
Sepulang dari kantor, Reno melihat Aliya sedang menyiapkan makan malam.
"Kamu lembur, Mas?" tanya Aliya tanpa melihatnya.
Reno yang sedang memegangi gagang pintu itu melihat ke arahnya.
"Ya, aku sangat sibuk dan aku sudah makan malam," jawab Reno yang masih memperhatikan Aliya.
Aliya pun menatap Reno, ia tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa.
"Iya sudah, tidak apa-apa. Aku menyiapkan makan malam karena aku pikir harus berbuat baik, aku sudah menumpang di tempatmu!"
Mendengar itu, Reno merasa sedikit aneh.
"Apa dia sakit?" tanya Reno dalam hati.
Dan karena merasa tak enak hati, akhirnya, Reno meletakkan tas kerjanya di sofa ruang tengah, lalu menghampiri Aliya yang masih berdiri di dekat meja makan.
"Baiklah, aku harus makan, setidaknya sedikit, untuk menghargai!" kata Reno dan Aliya menjawab dengan senyum.
Dengan semangat dan ketulusan, Aliya mengambilkan nasi beserta lauknya ke dalam piring Reno.
"Kamu? Tidak makan?" tanya Reno saat melihat Aliya yang hanya duduk, duduk menemani Reno.
"Aku sudah makan, wanita hamil seperti ku, mana bisa menahan lapar," jawab Aliya, ia menjawab dengan sedikit mengerucutkan bibirnya, terlihat imut dan Reno tersenyum melihat wajah itu.
"Makanlah, itu aku yang memasak," kata Aliya yang masih menatap Reno.
"Untuk apa? Bukannya sudah ada Bi Lela?" tanya Reno seraya mengambil sendok dan garpunya.
"Aku bosan, jadi aku memasak dan kamu harus tau, kalau aku calon chef! Aku pastikan perutmu akan menggendut karena tak berhenti makan, berteman kan aku!" kata Aliya dan Reno menjawab kalau hal itu tidak akan mungkin terjadi.
"Kenapa?" tanya Aliya.
"Karena, aku rajin berolah raga!" jawab Reno, lalu, Reno menyuruh Aliya untuk diam saat ia melihat Aliya sudah kembali membuka mulutnya.
Tetapi, sangat aneh, aneh ketika Aliya diam, rumah pun menjadi sepi.
Reno merasa, kalau ternyata, sebaiknya Aliya tetap cerewet.
Dan Aliya yang memperhatikan Reno itu ingin bertanya saat melihat Reno yang seperti sedang berpikir, tetapi, Aliya menahannya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Reno yang baru selesai dengan makannya.
__ADS_1
"Karena Mas Reno menyuruh ku untuk diam, jujur saja, sangat sulit bagiku untuk diam, jadi... biarkan aku tetap bicara!" kata Aliya dan Reno tersenyum, baginya, Aliya sangat lucu dan menggemaskan, tentunya, hanya sebatas teman.
"Ya, lakukan yang kamu suka! Menjadi diri sendiri lebih baik," kata Reno, setelah itu, Reno bangun dari duduknya, ia masuk ke kamar, ingin melepas lelahnya dengan berendam air hangat.
Terlebih lagi, Reno merasa lelah, lelah karena masih harus berjuang melawan manis pahitnya masa lalu bersama Serena.
Karena, bagi Reno yang dibutuhkan adalah kata maaf, bukan untuk mengulang kisah kasihnya.
****
Malam telah berlalu, berganti hari, tetapi, kesibukan tetap menghampiri.
Reno yang tengah disibukkan dengan pekerjaannya itu menatap pintu yang terbuka saat Serena yang masuk tanpa permisi.
"Ada perlu apa? Katakan, lalu segera pergi!" kata Reno yang kembali ke laptopnya, sebisa mungkin, Reno tidak ingin memperlihatkan kekesalannya di hadapan Serena. Reno tidak ingin, Serena tau, betapa menyedihkannya dirinya setelah kepergian Serena.
"Aku harus meminta maaf, aku tau, aku salah, aku terlalu egois di masa lalu, tapi kamu harus melihat, sekarang, aku sudah mendapatkan apa yang ku mau," kata Serena yang sudah berdiri di depan meja kerja Reno.
"Lalu? Aku harus bersorak hore?" tanya Reno yang kemudian menatap Serena.
"Kamu harus bangga, karena perjuangan ku tidak sia-sia!"
"Ck," decak Reno saat mendengar kalimat itu, "Pergi lah, aku sangat sibuk!" lanjut Reno.
"Oh, ada tamu rupanya," kata Aliya seraya menutup pintu ruangan Reno.
Aliya melanjutkan langkah kakinya, ia mendekati Reno dengan rasa percaya dirinya.
"Mas, kamu terlalu sibuk, jadi, aku membawakan makan siang, untuk kamu!" kata Aliya seraya meletakkan bingkisan yang dibawanya.
Melihat itu, Serena merasa tak suka. Wanita berusia 30 tahun itu tak mau kalah saing dengan anak kecil.
"Apa kamu tidak melihat, aku sedang berbicara dengan Mas Reno, sebaiknya kamu menunggu di luar!" kata Serena pada Aliya.
Aliya menjawab, "Mana ku tau kalau di dalam ada tamu, tamu yang sedang memelas!"
"Astaga, kalian bisa diam tidak?" seru Reno, seketika, membuat Aliya dan Serena terdiam.
"Aku sibuk, aku mau, kalian harus keluar dari ruangan ku! Sekarang!" perintah Reno dan Aliya pun berjalan keluar lebih dulu. Ia ingin menjadi penurut untuk suaminya.
Dan Reno, ia merasa kesal karena Serena masih berada di depannya.
"Kalau kamu tidak mau keluar, biar aku yang keluar!" kata Reno seraya bangun dari duduknya.
__ADS_1
Serena pun menahan Reno. Ia merasa harus keluar untuk mengurus gadis kecil yang akan menjadi penghalang baginya.
"Biar aku yang pergi!" kata Serena dan Reno pun menghentikan langkah. Ia menarik nafas dalam, mengendurkan dasinya dan kembali duduk.
****
Di luar, Serena memanggil Aliya yang sedang menunggu taksi.
Aliya yang berdiri di halte itu pun menoleh untuk mendengarkan ocehan dari masa lalu suaminya.
"Kamu tau, kenapa Mas Reno masih marah padaku? Itu karena, dia belum bisa melupakan ku!"
Mendengar itu, Aliya pun tak tinggal diam. Aliya menjawab untuk memberi tau Serena kalau tidak perlu bangga karena diingat dalam kebencian.
"Situ bangga? Diingat karena benci?"
Mendengar itu, Serena pun merasa mendidih, ia menjawab untuk mengingatkan Aliya kalau cinta dan benci sangat tipis perbedaannya.
Dan Aliya yang tak mau mendengar itu menjawab, 'bla bla bla bla' di setiap ucapan Serena sehingga Serena merasa ingin menjambak Aliya.
"Kalau tidak di depan umum, sudah mampus kamu!" kata Serena dalam hati.
Setelah itu, Aliya melambaikan tangan pada Serena saat taksinya sudah datang.
"Melihat kamu, aku semakin merasa tertantang untuk mendapatkan Mas Reno kembali!" kata Serena yang kemudian berbalik badan, ia kembali ke parkiran di mana mobilnya berada.
****
Malam ini, Reno tidak pulang, ia pergi ke tempat samsaknya berada, bukan untuk meninjunya, melainkan membaca semua isi pesan dari Serena yang terus mengganggunya.
"Aku tidak tau, apa yang harus ku lakukan, seharusnya, cukup bagiku untuk memaafkan mu, lalu semua selesai, tetapi, aku tidak mau semua menjadi semudah itu!" lirih Reno yang masih memandangi layar ponselnya.
Sementara itu, di apartemen, Aliya sedang bersama dengan Serena yang tak berhenti mengganggu. Serena menertawakan Aliya yang dengan begitu yakinnya mengatakan kalau Reno akan pulang.
"Haha, jadi, seperti ini rumah tangga kalian, sebaiknya, menyerah! Apapun yang kamu lakukan, dia tidak akan melihat mu!" kata Serena, ia bangun dari duduknya, lalu keluar dari apartemen Reno.
Mendengar itu, Aliya menjadi kacau, ia merasa ada benarnya apa yang diucapkan oleh Serena.
"Entah, apa yang ku lakukan, benar atau tidak, mengingat hanya aku yang jatuh cinta, sementara dia? Dia masih berada dalam kesakitan masa lalunya!"
Apakah Aliya akan menyerah?
Jangan lupa like dan komen setelah membaca, ya. Dukung author dengan gift/votenya. Terima kasih. π
__ADS_1
Mohon maaf untuk typonya. π