
Setelah itu, Reno bangun dari duduk saat mendengar suara bel berbunyi. Reno membukakan pintu yang ternyata adalah Reka yang bertamu pagi-pagi sekali.
"Bunda, ngapain?" tanya Reno seraya menatap Reka.
"Bunda mau menemani Aliya, kenapa? Kamu enggak suka? Tenang aja, Bunda pasti kembalikan tepat waktu untuk kamu!" jawab Reka yang sedang merasa bahagia karena sekarang, ia sudah memiliki menantu yang ceria dan polos.
Reka pun berjalan melewati Reno yang masih berdiri di pintu.
Setelah itu, Reno pun menyusul Aliya yang sedang menyajikan sarapan. Dan pagi ini, Reno harus kembali pura-pura menjadi suami yang penuh kasih dan sayang.
"Sayang, masakan kamu selalu enak!" puji Reno pada Aliya yang duduk di depannya.
Aliya hanya menjawab dengan senyum, dalam benaknya, ia masih teringat dengan batasan yang semalam Reno katakan.
Selesai dengan sarapan dan bersiap. Sekarang, Reno yang seolah manja pada istri kecilnya itu memberikan dasi pada Aliya yang mengulurkan tangannya meminta salim.
"Pasangkan," kata Reno dan Aliya menatap Reno dengan tersenyum.
Seketika, Reno merasa menyesal karena meminta itu pada Aliya, Reno sangat takut dengan senyuman yang baru saja Aliya berikan.
Aliya yang masih menatap Reno itu pun kembali tersenyum.
Sedangkan Reka, ia memperhatikan dari sofa ruang tengah, menganggap kalau keduanya sedang dimabuk cinta. Reka pun menggelengkan kepala seraya tersenyum manis.
"Normal kaya gini kok, dibilang ga*y!" batin Reka seraya meraih majalah yang tersusun rapih di bawah meja.
****
Pagi ini, Aliya yang tak banyak bicara itu terlihat menyeramkan dengan rambut panjang yang tergerai, dengan senyum tipis yang terlihat sangat menakutkan bagi Reno. Bagi Reno, lebih baik Aliya menjadi cerewet dari pada harus diam seribu bahasa seperti itu.
Aliya yang seolah penuh dendam itu pun mengambil kursi untuk dijadikan pijakannya.
Aliya pun mulai memasangkan dasi itu dengan eratnya.
"Rasakan, enak tidak?" tanya Aliya dalam hati.
Dan Aliya tertawa puas saat melihat Reno yang sedang menahan amarah juga menahan sesak nafasnya.
"Gila, gadis gila! Pantas saja pacarnya mencampakkannya!" batin Reno seraya menatap Aliya dengan tajam dan Aliya tersenyum smirk karena baru saja berhasil melampiaskan kekesalannya.
Dan Reka yang sedang membaca majalah itu sedikit tersenyum saat sedikit mengintip pada anak dan menantunya.
"Kalian pasangan yang serasi!" kata Reka dan Aliya juga Reno menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Serasi dari mana? Dia wanita kancil yang menyebalkan!" batin Reno seraya menatap Reka.
"Hah? Serasi? Kalau Aku serasi dengan manusia batu ini, lama-lama akan ku kikis dia!" batin Aliya, ia pun tersenyum pada Reka.
"Ren, manja kamu, mengingatkan Bunda sama Ayah! Dia persis seperti kamu! Sangat manja!" kata Reka yang teringat dengan almarhum suaminya.
Reka pun kembali tersenyum saat mengingat masa indah bersama suaminya yang kini telah tiada. Setelah itu, Reka kembali ke majalahnya.
"Lanjutkan, Bunda tidak akan mengintip!" ledek Reka pada keduanya.
Lalu, Reno yang ingin mengingatkan agar Aliya tidak salah paham itu pun mendekatkan wajahnya, seolah mencium pipi kiri Aliya. Padahal, Reno tengah membisikkan sesuatu.
"Ingat, semua tetap pura-pura!"
Aliya mengedipkan matanya dengan lembut, bak bidadari yang anggun.
Aliya yang sedari tadi diam itu pun terpancing untuk mengatakan sesuatu. Lalu, Aliya dengan sengaja mengambil tangan suaminya.
"Sayang, bekerjalah dengan semangat!" kata Aliya seraya mengecup punggung tangan itu.
