SUAMI RAHASIA PENYANYI DANGDUT

SUAMI RAHASIA PENYANYI DANGDUT
IDE GILA


__ADS_3

Damar tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan keadaan Arya. Bahkan keesokan harinya ia tidak bisa berkonsentrasi penuh dengan pekerjaannya karena kangen sekaligus kepikiran dengan Arya. Bagas dan Yuda peka dengan perilaku aneh sahabat mereka itu.


“Bro, kamu kepikiran sama anakmu, ya?” tegur Yuda.


Damar tidak menyahut karena jawabannya pasti ‘Iya’.


“Bro, gimana kalau kita pergi ke rumah sakit untuk menjenguk anakmu?” tegur Bagas.


Damar menoleh ke arah Bagas.


“Bagaimana caranya aku bisa ketemu dengan anakku, Gas? Kamu tahu sendiri kan ibu dan kakek nenek anakku sangat ketat menjaganya?” Keluarlah protes dari Damar.


“Aku punya cara Bro supaya kamu bisa bertemu dengan anakmu.” Bagas berkata sambil melempar senyuman manisnya.


“Apa idemu, Gas?” Damar penasaran dengan maksud perkataan temannya itu.


Bagas pun membisikkan sesuatu ke telinga Damar.


“Jangan konyol kamu, Gas!” protes Damar begitu mendengarkan ide dari Bagas.


“Trust me, Bro! Ideku ini pasti berhasil. Lagi pula kamu tidak punya ide lain untuk bisa bertemu dengan anakmu, kan?” Bagas bersikukuh dengan ide gilanya.


*


Bagas, Yuda, dan Damar saat ini sudah berada di rumah sakit tempat Arya dirawat. Mereka bertiga sudah menyusun dengan rapi rencana mereka. Bagas dan Damar sedang berdiri di depan pintu ruangan Seroja 1 dengan perasaan was-was, sedangkan Yuda berada di ruang resepsionis.


Tok Tok Tok


Damar dan Bagas mengetuk pintu kamar Seroja 1 dan suara ketukan di pintu terdengar oleh keluarga Tuan Hisyam yang sedang berada di dalam.


“Coba kamu cek siapa di luar, Sis!” Tuan Hisyam menyuruh anaknya untuk mengecek pintu.


“Dokter dan perawat, Pa,” ucap Siska begitu perempuan itu menengok wajah yang terlihat dari kaca tembus pandang.


Tanpa diminta Damar dan Bagas pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Saat itu mereka menggunakan pakaian ala dokter dan perawat rumah sakit yang mereka peroleh dengan cara meminjam dari mahasiswa kedokteran yang kos di dekat rumah Bagas. Untuk menyamarkan wajah mereka, kedua orang itu menggunakan wig, kumis, dan kacamata.


“Selamat pagi Pak … Bu …” sapa Damar dengan suara sengaja diberatkan.


“Selamat pagi, Dok,” sahut Tuan Hisyam mewakili keluarganya yang lain.

__ADS_1


“Hm … Kami akan mengecek keadaan pasien. Kami minta keluarga menunggu di luar ruangan terlebih dahulu.” Damar mulai melancarkan aksinya.


Tuan Hisyam dan Nyonya Tiara saling menoleh seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh dokter di depannya.


“Kenapa harus keluar, Dok? Tidak bolehkah kami menunggu di dalam saja?” Tuan Hisyam mengutarakan keberatannya.


“Hm … Kami perlu melakukan pemeriksaan lebih detil Pak agar pasien bisa segera pulih. Bukankah Bapak dan Ibu juga menginginkan hal yang sama?” Damar sediit melakukan penekanan pada Tuan Hisyam.


“Baiklah … Kami akan menunggu di luar, Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk cucu saya. Kami ingin segera melihatnya sembuh.” Tuan Hisyam menarik lengan istrinya untuk mengajaknya keluar dari ruangan tersebut.


“Terima kasih atas pengertian Pa … eh Bapak.” Hampir saja Damar salah memanggil mantan mertuanya itu.


Tuan Hisyam beserta anak dan istrinya pun keluar dari ruangan itu untuk memberikan kesempatan kepada dokter melakukan pemeriksaan terhadap Arya. Damar dan Bagas yang sejak tadi menahan rasa takut ketahuannya itu pun sedikit bernapas lega karena penyamaran mereka berhasil mengelabui Siska dan keluarganya. Kali ini mereka berdua saja yang berada di dekat Arya yang menatap orang asing di depannya dengan sedikit rasa takut.


“Atut …,” ucap Arya dengan lemahnya.


