
Surti menjawab, "Al, Ibu ingin sekali mengatakannya, tetapi, Reno takut sama kamu, dia tidak ingin melukaimu lagi, itu yang Reno katakan dan Ibu pun mengiyakan, karena Ibu takut kamu terluka lagi, Al."
"Tapi itu semua tidak benar, Bu. Ibu tau kalau Aliya masih mencintai Mas Reno, sampai berulang kali Ibu menjodohkan Aliya, tetapi, Al menolak," jawab Aliya, ia ingin berkata jujur sesuai dengan isi hatinya, sehingga tidak meninggalkan beban apapun di sana.
"Kalau begitu, temuilah!" perintah Surti seraya menggenggam tangan Aliya.
Awalnya, Surti dan Edi yang tak menyukai Reno itu menjadi luluh setelah mengetahui ketulusan dan mengetahui bahwa Reno selalu belanja di kafe Aliya, Edi berpikir kalau sebenarnya Reno mencintai Aliya, hanya egonya sajalah itu yang menutupinya.
Edi yang sudah bosan memarahi Reno ketika menemui Isa itu akhirnya pun membiarkan dan sekarang, waktunya Aliya bertemu dengan Reno kembali setelah sekian lama tak bertatap muka.
Aliya yang selalu berpenampilan sederhana dan adanya itu sudah berdiri di depan pintu kamar Reno dan Reno tanpa mengecek siapa yang datang itu membuka pintu, setelah melihat Aliya yang feminim dengan dress panjang selutut berwarna krem itu, Reno kembali menutup pintu kamarnya.
Reno yang masih berdiri di balik pintu merasa belum siap untuk menemui Aliya setelah apa yang pernah ia katakan dulu.
Tetapi, Reno melihat Aliya masih berdiri di depan pintu, Reno melihatnya dari lubang kecil yang ada di pintu.
Reno yang selalu berpenampilan rapih dengan kaos berkerahnya itu kembali membuka pintu dan Aliya mendorong dada Reno, keduanya pun masuk ke kamar, tanpa pintu yang tertutup, Reno membiarkan Aliya yang menangis seraya memukuli dadanya.
"Kenapa baru datang, kenapa, kenapa lama sekali! Bapak-Bapak nyebelin!" tangis Aliya, setelah memukuli dada bidang itu, Aliya pun menjatuhkan kepalanya di sana dan Reno segera memeluk Aliya, Aliya yang merasakan pelukan itu pun membalasnya.
Reno yang memeluk Aliya itu sedang mencerna ucapan Aliya yang mengatainya Bapak-Bapak menyebalkan, seketika, Reno pun menghitung umurnya yang ternyata sekarang sudah berkepala empat.
Tersadar dengan umur, Reno segera meminta maaf dan Aliya yang melepaskan pelukan itu tidak segera memberikannya maaf.
"Tidak semudah itu Bapak mendapatkan maafku," jawab Aliya yang kemudian pergi berlari dari kamar Reno, Aliya merasa sangat gugup dan tidak tau lagi harus berbuat, Aliya takut salah mengekspresikan kebahagiaannya.
Tetapi, tingkah Aliya justru membuat Reno bingung.
"Dia sendiri yang datang, dia sendiri yang menolak untuk memaafkan, dasar wanita, susah ditebak apa maunya," kata Reno yang kemudian mengambil ponselnya di atas nakas.
Reno menghubungi Arman untuk menanyakan kebodohannya yang tiada akhir. "Arman, dia datang menemuiku, memelukku, tapi tidak mau memaafkanku, justru dia pergi begitu saja, aku tidak tau harus berbuat apa," kata Reno dari sambungan teleponnya dan Reno yang bertanya tanpa mengetahui siapa yang menerima panggilannya itu merasa malu karena istri Arman lah yang menerima.
Awalnya, istri Arman akan mengomel pada Reno kalau Reno akan memberikan pekerjaan tambahan.
__ADS_1
Tetapi, istri Arman justru tertawa, tetapi menertawakan Reno dalam hati karena mana berani istri Arman menertawakan bos dari suaminya.
Istri Arman pun menjawab, "Itu tandanya, dia mau Bapak kejar, jadi... kejarlah sebelum diambil pria lain."
