SUAMIKU TAKDIRKU

SUAMIKU TAKDIRKU
Kekecewaan Para Orangtua


__ADS_3

Dua hari berlalu, Reka yang melihat Reno masih bersantai dan tak juga menjemput Aliya itu menegurnya, "Kenapa kamu masih ada di sini, kapan kamu akan menjemput menantu Bunda?"


Reno masih menunduk, ia bingung harus menjawab apa dan Reno akhirnya memberitahu semua itu pada Reka, bertujuan supaya tidak lagi mendesaknya untuk menjemput Aliya.


Reno yang tengah duduk di sofa ruang tamu rumah Bundanya itu menatap Reka, memanggilnya, "Bun, ada yang mau Reno katakan."


"Apa, cepat katakan!"


"Aliya bukan lagi istri Reno, kami sudah selesai,"


Mendengar itu, Reka bangun dari duduk, ia tak menyangka kalau anaknya semudah itu mempermainkan pernikahan, Reka mengira kalau Reno seperti itu karena hadirnya Serena.


"Semudah itu kamu bilang selesai? Kamu pikir pernikahan itu permainan?" tanya Reka yang tau menatap anaknya lagi.


"Oo, Bunda tau, apa karena mantan kamu yang tidak tau diri itu?" tanya Reka seraya menatap Reno yang kembali menunduk.


Reno menggeleng.


"Kami hanya menikah kontrak, Reno minta maaf, Bun. Reno yang tidak mau menikah terpaksa harus berpura-pura supaya Bunda tidak lagi bertanya," kata Reno dengan masih menunduk, sementara itu, Reka tengah menekan dadanya, ia merasa sesak setelah mendengar semua itu.


"Kamu berbohong, kan, Reno. Katakan, kalau saat ini kamu sedang berbohong!" bentak Reka yang ingin menampar putranya.


"Tidak, Bun. Ini semua benar," jawab Reno dan setelah itu, Reno panik saat mendapati Reka yang tiba-tiba ambruk di depannya.


Reno pun segera menghubungi dokter.


****


Dua hari Reno menjaga Reka yang berbaring di ranjang, setelah hari itu, Reka sama sekali tak mau menatap anaknya dan tak mau berbicara dengannya.


Reno hanya bisa pasrah, berharap dengan seiring berjalannya waktu, akan dapat mengobati hati Reka yang terluka.


Dan Reno mendapatkan panggilan dari Arman, ada pekerjaan yang tak dapat ditinggalkan olehnya, Reno pun pamit pada Reka yang berbaring dengan memunggunginya.

__ADS_1


Reno pergi walau Reka tak menjawab dan setelah kepergian Reno, Reka meraih ponselnya yang berada di atas nakas.


Reka mengabaikan semua panggilan dan chat masuk yang ia cari adalah nama besannya.


Reka yang tengah berbaring itu merubah posisinya menjadi duduk, ia menangis dan merasa bingung akan menjelaskan seperti apa pada besannya.


Walau terasa sulit, Reka harus tetap memberitahu kalau Reno tidak akan menjemput Aliya, sudah cukup bagi Reka untuk keduanya bermain-main.


Surti yang sedang berada di dapur itu menenangkan besannya yang menangis di sambungan teleponnya.


"Sabar, Bu Besan, saya yakin kalau mereka akan baik-baik saja, saya juga sedang membujuk Aliya untuk menyelesaikan semuanya dengan Nak Reno," kata Surti yang tak mengetahui alasan apa yang membuat Reka menangis.


Reka semakin menangis mendengar itu, Reka merasa tidak sanggup untuk melukai besannya, tetapi, Reka tetap harus memberitahu supaya Aliya dan keluarganya itu berhenti berharap dengan pernikahan itu.


Dan Reka membuka mulutnya untuk berbicara, padahal baru saja Surti akan memberitahu kehamilan Aliya, tetapi, Surti harus terkejut saat mendengar Reka yang mengatakan untuk berhenti berharap dengan pernikahan anak-anak.


Reka memberitahu semua dan Reka mengatakan, "Maaf, Bu. Saya mengatakan ini karena saya rasa anak-anak tidak akan bertindak, saya tidak mau anak saya menggantung hubungannya dengan Aliya, saya minta maaf."


