SUAMIKU TAKDIRKU

SUAMIKU TAKDIRKU
Baby Isa


__ADS_3

Bukannya menjawab, justru Aliya bangun dari duduk untuk bersujud di kaki Edi.


"Ada apa, Katakan, Al!" perintah Edi yang semakin dibuat penasaran oleh sikap Aliya.


Aliya yang menangis sesenggukan itu meminta maaf, "Aliya minta maaf, Ayah. Maafkan Aliya.


" Maaf untuk apa?" tanya Edi seraya menyuruh Aliya untuk bangun dan Aliya pun menolak.


Sementara itu, Surti yang sedang berdiri di balik pintu kamar itu merasa tak sabar untuk mengatakan yang sesungguhnya, Surti pun keluar dari kamar dan Edi melihat ke arahnya.


"Anak tersayang Ayah, menipu kita dengan menikah kontrak, entah apa yang membuat anak bodoh ini mau menikah kontrak!"


"Astaga, Aliya. Apa benar yang Ibumu katakan?" tanya Edi yang ingin mendengar jawaban itu langsung dari mulut Aliya.


Aliya terdiam.


Ia mengira kalau Surti mengetahui kehamilannya yang tanpa suami dan Aliya semakin takut untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Tapi, mereka harus tau, memang seharusnya mengetahuinya," batin Aliya, Aliya masih menatap Edi yang juga menatapnya, menatap menanti jawaban yang sedang ditunggunya.


"Al-Al hamil, Ayah," lirih Aliya yang terbata.


"Ya, Ayah tau kamu hamil, hamil anak Reno, kan?" tanya Edi, ia berharap kalau memang betul itu adalah anak Reno.


Aliya menggeleng dan air matanya semakin deras mengalir.


"Maksud kamu apa, Al?" tanya Edi seraya bangun dari duduk. Bukan Edi saja yang tercengang, ada Surti yang seperti sudah jatuh masih harus tertimpa tangga.


Surti berpikir kalau Aliya mau menikah kontrak untuk menutupi kehamilannya, begitulah pikir Surti.


Dan apa yang Surti pikirkan itu membuatnya pingsan, Edi segera membantu Surti untuk memapahnya, membawanya kembali kamar.


Aliya yang masih menangis itu hanya bisa terdiam seraya menyentuh kaki Surti yang sudah berbaring di ranjang.


"Maafkan Aliya, Bu. Aliya memang bodoh, Aliya minta maaf, Bu." Aliya terus menangis.


Sementara itu, Edi mengambil minyak angin untuk Surti dan setelah siuman, Surti yang mendapati sedang dipijit oleh Aliya itu menolak untuk disentuhnya.


"Bu... Aliya minta maaf," rengek Aliya kembali mencoba menyentuh kaki Surti.


Surti yang memunggunginya itu kembali bertanya, "Siapa ayah anak itu?"

__ADS_1


Aliya terdiam, ia tidak tau harus berbuat apa dan Edi yang mendengar pertanyaan itu pun menjadi berpikir yang sama dengan apa yang Surti pikirkan.


"Di Jakarta, apa pelajaran menipu yang kamu dapatkan?" tanya Edi tanpa melihat Aliya.


Aliya yang semula duduk di tepi ranjang itu turun, ia kembali bersujud di kaki Edi.


"Aliya minta maaf, Yah." Aliya memohon dengan suara yang tercekat, seolah sudah tidak dapat berkata-kata lagi, hanya tangis yang Aliya berikan pada dua orang tuanya.


"Katakan, siapa ayah dari anak itu?" tanya Edi dengan datarnya. Ia berharap kalau Aliya akan menjawab sesuai dengan harapannya.


"Gilang," lirih Aliya yang masih menunduk dan setelah mendengar itu, Edi yang semula duduk di kursi kayu bangun, ia berjalan keluar dari kamar meninggalkan Aliya yang masih bersimpuh.


"Ayah kecewa, sangat kecewa, Al!" batin Edi, ia kembali duduk ke sofa ruang tengah dengan kepala yang menyender, menatap langit-langit ruangan tersebut.


Edi memijit kepalanya yang terasa sakit.


Dan Aliya yang terabaikan itu berdiri di pintu, menatap Edi yang menitikkan air matanya.


