
Damar kembali ke pangkalan ojek dengan perasaan was-was. Yuda dan Bagas yang melihat ekspresi ketakutan sahabatnya itu pun buru-buru bertanya.
“Kamu kenapa, Bro?” sapa Yuda.
Damar yang sedang panik pun langsung turun dari motor dan menghampiri kedua temannya.
“Yud … Gas … barusan aku ketemu sama orang itu.”
“Ketemu siapa, Bro? Tampangmu kayak habis ketemu setan saja?” Bagas memegang pundak sahabatnya itu.
“Itu … Aku kan sudah cerita ke kalian kalau aku pernah menghajar pria yang memaksa Reni teman SMP-ku yang penyanyi dangdut itu. Nah, barusan pria itu nyamperin aku pas aku nganterin makanan ke rumah salah satu customer.” Damar bercerita dengan gugup.
“Apa dia tadi sempat mengikutimu?”
“Enggak sih. Tapi, aku yakin dia sekarang hapal wajahku.”
“Kamu tenang aja, Bro! Driver di kota ini kan banyak banget dan secara sekilas hampir sama. Aku yakin dia tidak akan semudah itu menemukan kamu.” Yuda berkata dengan optimis.
“Benar kata Yuda, Bro. Sudahlah kamu nggak usah terlalu khawatir begitu. Toh, kamu nggak salah-salah benar, kan? Kamu hanya berusaha melindungi pacarmu, kan?” ledek Bagas.
“Pacar … Dia itu teman SMP-ku.” Damar berusaha membantah.
“Halah! Ntar juga kamu embat.”
“Ya sudah, Bro! Ini sudah sore. Ayo, kita segera berangkat ke pasar loak untuk membeli seng untuk atap kamarmu!”
Mereka bertiga pun langsung berangkat menuju ke tempat yang menjual seng-seng bekas yang masih bagus secara patungan dari hasil kerja seharian ini. Mereka menyewa becak untuk mengantar seng-seng itu sampai ke rumah Damar.
“Makasih atas bantuan kalian berdua. Aku tidak akan melupakan bantuan kalian hari ini.”
“Apaan kamu, Bro! Sebaiknya kamu segera pinjam alat-alat pertukangan ke Bu Inggrid. Setidaknya kita bisa mencicil pekerjaannya hari ini.” Yuda menjawab.
“Kamu masih ingat kan Bro cara memasang kuda-kuda rumah?” tanya Bagas.
“Bisa lah dikit-dikit.”
“Sip … yang penting nggak bocor saja.”
__ADS_1
“Ya sudah, aku ke Bu Inggrid dulu …”
“Oke, Bro!”
Damar pun berangkat ke rumah Bu Inggrid dan ternyata saat itu perempuan itu sedang ada di rumah. Tidak hanya alat-alat pertukangan yang dipinjamkan oleh perempuan itu, tapi sore itu ia juga ikut nimbrung bersama ketiga pria itu. Tentu saja kehadiran perempuan itu membuat suasana di rumah Damar menjadi lebih ceria. Menjelang magrib barulah pekerjaan mereka membuat kuda-kuda dari sisa-sisa kayu selesai. Dan mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing.
Sementara itu di rumah sakit, kondisi Arya semakin parah saja. Balita itu masih berada di ruangan PICU. Tuan Hisyam dan keluarganya menunggu hasil observasi dengan penuh kekhawatiran. Ketika dokter yang bertugas memeriksa Arya keluar dari ruangan PICU, Tuan Hisyam pun langsung memberondong dokter tersebut dengan banyak pertanyaan.
“Bagaimana kondisi cucu saya, Dok? Tidak ada yang membahayakan, kan?”
Dokter tidak langsung menyahut. Ia merangkul Tuan Hisyam dan mengajaknya masuk ke ruangannya. Nyonya Tiara dan Siska hanya diperbolehkan menunggu di luar ruangan. Mereka berdua menunggu kabar dari Tuan Hisyam yang sedang mengobrol dengan dokter yang menangani Arya.
Cukup lama Tuan Hisyam berada di dalam ruangan dokter. Setelah menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya yang mereka tunggu-tunggu pun keluar juga.
“Apa penjelasan dokter, Pa? Arya tidak apa-apa, kan?” Giliran Nyonya Tiara yang memberondong pertanyaan kepada suaminya.
“Ma, menurut dokter kondisi HB Arya sangat rendah. Ia memerlukan transfusi darah. Golongan darahnya A rhesus positif.”