Damar dan Bagas pun berjalan mendekati anak kecil yang sedang terbaring sakit itu. Damar tak kuasa membendung air matanya saat melihat anaknya terbaring lemah di atas kasur.


“Arya … jangan takut! Ini papa, Nak!” Damar pun berkata dengan suara aslinya sambil melepas kumis dan rambut palsu yang ia kenakan.


“Paaaaaaa ….” Arya melonjak bahagia begitu mengetahui pria asing di depannya adalah papa yang sangat ia sayangi.


“Arya jangan bergerak dulu, Nak! Arya sekarang masih sakit. Biar papa peluk Arya saja.” Damar buru-buru menahan tubuh anaknya agar tidak bangun.


Pria itu langsung saja memeluk tubuh anak kecil itu dengan penuh kasih sayang. Bagas yang berdiri di sebelahnya sampai ikut menangis karena tidak tega melihat ikatan kuat antara ayah dan anak itu.


“Ini om Bagas, Arya … Kami berdua sekarang sedang menyamar supaya bisa ketemu dengan Arya. Papa kangen banget sama Arya. Arya kangen nggak sama papa?” Damar berkata dengan lemah lembut pada anaknya itu.


“Acu angen papa. Om Agas seyem. Acu atut cama Om Agas …” celoteh Arya dengan lucunya.


“Maafin Om Bagas, ya? Om Bagas ikutan papa menyamar supaya bisa ketemu Arya.” Bagas berkata sambil membelai rambut anak kecil itu.


“Papa eygi ana kok ilang? Mamma ama akek ahat ama Papa, ya?” celoteh Arya.


“Tidak, Arya! Mama dan Kakek itu tidak jahat. Mereka hanya tidak mau papa nanti memanjakan Arya. Kan nggak baik kalau Arya jadi anak manja?” Damar berkata berusaha memfilter pikiran buruk Arya.


“Api Papa ga oleh emu acu. Mama ahat okoknya!” balas Arya.


“Loh, Arya kok malah ngomong jelek. Ingat papa nggak suka loh kalau Arya nggak nurut sama mama atau kakek nenek. Karena itu-“

__ADS_1


“Osa! Api acu angen ama Papa. Papa angan eygi!” gerutu Arya.


Damar pun semakin erat memeluk anaknya yang lucu itu. Hatinya teriris saat itu. Bagaimana tidak! Ia dilarang bertemu dengan Arya oleh keluarga Tuan Hisyam padahal sejak kecil dialah yang merawat anak itu. Damar dan Arya sangat menikmati momen-momen pertemuan rahasia itu.


“Bro, sepertinya kita harus segera keluar dari sini sebelum penyamaran kita terganggu.” Bagas membisiki Damar untuk mengingatkan tentang penyamaran mereka.


“Arya masih pengen ketemu papa, nggak?” tanya Damar.


“Engen anget,” jawab Arya.


“Kalau gitu sekarang ijinkan papa dan Om Bagas pergi dulu supaya penyamaran papa dan Om Bagas tidak ketahuan.”


“Api acu asih angen Papa.”


“Ntar kalau papa lama-lama di sini malah ketahuan sama kakek gimana? Malah papa diusir dan nggak boleh ketemu Arya lagi.”


Arya pelan-pelan melepas pelukannya.


“Ingat ini rahasia kita saja. Arya nggak boleh ngomong-ngomong sama siapapun! Sekarang kami berdua mau pergi dulu. Ntar kami pasti nyamperin Arya lagi … Nyamar jadi … gimana kalau Spiderman?”


“Uytaman aja, Pa!” seru Arya dengan gembira.


“Oke!Tapi ada syaratnya? Arya janji harus cepat sembuh dulu!”


“Oce!!!”


“Tos dulu!”


Arya pun tos dengan Damar dan Bagas. Setelah itu mereka berdua meninggalkan Arya di pembaringannya. Arya tersenyum bahagia karena sudah bisa melepas kangen dengan papanya.


Sementara itu Yuda sejak tadi sibuk mengalihkan perhatian resepsionis dengan pura-pura bertanya macam-macam. Hal itu ia lakukan agar resepsionis itu tidak melihat ke arah monitor CCTV. Dan terbukti upayanya berhasil. Meskipun tingkahnya telah membuat gadis cantik itu sedikit emosi. Yuda baru menghentikan aktifitasnya setelah melihat Damar dan Bagas muncul dari balik lorong.


“Makasih banyak ya, Gas … Yud … Akhirnya aku bisa bertemu dengan anakku.”


“Sama-Sama Bro.”


BERSAMBUNG


Dibaca senang, apalagi dikomentari ...

__ADS_1


__ADS_2