SUAMIKU TAKDIRKU

SUAMIKU TAKDIRKU
Pesta Pernikahan


__ADS_3

Dua hari berlalu dan selama itu juga Aliya tidak bertemu dengan Reno.


"Pak, hari ini acara pesta kita, kenapa Bapak tidak ada kabar?" tanya Aliya dalam hati, Aliya sendiri sedang dirias.


"Aku takut, Pak. Nanti aku udah selesai dirias, ternyata Bapak tidak datang!" Aliya masih berbicara dalam hati.


Dan tidak lama kemudian, pria yang sedang ditunggunya itu datang, ia masuk ke kamar dan menatap Aliya yang terlihat sangat cantik dengan riasan yang natural.


Aliya tersenyum dan merasa lega setelah melihat siapa yang datang, setelah itu, Reno pun segera mengganti pakaiannya dengan jas pernikahan dengan warna yang senada.


"Maaf, aku terlalu sibuk," kata Reno tanpa melihat Aliya.


"Ya, tidak apa-apa," jawab Aliya dan Aliya merasa kalau wajahnya terasa panas, ternyata, Aliya sedang merona, ia merasa malu dan sangat grogi saat melihat Reno yang tadi sempat bertelanjang dada dan sekarang, Reno terlihat begitu tampan.


Aliya berpikir, seandainya ini pernikahan sungguhan, sudah pasti dirinya tidak akan melepaskan Reno.


Selesai dengan riasan, sekarang, Reno dan Aliya berjalan dengan bergandengan tangan, keduanya menuju aula dan di sana sudah banyak tamu yang menunggu.


Setibanya di aula, Reno dan Aliya mendapatkan banyak pujian.


"Astaga, bidadari dari mana?" tanya seseorang yang terpesona dengan kecantikan Aliya.


Dan hari ini, Edi juga Surti merasa bahagia untuk putrinya yang sekarang menjelma menjadi seorang putri layaknya di negeri dongeng.


Reka pun memberikan senyumnya pada Edi juga Surti.


"Terima kasih, anda telah merawat dan membesarkan jodoh anak saya dengan baik!" kata Reka yang kemudian meraih tangan Surti dan Surti menjawab dengan mengangguk juga membalas senyum dari besannya.


Setelah itu, Reka pamit pada Edi dan Surti untuk menyambut tamu yang selama ini menggosipkan Reno.


"Saya ke sana dulu, sebentar!" kata Reka seraya menunjuk meja lain. Reka pun bangun dari duduk, wanita berbadan kurus itu berjalan dengan anggunnya, lalu, bergabung dengan tamu undangan istimewanya.


"Bagaimana?" tanya Reka yang masih berdiri, ia tersenyum penuh kemenangan di depan lawan bisnis anaknya.


"Duduklah dulu, Nyonya. Kita bisa berbincang!" jawabnya, lalu, Reka pun menurutinya, ia duduk menemani sepasang suami-istri tersebut. Terlihat, kalau usia keduanya tidak jauh dari usia Reno.


"Putraku, sangat membanggakan, selain dia pintar dalam berbisnis, dia juga sangat pintar mencari calon istri! Lihatlah, sangat serasi bukan?" tanya Reka seraya tersenyum.


"Juga jangan lupakan, Nyonya!" jawab Norman, si saingan bisnis Reno, "Reno juga akan melakukan apapun untuk tujuannya, termasuk status pernikahan!" lanjutnya, setelah itu, Norman menenggak minumannya dan tersenyum smirk pada Reka.


Reka berdecak, lalu, Reka membalas ucapan pria sombong itu, "Saya akan pastikan, kalau mereka adalah pasangan yang sesungguhnya!"


Setelah itu, Reka bangun dari duduk saat dimintai untuk bergabung dengan pengantin.


Sekarang, foto keluarga telah di dapat, selesai dengan itu, Reka meminta sebuah foto yang sangat manis dari Aliya dan Reno. Reka berniat akan memajangnya di ruang tamu.

__ADS_1


Dan Reno memeluk Aliya dari belakang, melingkarkan tangannya diperut Aliya.


Rupanya, ada getaran di hati masing-masing, Aliya yang merasa terlalu nyaman dengan pelukan itu pun menatap Reno dan jadilah foto manis yang begitu natural. Tatapan dari mata Aliya yang tak dapat dibohongi saat mendongak untuk menatap Reno dan raut wajah Reno yang sepertinya sangat bahagia, entah itu raut wajah yang penuh tipu daya atau raut wajah yang dipaksakan?


Selesai dengan pesta, Reno dan Aliya sudah berada di kamar hotel.


Tidak seperti pada umumnya, kalau sang pengantin pria akan membantu melepaskan gaun istrinya.


Reno hanya sibuk sendiri, ia mengganti pakaiannya dengan pakaian santai dan Aliya tak juga melepaskan gaunnya.


"Kenapa? Sepertinya kamu sangat menyukai gaun itu, sampai tidak ingin melepasnya!" kata Reno yang kemudian meraih ponselnya, lalu, menjatuhkan dirinya di ranjang.


"Bukan seperti itu, tapi... aku bingung, kenapa semua baju seperti ini?" tanya Aliya seraya menunjukkan gaun malam pada Reno.


"Apa aku harus memakai ini?" tanya Aliya, ia tersenyum pada Reno dan Reno mengetahui kalau Aliya sedang menggodanya.


"Berhenti untuk berpikir kotor!" jawab Reno seraya menatap Aliya tajam.


Aliya pun tersenyum seraya memeluk gaun malam itu, lalu mengembalikan gaun tersebut ke lemari.


Dan Aliya yang masih mengenakan gaun pengantin itu menyusul Reno, ia duduk di sampingnya.


"Pak, kenapa beberapa hari ini tidak pulang?" tanya Aliya yang membuka obrolan.


"Memangnya, tadi kamu tidak dengar? Aku terlalu sibuk!" jawab Reno yang sedang memainkan ponselnya, Reno tengah mengirim pesan pada Arman, meminta padanya untuk mengirim pakaian Aliya.


Lalu, Reno menatap Aliya yang berada di sampingnya.


"Kenapa? Kenapa liat aku seperti itu?" tanya Reno dan Aliya menggelengkan kepala.


"Mau bilang Bapak tampan, tapi... takut Bapak kepedean!" kata Aliya yang kemudian turun dari ranjang.


Reno tersenyum dengan jawaban Aliya, pria itu benar-benar tidak habis pikir dengan istri kecilnya.


Lalu, Aliya mengambil ponselnya, ia mengambil fotonya yang sedang duduk manis di sofa panjang.


Setelah itu, Aliya memposting di sosial medianya.


****


Malam berlalu tanpa terjadi sesuatu, tidak seperti yang Reka pikirkan.


Reka yang sudah mengetahui status keduanya itu tak dapat memejamkan mata.


Ya, Reka sudah mengetahui dan Reka menangis seorang diri di kamarnya.

__ADS_1


Lalu, apakah Reka akan memisahkan Aliya dan Reno?


Tidak, Reka akan melihat keduanya, akan melihat sampai sejauh mana mereka akan terus berbohong. Sementara itu, Reka sudah sangat menyukai Aliya.


"Reno! Kenapa kamu tidak pernah bicara sama Bunda? Kenapa kamu memendam luka itu sendiri!" tangis Reka yang tengah berbaring, meringkuk sendirian seraya memeluk foto sang suami.


Pagi telah datang, Reka pun menghampiri besannya yang ia dengar akan kembali ke kampung pagi ini.


"Kenapa terlalu cepat? Apakah kalian tidak ingin pergi bersama kami untuk berlibur?" tanya Reka yang baru saja sampai di lantai dasar rumahnya.


Terlihat, Edi dan Surti sudah mengemas barang-barangnya.


"Tidak, Bu Besan. Kami harus mengurus tambak kami," jawab Edi apa adanya pada Reka.


Dan Reka yang masih mengenakan baju tidur itu menjawab, "Baiklah, tapi maaf, saya tidak bisa mengantarkan besan ke bandara!"


"Tidak apa, sebelum pulang, kami ingin menemui Aliya lebih dulu!" jawab Surti dan Reka pun mengangguk tersenyum.


"Ya, memang seharusnya begitu!" jawab Reka.


Setelah itu, Reka memanggil Bambang, wanita yang sebenarnya tengah terluka itu menyuruhnya untuk mengantarkan besan ke apartemen Reno.


Singkat cerita, Reno dan Aliya yang juga baru kembali ke apartemen itu melihat ke belakang, saat Surti dan Edi memanggilnya.


"Aliya, Nak Reno!"


"Ibu, Ayah, kenapa membawa tas? Apa Ibu dan Ayah akan tinggal di sini?" tanya Aliya.


"Enggak sopan, kamu!" kata Reno pada Aliya.


"Kan, cuma tanya, Pak!" jawab Aliya.


"Tetap saja, harusnya masuk dulu baru bicara!" Reno menasehati dan Aliya tersenyum, ia merasa Reno sangat perhatian kepadanya dan keluarga.


Surti dan Edi pun menjawab pertanyaan Aliya.


"Iya, kami harus pulang!" jawab Edi.


Mengetahui itu, Reno pun menyuruh Arman untuk menyiapkan jet pribadi, Arman harus mengantarkan mertua Tuannya dengan selamat sampai tujuan.


Dan lagi-lagi, Aliya harus semakin jatuh hati pada Reno yang memperdulikan keluarganya.


"Jangan menatapku seperti itu!" kata Reno yang menyadari kalau Aliya tengah memperhatikan.


Dan seperti biasa, Aliya menjawabnya dengan terus tersenyum dan kali ini Aliya sedikit mencubit pinggang Reno.

__ADS_1


Dengan sikap Aliya yang apa adanya, apakah akan mampu membuat dinding es yang Reno buat dengan kokoh itu mencair.


Jangan lupa like dan komen setelah membaca, ya. Dukung terus author dengan gift/votenya, ya. Mohon maaf untuk typonya πŸ™


__ADS_2