
Aliya yang tengah berbaring itu merubah posisinya menjadi duduk. Ia menatap Reno yang sangat menyebalkan.
Gadis itu menjawab, "Tidak semuanya yang harus ku lakukan untuk berpura-pura! Termasuk rasa kesal ku!"
Dan Reno menarik nafas dalam, baru saja ia akan menimpali, tetapi, Aliya tak memberikannya kesempatan.
"Rasa sedih ku, sakit hati ku, itu semua bukan pura-pura, Pak!" rintih Aliya yang benar-benar sedang bersedih hati, ia menatap Reno yang mulai mendengarkan.
"Bapak pikir, aku pantas? Pantas untuk Bapak perlakukan kasar? Tidak! Kita sama-sama membutuhkan! Aku tidak meminta Bapak untuk jadi suami yang romantis dan itu membuat Bapak tidak menyukai ku, aku hanya meminta supaya pernikahan kita terlihat layaknya saling mencintai, bukan untuk mengumbar kemesraan! Lalu, kalau Bapak merasa sakit sendiri, apa itu salah aku?" tanya Aliya.
Dalam hati, Aliya merasa kalau sebenarnya ia telah menjadi pelampiasan dari amarah Reno yang sama sekali tak ada sangkut paut dengannya.
Setelah itu, Aliya bangun dari duduk, ia mengambil tas kecilnya, pergi begitu saja menerobos Reno yang masih berdiri di pintu.
Terlihat, Aliya berjalan dengan mengusap air matanya.
"Mau kemana, kamu?" tanya Reno, pertanyaan itu tertahan di hatinya.
Dan Reno hanya bisa menatapnya, berpikir kalau kali ini dirinya sudah benar-benar keterlaluan, mungkin bukan sikap kasarnya, tetapi, ucapannya.
Ia sudah menuduh Aliya yang pura-pura marah dan menangis untuk mendapatkan simpati Reka.
"Bukannya meminta maaf, tetapi, aku justru mengatainya!" kata Reno dalam hati.
Reno pun duduk di sofa ruang tengah seorang diri.
Setelah sedikit merasa baik, Reno pun bangun dari duduk, ia harus bekerja karena hari ini memiliki jadwal yang padat.
Sementara Aliya, ia pergi untuk menenangkan dirinya. Aliya tidak pergi ke kampus, ia datang ke rumah Zulfa.
Beruntung, Ibu dan Ayah Zulfa sedang berada di luar kota, sehingga Zulfa bisa menemani Aliya yang menangis.
Zulfa bertanya dan Aliya hanya menjawab dengan menangis.
Dalam hati, Zulfa menarik ucapannya yang kemarin ingin menjadi madu Aliya untuk menjadi istri orang kaya.
"Al, aku tau, kamu pasti ribut sama suami, ya?" tanya Zulfa dan Aliya yang menelusupkan wajahnya di bantal itu hanya mengangguk dan Zulfa tak melihat, hanya melihat bantal yang bergerak.
__ADS_1
Sementara itu, dalam bekerjanya, Reno menjadi tidak fokus.
Ia selalu teringat dengan Aliya, dengan apa yang Aliya ucapkan.
"Astaga, kenapa dengan ku, kenapa aku gagal fokus!" kata Reno seraya meletakkan berkas yang sudah ia siapkan untuk meeting.
"Ambilkan minum, kalau perlu, pindah dispensernya ke ruangan! Aku enggak mau kurang minum, enggak mau gagal fokus!" kata Reno pada Arman dan Arman pun menjawab dengan memberitahu kalau di kulkas Reno penuh dengan air mineral.
"Tuan, sepertinya anda sedang gelisah, apa karena Nyonya Aliya? Kali ini, saya penasaran dengan apa yang Nyonya Aliya lakukan sehingga membuat anda gelisah seperti ini, Tuan!" batin Arman dan Reno bangun dari duduk untuk mengambil air minum dinginnya.
Setelah itu, keduanya pun keluar dari ruangan dan Arman berdoa, semoga saja, di ruang meeting, Reno sudah kembali fokus.
****
Meeting berjalan dengan lancar dan setelah dengan meeting, Reno kembali ingat dengan ucapan Aliya, ia merenungkannya.
"Benar, bukan salah Aliya, ini semua karena aku, aku yang takut jatuh cinta!" kata Reno dalam hati.
