
Di kamar, Aliya menatap wajahnya di cermin meja rias, ia membayangkan apa yang baru saja Reno lakukan.
"Menyebalkan, dia sendiri yang tidak tau batasan, tapi kenapa aku yang selalu dimarahi!" gerutu Aliya seraya menatap dirinya di cermin, gadis bermata sipit itu merangkum wajahnya yang masih merona dan Aliya yang masih sedikit gemetar itu harus segera tersadar lantaran teringat dengan Bunda mertua yang sedang menunggu.
"Al, kita mau pergi, ayo cepat bersiap!" kata Reka seraya membaca majalahnya.
Mendengar itu, Aliya pun segera bersiap dan tak menunggu lama, sekarang, Aliya sudah berada di depan Reka.
Aliya tersenyum, malu karena baru saja Reka melihat adegan live.
Reka membalas senyum Aliya seraya bangun dari duduk. Lalu, keduanya pun berjalan beriringan keluar dari apartemen.
Pertama, Reka membawa Aliya untuk berbelanja perhiasan dan Aliya bebas memilih.
"Benar, Bun? Aliya bebas pilih?" tanya Aliya seraya menatap Reka.
Reka pun menganggukkan kepala.
"Iya, sebagai hadiah pernikahan kalian!" kata Reka.
"Benar, waktu itu Bapak batu enggak bawa perhiasan. Dengan alasan enggak sempat, sekarang, aku bebas pilih, berarti bukan salahku!" batin Aliya, ia tersenyum pada Reka dan Reka kembali menyuruh Aliya untuk segera mengambil yang diinginkan.
"Ayo cepat, kalau kamu terus tersenyum, nanti gigi kamu kering!" kata Reka seraya tersenyum dan menggelengkan kepala.
Aliya mengangguk dan karena Aliya kebingungan, akhirnya, Reka meminta pada pihak toko untuk merekomendasikan.
Dan Aliya merasa cocok dengan apa yang direkomendasikan itu, sebuah kalung dengan permata satu lengkap dengan anting dan gelangnya.
Selesai dengan itu, Aliya pun bertanya, "Setelah ini, kita kemana, Bun?" tanyanya seraya menatap Reka yang berjalan di sampingnya. Sementara belanjaan Aliya dibawakan oleh Pak sopir yang berada di belakang mereka.
"Kebetulan, skincare Bunda habis, ayo kita belanja skincare!" kata Reka dan Aliya sangat menyukai skincare.
Karena sedang hamil, tentu saja, Aliya memilih skincare yang aman untuknya.
Selesai mendapatkan apa yang dimau, Aliya pun memeluk Reka dengan sangat senangnya.
Reka sendiri merasa ikut senang karena seperti memiliki anak perempuan yang bisa diajak berbelanja mungkin sebentar lagi akan pergi ke salon bersama.
Dan Aliya, ia merasa senang, setelah masuk ke kandang singa, akhirnya, dirinya mendapatkan teman.
__ADS_1
Selesai dengan itu, sekarang, Reka membawa Aliya untuk berbelanja bahan masakan di mall yang sama dan saat itu, Aliya bertemu dengan sahabatnya yang menanyakan siapa wanita yang sedang bersama Aliya.
Dengan bangganya, Aliya memeluk lengan Reka dan memperkenalkan Reka sebagai mertuanya.
"Kenalkan, ini Bunda mertua ku!" kata Aliya seraya menatap Reka dan Reka pun mengusap rambut hitam Aliya.
"Benarkah? Tapi... kenapa aku seperti baru liat? Sepertinya, lain dengan Mami Gilang!" Sahabatnya itu masih mengingat-ingat wajah Ibu dari Gilang dan memang benar kalau mereka adalah orang yang berbeda.
"Kenapa bukan Mami Gilang?" tanyanya, ia merasa penasaran dengan jawaban Aliya dan Aliya mengedipkan mata memberi tanda supaya sahabatnya itu berhenti bertanya.
Dan Reka pun menanyakan siapa Gilang.
"Gilang? Siapa dia?"
Dengan cepat Aliya menjawab, "Dia mantan Aliya, Bun!"
Dalam hati, Zulfa, sahabat Aliya itu memujinya. "Aliya, benar-benar... bisa secepat itu dia dapat pengganti Gilang, padahal baru kemarin-kemarin aku liat mereka masih jalan bareng di kampus dan sekarang udah jadi menantu orang lain!"
