SUAMIKU TAKDIRKU

SUAMIKU TAKDIRKU
Berpikir Buruk Tentang Aliya


__ADS_3

Arman yang sedang berada di gang sempit setelah menculik Gilang itu melepaskannya.


"Pergi sebelum saya berubah pikiran!" kata Arman seraya menatap Gilang yang tersungkur.


"Siapa dia? Sebelumnya, gue enggak pernah lihat dia!" kata Gilang. Pria itu merasa penasaran dan Gilang berpura-pura pergi untuk menguping.


"Tuan, pria itu kekasih istri anda," kata Arman dari sambungan teleponnya.


"Apa Aliya sudah menikah? Pria yang di apartemen itu, apa dia suami Aliya?" tanya Gilang dalam hati dan setelah itu, Gilang segera pergi sebelum keberadaannya diketahui Arman.


"Pria bodoh mana yang mau menutupi kehamilan Aliya?" Gilang masih bertanya-tanya dalam hati.


Gilang berjalan ke arah kafe di mana mobilnya terparkir.


Dan tak habis pikirnya, Gilang justru mengira kalau Reno juga menikmati Aliya. "Apa Aliya main serong di belakang ku? Jadi pria itu mau saja bertanggung jawab?"


Merasa kesal dengan pertanyaannya sendiri, Gilang pun segera pergi setelah sampai ke parkiran dan duduk di bangku kemudinya.


Sementara itu, di apartemen, Reno tengah tertawa terbahak.


"Hahaha!"


"Ternyata, dia masih penasaran sama Aliya, pria bodoh, kalau cinta kenapa melepaskan" kata Reno seraya bangun dari duduknya.


Sekarang, Reno berdiri di depan pintu kamarnya.


"Aliya!" teriak Reno seraya berkacak pinggang.


Dan yang dipanggil pun segera mendekat.


Aliya merasa berdebar saat Reno memanggilnya. Apalagi dengan tatapannya yang mampu menghunus jantungnya. Jantung yang hampir mati rasa sebelum memutuskan untuk melawan rasa takutnya pada Reno, sekarang berubah menjadi ingin selalu mengganggunya.


"Aku ini deg-degan karena takut atau karena hal lain? Semacam grogi atau-" ucap Aliya dalam hati, dan ucapan itu harus terpotong saat Reno menoyor kepalanya.


Aliya yang sedang menatap Reno pun tersadar.


"Iya, ada apa?" tanya Aliya seraya mengusap kepalanya yang ditoyor oleh Reno.


"Dengarkan baik-baik, putuskan hubungan mu dengan pacarmu itu!" kata Reno seraya menatap Aliya.


"Jangan ge'er kamu, ya. Ini untuk pernikahan pura-pura kita, bukan yang lain!" ucap Reno dengan tegasnya setelah melihat senyum Aliya yang merekah.


"Untuk yang lain juga enggak papa, kok, Pak!" jawab Aliya.


"Aku bicara serius! Bisa enggak sih, kamu waras sebentar aja!" kata Reno seraya melipat tangannya di dada.

__ADS_1


Aliya pun menundukkan kepala, memasang wajahnya sedihnya.


"Ada apa ini, kenapa dia tiba-tiba sedih? Aneh, apa jangan-jangan dia punya kepribadian ganda?" tanya Reno dalam hati.


Lalu, Aliya kembali menatap Reno. Tersenyum manis dan mengatakan kalau memang sudah seharusnya hubungannya dengan Gilang itu berakhir.


"Aku juga udah enggak mau ada urusan lagi sama dia, tapi dia yang datang buat ketemu aku, bukan salah aku, kan?" tanya Aliya dan Reno menarik nafas dalam.


Reno benar-benar merasa kesal dibuatnya, Reno pun kembali masuk ke kamar.


Di dalam, Reno yang sedang melepaskan dasinya itu bergumam, "Capek ngadepin anak kecil!" kata Reno seraya melempar dasinya ke keranjang pakaian kotor.


****


Di balik pintu, Aliya masih berdiri di sana. "Apa Bapak terganggu sama Gilang?" tanya Aliya dalam hati.


Gadis itu pun merasa senang apabila benar begitu adanya, Aliya berpikir kalau Reno mulai memikirkannya dan sebentar lagi Reno akan kembali menjilat ludahnya karena telah jatuh hati lebih dulu.