"Al, sebenarnya, aku takut, takut jatuh cinta lagi, apabila aku berbuat baik, aku takut kamu jatuh cinta padaku dan aku tidak dapat membalas mu!" kata Reno. Pria berbadan kekar itu masih berbicara dalam hati.
Diam... Reno masih terdiam.
Setelah itu, Reno meminta pada Arman untuk menjemput Aliya di kampus, tetapi, Arman mendapatkan kabar kalau Aliya tidak kuliah. Arman pun menyampaikannya pada Reno.
"Kemana dia? Apa dia sudah kembali ke apartemen?" tanyanya pada diri sendiri.
Setelah itu, Reno menyuruh Arman untuk keluar dari ruangannya.
Dan Arman yang ingin memberitahu di mana Aliya berada itu pun mengurungkannya.
Reno yang sedang berdiri di tepi jendela itu tak berhenti memikirkan istri kecilnya. Reno melihat jam di tangannya, waktu menunjukkan pkl 14.00 wib.
"Kalau aku pulang sekarang, mau jawab apa aku kalau dia bertanya!" kata Reno dalam hati.
Dan Reno yang gelisah itu tidak sabar menunggu waktu, akhirnya, ia pun harus bangun dari duduknya, Reno memutuskan untuk pulang walau hari masih sore yaitu pkl 16.00 wib.
Sesampainya di apartemen, Reno tak mendapati keberadaan Aliya.
__ADS_1
Reno juga mengetuk pintu kamarnya dan ternyata sama kosong.
Reno pun kembali duduk di ruang tengah. Ia menengok kebelakang, di sana hanya ada bayangan Aliya yang sedang mengurus dapur.
"Selama ini, Aliya tidak pernah mengeluh walau mengerjakan semua tugasnya sendiri!" kata Reno, ia pun berbaring untuk menunggu Aliya.
Ada yang ingin ia sampaikan padanya. Tetapi, istri kecilnya itu tak kunjung kembali, akhirnya, Reno yang merasa kesepian sendiri di apartemen itu pun bangun dari berbaringnya.
"Astaga, kenapa aku merasa sepi? Bukannya aku sudah terbiasa dengan kesendirian?" tanya Reno dalam hati.
Dan untuk mengusir sepinya, sekarang, Reno melepaskan jasnya, ia menggulung lengan kemejanya dan mulai berjalan ke dapur.
"Al, demi apa. Ini pertama kalinya aku berdiri di dapur untuk membereskan perabotan kotor ini!" kata Reno yang kemudian menyentuh spon pencuci piring, Reno mencuci perabotan kotor yang tadi pagi Aliya tinggalkan begitu saja.
Dan Reno melihat kebelakang, ke meja makan, di sana, Reno seolah melihat Aliya yang sedang menyajikan makan malam, tetapi, itu hanya sebuah bayangan yang nyatanya, meja itu masih berantakan.
Reno juga membereskan meja tersebut.
Selesai dengan mencuci perabotan yang kotor dan membereskan meja yang berantakan, sekarang, Reno membersihkan lantai.
Selesai dengan itu semua, Reno pun tertawa, menertawakan dirinya yang melakukan itu semua, sedangkan pekerjaannya di kantor, ia limpahkan pada Arman.
"Al, kamu harus bangga, karena temanmu ini mau melakukan ini semua untuk mendapatkan maafmu!" kata Reno kemudian.
Tetapi, yang ditunggunya itu tak juga kembali datang. Reno yang merasa lelah itu pun memilih menunggu di ruang tengah, Reno menunggu sampai tertidur.
Dan di saat itu, Aliya kembali karena bujukan Zulfa. Sebenarnya, bukan hanya bujukan Zulfa, Aliya teringat dengan Ibu dan Ayahnya yang sedang berada di Jakarta.
Aliya yang berjalan melewati ruang tengah itu menghentikan langkah kakinya saat melihat Reno yang tertidur.
Aliya memperhatikan wajah tampan itu dari dekat.
"Tampan, glowing, kaya, tapi angkuh, nyebelin!" kata Aliya dalam hati.
Dan apakah Reno akan menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Aliya?
Jangan lupa klik like dan dikomentari setelah membaca, ya.
__ADS_1
Dukung author dengan gift/votenya, terimakasih.
Maafkan untuk typonya, yaπ