
Bu Sri sangat senang sekali mendengar jawaban dari Damar.
"Beneran nih, Nak Damar mau menjadi ojek pribadi Reni?" tanya Bu Sri lagi untuk memastikan.
Reni merasa canggung melihat tingkah ibunya yang agresif.
"Mar, kamu pikir-pikir dulu. Jangan langsung mengiyakan permintaan ibuku. Jangan sampai kamu melakukannya karena kasihan tehadap ibuku. Nanti ujung-ujungnya kamu malah menyesal," jawab Damar tulus.
"Tuh kan, Nak Damar ini emang baik orangnya. Kalau begini, ibu kan jadi lebih tenang kalau kamu berada jauh dari ibu."
"Saya juga mau bilang makasih sama Ibu dan Reni karena sudah percaya sama saya," tuturnya sopan.
"Ya sudah. Urusan antar mengantar Reni sudah beres berarti. Sekarang saatnya makan snack dan minum mumpung masih hangat. Pokoknya kalau nggak dihabisin, Nak Damar nggak boleh pulang!'
"Waduh! Ini loh kuenya banyak sekali, mana muat perut saya, Bu.
"Ya, kalau nggak habis dimakan bisa dibungkus untuk dibawa pulang, dong!'
"Wah, malah tambah merepotkan."
"Makanya, nurut pokoknya sama ibu. He he he ....."
Mereka bertiga pun akhirnya terus mengobrol ringan sambil menghabiskan kue bolu yang disajikan. Nampak sekali keakraban di antara mereka bertiga. Di dalam hati kecil Bu Sri, ia berharap Reni berjodoh dengan Damar sebagai orang yang pernah diidolakan oleh anakya semasa SMP. Sedangkan bagi Rani, Damar tetaplah sosok yang ia idam-idamkan untuk menjadi pasangannya. Lain halnya dengan mereka berdua, Damar bersenda gurau dengan mereka untuk menghilangkan kegundahan hatinya. Sesungguhnya ia sangat merindukan Arya anaknya, tapi ia sadar ia tidak mungkin bisa bertemu dengan anaknya lagi karena keluarga Tuan Hisyam pasti akan menghalangi upayanya. Rasa sakit terhadap perbuatan istrinya, juga masih menghunjam di ulu hatinya. Entah samapai kapan rasa itu akan berakhir.
Setelah berbincang sekitar satu jaman lebih di rumah Rani, Damar pun ijin pulang kepada mereka berdua.
"Loh, mau kemana sudah, Nak Damar? Ada yang nungguin tah?" tanya Bu Sri sambil berusaha mengorek keadaan Damar apakah sudah memiliki keluarga atau belum.
"Nggak ada yang nungguin, Bu. Cuma, saya sudah janji dengan teman-teman ntuk bertemu mereka hari ini."
"Oooooo ... iya sudah. Makasih banyak ya, Nak Damar. Hati-Hati di jalan. Jangan lupa kalau Ren sudah mau ke kota lagi, Nak Damar jemput ke sini, ya?"
"Iya, Bu."
"Saya pamit Bu ... Ren ..."
Rani mengantar Damar sampai di pintu halaman depan.
"Sekali lagi terima kasih ya,Mar. Atas bantuanmu."
"Sama-Sama, Ren. Oh ya, kamu tenangkan diri dulu di sini sampai kondisi aman. Kamu belum ada job, kan?"
__ADS_1
"Entahlah, Mar. Aku takut Reno akan melapor ke ayahnya dan ak bisa dikeluarkan dari group Alaska."
"Loh, kok bisa begitu?"
"Reno itu anaknya bos pemilik group musik Alaska tempat aku bekerja, Mar."
"Jadi, pria yang tadi itu anaknya bosmu sendiri?"
"Iya, Mar. Tapi, kamu jangan bilan-bilang ke ibuku tentang masalah ini, ya? Aku tidak mau ibuku kepikiran."
"Oke. Aku berharap semoga kamu bisa tetap bekerja di sana."
"Aamiiin ..."
"Aku pamit dulu, Ren. Assalamualaikum ..."
"Waalaikumsalam ... Hati-Hati di jalan!"
Damar pun pergi setelah melambaikan tangan ke Damar. Rani memandang takjub ke arah pria yang ia kagumi sejak SMP itu. Sementara ibunya juga memperhatikan bagaimana Rani begitu serasi dengan Damar. Yang satu cantik, yang satu tampan. Pasti kalau mereka menikah, mereka akan memberikan cucu-cucu yang lucu untuknya.
