
Reni merasa begitu bahagia dan damai berada di dekat Damar. Reni memang sejak masih SMP sudah mengidolakan pemuda itu. Sulit dipungkiri di hati perempuan itu masih ada benih-benih cinta terhadap Damar. Tentu sebagai perempuan, Reni tidak berani mengungkapkan perasaannya. Ada kekhawatiran di lubuh hatinya bahwa Damar sudah memiliki kekasih atau Damar tidak memiliki perasaan apapun terhadap dirinya. Mungkin Damar hanya prihatin terhadap keadaan dirinya yang berada di posisi yang tidak mengenakkan seperti itu. Harus bekerja menjadi penyanyi dan harus menghindari anak dari bos orkes yang ia ikuti.
Cuaca yang semula cerah tiba-tiba menjadi mendung seketika dan tiupan angin berembus dengan kencang sebagai pertanda bahwa sebentar lagi hujan akan datang. Damar memarkirkan motornya di sebuah gubuk di pinggir jalan.
“Ren, kita mau berteduh di gubuk ini atau melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jas hujan ponco yang aku bawa?” tanya Damar dengan suara lembutnya.
Reni tidak menjawab apa-apa karena ia sudah memasrahkan dirinya pada pemuda itu sepenuhnya. Berteduh di gubuk tua itu atau pun melawan hujan, keduanya sama-sama pilihan yang romantis bagi perempuan itu.
“Biar nggak kemaleman, sebaiknya kita lanjutkan perjalana saja!” ucap Damar tak sabar karena menunggu jawaban Reni yang tak kunjung keluar dari mulutnya.
Akhirnya Damar pun mengeluarkan jas hujan ponco dari jok motornya dan setelah memakainya ia pun duduk di jok menunggu Reni datang menyusulnya.
“Ayo, keburu basah tempa dudukmu!” ajak Damar pada Reni.
Perempuan itu pun akhirnya naik ke jok motor dan masuk ke dalam jas hujan.
“Pegangan yang kuat seperti tadi biar tidak jatuh!” perintah Damar.
__ADS_1
Entah kenapa kali ini perempuan itu agak canggung ketika akan melingkarkan kedua tangannya di perut Damar. Mungkin karena keberadaan jas hujan itu yang membuat hati perempuan itu merasa agak deg-degan. Seperti membaca apa yang dipikirkan oleh Reni, Damar langsung menarik pergelangan tangan Reni untuk dilingkarkan ke perutnya.
“Ayo, buruan! Kalau jatuh ntar aku dimarahi ibumu!” ucap Damar.
Perempuan itu pun cukup kaget mendapat reaksi spontan dari pria itu. Setelah posisi siap Damar pun kembali melanjutkan perjalanannya dengan lebih berhati-hati karena kondisi jalan yang menjadi agak licin akibat diterpa air hujan. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mereka berdu akhirnya pun sampai di rumah Reni. Reni mempersilakan Damar untuk mampir ke rumahnya terlebih dahulu untuk dibuatkan teh hangat sekaligus dipertemukan dengan ibunya. Mereka pun mengobrol bertiga secara asyik tanpa menyadari bahwa sejak tadi ada seseorang yang mengikuti mereka dari belakang mulai dari lokasi pertunjukan sampai ke rumah Reni. Setelah bercengkaram agak lama di rumah Reni, Damar pun pamit pulang.
“Mar!” panggil Reni pada pemuda yang sudah bersiap untuk pulang itu.
“Ada apa, Ren?” tanya Damar sambil berusaha membuka helm yang sudah terpasang.
“Makasih ya? Hati-Hati di jalan!” jawab Reni sambil melempar senyuman manisnya.
Keduanya pun berpisah dengan menyisakan perasaan nyaman di hati mereka berdua.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sampailah Damar di rumahnya. Baru saja ia akan masuk ke rumahnya, tiba-tiba suara Bu Inggrid memanggilnya.
“Mas Damar! Mas Damar!” teriak Bu Inggrid sambil berlari dari rumahnya menuju rumah Damar.
__ADS_1
“Ada apa Miss?” teriak Damar dari atas motornya.
“Mas, tadi ada kurir yang mencari alamat Mas Damar terus menitipkan surat ini kepada saya,” jawab Bu Inggrid dengan ngos-ngosan sambil menyerahkan sebuah surat berlogo pengadilan agama.
“Surat apaan ini?” Damar bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
“Mas, kayaknya itu surat panggilan sidang gugatan cerai dari istrinya Mas Damar. Kok bisa kebetulan begitu ya, Mas? Kok saya yang nerima suratnya? Jangan-Jangan ini isyarat dari Tuhan kalau kita berjodoh?” ucap Bu Inggrid dengan kenesnya.
Damar menatap aneh ke arah Bu Inggrid.
“Terima kasih ya, Bu, sudah menyampaikan surat ini kepada saya. Hm … saya sekarang permisi mau istirahat dulu” ucap Damar dengan ramah.
“Hm … I-iya, Mas. Selamat beristirahat ya! Ngomong-Ngomong Mas Damar sudah makan apa belum? Kalau belum saya ambilkan makanan di rumah,” sahut Bu Inggrid.
“Kebetulan sudah tadi di jalan, Bu. Terima kasih,ya?” balas Damar.
Damar pun masuk ke dalam rumahnya dengan ditatap oleh Bu Inggrid dengan wajah berbinar karena senang bisa melihat pemuda tampan tersebut. Sesampai di dalam kamarnya Damar pun membuka isi surat itu. Ternyata benar dugaan Bu Inggrid. Itu adalah surat panggilan sidang gugatan cerai dari pengadilan agama. Entah kenapa ada perasaan nyeri dan sakit di dada pemuda itu. Bayangan perjalanan rumah tangganya dengan Siska kembali muncul di benaknya. Perasaan itu campur aduk di dalam hatinya. Tetesan air mata mengalir ke pipi pria tampan itu. Sulit untuk dijelaskan apakah itu sebagai tanda ia masih menyayangi Siska atau ia menyayangi Arya atau ia merasa sedih karena hal lain. Tidak ada orang yang ingin gagal membina rumah tangga di dalam hidupnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG