SUAMIKU TAKDIRKU

SUAMIKU TAKDIRKU
Masih Merasa Bodoh


__ADS_3

Tak berhenti menangis, Aliya justru semakin merasa sesak saat ia tau kalau dirinya sudah jatuh hati pada Reno.


"Al, bodoh kamu, kamu siapa dan dia siapa! Kenapa kamu jatuh hati! Seharusnya kamu sadar diri, kamu tidak boleh semudah itu untuk jatuh hati!" kata Aliya dalam hati.


Ya, Aliya menyalahkan dirinya yang bisa dengan mudahnya jatuh hati pada seorang pria yang baru saja dikenalnya.


"Dengan sikapnya, seharusnya aku membenci, bukan mencinta!" ucap Aliya yang masih berbicara dalam hati.


Aliya pun teringat dengan status pernikahannya yang hanya pura-pura, untuk menutupi aib masing-masing.


"Jangan berharap lebih, Al! Jangan!" kata Aliya yang mencoba kembali semangat.


Tanpa Alia tau, sebenarnya, ada seorang pria yang sedang memperhatikan, pria itu adalah Arman yang baru saja menghubungi dan memberitahu Reno.


"Di mana dia?" tanya Reno dan Arman memberitahu alamat Aliya berada.


"Terus awasi, jangan sampai hilang dari pandangan!" perintah Reno dan Arman yang duduk di bangku kemudinya itu hanya mengiyakan.


****


"Jangan bodoh Al, kamu tidak akan dapat merubah seseorang, jika itu bukan kemauan darinya sendiri!" ucap Aliya dalam hati.


"Semangat Al, demi anak mu! Ingat kata bidan! Kamu tidak boleh stress," kata Aliya yang masih berbicara dalam hati.


Tidak lama kemudian, Aliya pun bangun dari duduk, ia harus pergi kuliah dan Aliya yang berbalik badan itu terkejut saat melihat Reno sudah berada di belakangnya.


Keduanya saling menatap.


Terlihat mata sembab dari Aliya dan Reno hanya diam saja, ia ingin bertanya, tetapi, Reno sudah tau betul kalau dirinya lah penyebabnya.


Sementara itu, di rumah mewah Reka, para orang tua sedang sarapan bersama, Edi dan Sutri dilayani dengan sangat baik sehingga membuat keduanya merasa tidak enak hati.


Selesai dengan sarapan, seraya menunggu Reka yang berada di ruang kerjanya itu, Edi mengajak Surti untuk duduk di taman belakang, dekat dengan kolam renang.


"Bu, nanti setelah acara selesai, baiknya kita langsung pulang saja!" kata Edi dengan lirih dan Surti pun mengiyakan.


"Baik, Pak. Ibu juga sedikit risih, semua-muanya harus dilayani, hanya mandi saja pelayan tidak ikut masuk ke kamar mandi," jawab Surti dan Edi pun menganggukkan kepala.


Edi dan Surti merasa sedikit sungkan, mungkin karena tidak terbiasa dengan itu.

__ADS_1


"Beruntung anak kita, Bu. Bisa menikah dengan orang kaya yang baik hati! Hidupnya pasti terjamin!" kata Edi, ia merasa bahagia untuk Aliya dan Surti menjawab dengan doa.


"Semoga ya, Pak. Semoga selamanya," jawabnya.


Lalu, Keduanya meng-Aamiinkan bersama-sama, "Aamiin."


Sementara itu, tidak seperti dengan apa yang keduanya kira, Aliya dan Reno sedang berselisih paham.


Di taman...


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Reno pada Aliya.


Pria berpakaian rapi dengan setelan jasnya itu takut, takut reputasinya akan menjadi buruk jika ada yang mengetahui kalau Aliya sedang memeriksakan kandungannya sendiri, lalu menangis seorang diri di taman.


"Jawab!" kata Reno dengan datarnya.


"Aku memeriksakan kehamilan!" jawab Aliya, ia masih menatap Reno, menatap dengan sebal, sementara Reno, sudah tidak ada lagi tatapan kebencian dari sorot matanya.


"Lalu, untuk apa kamu menangis? Menangisi ayah anak itu?" tanya Reno, ia merasa kesal kalau benar seperti apa yang ia pikirkan adalah benar. Reno yang berkacak pinggang pun berdecak, ia memalingkan wajahnya.