Lalu, Aliya mencium bau benda terbakar, seketika, Aliya teringat kalau dirinya sedang menyetrika.


"Astaga!" Aliya pun segera lari ke ruang laundry dan benar saja, lengan kemeja Reno menjadi buntung sebelah.


"Aduh, gimana ini, kalau dia liat pasti ngamuk!" kata Aliya seraya menatap lengan yang hangus.


"Untung, untung cuma lengannya! Kalau badannya, bisa mati aku!" pikir Aliya.


****


Di apartemen Gilang, pria itu yang baru saja masuk ke kamarnya, melemparkan tasnya di sofa.


Setelah itu, Gilang pun menjatuhkan dirinya di ranjang.


Gilang merasa senang dan merasa kalau dirinya tidak memiliki beban lagi dengan Aliya yang menikah dengan orang lain.


"Aliya, pintar juga lo!" kata Gilang


seraya menatap bantal guling yang berada di sebelahnya, masih terbayang jelas saat Aliya berada di atas ranjang itu dan Gilang yang teringat dengan Aliya itu mengirim pesan.


"Al. Sejak kapan lo pintar?" tanya Gilang dan Aliya yang sedang mengerjakan tugas itu hanya membaca pesan Gilang.


"Ngapain sih, dia. Dia sendiri yang buang aku, dia sendiri juga yang repot!" kata Aliya seraya menghapus pesan itu.


Lalu, tidak lama kemudian, Aliya kembali mendapatkan pesan dari Gilang.


Pesan itu. "Al, secepat itu lo dapat orang buat nutup aib! Pintar, atau memang jangan-jangan lo ada main juga sama Bapak-bapak itu? Makanya dia mau tanggung jawab sama lo?"

__ADS_1


Membaca itu, Aliya merasa kalau Gilang sedang meremehkan.


"Memangnya, aku wanita seperti itu? Jahat kamu, Gilang!" balas Aliya yang tak tahan lagi dengan apa yang Gilang tuduhkan.


Setelah itu, Aliya memblokir nomor Gilang dan Aliya tidak dapat fokus ke tugasnya. Aliya menjatuhkan kepalanya di atas meja belajarnya.


Aliya menangis.


"Cukup kamu enggak tanggung jawab aja, udah bikin aku sakit, Gilang, enggak usah kamu tambahin dengan tuduhan kamu yang enggak benar itu!" rintih Aliya dalam hati.


Dan Aliya yang sedang menangis itu harus menyudahinya saat singanya itu memanggil.


"Aliya, mana makan malam?"


Aliya bangun dengan wajah datarnya, ia menghampiri Reno yang berdiri di meja makan.


"Enggak ada, hari ini, aku lelah, banyak tugas dan tangan ku cuma ada dua!" jawab Aliya yang kemudian memutar balikkan badannya, ia meninggalkan Reno yang menatapnya.


Lalu, Aliya harus berhenti saat Reno menarik rambut kuncir kuda Aliya dari belakang.


"Kalau engga masak, kamu belanja buat apa?" tanya Reno seraya menatap gadis mungil yang ada di depannya.


Aliya pun melepaskan tangan Reno dari rambutnya.


Aliya yang sedang kacau itu tak ingin mencari ribut dan Aliya memberikan solusi.


"Pesan saja, delivery!" jawab Aliya yang kemudian pergi ke kamarnya.


"Ada apa dengannya? Tumben, biasanya akan dibuat seimut mungkin?" tanya Reno dalam hati.


Setelah itu, Reno pun pergi keluar, ia ingin mencari udara segar sekaligus makan malam.


Berbeda dengan Aliya, ia tengah duduk, murung sendiri, menatap lampu-lampu taman dari jendela kamarnya seraya menyangga dagunya.


"Ibu, Ayah. Aliya kangen," kata Aliya.


Setelah lelah, Aliya pun memutuskan untuk tidur dan Aliya yang sedang hamil muda itu tak dapat tidur dengan nyenyak.


Esok paginya, Aliya bangun dengan sedikit malas, setelah menyiapkan sarapan, Aliya pun segera bersiap karena hari ini adalah kelas pagi.


Tak terjadi suatu apapun karena Aliya lebih memilih diam dan diamnya Aliya membuat Reno merasa sedikit sepi.


Bersambung.


Jangan lupa like dan komen ya, all. Difavoritkan juga.

__ADS_1


__ADS_2