Tanpa menjawab apapun lagi, Reno segera mengakhiri panggilan tersebut. Ia merasa malu dan benar-benar malu.
"Arman!" geram Reno dalam hati.
Dan Reno yang takut Aliya akan diambil pria lain itu segera mengejarnya dan ternyata Reno kehilangan jejak, Aliya sudah tidak lagi berada di area hotel.
"Astaga, aku sudah tertangkap basah dan aku harus berbuat apa sekarang?" tanya Reno pada dirinya sendiri. Reno yang semakin tua semakin menawan itu memijit pangkal hidungnya, setelah itu, Reno kembali ke kamar.
****
Tiga hari berlalu, Aliya semakin sebal pada Reno, karena Reno tak juga menemuinya setelah hari itu.
"Aku menyesal, untuk apa aku datang ke sana, seharusnya dia mengejarku, tetapi, dia tidak ada kabarnya, atau jangan-jangan dia lupa jalan menuju ke rumah ku?" tanya Aliya dalam hati.
Aliya sendiri merasa bingung, kenapa di rumahnya itu banyak makanan dan Aliya mengira kalau akan ada arisan. Makanan itu Aliya yang membuatnya di bantu oleh tetangga yang diminta untuk datang oleh Surti.
"Mau kemana?" tanya Surti dan Aliya menjawab kalau dirinya harus bekerja.
"Kafe tutup, Ibu yang menyuruhnya," kata Surti dan Aliya mempertanyakan itu, "Kenapa Ibu tutup, Aliya harus mengisi waktu hari ini, Bu."
Ya, Aliya ingin mencari kesibukan dengan bekerja karena setelah bertemu dan memeluk Reno, hati Aliya selalu gelisah karena Reno tak juga datang.
Aliya yang keras kepala itu pun mencium Isa, Isa yang sedang memegang mainan robotnya itu menolak untuk dicium.
"Isa sudah besar, Bu."
"Besar apanya, masih kecil segini, kok," jawab Aliya seraya mengacak pucuk kepalanya.
Setelah itu, Aliya yang mengenakan celana jeans dan kaos oblong hitam polos itu melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Tetapi, baru saja sampai di pintu, Aliya sudah harus kembali ke dalam.
Aliya memberitahu kalau ada tamu.
Setelah itu, Aliya masuk ke kamarnya, Aliya menelusupkan wajahnya di bantal, ia tidak menyangka kalau Reno membawa Reka datang ke rumahnya.
Ya, selama tiga hari, Reno menghilang untuk pergi menemui Reka, membujuknya untuk melamarkan Aliya.
Reka yang awalnya sudah trauma dengan tipuan anaknya itu menolak, tetapi, Reno berhasil meyakinkan Reka, mengatakan kalau anaknya yang sudah tua ini tidak menipunya lagi dan sekarang, datanglah Reno beserta keluarganya.
Edi dan Surti pun mempersilahkan para tamunya untuk masuk, Isa yang tengah digandeng oleh Surti segera melepaskan tangan itu, Isa berlari ke arah Reno dan Reno pun menggendongnya.
Setelah itu, Surti memanggil Aliya yang sedang malu dan tidak tau harus berbuat apa, berkata apa.
Aliya pun membuka pintunya.
"Kenapa Ibu tidak memberitahu Aliya?"
"Kejutan untuk anak Ibu," jawab Surti.
"Ayo cepat, keluar, temui calon suamimu!" kata Surti dan Aliya yang rambutnya selalu dicepol itu bersemu.
Hatinya berbunga-bunga dan jantungnya berdegup kencang.
Bukan hanya Aliya saja, tetapi juga ada Reno, Reno merasakan apa yang Aliya rasakan, tentunya, Reno juga membuang jauh-jauh rasa malunya itu.
Aliya menerima lamaran Reno dan merencanakan sesuatu untuknya.
Apa yang Aliya rencanakan? Tentu saja hukuman untuk Reno yang telah membiarkannya begitu lama menunggu.
Jangan lupa like dan komen setelah membaca, ya, all.
Terus dukung karya author dengan gift/votenya, ya. Terima kasih. π
__ADS_1
Maaf untuk typonya. π