
Setelah melihat sendiri kebahagiaan putrinya, Edy pun tak ingin berlama-lama berada di apartemen Reno. Tidak ingin karena kehadirannya itu bisa membuat pengantin baru tersebut terganggu.
Aliya dan Reno pun tersenyum, setelah itu, semua orang kembali berkumpul di ruang tengah, tidak lama kemudian Aliya yang merasa lelah dan mengantuk itu pamit untuk tidur lebih dulu.
Aliya bangun dari duduknya dan Reno pun menyusul, Reno mencegah Aliya untuk masuk ke kamarnya, Reno pun membawa Aliya ke kamar miliknya.
Aliya yang sedang digandeng itu pun tersenyum-senyum pada Reno yang sama sekali tak menatapnya.
"Astaga, kenapa dia selalu tersenyum?" tanya Reno dalam hati, pria itu membuka pintu kamarnya dan para orang tua yang melihat itu mengira kalau Reno sedang tidak dapat menahan hasratnya.
"Saya berharap, akan segera ada Reno junior!" kata Reka seraya sedikit tersenyum.
"Kalau saya, sangat menyukai anak perempuan, saya berharap akan segera ada Aliya kecil!" timpal Surti dan Edi pun menengahi, "Anak pertama semoga saja lelaki, untuk nanti melindungi adik-adiknya yang cantik dan lucu-lucu!"
"Aamiin," jawab Reka dan Surti bersamaan.
Setelah hari sudah larut, Reka pun pamit semua orang, termasuk pada Reno yang baru saja keluar dari kamar.
Reka mengingatkan pada Surti agar esok bersiap.
Surti mengiyakan tanpa banyak bertanya, karena wanita yang menggunakan kebaya itu sudah lelah dan ingin segera untuk beristirahat.
Setelah mengantarkan Reka ke basement, Reno pun kembali ke kamar, di sana, Reno segera naik ke ranjang dan Reno yang masih dalam posisi duduk itu melihat Aliya berbaring di sofa, Reno menatapnya.
Sekejap, Reno melihat bayangan wajah Serena dalam diri Aliya.
Dan itu membuat Reno kembali ingat dengan masa lalunya, ia juga kembali merasakan luka di hatinya.
Kebekuan hati Reno yang seharusnya sudah sedikit mencair itu pun kembali mengeras.
"Serena! Sudah bertahun-tahun kau torehkan luka ini, kenapa aku masih saja tidak dapat melupakanmu! Aku membencimu!" kata Reno dalam hati.
Dan Reno yang kembali menjadi dingin dan pemarah itu bangun dari duduknya, ia keluar dari apartemen, tak melihat waktu walau sudah larut, ia tetap pergi, tiada yang tau kemana ia pergi membawa kedukaan hati yang melandanya.
****
__ADS_1
Keesokannya, Aliya yang bangun pagi itu tak melihat suaminya ada di kamar.
"Kemana dia?" tanya Aliya seraya bangun lalu melipat kembali selimutnya.
Aliya membantu bibi yang dibawakan oleh Reka untuk menyiapkan sarapan dan setelah itu, semua orang pun berkumpul.
Di saat itu juga Reno kembali dan semua orang menatapnya termasuk Reka yang sudah berada di apartemen.
"Maaf, Reno baru kembali dari berolahraga," kata Reno dengan dinginnya dan Reno yang akan berlalu itu harus kembali berhenti saat Reka memanggilnya.
"Ren, kami sedang membahas pesta pernikahan," kata Reka yang memberitahu Reno.
Dan Reno pun melihat ke arahnya, ia tersenyum tipis dan menjawab, "Reno mempercayakan semua sama Bunda!" Setelah itu, Reno pamit pada Reka untuk bersiap.
Reka menganggukkan kepala, berpikir, kalau Reno sedang disibukkan oleh pekerjaan sehingga membuat Reno sedikit cuek.
Sedangkan Aliya hanya memperhatikan dan merasa kalau Reno sedang tidak baik-baik saja.
Dan Reka yang sudah tidak sabar untuk membuktikan rumor yang beredar itu tidaklah benar pun memberitahu kalau akan mempercepat acara pesta tersebut, semua orang hanya hanya mengiyakan.
