
Setelah dijenguk oleh Damar, secara perlahan kondisi Arya membaik. Dokter pun heran dengan perkembangan kesehatan Balita tersebut yang jauh lebih cepat dari prediksi dokter. Setelah dua hari menjalani observasi oleh tim dokter, akhirnya Arya pun diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan saja. Tuan Hisyam pun sudah menyiapkan sebuah pesta kecil-kecilan untuk merayakan momen kembalinya Arya ke rumahnya. Tuan Hisyam mengundang seluruh karyawan perusahaan ke rumahnya untuk diajak makan-makan enak di rumahnya. Nyonya Tiara awalnya menolak rencana suaminya karena hal itu dapat mengganggu istirahat Arya yang baru saja sembuh. Tapi, keinginan Tuan Hisyam tentu saja sulit dibantah oleh siapapun.
“Acara pestanya kan Cuma sebentar, Ma? Sekedar makan-makan … Sudah. Apa Mama tidak senang dengan kesembuhan Arya?”
“Mama nurut apa kata Papa saja. Pokoknya mama tidak mau pestanya sampai berlebihan.”
“Papa juga berencana untuk sekalian mengumumkan calon ayah Arya kepada orang-orang.”
“Loh, Pa! Urusan perceraian Siska dengan Damar kan belum selesai. Masa Papa sudah mau mengumumkan calon suami Siska ke orang-orang?”
“Kan, tinggal sebentar lagi sudah keluar akta cerai Siska, Ma. Ayolah, Ma! Anak kita ini berhak untuk hidup bahagia. Benar kan, Sis?”
“Iya. Aku setuju dengan Papa.”
“Kalian berdua ini sama saja! Selalu menggampangkan setiap masalah. Belum selesai satu urusan sudah membuat urusan baru. Sudahlah, mama nggak mau ikut campur urusan pesta itu. Mama mau menemani Arya saja!”
Nyonya Tiara pun meninggalkan suami dan anaknya yang geleng-geleng kepala dengan sikap perempuan yang selalu bertolak belakang pendapatnya dengan mereka berdua.
“Mamamu selalu begitu sikapnya, Sis.Kamu nggak usah ambil hati.”
“Iya, Pa.”
“Ya sudah, papa sekarang mau menghubungi catering yang biasa papa pakai jasanya kalau ada acara di rumah ini.”
“Iya, Pa.”
Begitulah sikap Tuan Hisyam yang selalu arogan dalam memutuskan segala sesuatu. Nyonya Tiara tidak bisa berbuat banyak dengan sikap suaminya yang sulit ditebak jalan pikirannya itu. Perempuan itu tidak mau ada perdebatan tidak penting antara mereka berdua. Lebih baik ia memilih untuk mengalah untuk menghindari percekcokan dalam pernikahan mereka.
__ADS_1
Keesokan harinya ada beberapa orang yang sengaja didatangkan oleh Tuan Hisyam untuk membuat dekorasi di rumah mereka. Kedatangan orang-orang itu tentu saja sedikit mengganggu aktifitas Nyonya Tiara dan para asisten rumah tangganya dalam menjalankan aktifitas di rumah tersebut.
“Nyonya … Makanan di meja makan sudah ludes semua diberikan untuk orang-orang yang menghias rumah. Tuan Hisyam yang memberikannya. Terpaksa barusan saya masak lagi untuk persediaan Mas Arya makan siang nanti dan minum obat,” lapor salah satu asisten rumah tangga.
“Nyonya … Mas Arya nggak bisa tidur nyenyak karena orang-orang sedang check sound di ruang depan,” lapor asisten yang lain.
Awalnya Nyonya Tiara hanya diam saja. Namun, karena hal itu sudah berkaitan dengan proses kesembuhan cucunya. Ia pun bersuara dan melaporkan hal itu pada Tuan Hisyam. Dan Tuan Hisyam pun menuruti keinginan istrinya dengan tanpa memarahi orang-orangnya sendiri.