Edi menangis karena menyesal tidak dapat menjadi ayah baik untuk Aliya.


Lalu, Edi menatap Aliya yang masih berdiri di pintu.


"Ayah," lirih Aliya dan Edi yang mendengar itu berbalik badan.


Tanpa melihat putrinya yang tengah bersedih hati, Edi meminta pada Aliya untuk diam, "Untuk sementara, Al. Lebih baik kamu diam, selama Ayah sedang menahan segala rasa kekecewaan ini."


****


Hari-hari Aliya lalui dengan sepi, tanpa ada canda dan tawa lagi dari keluarganya, sementara itu, perut Aliya sudah semakin gendut.


Sering kali, tanpa siapapun disisinya, Aliya pergi untuk memeriksakan sendiri kehamilannya. Aliya menangis dalam diam.


Aliya sadar kalau semua ini adalah salahnya dan Aliya berharap kalau waktu akan mengobati luka hati kedua orang tuanya.


Begitu juga dengan Reno, ia ditinggalkan oleh Reka pergi ke negara asalnya yaitu Singapore, Reka ingin menenangkan hati dan pikirannya, terlebih Reka merasa malu pada Norman yang mengatakan kalau Reno akan berusaha keras untuk mendapatkan status pernikahan dan ternyata ucapan itu benar adanya.


Reno yang sedang berada di apartemen itu di temani oleh Serena yang baru tiba dari Korea, Serena membawakan oleh-oleh untuk pria yang sekarang menjadi teman.


Serena yang berakal licik itu menambahkan sesuatu di minuman Reno dan keduanya harus melakukan saat Reno tidak lagi dapat menguasai dirinya.


Reno yang tengah memakai kemejanya itu tak merasakan getaran apapun saat dengan Serena, berbeda saat dirinya mencium atau dicium oleh Aliya beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Dengan siapa kamu melakukannya itu untuk pertama kali?" tanya Reno yang mendapati kalau Serena sudah tidak suci lagi.


"Aku lupa," jawab Serena.


"Astaga," ucap Reno dalam hati.


Lalu, Serena yang masih mengenakan gaun seksinya itu memeluk Reno dari belakang dan Reno yang mengetahui kalau Serena menjalani hidup bebas itu melepaskan tangan Serena dari perutnya.


Reno membandingkan Serena dengan Aliya yang melakukan itu hanya dengan satu orang dan melakukannya karena cinta.


"Astaga, apa bedanya aku dengan Aliya, aku sendiri bajingan seperti ini!" batin Reno, ia berjalan keluar kamar, meninggalkan Serena yang terduduk di tepi ranjang.


Walau sudah berusaha seperti apapun, sepertinya, Reno tidak lagi memiliki hati untuk Serena.


Untuk memastikan hatinya berada di mana, Reno memutuskan untuk sendiri sampai waktu yang cukup lama.


Setelah hari-hari berat mereka lalui, sekarang, Reno mendengar kabar Aliya yang baru saja melahirkan.


Aliya melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan.


Dan saat Surti melihat bayi itu, ia mulai melunak, ia ingat saat dulu dirinya melahirkan Aliya, bayi yang bertahun-tahun lamanya ia nantikan.


Beruntung, Surti ada suami dan keluarga besar yang mendampingi, sementara Aliya, ia hanya sendiri tanpa adanya suami.


Surti pun menyesal karena telah mengabaikan Aliya selama itu.


Surti yang menangis itu memeluk Aliya.


"Maafkan, Ibu, Nak."


"Seharusnya, Aliya yang meminta maaf, Bu. Aliya tau ini semua salah Aliya," jawab Aliya seraya membalas pelukan Surti dan Edi yang baru saja meng-adzani cucunya itu menangis, terharu melihat Surti yang akhirnya melunak.


"Al, siapa nama bayimu?" tanya Edi seraya membawa bayi itu untuk diberikan kembali ke putrinya.


"Baby Isa, Yah. Isa Sankara," jawab Aliya.


"Nama yang bagus, Nak" ucap Surti seraua membelai pipi merah bayi kecil itu.


Setelah kepahitan yang Aliya rasakan, kini, Aliya dapat merasakan kebahagiaan.


Selamat untuk Aliya.

__ADS_1


__ADS_2