SUAMI RAHASIA PENYANYI DANGDUT

SUAMI RAHASIA PENYANYI DANGDUT
MUSIBAH


__ADS_3

Siska dan Dave pun meninggalkan rumah Damar menuju pengadilan agama untuk menghadiri sidang perdana gugatan cerainya terhadap Damar. Sepanjang jalan, mereka berdua tampak sangat mesra dan berasyik masuk menikmati hubungan terlarang mereka yang saat itu sudah mendapatkan dukungan penuh dari keluarga Siska. Siska benar-benar kagum dan mencintai sosok lelaki seperti Dave yang tampan, hangat, dan tentunya selevel dengannya.


Drrrt …


Dave menerima pesan masuk di Ponselnya. Laki-Laki itu buru-buru mengambil Ponselnya yang berada di atas dashboard. Ia pun kemudian membaca isi pesannya.


“Dari siapa, Honey?” tanya Siska dengan penasaran.


“Eh … Biasa, dari relasi bisnis, Say …,” sahut Dave dengan gugup.


“Mana, aku mau lihat!” ujar Siska sambil bangkit dari pangkuan Dave.


“Kamu mulai tidak percaya sama aku, Say? Aku nggak mungkin menyembunyikan apapun dari kamu, Say. Cintaku sama kamu itu sudah yang terakhir,” balas Dave sambil mencumbu kekasihnya itu.


Siska pun larut dalam kemesraan yang diberikan secara tiba-tiba oleh Dave. Sehingga perempuan itu pun lupa untuk memeriksa isi Ponsel kekasihnya tersebut.


*


Sementara itu di rumah Reni, ibunya sedang tiduran di dalam kamar. Sementara Reni sudah ijin kepada ibunya untuk membeli keperluan rumah sebentar di toko Bu Hajah yang letaknya kurang lebih dua ratus meter dari rumahnya. Sosok Reni yang ramah membuat para tetangga betah berlama-lama mengobrol dengan gadis itu.


“Mbak Reni sekarang kan sudah jadi penyanyi terkenal, nih? Kok masih mau belanja di warung kecil kayak gini?” goda Bu Hajah.


“Ah, Bu Hajah ini berlebihan saja. Saya kan hanya artis kampungan saja, Bu. Terkenal karena ada orang yang iseng mengunggah video saat saya tampil ke media sosial. Warung Bu Hajah ini kalau ada yang mengunggah ke media sosial pasti juga terkenal kok.”


“Ah, Mbak Reni ini merendah saja. Suara Mbak Reni emang enak didengar kok. Kami semua di sini suka kok nonton penampilan Mbak Reni di HP,” timbal Bu Ratna.


“Ih, saya jadi malu, Bu. Pakaian saya kan agak gimana gitu.”


“Nggak apa-apa, Mbak. Yang kami lihat itu suara dan penampilan Mbak Reni kok. Pokoknya keren banget! Semoga Mbak Reni bisa jadi artis terkenal ibu kota. Tapi, jangan sampai lupa sama kami-kami ini, ya?”


“Aaaaamiiin … Makasih doa Ibu-Ibu semuanya. Saya tidak akan lupa kalian semua kok.”


“Totalnya dua ratus empat puluh ribu rupiah, Mbak Reni.”

__ADS_1


“Ini, Bu Hajah uangnya. Kembaliannya buat Gendis saja.”


“Wah, makasih banyak Tante Reni. Semoga Tante Reni cepetan dapat jodoh.”


“Aaamiiiin ….”


“Loh, emangnya Mbak Reni belum ada calon?”


“Hm … Belum, Bu. Masih mau konsen ke karir dan pengobatan ibu dulu.”


“Oooo … Kalau calon, sudah ada belum?”


“Belum juga, Bu.”


“Mau saya kenalin sama keponakan suami saya tah? Dia sekarang jadi TKI di Arab Saudi. Kabarnya dia juga sedang cari istri untuk diboyong ke sana. Gimana?”


“Terima kasih, Bu Hajah. Kasihan ibu saya, Bu Hajah.”


“Iya sih. Ntar deh kalau ada lagi yang sesuai denga Mbak Reni saya kenalkan lagi.”


“Iya, Mbak Reni. Hati-Hat di jalan!”


“Assalamualaikum …”


“Waalaikumsalam …”


Reni pun pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan banyak sekali tetangganya yang menyapa gadis itu. Pemuda-Pemuda pengangguran di desa tersebut juga turut menggoda gadis itu. Reni yang memang ramah itu tak kehabisan cara menghadapi mereka semuanya.