“Kita bertiga tidak ada yang golongan darah A, Pa. Di PMI apa tidak ada, Pa?”
“Stop, Pa! Kita harus berusaha dulu. Sis, ayah kandung atau keluarga kandung Arya pasti ada yang cocok dengan golongan darah Arya. Kamu tahu tempat tinggal mereka, kan?”
“Tidak, Ma! Aku tidak sudi bertemu dengan keluarga begundal itu!” sergah Tuan Hisyam.
“Pa! Ini demi keselamatan Arya,” balas Nyonya Tiara dan Tuan Hisyam pun terdiam.
“Sis, kamu tahu alamat mereka, kan? Ayo, kita ke sana sekarang!” paksa perempuan itu.
“Ma … sejak kejadian itu, Tio kabur ke luar negeri dan tidak kembali sampai sekarang,” jawab Siska dengan terbata-bata.
“Orang tua Tio atau saudara-saudara Tio pasti ada, kan?” tanya Nyonya Tiara lagi.
Siska menarik napas dalam-dalam.
“Tio itu hanya anak angkat dalam keluarga mereka, Ma.”
“Ya Tuhan! Arya … Apa yang harus kita lakukan sekarang, Pa?” Nyonya Tiara mulai panik.
__ADS_1
“Baiklah! Aku akan meminta semua anak buahku untuk menyebarkan informasi tentang kebutuhan darah ini. Aku yakin dengan imbalan yang besar pasti akan ada orang yang mau mendonorkan darahnya untuk Arya.” Tuan Hisyam buru-buru mengirimkan pesan kepada beberapa anak buahnya.
“Iya, Pa! Tolong kirim pesannya ke aku dan Siska juga. Supaya kami bisa mengirim ke group-group pertemanku.”
“Oke.”
Mereka bertiga pun mulai menyebarkan informasi pencarian darah tersebut melalui sosial media. Dan benar saja dugaan Tuan Hisyam, beberapa waktu kemudian banyak orang yang datang ke rumah sakit tersebut untuk mendonorkan darahnya. Sayangnya, sampai sore hari tidak juga ditemukan darah yang sehat dan sesuai dengan kriteria dokter. Menurut dokter, sangat riskan melakukan transfusi darah pada Balita maka mereka mencari darah yang benar-benar bagus agar tidak membawa efek samping berkepanjangan bagi Arya.
“Pa, bagaimana ini? Sudah beberapa orang datang ke sini untuk mendonorkan darahnya, tapi tidak ada yang cocok dengan darah Arya?” Nyonya Tiara mengeluh sambil menangis.
“Arya … Maafkan ibu, Nak. Selami ini ibu sudah sering mengabaikanmu.” Siska ikut merengek.
“Kalian tenang saja! Pasti nanti akan ada yang cocok dengan darah Arya. Papa yakin itu. Papa yakin masih banyak orang yang ingin mendonorkan darahnya untuk Arya. Siapa sih yang tidak tergiur dengan tawaran hadiah dariku?” sahut Tuan Hisyam dengan sombongnya.
“Nyatanya sampai saat ini belum ada darah yang cocok dengan Arya, Pa!” protes Nyonya Tiara.
*
Pukul tujuh malam, ketika Damar baru saja selesai sholat Isya, Ponsel Damar berdering. Ternyata Bagas yang menghubunginya.
“Iya, Gas. Ada apa?”
“Mar, apa kamu sudah tahu? Arya saat ini sedang dirawat di rumah sakit dan membutuhkan transfusi darah golongan A rhesus positif?”
“Astagfirullah! Tidak, Gas. Aku belum mendengarnya. Aku harus ke sana sekarang!”
“Iya, Mar. Aku dan Yuda akan ke sana sekarang juga. AKu sudah mengirim pesan berantainya ke nomormu. Di sana sudah lengkap infonya”
“Iya, Gas. Makasih …”
Seperti kesetanan, Damar pun segera berkemas dan buru-buru berangkat ke rumah sakit. Saat itu ia tidak peduli akan diolok-olok oleh keluarga mantan istrinya atau tidak. Yang ada di pikirannya saat itu Cuma satu. Ia ingin menemui Arya, anak yang sudah ia asuh mulai di dalam kandungan.
“Arya … tunggu papa, Nak!” gumam Arya dengan mata sembap.
BERSAMBUNG
Hm ... sudah lama nunggu lanjutanya, ya?
__ADS_1