
Semalaman Damar tidak nyenyak tidur karena memikirkan surat dari pengadilan agama itu. Esok paginya pria itu harus bangun dengan badan sakit semua. Terlebih bagian bibirnya yang masih bengkak karena dijotos oleh Jack. Untunglah saat bertemu dengan Bu Inggrid ia dalam keadaan memakai masker. Kalau tidak, perempuan itu pasti heboh dan sibuk untuk berusaha mengobati bibir jontornya. Damar cukup mengoleskan minyak tawon yang diberikan oleh ibunya Reni ke bibirnya. Hal itu sudah cukup mengurangi rasa nyut-nyutan yang dirasakan pria tersebut. Toh, Damar bukanlah laki-laki cengeng. Sakit sedikit begitu tak ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan bisa mengantar jemput Reni.
Pukul delapan pagi Damar sudah bersiap untuk meninggalkan rumahnya. Ia masih belum tahu apakah akan menghadiri panggillan sidang pengadilan agama itu atau tidak. Semalaman ia memikirkan hal itu, tapi ia tidak menemukan kesimpulan apapun. Tapi, saat pria itu memanaskan mesin motornya, tiba-tiba ada mobil parkir di depan rumahnya. Damar langsung menatap ke arah mobil tersebut dan menunggu orang yang akan keluar dari dalam kendaraan berwarna merah metalik itu.
“Siska??” pekik Damar terkejut.
Siska keluar dari dalam mobil dengan pakaian seksi dan dandanan yang cukup menor. Damar tidak sanggup berkata apa-apa saat perempuan yang masih berstatus sebagai istrinya itu berjalan dengan langkah gemulai menuju ke arahnya. Damar ingat saat awal-awal pernikahan, ia pernah mampir di rumah ibunya untuk mengantarkan obat dengan membonceng Siska di belakangnya. Ternyata Siska masih ingat betul letak rumah ibunya.
“Apa kabar Damar? Kalau aku lihat hidupmu tidak baik-baik saja sekarang. Terutama setelah kamu aku tendang dari rumahku.Oh, ternyata sekarang kamu tinggal di tempat kumuh ini. Ck … Ck … Ck … Kasihan kamu Damar! Seandainya kamu tidak angkuh, mungkin kamu masih bisa mengemis pekerjaan kepadaku. Hm … Barangkali kamu bisa menjadi tukang kebun atau tukang sampa di perusahaan papa. Ah, sudahlah! Kedatanganku ke sini tidak untuk membahas itu. Aku hanya ingin memastikan apakah kamu sudah mendapatkan surat panggilan sidang perceraian dari pengadilan agama?” Siska nyerocos dengan ekspresi wajah yang sangat angkuh dan sombong.
Tubuh Damar saat itu bergetar karena menaan emosi akibat hinaan yang dilontarkan oleh perempuan itu.
“Siska … Tidak ada sedikit pun hakmu untuk menghina keadaanku saat ini. Perlu kamu tahu aku lebih bahagia hidup begini daripada harus hidup dengan perempuan sundal seperti kamu!” Akhirnya kata-kata kasar itu pun terlontar dari mulut Damar.
__ADS_1
“Apa kamu bilang Damar? Kurang ajar kamu, ya! Aku bisa saja melaporkanmu ke polisi atas ucapan tidak sopanmu barusan!” Siska berkata dengan nada marah.
“Apa kamu pikir kamu saja yang bisa berkata kasar? Semua orang juga bisa melakukan hal yang sama denganmu!”
“Ada apa, Say?” Tiba-Tiba Dave keluar dari dalam mobil dan menatap sinis ke arah Damar.
“Kamu tidak usah ikut-ikut, Bandit! Apa kamu ingin aku hajar!” teriak Damar pada Dave.
Entah kenapa kemunculan Dave membuat emosi Damar semakin naik. Mungkin itu pengaruh hormon testosteron dalam dirinya. Bagaimanapun saat ini status Siska masih istrinya yang sah secara hukum.
Sebagai laki-laki, siapa sih yang tidak sakit hati jika istri sahnya lebih membela selingkuhannya dari pada suami sahnya sendiri.
“Damar, saya hanya ingin bilang sama kamu. Kamu tidak usah hadir ke pengadilan agama sama sekali karena hal itu dapat menghambat proses gugatan cerai yang aku ajukan. Kamu paham?”
__ADS_1
Damar terdiam sesaat sambil mencerna kata-kata Siska.
“Baiklah Siska kalau memang itu lebih baik buat kamu. Oh ya, ada satu hal yang aku sempat kelupaan kemarin karena keburu pergi dari rumahmu.” Damar berkata setelah ia berhasil menenangkan dirinya.
“Apa itu, Mar?” Siska menunggu perkataan Damar dengan penuh rasa penasaran.
Damar menatap wajah Siska sejenak dan menarik napas dalam-dalam kemudian berkata dengan suara tegas.
“MULAI DETIK INI AKU CERAIKAN KAMU DENGAN TALAK TIGA! DI ANTARA KITA BERDUA SUDAH TIDAK ADA HUBUNGAN APA-APA LAGI.”
Setelah mengatakan hal itu Damar langsung masuk kembali ke dalam rumahnya dengan meninggalkan Siska yang cukup syok mendengar ucapan Damar yang tiba-tiba itu. Sementara di dalam kamarnya Damar menangis karena ingat dengan Arya.
“Arya, maafkan papa, Nak!”
__ADS_1
BERSAMBUNG