“Maklum, Ma. Acaranya sudah mepet. Sabar ya, Ma!” ucap Tuan Hisyam yang membuat Nyonya Tiara jengkel.
Akhirnya waktu pun bergulir. Acara pesta penyambutan kesembuhan Arya pun digelar. Arya saat itu kondisinya memang sudah lumayan membaik dan ia tampi meniup tumpeng di depan para tamu yang hadir. Hiruk pikuk para tamu membuat anak kecil itu harus buru-buru masuk ke dalam kamarnya karena ia butuh untuk beristirahat. NyonyaTiara pun mengendong cucunya masuk ke dalam kamarnya meninggalkan para tetamu yang sedang melanjutkan acaranya.
Tuan Hisyam nampak sedang memperkenalkan Dave sebagai calon suami baru Siska dan disambut dengan tepukan gemuruh para tamu. Siska dan Dave sangat berbahagia hari itu dan juga para tamu yang hadir. Siska dan Dave memilih untuk menghabiskan waktu berdua setelah acara perkenalan diri tersebut. Para tamu pun berebut makanan dan minuman istimewa yang sengaja disediakan oleh Tuan Hisyam untuk mereka. Pukul sepuluh malam, barulah para tamu satu persatu pulang ke rumahnya masing-masing dengan membawa bingkisan spesial dari Tuan Hisyam.
*
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, akhirnya ia pun sampai di rumah Rani. Ibunya Rani menyambut baik kedatangan Damar. Karena Rani sudah keburu maka Damar tidak bisa berlama-lama mengobrol dengan perempuan tua itu. Setelah berpamitan, ia pun mengantar Rani dengan menggunakan motor kesayangannya itu.
“Kok mendadak, Ran?”
“Iya … Aku harus tampil malam ini. Bapaknya Reno yang menyuruhku!”
“Hm … Apa tidak ada masalah? Reno tahu, nggak?”
“Entahlah, Mar. Aku juga butuh pekerjaan ini. Aku nggak mungkin berdiam diri terus. Aku harus menghadapi Reno.”
“Bagus! Kalau ada apa-apa kamu hubungi aku, ya?”
__ADS_1
“Kamu berani?”
Damar diam sejenak. Ia teringat dengan wajah seram Reno dan temannya yang seperti sedang mengincarnya beberapa hari yang lalu.
“Kok diam?”
“Enggak. Aku kan nggak salah apa-apa sama Reno. Ngapain aku takut?”
“Baguslah kalau begitu.”
Akhirnya mereka pun sampai di tempat yang menjadi tujuan. Damar langsung memarkir motornya di tempat yang aman dan ia pun menuntut Rani untuk masuk ke rumah orang yang punya hajat. Rani pun langsung melakukan make up sebelum ia tampil di atas pentas. Perempuan itu merasa gelisah takut gerak-geriknya diawasi oleh Reno.
Damar yang sudah selesai mengantar Rani pun kembali ke tempat parkir. Ia tidak nyaman berada di tempat bising tersebut. Sulit dipungkiri hentakan musik dangdut di acara pernikahan tersebut membuat kepalanya sedikit pusing. Untuk menghindari rasa pusing semakin menjadi,ia pun memilih untuk mencari warung yang agak jauh dari lokasi hajatan tersebut.
Saat Damar sedang asyik menikmati kopi pesanannya, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang datang menghampirinya.
“Malam, Mas! Sampean yang mengantar Mbak Rani, ya?” sapa pria berkumis tebal tersebut.
“Malam,” sahut Damar sambil menoleh ke arah sumber suara.
Betapa terkejutnya Damar setelah mengetahui bahwa pria yang sedang menyapanya barusan adalah pria yang ia lihat beberapa hari yang lalu bersama dengan Reno.
“Nggak usah takut, Mas!” ucap pria itu dengan tenangnya sambil berusaha memegangi lengan Damar.
“Ka-kamu …,” pekik Damar dengan terkejut.
Reno kemudian datang dengan wajah penuh amarah membuat nyali Damar sedikit ciut.
__ADS_1
BERSAMBUNG