
Aliya yang sudah duduk di bangku itu tak berhentinya menangis, ia merasakan lara di hatinya saat harus meninggalkan pria yang saat ini ia cintai.
"Aku yakin, aku dapat melupakannya, seperti ku melupakan Gilang!" kata Aliya dalam hati.
Kemudian, Aliya memilih untuk memejamkan matanya.
Sementara itu, Reno sendiri masih duduk di bangku bandara, ia mengira kalau Aliya akan kembali.
"Seharusnya dia kembali, bukankah dia tidak memiliki rasa malu, seperti biasanya, tapi, kenapa sangat lama baginya untuk membuatku menunggu seperti ini." Reno berbicara dalam hati.
Lalu, Reno harus berdiri dan meninggalkan bandara saat Arman mengatakan kalau istrinya itu sudah benar-benar pergi.
"Aku yakin, dia akan kembali, karena dia membutuhkan ku!" kata Reno pada Arman yang sedang mengemudi mobilnya.
Arman hanya mendengarkan dan setelah beberapa waktu, sekarang, Aliya sudah tiba di kampung halamannya.
Di rumah, Edy dan Surti yang tak mengetahui masalah sebenarnya pun meminta pada Aliya untuk tidak pergi dari rumah suami.
Aliya yang tengah menangis di kamar itu masih berusaha menyembunyikan pernikahan kontraknya itu.
Aliya meminta pada Surti pada dan Edi untuk keluar dari kamar karena Aliya ingin sendiri.
Dan baru saja pintu kamar Aliya tertutup, pintu itu sudah harus terbuka kembali saat Edi dan Surti mendengar suara Aliya yang tengah muntah di kamar mandi.
"Nak, mungkin kamu terlalu lelah, sepertinya, kamu menangis selama perjalanan pulang, mungkin itu yang membuatmu masuk angin," kata Surti seraya memijit tengkuk Aliya.
Aliya meminta pada Surti untuk berhenti memijit dan Aliya menatap ibunya dengan wajah yang terlihat bingung.
"Kenapa? Apa yang kamu sembunyikan dari Ibu?" tanya Surti seraya menggenggamnya tangan Aliya yang terasa dingin.
"Sebenarnya, Aliya sedang hamil, Bu."
Mendengar itu, Edi dan Surti pun merasa senang, lalu, Edi bertanya, "Apa suamimu mengetahuinya?"
Aliya mengangguk dan Surti menjadi bingung.
"Kalau begitu, kenapa kalian bertengkar, Ibu harus menghubunginya!" kata Surti seraya melepaskan tangan Aliya, wanita berkebaya itu keluar dari kamar mandi dan langkah kakinya terhenti saat Aliya memanggil dengan suara yang bergetar.
Lalu, Aliya bersujud di kaki Surti, meminta ampun padanya, tentu saja, apa yang Aliya lakukan itu membuat Surti dan Edi bingung.
__ADS_1
Edi dan Surti membawa Aliya kembali ke ranjang, duduk dengan Aliya berada di tengah.
"Ada apa? Ceritakan pada Ayah, apa Reno melukaimu?" tanya Edi seraya mengangkat dagu Aliya membuat Aliya menatap wajah pria yang paling mencintainya di dunia ini.
Aliya menggeleng dan air mata itu tak berhentinya menetes, Aliya sangat takut akan melukai perasaan orang tuanya dengan pernikahan palsu itu.
"Nak, katakan. Ada apa, siapa tau Ibu dan Ayah bisa membantu," kata Surti seraya membelai rambut hitam Aliya dan Aliya pun memeluk Surti.
Edi dan Surti saling menatap.
"Ya sudah, biarkan dia istirahat dulu, Bu. Siapa tau setelah merasa baik dia akan bercerita pada kita," kata Edi dan Surti pun mengangguk.
Setelah itu, Surti meminta pada Aliya untuk beristirahat dan Aliya mengangguk, lalu kembali ke ranjang dengan menelusupkan kepalanya ke bantal.
Dan saat itu juga, Aliya harus berbaring miring, karena tidak mungkin untuk tengkurap, Aliya takut kalau itu akan menyakiti janinnya.