"Kayaknya ada yang lagi berbunga-bunga, nih!" goda Bu Sri.
Bu Sri masih saja terus berusaha untuk menggoda Rani sehingga pipi anaknya itu memerah karena malu.
*
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih satu jam, Damar pun akhirnya sampai di rumah peninggalan ibunya yang sudah rusak parah. Ia pun mengecek Ponselnya. Ternyata, Bagas dan Yuda sudah beberapa kali melakukan panggilan telepon ke nomornya. Dan mereka berdua sudah mengirim pesan pribadi kepada Damar karena panggilannya tidak dijawab.
Bro, ke mana aja? Kamu berdua sudah menunggu kamu lama di warung dekat rumahmu. Kalau kamu sudah datang, telepon balik, ya?
Damar pun langsung melakukan panggilan telepon kepada Bagas dan tak samapi sepuluh detik, teleponnya langsung dijawab.
"Aku sudah di rumah, Bro."
"Oke, tunggu sebentar kami bayar dulu!'
"Oke."
Damar menutup telepon dan ia pun memarkir motor di depan rumah masa kecilnya yang saat ini banyak ditumuhi rumput-rumput liar.
"Mak. aku datang ..." ucap damar di dalam hati.
__ADS_1
Hatinya berdenyut sakit saat mengatakannya. Wajah Arya tiba-tiba muncul di dalam pikirannya. Saat Damar memandangi kondisi rumahnya yang sudah tidak karuan itu, tiba-tiba ada salah satu tetangganya yang lewat.
"Mas Damar?" sapa perempuan yang berusia tiga puluh lima tahun itu.
Damar pun menoleh dan ia pun tersenyum lebar setelah mengetahui wajah orang yang baru saja menyapanya.
"Bu Inggrid?" sapa Damar balik.
"Ya Allah ... Kirain siapa, Mas Damar ini. Ngapain, Mas?" tanya Bu Inggrid sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan tetangganya itu.
"Hm ... Aku mau tinggal di sini, Bu Inggrid."
"Maksudnya, Mas Damar mau memperbaiki rumah ini dan mau pindah ke sini bareng anak dan istri Mas Damar?"
"Hm ... Aku mau tinggal di sini mulai hari ini," jawab Damar dengan nada serius.
"Ah, Ma Damar ini becanda, kan? Lah, Mas Damar kan sudah punya rumah kayak istana di kota. Masa mau tidur di rumah yang ... Maaf ya, Mas ... 'Rusak'," balas Bu Inggrid dengan nada mendayu-dayu.
"Beneran, aku mau tinggal di rumah yang rusak ini." Damar mengulangi perkataannya.
"Aku ngerti sekarang. Pasti Mas Damar sudah mengontrak tukang-tukang profesional untuk menggarap rumah Mas Damar dalam waktu satu malam kayak di TV-TV itu, kan? Mana Mas, tukang-tukangnya? Atau ada tukang shootingnya juga, ya? Aku mau dong Mas dishooting juga biar masuk TV. Tapi ... Bukankah acara kayak gitu diperuntukkan hanya untuk orang miskin saja? Lah, Mas Damar kan orang kaya. Masa rumahnya mau digituin? Jangan-Jangan Mas Damar ini menyalahgunakan bantuan itu, ya? Dosa loh, Mas!" cerocos Bu Inggrid panjang lebar tanpa memberi kesempatan Damar untuk berbicara.
"Bu Inggrid ... Aku bukan orang kaya. Aku sudah bercerai dengan istriku yang anak orang kaya itu dan hari ini aku mau membersihkan rumah ini supaya bisa aku tinggali lagi. Paham, Bu?" jawab Damar dengan nada serius dan datar.
"Ya Tuhan!!!!' Bu Inggrid menutup mulutnya saking terkejutnya.
Damar pun melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumahnya dan memeriksa kondisi di dalamnya. Bu Inggrid diam mematung di depan rumah. Ia masih syok mendengar jawaban Damar.
"Mas Damar!!' teriaknya kemudian dengan nada kenes setelah berhasil menenangkan diri.
"Ada apa Bu?" tanya Damar dengan suara dikeraskan.
"Aku boleh bantuin besih-bersih, nggak?"
"Boleh saja," jawab Damar santai.
"Horeeeee!!!" Bu Inggrid bersorak seperti anak kecil yang baru diberi hadiah permen.
Bu Ingrid senang karena bisa cuci mata dengan menatap wajah Damar yang tampan itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1