
Rumah warisan ibunya Damar sudah hampir selesai dibersihkan. Meskipun atapnya sudah runtuh, tetapi runtuhannya itu sudah ditata oleh Damar beserta teman-temannya sehingga tidak membahayakan lagi bagi siapa saja yang berada di bawahnya. Rumput-Rumput dan ilalang di sekitar rumah tersebut juga sudah tidak selebat sebelumya. Meskipun bagi orang kebanyakan, rumah itu tidak layak huni, tapi bagi Damar ia sudah bisa bernapas lega karena ada tempat untuk ia tinggal setelah diusir dari rumah Tuan Hisyam.
Damar menata kembali kamarnya yang sekarang sudah diberi atap terpal itu. Karena kondisi kamar mandinya yang tidak memungkinkan untuk digunakan, Damar pun harus melakukan aktifitas mandi dan sebagainya di masjid dekat rumahnya. Tak lupa ia menyisihkan sedikit uangnya untuk mengisi kotak amal di tempat ibadah tersebut. Selesai menunaikan salat Isya, Damar pun kembali ke rumahnya untuk beristirahat.
Damar menatap langit-langit kamarnya yang berupa terpal pemberian Yuda dan Bagas. Damar saat itu teringat dengan Arya, anaknya. Pada jam-jam segitu biasanya Arya menunggunya pulang dan meminta oleh-oleh darinya. Setelah itu Damar biasanya mengajak Arya makan dan bermain sebentar. Barulah Arya minta ditemani tidur oleh Damar.
“Arya, semoga kamu di sana tidak rewel. Semoga kamu sehat-sehat saja dan semoga lambat laun kamu bisa melupakan papa.” Kalimat terakhir terasa menyayat hati pria itu, tapi ia harus mengatakannya karena ia tidak mau Arya terus memikirkan dirinya karena hal itu dapat menghambat perkembangan anak itu.
Rasa rindu yang dirasakan oleh Damar membuat Damar tidak bisa langsung tertidur. Ia pun memilih untuk memenangkan dirinya dengan berdzikir. Damar takut kegelisahan hatinya membuat Arya yang sedang terpisah dengannya merasakan hal serupa. Damar ingin berusaha untuk bertawakal kepada Tuhannya. Damar yakin takdir dari Tuhan adalah yang terbaik untuknya maupun untuk Arya. Tetesan air mata Damar menjadi saksi betapa sayangnya Damar pada Arya.
Di saat Damar mulai terlelap tidur, tia-tiba Damar dibangunkan oleh suara rintik-rintik hujan dari langit yang membentur terpal. Semakin lama suara benturan itu semakin keras dan memaksa pemuda itu terjaga dari tidurnya. Ternyata terpal itu tidak bisa menahan air hujan itu sepenuhnya. Semakin lama bagian tengah membentuk kantong dan kalau dibiarkan terus menerus maka terpal itu bisa jatuh menimpanya.
Damar pun buru-buru mengamankan barang-barang penting miliknya dengan cara membungkusnya dengan kresek berlapis-lapis agar tidak basah. Untung barang-barang yang sangat penting, setelah ia bungkus dengan kresek, ia masukkan ke dalam jok motornya. Setelah semua barang diamankan, pemuda itu pun mencoba mencari cara agar ia bisa beristirahat dengan tenang dalam guyuran hujan seperti itu. Ia pun berlari melintasi hujan untuk mengambil palang kayu di tempat tumpukan kayu. Setelah menemukan ukuran yang pas, mantan suami Siska itu pun membawa kayu itu ke kamarnya dan ia pun memasang kayu itu di tengah-tengah terpal dengan cara meletakkan satu ujung di atas lemari tua dan ujung yang lain di lubang yang ada di dinding.
Byuuuuur!
Air yang berada di tengah terpal pun mengguyur ke tepi. Di satu sisi mengenai tembok dan di sisi yang lain mengenai motornya. Setelah tidak ada air yang menggenang di tengah terpal barulah Damar merasa lega. Ia pun buru-buru mengganti bajunya dengan yang masih kering. Dan ia pun mencoba melanjutkan istirahatnya di tengah-tengah kamar yang sudah aman dari terpaan air hujan. Ternyata tidur di bawah rintik-rintik air hujan itu seru juga. Hal itu mengingatkan Damar pada saat ikut kegiatan berkemah semasa ia masih duduk di bangku SMK. Damar pun terlelap hingga pagi hari.