Setelah itu, Reka bangun dari duduk, mengajak besannya untuk ke hotel, memeriksa persiapan pestanya.
Dan Aliya harus terkejut saat tiba-tiba saja Reno datang dengan memegang tangannya.
Ya, Reno yang baru saja keluar dari kamar itu melihat apartemennya sudah sepi, ia pun dengan segera menghampiri Aliya yang sedang berdiri di dapur.
Aliya menatap Reno yang sedang menatapnya tajam, karena terlalu erat menggenggam lengan, Aliya pun menjatuhkan piring yang sedang ia pegang.
"Dengar! Kau tau! Semua pura-pura ini sudah sangat keterlaluan!" ucap Reno seraya melepaskan kasar tangan Aliya.
Aliya yang sedang terkejut dan merasa kesakitan itu pun kembali menangis. Aliya merasa kalau bukan hanya Reno saja yang lelah, ada dirinya juga yang lelah menyembunyikan semua, sementara sikap Reno kepadanya tetaplah kasar.
Dan pertengkaran itu disaksikan oleh Reka yang harus kembali ke apartemen untuk mengambil ponselnya yang tertinggal, walau begitu, Reka tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang Reno katakan. Reno pun menyadari kedatangan Bundanya, lalu, pria dingin dan kejam itu kembali berpura-pura untuk bersikap baik dengan membantu Aliya.
Reno membantu Aliya untuk membereskan pecahan belingnya, sementara Aliya, ia berdiri dalam diamnya, tak ada yang Aliya lakukan selain menghapus air matanya.
__ADS_1
"Sayang, apa ada yang terluka?" tanya Reno yang sedang berjongkok seraya menatap Aliya.
Setelah itu, Aliya yang tak menjawab apapun melepaskan capitan dan sarung tangan yang sedang ia gunakan. Aliya meletakkan dua benda itu ke meja dapur dengan sedikit kasar, Aliya juga mengatakan kalau dirinya sangat lelah.
"Aku lelah, sangat lelah!" kata Aliya.
Aliya yang menangis itu berlari melewati Reka, ia masuk ke kamarnya dan Reno yang melihat Bundanya itu merasa khawatir, khawatir kalau Bundanya akan merasa curiga dan mengetahui semua rahasianya.
Reno pun mengejar Aliya dengan memanggilnya sayang.
Tak ingin mengganggu dan tak ingin mencampuri urusan anak dan menantunya, Reka pun pergi dari apartemen.
Sesampainya di basement, Reka juga mengajak dua besannya untuk tinggal di istananya.
"Kenapa? Apa Nak Reno merasa terganggu?" tanya Surti pada Reka.
"Tidak, kita juga pernah muda, pernah menjadi pasangan yang baru menikah, biarkan mereka menikmati waktunya!" kata Reka dan penjelasan itu membuat Edi dan Surti mengerti.
"Kalau begitu, saya harus kembali dulu untuk mengambil barang kami," kata Edy yang bersiap untuk dari mobil.
Dan Reka pun melarangnya.
"Tidak perlu, biarkan saja, nanti ada yang akan mengurusnya!" kata Reka dan Edi pun kembali duduk.
"Enaknya jadi kaya raya, mengambil tas saja ada yang mengurusnya!" kata Surti dalam hati.
****
Sementara itu, di apartemen, Reno membuka pintu kamar Aliya dan terlihat Aliya sudah berbaring di ranjang.
"Aku tau, tangisan mu itu hanya pura-pura! Untuk mendapatkan simpati Bunda, bukan?" tanya Reno yang berdiri di tengah pintu dengan tangan satunya ia masukkan ke kantung celananya.
"Hebat kamu, akting mu sangat memukau! Pintar... akting mu melebihi dari aktris papan atas!" kata Reno yang masih terus mengatai Aliya.
Sementara itu, Aliya yang masih bersedih hati pun menghapus air matanya.
__ADS_1
Kali ini, apakah Aliya hanya berakting? Sesuai dengan seperti apa yang Reno tuduhkan?
Jangan lupa like dan komen setelah membacanya, ya. Dukung terus author dengan Vote atau giftnya, terimakasih dan jangan lupa klik favorit supaya tidak tertinggal update terbarunya.