"Zulfa, mantan adalah masa lalu, anak Bunda Reka adalah masa depanku!" kata Aliya dan Reka pun tersenyum.
"Benar, lupakan mantan!" kata Reka dan Aliya pun mengangguk.
Lalu, Aliya pun mengajak Reka untuk melanjutkan berbelanjanya tanpa Zulfa.
Sementara itu, di kantor, Reno yang sedang bekerja itu menjadi tidak fokus karena ulahnya sendiri.
"Astaga!? " ucap Renon seraya mengusap wajahnya, lalu, jari telunjuk tangan kanannya itu mengusap bibirnya.
"Kenapa aku jadi ikutan gila!" kata Reno seraya bangun dari duduk. Kedua tangannya itu berada di meja kerjanya.
"Bodoh!" Reno merutuki dirinya sendiri.
Apalagi, belakangan ini Reno juga mulai memikirkan gadis yang dianggapnya gila.
"Aaarrrgh!" geram Reno seraya mengacak rambutnya.
Reno merasa frustasi setelah bibirnya itu tak dapat melupakan rasa yang baru saja ia dapatkan.
Lalu, dengan angkuhnya, Reno kembali duduk dan sedikit tertawa.
__ADS_1
"Enggak... bukan aku, pasti gadis gila itu yang akan jatuh lebih dulu!" kata Reno yang kemudian tertawa, "Hahahahaa!"
Apakah benar yang dikatakan oleh Reno? Bahwa yang akan jatuh lebih dulu adalah Aliya? Tentu saja, apa yang baru saja dikatakan oleh dirinya itu hanyalah karena dirinya yang menyangkal, menyangkal bahwa ia mulai terganggu oleh kehadiran gadis gila itu.
Setelah menyangkal, Reno yang seolah dapat kembali bekerja pun melanjutkan pekerjaannya.
****
Selesai berbelanja kebutuhan dapur, sekarang, Reka mengantarkan Aliya untuk pulang ke apartemen, sesuai dengan janjinya kalau Reka akan mengantarkan Aliya kembali pada Reno tepat waktu.
Dan sebelum pulang, Reka juga meminta pada Aliya untuk tidak lupa memberitahu pada Ibu dan Ayahnya.
Aliya menjawab, "Tentu, Aliya tidak akan melupakan mereka setelah mendapatkan pangeran!"
Mendengar itu, Reka pun merasa senang dan berdoa, semoga rumah tangga Reno dan Aliya akan bahagia selamanya.
Aliya mengantarkan Reka sampai ke pintu dan setelah itu Aliya segera merapikan dapurnya sebelum singanya itu kembali mengaum.
Selesai dengan membereskan belanjaan, Aliya pun melakukan pekerjaannya yaitu tugas rumahnya yang Reno limpahkan padanya.
Aliya yang tengah hamil muda itu merasa lelah, sejenak ia berbaring di sofa ruang tengah.
"Aku enggak boleh terlalu lelah, aku sedang hamil. Aku harus menjaga kehamilan ku! Anak ini, anak dalam kandungan ku tidak salah apapun, dia harus baik-baik saja!" kata Aliya seraya mengusap perutnya yang masih rata.
"Kamu harus tetap sehat, ya, sayang!" kata Aliya pada bayinya.
Lalu, Aliya yang tengah meluruskan lututnya di sofa seraya mengupas buah apel itu mendapatkan panggilan dari Surti.
Aliya pun meletakkan apelnya itu lagi ke meja dan segera menerima panggilan tersebut.
Tentu saja, kabar Aliya lah yang pertama Surti tanyakan dan seperti apa yang dilihat kalau Aliya dalam keadaan baik-baik saja. Surti merasa senang untuk itu.
"Pernikahan kalian terlalu mendadak, tentu saja Ibu khawatir sama anak Ibu satu-satunya!" kata Surti dan Aliya meminta pada Surti untuk tidak khawatir karena Aliya mendapatkan suami yang baik dan bertanggung jawab.
Surti mengucap syukur.
"Kalau begitu? Apa Ibu akan segera mendapatkan cucu?" tanya Surti pada Aliya dan Aliya menjawab kalau Surti pasti akan segera mendapatkan cucu.
Aliya merasa telah menipu keluarganya sendiri dan Aliya pun menjadi sedikit bersedih.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan berhenti dukung Aliya supaya tetap kuat, ya. Like dan komen, divote/giftnya juga, ya. Terimakasih.