Setelah mengatakan itu, Reka pun memutuskan sambungan teleponnya, ia tak sanggup membayangkan posisinya sebagai Surti yang berada di pihak perempuan dan sampai saat ini, Reka tidak tau alasan apa yang membuat Aliya mau menikah kontrak dengan Reno.


****


Aliya hanya bisa menangis saat mendapatkan tamparan pedas itu dan apa yang Surti lakukan itu dilihat oleh Edi yang sedang mengurus tambaknya karena letaknya tambak itu tidak berada jauh dari rumahnya.


Edi pun segera menghampiri Surti yang sedang memarahi Aliya.


"Apa apa ini, Bu?" tanya Edi seraya melepaskan tangan Surti yang berada di rambut Aliya.


Di saat tangan Surti sudah lepas, Aliya memilih untuk berlari ke kamar.


"Ayah mau belain Aliya, Ayah harus tau apa yang sudah putri kita lakukan, Ibu yakin kalau Ayah akan lebih murka dari Ibu!" seru Surti seraya mengibaskan tangan Edi, lalu, Surti meninggalkan Edi yang masih berdiri di belakang rumah dan saat kembali ke dapur, Surti mendapati ikan gorengnya itu sudah gosong dan hampir saja terjadi kebakaran karena Surti lupa mematikan kompor.


Edi yang merasa penasaran itu menyusul Surti.

__ADS_1


"Bu, ada apa?" tanya Edi yang ikut duduk di kursi meja makan, Edi mendapati istrinya sedang menangis, duduk di kursi meja makan.


"Ayah tanyakan saja sama Aliya, Ibu juga mau dengar sendiri dari mulutnya itu," kata Surti seraya mengusap air matanya menggunakan kain tapih yang ia pakai.


Mendengar itu, Edi bangun dari duduk, ia menyusul Aliya ke kamar dan Aliya yang mengunci kamarnya itu tengah ketakutan, ia merasa bingung dengan Surti yang tiba-tiba menarik rambutnya sehingga Aliya berpikir kalau Surti sudah mengetahui.


Edi terus memanggil Aliya dan meminta Aliya untuk keluar dari kamar.


Sekarang, semua orang sudah duduk di ruang tengah. Edi bertanya pada Aliya dan Aliya menjawab tidak tau.


Sementara Surti, ia tak mau menatap wajah anaknya, hatinya terlanjur kecewa dan sakit karena anak satu-satunya yang sangat ia sayangi telah tega menipunya.


"Kalau begini, Ayah bisa apa? Ayah tanya Ibu disuruh tanya Aliya, Ayah tanya Aliya, Aliya tak mau menjawab," ucap Edi seraya menyeruput teh yang sudah dingin, lalu kembali meletakkan teh itu ke meja.


Surti tak berhentinya menangis, sementara Aliya, ia tengah memainkan ujung kuku-kukunya dengan kepala yang menunduk.


"Kalau begitu, teruskanlah, Ayah tidak tau apa-apa, Ayah harus mengurus tambak," kata Edi seraya bangun dari duduk dan belum sempat melangkah, Surti membuka mulutnya, ia memberitahu kalau Aliya telah menipunya.


"Aliya, dia menipu kita," kata Surti seraya mengusap air mata yang membasahi pipi.


"Menipu bagaimana, sejak kapan putri kita jadi penipu?" tanya Edi seraya Surti bergantian menatap Aliya..


"Aliya minta maaf, Bu. Aliya tidak berniat untuk menipu," lirih Aliya yang masih tertunduk dan Surti yang masih kecewa dengan anaknya itu merasa tidak sudi untuk mendengar penjelasannya.


Surti memilih untuk bangun, wanita berkebaya dengan rambut yang di sanggul itu pergi meninggalkan Edi dan Aliya yang masih berada di ruang tengah.


"Ada apa? Kenapa kamu tidak cerita dengan Ayah?" tanya Edi seraya menatap Aliya.


"Lihat Ayah, Al!" perintah Edi yang sudah kembali duduk di sofa.


Aliya yang berwajah sembab dan murung itu menatap Edi dan Edi masih menunggu untuk Aliya bercerita.


Apakah Edi akan sama seperti Surti yang meninggalkan Aliya karena rasa kecewanya, merasa telah ditipu mentah-mentah oleh putri tersayangnya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen setelah membaca, ya. Bintang limanya, juga. Difavoritkan supaya tidak tertinggal update terbarunya.


__ADS_2