SUAMI RAHASIA PENYANYI DANGDUT

SUAMI RAHASIA PENYANYI DANGDUT
PULANG


__ADS_3

Tapi pemuda itu mengurungkan niatnya karena ia masih


berkonsentrasi menahan rasa sakit yang ia rasakan. Alhasil, dari tempat ia


duduk ia hanya bisa mendengar suara riuh teriakan penonton dan juga suara emas


Reni yang berharmonisasi dengan alunan musik dangdut yang menggelegar di


sekitar pentas pertunjukan.


“Ternyata suara anak itu lumayan juga, tapi kenapa dia harus


memilih jalur dangdut? Cara ia menyapa penoton juga luwes sekali. Ah, kenapa


aku malah memikirkan Reni?”


Damar terus menunggu di tempat itu sampai Reni selesai


menyanyikan beberapa lagu. Kemudian ia pun buru-buru membayar minuman yang ia


pesan dan berangkat menuju ke lokasi pementasan. Ia harus menjemput Reni ke


tempat tadi karena perempuan itu tentu saja tidak berani menyeruak kerumunan


penonton sendirian. Harus ada Damar yang melindungi Reni dari godaan fans


perempuan itu.


“Mar, ke mana saja kamu? Aku sudah menunggu sejak tadi,”


keluh Reni.


“Nggak ada Ren. Perlu effort lebih untuk bisa sampai ke sini


karena penontonnya banyak banget.”


“Loh, bibir kamu kenapa jontor begitu?” Reni bertanya sambil


berusaha memegangi bibir Damar secara refleks.


“Aduh, sakit Ren!”


“Kamu habis berkelahi, ya?”


“Enggak kok Ren!”


“Terus ini apa kalau bukan karena habis berkelahi? Makanya


kalau ada pentas dangdut nggak usah deket-deket kalau nonton! Kadang ada yang


suka bikin onar emang!”


Damar agak geli juga mendengar ucapan Reni. Bagaimana tidak,


Reni sebagai penyanyi dangdut malah menyuruh dia untuk tidak dekat-dekat dengan

__ADS_1


pentas?


“Reni … Reni … ngapain aku nonton pentas dangdut di depan?


Aku ini nggak suka musik dangdut, Ren!” Damar berkata pada dirinya sendiri


sambil menahan geli.


“Aku nggak apa-apa kok,Ren. Tadi aku Cuma ketemu Reno!”


jawabnya singkat.


“APA??? Jadi Reno yang melakukan ini sama kamu?” Reni


berkata dengan sedikit berteriak sampai penyanyi lain yang sedang bersiap diri


di tempat itu juga menoleh ke arah Reni.


“Bukan! Temannya yang tiba-tiba saja memukulku saat Reno


sedang berbicara denganku.”


“Maksudmu si Jack?”


“Iya. Reno memanggilnya Jack. Kalau saja orang-orang itu


tidak melerai kami pasti sudah kuhajar si Jack itu!” jawab Damar dengan nada


emosi.


“Entahlah! Dia tiba-tiba datang dan langsung memukulku. Sepertinya


Reno juga tidak setuju dengan tindakannya.”


“Oooo … Dasar Jack itu ikut campur tangan saja urusan orang.


Sekarang mereka ke mana?”


“Mereka sudah pergi. Ya, setidaknya aku sudah mengetahui


kekuatan mereka. Aku tidak perlu takut dengan mereka lagi. Malah aku ingin


membuat perhitungan dengan si Jack itu.”


“Mar, Reno itu banyak temannya. Aku takut terjadi sesuatu


sama kamu?”


“Kamu pikir aku takut? Pokoknya aku harus memberikan


pelajaran untuk si Jack itu. Kamu nggak usah ikut-ikut!”


“Antarin aku pulang saja sekarang, ya?” Reni tidak bisa


membendung kemarahan Damar saat itu.

__ADS_1


“Oke. Kita lewat pintu belakang rumah ini ya? Soalnya di


depan fansmu sudah berkerumun ingin bertemu dengan kamu.”


“Iya, Mar!”


Damar pun meminta ijin kepada tuan rumah untuk diberikan


akses keluar melalui pintu belakang dan mereka menyetujui dan tentu saja Reni


diajak foto-foto duluan oleh mereka. Damar geli sendiri melihat Reni yang


begitu dipuja oleh mereka. Damar tersenyum geli melihat pakaian manggung Reni


yang menurutnya terlihat aneh.


Sebelum keluar, Damar memberikan jaket Ojolnya untuk dipakai


oleh Reni.


“Loh, kok aku yang make?”


“Ya, biar orang-orang nggak bisa ngelihat kamu!”


“Oh … Iya makasih.”


Mereka berdua pun keluar dari rumah itu melalui pintu


belakang. Ternyata trik Damar cukup sukses. Mereka bisa keluar tanpa terendus


fans fanatik Reni yang sudah menunggu di depan rumah pemilik hajat. Sehingga


mereka bisa sampai ke motor Damar tanpa gangguan sedikit pun.


“Makasih ya, Mar!” ucap Reni sambil membonceng di belakang


Damar.


“Sama-Sama …”


Reni ingin sekali bersandar di punggung Damar, tapi ia malu.


Sebelum akhirnya keberadaan polisi tidur membuat perempuan itu terpaksa


merangkul Damar dengan erat.


“M-Maaf ya, Mar!”


“Nggak apa-apa. Kamu pegangan saja. Jalannya banyak yang


rusak. Biar nggak jatuh.”


Dengan rasa canggung perempuan itu pun melingkarkan


tangannya ke perut Damar.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2