"Apa pentingnya anda tau, anda tidak harus tau kenapa aku menangis, kan? Ooo... atau jangan-jangan, Bapak sudah mulai mengkhawatirkan ku?" tanya Aliya dan Reno menjawab dalam hati kalau dirinya tidak boleh terpancing dengan ucapan anak kecil yang ada di depannya.


Lalu, dengan perlahan Reno memberitahu apa maksud yang sebenarnya.


"Kenapa? Kapan aku ingin menangis, bersedih dan memeriksakan kandungan ku pun harus ingat tempat?" tanya Aliya seraya menatap Reno.


"Ya! Kamu istriku, jangan permalukan ku atau reputasiku bisa hancur! Aku tidak mau ada gosip tentang ku yang membuat istri menangis! Semua orang hanya boleh tau kalau kita bahagia!" ucap Reno dan Reno meraih tangan Aliya, ia menggandengnya dan Aliya yang masih bocah itu sama sekali tak mengerti apa maksud dari suaminya.


Yang ia tau Reno hanya mementingkan reputasi, Aliya pun melepaskan tangan Reno dengan mengibaskan.


"Reputasi? Ya, aku ingat sekarang, aku menjadi istri anda karena untuk menjaga reputasi bukan untuk mempermalukan! Tetapi anda salah karena telah memilih wanita yang sedang hamil dan mungkin itu akan semakin merusak reputasi anda!" jawab Aliya.


"Al, tolong jaga ucapan dan tindakan mu! Aku tidak mau semua terbongkar begitu saja!" kata Reno yang menatap Aliya.


"Tenang saja, semua aman!" jawab Aliya seraya berjalan melewati Reno yang hanya bisa memperhatikan.


Ya, Reno hanya bisa melihat kepergian Aliya, ia tidak mau memancing amarah Aliya, mengingat kalau keduanya sedang berada di luar.


Aliya yang terus berjalan itu sama sekali tak melihat ke belakang.

__ADS_1


"Bukannya kejar, terus anterin kuliah, gitu!" harap Aliya dalam hati.


Sementara Reno, "Mau ku kejar, pasti nanti marah, mau ku antar pasti menolak! Biarlah, biar dia dengan waktunya sendiri dulu!" kata Reno dalam hati.


"Menyebalkan!" kata Aliya dalam hati.


Setelah itu, Aliya pergi ke kampus dengan menggunakan taksi, seharian, Aliya hanya diam dan diamnya Aliya membuat Zulfa bertanya.


"Kenapa, Al? Kalian belum baikan?"


Aliya menjawab dengan menjatuhkan kepalanya ke meja, lalu menatap Zulfa yang juga menatapnya.


"Belum," jawab Aliya dan tidak lama kemudian, dosen yang akan mengajar pun masuk kelas.


****


Di rumah mewah, Reka menyuruh sopirnya untuk menjemput Aliya.


"Pak Bambang, tolong jemput Aliya, kami harus pergi pukul 14.00 untuk fitting baju pernikahan," kata Reka yang sekarang berdiri di depan rumah.


Pak Bambang yang sedang mengelap mobil pun mengiyakan dan sekarang sudah pukul satu siang, Pak Bambang pun bersiap untuk menjemput.


"Apa kami boleh ikut? Kami ingin melihat kampus Aliya," kata Edi dan Surti.


Reka pun memikirkan permintaan Edi.


"Ya, selagi kalian berada di Jakarta, silahkan. Tetapi, Maaf. Saya ada pekerjaan dan harus selesai, apa tidak apa-apa kalau saya tidak menemani?" tanya Reka dan ternyata pertanyaan itu membuat Edi dan Surti lega.


"Alhamdulillah kalau begitu, Bu besan," kata Edi dalam hati.


"Tidak apa-apa. Kami tidak ingin, kedatangan kami mengganggu pekerjaan Bu besan," jawab Surti dan Reka pun tersenyum.


Setelah itu, Bambang pun mempersilahkan Edi dan Surti untuk masuk ke mobil.


Keduanya menikmati perjalanannya dan tidak lama kemudian semuanya sudah sampai di kampus.


"Pak, Bu. Tolong jangan kemana-mana, saya mau mencari Nona Aliya dulu!" pesan Bambang dan keduanya pun mengiyakan.


Apakah Edi dan Surti akan hilang? Akan membuat Bambang dan Aliya dalam kerepotan? Padahal,

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa klik like dan komen setelah membaca, ya. Dukung juga author dengan vote/giftnya, terimakasih.


__ADS_2