"Hari ini, ku kecup tangan Bapak, besok... bisa saja ku kecup pipi lalu bibir Pak Reno!" ucap Aliya dengan tersenyum.
"Ogah banget aku cium bibir Bapak yang enggak ku tau itu bekas siapa!" batin Aliya, ia pun melepaskan tangan Reno dari tangannya.
Lalu, Reno pun mengendurkan dasi yang melilit erat di lehernya, "Kurasa, dia sengaja ingin membunuh ku!" batin Reno.
"Baiklah, aku pamit dulu, doakan pekerjaan ku lancar!" kata Reno seraya mengusap pucuk kepala Aliya.
Dan baru saja Reno mendapatkan tiga langkah, ia sudah harus berhenti lantaran kancilnya memanggil.
"Sayang, kamu melupakan sesuatu!" kata Aliya seraya turun dari kursi. Gadis imut dan mungil itu berjalan ke arah suaminya berdiri.
Mendengar itu, Reno pun memeriksa tas kerjanya dan tidak akan ada apapun yang tertinggal.
"Tidak ada, semua lengkap!" kata Reno seraya menatap Aliya.
Lalu, dengan sifat jahilnya, Aliya dengan bersemangat mengatakan kalau Reno melupakan kening istrinya.
"Ini, kamu melupakan ini!" kata Aliya seraya menunjuk keningnya, Aliya kembali mengedipkan matanya anggun dengan wajah dibuat sangat polos.
"Jangan karena ada Bunda, itu membuat kamu malu, sayang!" kata Aliya seraya menatap Reka lalu tersenyum manis.
Reka pun menggelengkan kepala, tersenyum... tak habisnya cara Aliya yang mengisi cinta untuk anaknya, begitulah yang Reka pikirkan.
__ADS_1
"Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan, aku akan membuang semua rasa malu ku!" jawab Reno seraya memajukan wajahnya dan karena sangat kesal dengan kancilnya yang sangat cerewet, Reno bukan lagi mengecup bibir Aliya.
Reno mencium dengan sedikit menyesap.
Setelah itu, Reno pun segera melepaskan ciumannya, Reno tersenyum melihat Aliya yang mematung. Ia juga mengusap bibir tipis Aliya yang basah.
Sementara itu, Reka sangat terkejut dengan apa yang Reno lakukan, Reka menjadi malu sendiri saat pagi-pagi harus berada di antara keduanya.
"Astaga! Dia mencium ku!" kata Aliya dalam hati, sekarang, wajahnya sangat merona dan hatinya berdegup sangat kencang.
Aliya yang sedang mengatur nafas dan detak jantungnya itu sampai tak menyadari kalau Reno sudah tidak lagi ada di depannya.
Aliya yang lemas karena terkejut itu merasa ada sengatan saat Reno menciumnya. "Astaga, rasa apa ini?" tanya Aliya dalam hati.
"Sadar, Al. Semua adalah pura-pura!" kata Aliya pada dirinya sendiri.
Aliya pun mencoba kuat lalu mengusap bibirnya yang masih merasakan betapa kenyalnya bibir tipis Reno.
"Aaaaaa!" teriak Aliya dalam hati.
Setelah itu, Aliya, melihat kearah Reka yang memanggilnya.
"Al!"
"I-iya, Bun?" tanya Aliya yang terbata.
"Wajahmu memerah!" ledek Reka. Lalu, Aliya pun menyentuh wajahnya menggunakan dua tangannya.
Terasa panas dan Aliya yang malu itu pun berlari ke kamarnya.
Reka hanya bisa tersenyum tanpa memperhatikan kamar yang Aliya masuki.
"Astaga, anak muda jaman sekarang! Sangat mengerikan, untung keduanya cepat menikah! Kalau tidak, akan ada gosip lain setelah gosip penyuka sesama jenisnya!" batin Reka.
Reka pun menunggu untuk Aliya bersiap.
Sementara itu, di luar, Reno berjalan seraya mengusap bibirnya yang baru saja mendarat cantik.
"Astaga, sudah lama sekali bibir ini menganggur!" kata Reno yang menekan tombol lift.
Setelah Reno tak terlihat pun bersambung.
Jangan lupa like dan komen ya, all.
__ADS_1
Gift/Votenya juga, ya. Terimakasih atas dukungannya π