SUAMIKU TAKDIRKU

SUAMIKU TAKDIRKU
Tergoda Roti Sobek


__ADS_3

Aliya masih menunggu di ruang tengah, menunggu suaminya datang, tetapi yang ditunggunya itu tak jua datang.


Aliya yang mulai gelisah itu mencoba menghubungi Reka, bertanya, "Bun, Bunda tau tidak, kalau Mas Reno tidak pulang, dia akan pergi ke mana?"


Reka menjawab, "Sebaiknya, kamu tanyakan pada Arman, dia tau semua tentang suamimu!"


Setelah itu, Reka pun memberikan nomor ponsel Arman dan Aliya segera menghubunginya.


Singkat cerita, Arman pun memberitahu di mana alamat Reno sekarang berada.


Aliya mengucapkan kata terima kasih untuknya.


Dalam hati, Arman bergumam, "Aku tau, Nyonya mengandung anak orang lain, tapi entah mengapa, aku lebih mendukung hubungan kalian, jahatkah aku?"


****


Di tempat lain, Aliya sedang menuju ke tempat Reno, Aliya melihat sebuah rumah kecil dengan pagar yang terbuka, Aliya juga melihat mobil Reno yang terparkir di halaman.


Sebelum melangkah, Aliya membaca doa lebih dulu, meminta agar Reno tidak akan memarahinya.


Setelah itu, Aliya pun masuk dan rumah itu terlihat gelap karena semua lampu Reno padamkan.


Lalu, Aliya melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang terdengar sedikit berisik, suara itu dihasilkan dari Reno yang sedang meninju samsaknya.


Lalu, Aliya yang tengah berdiri di tengah pintu yang tak tertutup itu pun membuat Reno terkejut saat melihat bayangan Aliya yang tiba-tiba saja ada.


Reno yang terkejut itu tak memperhatikan samsak yang kembali ke arahnya dan membuat Reno jatuh duduk saat samsak itu mengenainya.


Aliya pun membantunya untuk berdiri.


"Mas, ini aku, jangan takut!" kata Aliya.


Mendengar ucapan itu, Reno pun menjadi gengsi, ia bukan takut hanya terkejut dan Reno pun menggerutu, "Siapa bilang takut, kamu kalau datang itu permisi dulu, ingat, aku hanya terkejut!"


"Astaga, gengsinya gede banget!" batin Aliya, sekarang, Reno menyalakan lampunya dan terlihat Aliya yang mengenakan piyamanya itu tengah tersenyum padanya.


"Kenapa?" tanya Reno yang bertelanjang dada, sekarang, Reno mengambil kemejanya dan segera memakainya, tetapi, Reno menghentikannya karena Aliya menahan.


"Astaga. Kemarin, aku sangat ingin menyentuh ini," kata Aliya seraya menyentuh roti sobek yang ada di depan matanya.


Roti sobek yang berkeringat, menambah keseksian seorang Reno di mata Aliya.


Reno pun segera menurunkan tangan itu dari tubuhnya.


"Jangan sentuh!" kata Reno yang kemudian melanjutkan memakai pakaiannya.

__ADS_1


"Biasanya, aku melihat itu hanya di drama, jadi, sangat disayangkan kalau aku tidak menyentuh, ini ada di depan mata," kata Aliya seraya menahan tangan Reno.


Dan Reno kembali menyingkirkan tangan Aliya dari dadanya.


"Astaga, tidak heran sampai kamu harus hamil, ternyata, kamu sangat agresif!" kata Reno dan Aliya mengerucutkan bibirnya.


Aliya membatin, "Benar, aku sangat sulit mengendalikan perasaan, beginilah aku ketika sudah jatuh cinta, payah!"


Lalu, Aliya harus menatap Reno yang bertanya, "Untuk apa kamu ke sini?"


"Memastikan kalau Mas Reno baik-baik saja," jawab Aliya.


"Aku baik dan tidak usah khawatir, aku bukan anak kecil," jawab Reno yang kemudian keluar dari ruangan itu.


"Aku khawatir, takut Mas patah hati lalu berbuat nekat," kata Aliya yang mengikuti Reno.


"Ingat, Al. Jangan samakan, aku tidak bodoh sepertimu!" jawab Reno yang mengambil kunci mobilnya di meja ruang tengah.


"Selalu saja begitu, bisa tidak untuk berhenti mengataiku bodoh!" kata Aliya yang masih mengekor.


