
Siska baru pulang dari tempat tinggal Dave pukul sembilan pagi. Siska menolak ketika Dave menawarkan dirinya untuk mengantarnya pulang karena Siska sudah menyiapkan alibi kepada kedua orang tuanya bahwa semalam ia menginap di rumah Agnes. Tidak lucu kalau ia beralasan seperti itu, tapi ia pulang dengan diantar oleh Dave. Meskipun agak kecewa, Dave membiarkan pacarnya pulang naik taksi.
Siska sengaja tidak menghidupkan Ponselnya semalam karena ia tahu papanya pasti akan menelpon dan memaksanya pulang. Siska berencana membuka Ponselnya ketika ia sudah masuk ke dalam rumahnya.
Ting Tong!
Siska menekan bel di pintu rumahnya. Kemudian Inem keluar sambil tergesa-gesa berlari. Inem terkejut saat mengetahui bahwa yang datang adalah Siska.
“Loh, Non Siska tidak ke rumah sakit?” tanya Inem.
“Siapa yang sakit, Bi?” tanya Siska keheranan.
“Arya, Non. Tadi pagi badannya panas dan menggigil. Tuan dan Nyonya yang mengantar Mas Arya ke rumah sakit,” sahut Inem dengan panik.
“Ya Ampun! Aku tidak tahu, Bi. Jam berapa tadi yang berangkat? Di rumah sakit mana?” tanya Siska lagi lagi.
“Sekitar jam tujuh pagi. Kalau rumah sakitnya kurang tahu. Coba Non Siska hidupkan Ponselnya! Sepertinya Tuan sudahmencoba menghubungi Non Siska berkali-kali, tapi nomor Non Siska tidak aktif,” jawab Inem.
“Iya, Bi. Terima kasih! Aku akan segera memesan taksi online untuk pergi ke rumah sakit. Tolong Bibi bawakan baju kotor ini ke dalam. Ingat, langsung dicuci! Jangan sampai mama atau papa melihat baju ini masih kotor!” ancam Siska pada pembantu rumah tangga kedua orang tuanya.
“Iya, Non!” sahut Inem sambil buru-buru membawa pakaian kotor yang berbau alkohol itu.
__ADS_1
“Huh! Dasar anak orang kaya, tapi nggak bisa jaga diri. Sudah dikasih suami ganteng dan perhatian. Malah milih laki-laki tidak benar. Awas ke belakangnya ada apa-apa, menyesal, ya!” gerutu Inem di dalam hatinya sambil membawa pakaian koto Siska ke ruang laundry.
Sudah lama sekali Inem tidak mendapatkan pakaian kotor berbau alkohol seperti itu. Dulu, sebelum Siska menikah dengan Damar memang sering seperti itu. Tapi, setelah menikah dengan Damar, hampir tidak pernah sama sekali. Dan kali ini sepertinya akan kambuh kembali. Inem sebenarya jijik klau harus mencuci pakaian Siska yang baunya bikin mual itu. Tapi, mau bagaimana lagi. Itu adalah tugasnya sebagai pembantu rumah tangga di rumah tersebut. Efeknya dia hanya bisa mendongkol saja tanpa bisa berbuat apa-apa.
Setelah mendapatkan taksi online, Siska pun buru-buru berangkat ke rumah sakit yang paling terkenal di daerah tersebut. Siska mengetahui hal itu setelah ia menghidupkan Ponselnya dan mendapat pesan dari mamanya. Sementara di histori panggilan terdapat belasan kali panggilan tak terjawab dari nomor papanya. Nyonya Tiara meskipun sering berselisih paham dengan Siska, tapi diam-diam perempuan itu sering membela Siska kalau sudah akan dimarahi habis-habisan oleh papanya.
Sambil di perjalanan, Siska menelpon mamanya.
“Halo, Ma. Gimana kondisi Arya sekarang?” Siska bertanya dengan panik.
“Kamu di mana, Sis? Dari semalam papamu nanyain terus sama mama. Arya sedang dalam pengawasan di PICU. Kami tidak boleh masuk. Kami sekarang sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter,” jawab Nyonya Tiara dengan tegas.