“Ya Allah … ternyata semalam banjir …,” pekik Damar begitu menyadari bahwa banyak air menggenang di dalam rumahnya.
*
__ADS_1
Sementara itu di rumah Rani, semalaman perempuan itu tak bisa tidur karena memikirkan tentang Reno dan juga Damar. Di satu sisi ia khawatir tindakannya terhadap Reno tadi siang membuat anak atasannya itu marah dan akan berimbas pada karirnya di dunia panggung hiburan. Sedangkan di sisi yang lain ia juga tak menyangka karena harus bertemu lagi dengan Damar. Seseorang yang sangat ia idolakan semasa SMP.
“Damar ternyata tidak banyak berubah ya, wajahnya. Hm… Tapi, aku lebih suka Damar yang sekarang karena lebih humble dan ramah. Tidak seperti dulu sewaktu SMP. Sombong banget ….”
Setelah bersusah payah, akhirnya Rani pun tidur juga meskipun saat tu sudah larut malam. Alhasil, saat subuh, ibunya sudah menggedor-gedor pintu kamarnya untuk membangunkan Rani supaya tidak ketinggalan salat Subuh.
“Bangun, Ran! Subuhya sudah mau habis!” panggil ibunya sambil menggedor-gedor pintu.
“I-iya, Bu!” sahut Rani sambil mengucek-ngucek matanya.
Setelah itu Rani pun membuka pintu kamarnya untuk pergi ke kamar mandi. Ibunya masih berada di depan kamarnya bersama kursi rodanya.
“Makanya, kalau tidur jangan malam-malam!” omel ibunya.
“Hm …. Pasti kamu mikirin Nak Damar, ya?” ledek ibunya
“Apaan sih, Bu?” sahut Rani sambil buru-buru meninggalkan ibunya untuk berwudu dan menunaikan salat.
Ibunya Rani menatap kepergian anaknya sambil senyum-senyum sendiri karena melihat pipi anaknya yang bersemu merah saat ia ledek barusan.
*
__ADS_1
Pagi hari Juminah pergi ke kamar Arya untuk menengok apakah anak itu masih tertidur atau sudah bangun.
“Arya!!!” panggil Juminah dengan suara perlahan sambil membuka pintu kamar anak kecil itu.
Hal itu sudah menjadi kebiasaan baby sitter itu untuk mengecek Arya. Jadi, kalau anak kecil itu masih tidur tidak akan terganggu dengan kedatangannya. Tapi, kalau anak itu sudah bangun biasanya langsung menoleh ke arahnya. Kecuali kalau yang membangunkan adalah Damar. Biasanya kalau Arya sudah main sama Damar, tidak mau lagi main dengan Juminah.
“Tidak mau Mbak Nah!” Kalimat itu biasanya yang terlontar dari mulut Arya saat asyik bermain dengan Damar.
Semua orang tertawa kalau mendengar Arya berceloteh begitu. Pun begitu kalau Damar sudah pergi bekerja, Arya pun akan berkata,”Mbak Nah cini. Acu angen ama Mbak Nah!”. Lagi-Lagi semua orang terpingkal-pingkal dengan celoteh Arya yang memang sangat lucu dan menggemaskan.
Juminah masuk ke dalam kamar Arya dan ia sayup-sayp mendengar suara desisan Arya yang tidak biasanya.
“Ya Tuhan, kamu kenapa, Nak?” pekik Juminah sambil berlari menuju tempat tidur anak kecil itu.
Saat itu Juminah melihat Arya sedang menggigil dan perempuan itu pun buru-buru menyentuh kening Arya.
“Ya Tuhan, panas sekali badanmu, Nak!” pekik Juminah.
Karena panik, Juminah pun buru-buru berlari keluar kamar dan memanggil Nyonya Tiara dan Tuan hisyam yang sedang tertidur pulas.
“Nyaaaaaah … Tuaaaaaaan … badan Mas Arya panas!” teriak Juminah dengan cukup keras.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Ada yang baca nggak, nih?