"Tidak, sekali bodoh tetap bodoh!" jawab Reno dan sama sekali tak melihat ke belakang.


Aliya hanya bisa diam karena memang benar apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


Aliya pun mempercepat langkahnya.


Di perjalanan, Aliya bertanya, "Ku kira kamu tidak akan pulang."


"Aku harus mengantarkanmu kembali dengan selamat!" jawab Reno dengan tetap fokus mengemudi.


Dari kalimat itu ternyata berhasil membuat Aliya salah mengartikan, Aliya mengira kalau Reno mulai memperhatikan, sedangkan yang Reno pikirkan adalah hal lain, Reno harus bertanggung jawab selama Aliya berada di apartemennya.


Sesampainya di apartemen, Reno juga mengingatkan Aliya untuk meminum susu.


"Mas, untuk apa semua perhatian kamu? Atau kamu sudah memiliki perasaan untukku?" tanya Aliya.


Aliya menjadi bingung dan merasa aneh saat Reno menjawabnya dengan tertawa.


"Karena kita teman, ingat, jaga pikiranmu, jangan biarkan berpikir terlalu jauh!" kata Reno dan setelah itu, Reno pun masuk ke kamar.


"Dari semua itu membuatku semakin jatuh hati padamu, Mas," lirih Aliya seraya menatap Reno yang sudah tak terlihat.


****


Keesokannya, tiada hari bagi Reno tanpa Serena yang selalu datang ke kantor.

__ADS_1


"Apa harus ku pasang fotomu di depan, mengatakan kalau kamu dilarang masuk?" tanya Reno seraya menatap Serena yang sudah ada di depan matanya.


"Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan maafmu, Mas," jawab Serena, ia pun berjalan ke arah Reno, berusaha menggodanya dengan berdiri di belakang Reno untuk memijit bahunya.


"Sudah tidak pantas untuk kamu menyentuhku," kata Reno seraya menepiskan tangan Serena.


"Mas, kamu tau betapa gigihnya aku, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan maafmu!"


Dan Reno bangun dari duduk, ia merapikan jasnya lalu berbalik badan, menatap Serena.


"Aku sudah memaafkan kamu, sekarang pergilah, kembali ke negara yang kamu cintai itu!"


Setelah mengatakan itu, Reno pun beranjak dengan membawa laptopnya.


Tetapi, Reno menghentikan langkah kaki itu di pintu saat Serena kembali bersuara.


"Terima kasih, tapi aku merasa kalau kamu belum sepenuhnya memaafkan ku, aku akan berada lama di sini dan aku akan menebus semua untuk mengembalikan hatimu yang sempat hilang bersamaku."


Setelah itu, Serena pun pergi, ia berjalan melewati Reno yang terdiam.


"Ya, memang. Aku belum bisa memaafkan kamu," batin Reno, ia menatap Serena yang sudah sekarang sudah tak terlihat lagi.


****


Di apartemen, Aliya merasa lega karena Serena tidak lagi datang, lalu, Aliya pun menyiapkan makan malam untuk menyambut Reno.


Baru saja selesai, Reno sudah datang dan mengatakan akan makan setelah mandi.


Aliya yang masih berdiri di dapur itu mengangguk. Seraya menunggu, Aliya pun merapikan penampilannya dan saat Aliya menatap dirinya di cermin, Aliya melihat perutnya yang sudah mulai sedikit membuncit.


"Sehat-sehat, sayang!" Aliya mengusap perutnya seraya tersenyum.


Setelah itu, Aliya pun menunggu Reno di meja makan. Tidak lama kemudian yang ditunggu pun datang. Reno memperhatikan meja makan yang terlihat meriah dengan masakan yang beragam dari Aliya.


Keduanya makan malam tanpa bersuara dan setelah itu, Reno memanggil Aliya untuk ikut duduk di ruang tengah, Aliya pun datang dengan membawa cemilan.


"Ada apa?" tanya Aliya seraya ikut duduk, ia menatap Reno yang sedang menatapnya.


"Aku ingin bertanya, menurutmu, apakah aku harus memaafkan Serena?"


Mendengar pertanyaan itu, Aliya pun terdiam, jawaban apa yang akan Aliya berikan?


jangan lupa like dan komen setelah membaca, ya.


Dukung karya ini dengan vote/giftnya, terima kasih. πŸ’™

__ADS_1


__ADS_2