“Aku semalam menginap di rumah Agnes, Ma. Aku nggak sempat pamit ke mama dan papa karena sudah sangat mengantuk habis bantuin kerjaan Agnes,” jawab Siska berbohong.
“Iya, Ma. Aku minta maaf. Aku khilaf, Ma. Au janji tidak akan mengulangimnya lagi,” rayu Siska pada mamanya.
“Sudah! Mama tidak mau dengar alasan kamu lagi! Cepat ke sini dan temui papamu!” sahut Nyonya Tiara kemudian menutup telponnya.
Siska menjadi syok dan takut dengan kemarahan mamanya. Ia tidak habis pikir, mamanya yang jarang marah saja bisa seperti itu padanya, apa lagi papanya.
“Ya Tuhan! Selamatkan Arya. Semoga tidak terjadi hal yang buruk kepada anak itu. Dan tolong sabarkan hati papa agar aku tidak dimarahi!” Siska berdoa di dalam hatinya.
__ADS_1
Setelah berkendara selama beberapa menit, sampailah Siska di rumah sakit yang dimaksud. Ia meminta kepada sopir taksi untuk menghentikan mobil tepat di depan pintu ruangan PICU. Sebagai konsekuensinya, ia yang harus membayar biaya parkir karena taksi online sebenarnya tidak boleh sampai masuk ke dalam area rumah sakit. Hanya mobil yang mau parkir saja yang dipekenankan masuk. Tapi, apalah artinya uang puluhan ribu bagi Siska. Ratusan ribu bahkan jutaan rupiah bisa ia peroleh dengan gampang dari atm pemberian papanya.
Siska turun dari taksi sambil menyerahkan uang lebih kepada sopir. Tentunya sopir senang sekali mendapatkan tambahan penghasilan seperti itu. Lain halnya dengan Siska, begitu ia sampai di ruang tunggu ruangan PICu, ia langsung mau ditampar oleh Tuan Hisyam. Untunglah, Nyonya Tiara buru-buru memegangi tangan suaminya agar tidak mendarat di pipi Siska. Saat itu Siska hanya bisa merunduk dan mencoba menutupi pipinya sendiri.
“Jangan, Pa! Ini tempat umum. Nanti ada yang memvideo malah bahaya!” teriak Nyonya Tiara berusaha menyadarkan emosi suaminy.
“Lepasin, Ma! Biar aku hajar anak tidak tahu diuntung ini! Anaknya sedang sakit malah ditinggal pacaran!” jawab Tuan Hisyam dengan nada emosi.
Siska hanya bisa diam. Selama ini memang ia tidak pernah berani melawan papanya. Ia juga merasa bersalah karena sudah membiarkan anaknya yang masih kecil itu harus masuk ke ruangan PICU.
“Dengarkan dulu penjelasan Siska, Pa. Dia itu sedang membantu pekerjaan temannya. Ngomong kamu, Sis! Biar papamu ini tidak marah!” jawab Nyonya Tiara masih memegangi tangan suaminya.
“Iya, Pa. Semalam aku menginap di rumah Agnes. Agnes sekarang membuka usaha pengadaan pesta ulang tahun. Jadi, aku mau bantu-bantu di sana untuk sedikit menambah penghasilan untuk membeli susu Arya supaya tidak membebani papa terus,” jawab Siska dengan lancarnya berbohong.
“Kamu tidak bohong, kan?”tanya Tuan Hisyam.
“Tidak, Pa! Silakan Papa telpon Agnes kalau tida percaya!” sahut Siska sambil menyerahkan Ponselnya kepada papanya.
Ajaibnya, Tuan Hisyam langsung percaya pada ucapan anaknya itu. Paahal Siska pura-pura menyerahkan Ponselnya hanya untuk meyakinkan papanya saja. Seandainya papanya betul-betul menelpon Agnes pasti sandiwaranya akan terbongkar.
“Baiklah! Sekarang kita tunggu kabar selanjutnya dari dokter. Semoga kondisi Arya segera membaik.” Ucap Tuan Hisyam selanjutnya sambil mengatr napasnya yang tersengal karena menahan emosi.
__ADS_1
BERSAMBUNG