****
Di apartemen, sekarang, tidak ada lagi yang mengganggu kenyamanan dan ketenangan seorang Reno. Tetapi, itu menjadi terasa aneh baginya.
Dan Reno yang melupakan kalau Aliya sudah tidak ada itu pun memanggilnya, "Al, kita harus belanja," kata Reno yang baru saja keluar dari kamar dan setelah melihat apartemen yang sepi, Reno pun tersadar kalau dirinya sekarang seorang diri.
"Apa dia sudah minum susunya?" tanya Reno dalam hati, walau sudah mengetahui tidak ada Aliya, Reno tetap membeli susu itu.
Dan saat Reno keluar berada di kasir, Reno melihat Serena yang keluar dari mobilnya, walau Serena menggunakan topi dan masker, Reno tetap dapat mengenalinya.
Setelah itu, Reno yang sudah selesai dengan belanja keluar dari minimarket dan ia harus berpapasan dengan Serena.
Tak melihat Aliya yang berada di sisi Reno, Serena pun mengambil kesempatan.
Dan Reno hanya diam, ia sedang merasa ada yang hilang, tetapi, ia tak tau apa itu.
Diamnya Reno sampai membuatnya tak menyadari kalau di mobilnya itu sudah ada Serena.
Dan Reno menyadarinya saat sedang memarkirkan mobil.
"Untuk apa kamu di sini?" tanya Reno tanpa melihat Serena.
"Menemanimu," jawab Serena dan Serena merasa senang karena Reno tidak menyuruhnya untuk turun, Reno hanya diam saja, walau mulut Serena seperti knalpot yang bising, tak berhentinya berbunyi tak membuat Reno berhenti berpikir.
__ADS_1
Serena yang lelah pun akhirnya memilih untuk diam. Sesampai di apartemen, Serena melihat semua belanjaan Reno yang sebagian banyak untuk wanita.
"Astaga, semua camilan untuk kamu?" tanya Serena seraya mengambil salah satu snack yang berbalut coklat.
"Tidak," jawab Reno singkat, setelah meletakkan semua belanjaan itu di meja Reno pun melangkah menuju ke ruang kerjanya dan langkah itu terhenti saat menyebut nama Aliya.
"O, pasti semua ini untuk Aliya, susu hamil, snack, sabun untuk wanita, semua ini pasti untuknya bukan?" tanya Serena seraya memperhatikan kotak susu coklat almond.
Mendengar nama Aliya, Reno pun mengambil semua belanjaan itu, ia merasa tak seharusnya memberikan perhatian dan Reno memasukkan semua itu ke tempat sampah dan Reno pun masuk ke kamarnya.
Belum ada tiga menit, Reno sudah kembali keluar dari kamar untuk mengambil kembali semua belanjaan yang sudah dibuang. Reno menyusun itu semua di lemari gantung dapurnya, dalam hati, ia masih merasa yakin kalau Aliya akan kembali.
Dan Serena hanya bisa diam, dia tau kalau Reno sedang tidak baik-baik saja dan Serena tidak ingin menjadi sasaran empuknya.
Walau begitu, tetap saja keberadaannya itu salah di mata Reno.
"Untuk apa kamu masih di sini?" tanya Reno tanpa melihat Serena.
"Aku tidak perlu ditemani, pergilah!" kata Reno yang kemudian meninggalkan Serena di ruang makan.
"Aku datang untuk menemani, bukan melihat semua kebodohan ini!" kata Serena yang kemudian pergi dari apartemen.
****
Sementara itu, di Surabaya, Aliya tengah duduk bersama dengan keluarganya, menonton televisi.
Edi yang biasanya hanya menonton berita atau tayangan olahraga itu harus mengalah pada Aliya yang hanya mau menonton animasi kesukaannya yaitu dua botak yang comel.
Semua orang diam, karena Aliya sama sekali tak mau berbicara.
Edi dan Surti pun dengan setia menemani putrinya.
Apakah Aliya akan mengatakan yang sejujurnya?
Bersambung, like dan komen setelah membaca, ya. Jangan berhenti mendukung author dengan gift/vote gartisnya.
Boleh dishare juga, ya, teman-teman, terima kasih. π
Mohon maaf untuk typonya.
__ADS_1