu pesan itu.
“Loh, banjir rumahmu, Bro?” tanya Bagas.
“Iya, Gas. Ini aku baru bersih-bersih,” jawab Damar.
“Kamu hari ini berangkat narik, kan?” tanya Bagas lagi.
“Oke, sip! Kita ketemu di pangkalan seperti biasa, ya?” balas Bagas.
“Oke,” jawab Damar.
Setelah selesai mempersiapkan diri, Damar pun berangkat ke tempat biasa ia mangkal. Tak lupa ia juga mengunci kamarnya dengan menggunakan gembok yang ia beli di toko tetangganya. Meskipun tidak ada barang berharga yang ia tinggal di kamarnya itu, tapi ia tidak mau juga barang-barang tersebut hilang begitu saja diambil pemulung, dan sebagainya.
*
Tuan Hisyam dan Nyonya Tiara saat itu masih tidur dengan nyenyak ketika Juminah berteriak-teriak dari lantai bawah memanggil nama mereka.
“Pa, bangun! Juminah kayaknya barusan berteriak memanggil nama kita,” ucap Nyonya Tiara sambil menggoyang-goyangkan badan suaminya
__ADS_1
“Papa masih ngantuk, Ma. Kamu aja samperin Juminah. Paling-Paling juga Arya nangis,” sahut Tuan Hisyam sambil melanjutkan tidurnya kembali.
Nyonya Tiara pun turun dari tempat tidurnya dan langsung keluar dari kamar utama. Ia sengaja tidak menutup pintu kembali agar kalau ada apa-apa suaminya lebih jelas mendengar suaranya.
“Ada apa, Jum?” tanya Nyonya Tiara sambil turun dari lantai kedua.
“Badan Mas Arya panas, Bu!” jawab Juminah dengan panik.
“Ya Allah … cepetan kamu tuangkan minyak kayu putih ke lepekan dicampur bawang merah, Jum! Paaaaaaa …. Arya panas, Pa!” teriak Nyonya Tiara menyuruh Juminah dan memanggil suaminya.
“Paaaaa bangun!! Arya panas!” teriak Nyonya Tiara lagi sambil berlari menuju ke dalam kamar Arya.
Tuan Hisyam yang sedang berusaha untuk tidur kembali itu pun mendengar teriakan istrinya yang meyebut-nyebut nama ‘Arya’.
“Arya! Ada apa dengan cucuku itu?” pikir Tuan Hisyam sambil bangkit dari tidurnya.
Dengan berbenah seadanya pria itu pun keluar dari kamar dan menyusul istrinya menuju kamar Arya.
Sementara itu Nyonya Tiara yang sedang berada di dalam kamar Arya pun panik juga begitu melihat cucunya menggigil seperti orang kedinginan. Namun, begitu ia menyentuh kening anak kecil itu, kulitnya terasa terbkar saking panasnya.
“Ya Allah, Arya, Kenapa kamu, Nak? Juminah! Cepat bawa minyak kayu putih dan irisan bawang merahnya ke sini!” teriak Nyonya Tiara dengan sangat panik.
Perempuan itu tidak tega melihat anak sekecil itu harus menderita seperti itu.
“Ini, Nyah! Maaf agak lama karena pisaunya nggak cepat ketemu tadi!” jawab Juminah sambil menyerahkan minyak kayu putih yang sudah dituangkan ke lepekan dan dicampur dengan irisan bawang merah.
“Siapkan parasetamol cair untuk Arya, Jum! Saya akan melumurkan minyak kayu putih ini ke seluruh bagian tubuh Arya!” perintah Nyonya Tiara lagi dengan panik.
“Baik, nyah!” jawab Juminah sambil bergegas menuju kotak P3K yang da di ruang tengah.
__ADS_1
Nyonya Tiara melumurkan minyak kayu putih yang dicampur dengan irisan bawang merah itu ke seluruh bagian tubuh Arya. Perempuan itu tidak tega ketika tangannya bersentuhan dengan kulit lembut Arya yang terasa panas.
BERSAMBUNG