Akhirnya, sampailah gadis itu di rumahnya. Ia terkejut sekali saat melihat rumahnya tampak awut-awutan seperti habis digeledah. Yang ada di benaknya saat itu adalah ibunya.


“Ibuuuuuuuu … Ibuuuuuuuu …” teriak Reni sambil mencari keberadaan ibunya.


Gadis itu tidak menemukan ibunya di kamar. Sementara kondisi kamar dan seluruh ruangan di rumahnya sudah tak karuan. Baju berserakan di mana-mana. Karena panik gadis itu pun berteriak meminta pertolongan.

__ADS_1


“Tolooooooooong!!!! Tolooooooong!”


Para tetangga yang mendengar suara teriakan Reni pun berdatangan ke rumah gadis itu.


“Ada apa Mbak Reni?”


“Ibu hilang Pak RT.”


Reni dengan dibantu oleh para warga pun mencari keberadaan ibunya Reni dan ternyata mereka menemukan ibunya Reni sedang diikat tangannya di bawah tempat tidur. Sementara mulutnya diperban dengan menggunakan lakban.


“Ibuuuuuuuuu …” teriak Reni sambil memeluk ibunya.


Warga pun membantu melepaskan ikatan di tangan dan di mulut perempuan tua itu.


“Re-re-reeeeni …” Ibunya Reni menangis dan tergagap karena masih syok.


Perempuan itu tidak memperdulikan pertanyaan tetangga-tetangganya yang menanyakan apa yang telah terjadi pada perempuan itu. Ia hanya memeluk Reni dengan erat. Ia masih trauma dengan kejadian yang baru saja menimpanya.


Setelah Bu Ratna memberikan segelas air untuk ditenggak oleh ibunya Reni, barulah perempuan itu merasa sedikit tenang.


“Sebaiknya Ibu istirahat saja dulu! Kita nggak usah tanya-tanya dulu kepada beliau karena beliau sepertinya sedang syok,” ucap salah satu tetangga.


Reni dengan dibantu tetangga pun menggotong ibunya ke atas tempat tidur. Reni tidak berani jauh-jauh dengan ibunya karena ia tahu saat ini yang dibutuhkan oleh ibunya adalah dirinya. Reni sedih sekali melihat kondisi ibunya yang seperti itu. Para warga masih berkerumun di rumah Reni dan mereka asyik membuat analisa dan berbincang tentang kejadian itu satu dengan lainnya. Pak RW menghubungi pihak Polsek untuk memberitahukan perihal kejadian itu.


Setelah beristirahat cukup lama, akhirya ibunya Reni pun cukup berani untuk menceritakan apa yang terjadi pada dirinya beberapa waktu yang lalu. Menurut perempuan itu, saat Reni baru berangkat berbelanja, tiba-tiba ada suara sepeda motor didepan rumah. Setelah itu ia mendengar ada upaya orang untuk membuka pintu. Karena dikunci, mereka masuk melalui jendela. Karena penasaran, ibunya Reni pun berusaha turun dari tempat tidur ke kursi roda. Dan keberadaannya diketahui oleh dua orang penjahat itu. Ia pun diancam dan diikat di bawah tempat tidur. Setelah itu perempuan itu hanya bisa menyaksikan bahwa kedua orang itu membuka seluruh lemari dan rak di rumah itu. Entah apa yang sudah mereka ambil dari rumah itu.


“Mbak, Ren coba kamu periksa barang-barang berhargamu!” ujar salah seorang warga.


Reni dengan penuh keraguan pun mulai memeriksa barang-barang berharga yang ia miliki. Selanjutnya, gadis itu pun menangis tersedu-sedu karena penjahat itu sudah mengambil semua barang berharga miliknya. Uang, emas, bahkan pakaian-pakaian pentasnya diembat oleh perampok-perampok itu.


“Apa saja yang hilang, Mbak Ren?” tanya Bu Hajah.


“Semua Bu Hajah. Semua uang tabungan dan pakaian-pakaian panggung yang saya beli dengan cara menabung diambil oleh mereka.”

__ADS_1


Semua warga yang berada di tempat itu ikut bersedih dengan kejadian yang menimpa salah satu warga mereka yang terkenal baik itu.


BERSAMBUNG


__ADS_2