
Tidak lama kemudian, Bambang pun kembali ke parkiran dengan membawa Aliya.
Aliya segera menyalami kedua orang tuanya. "Ibu, Ayah. Bagaimana kabar kalian?" tanya Aliya yang masuk ke mobil.
"Kami baik," jawab Surti seraya tersenyum dan mengusap rambut hitam anaknya.
"Syukurlah," jawab Aliya.
Setelah itu, Bambang pun segera membawa semua orang kembali dan ternyata Reka sudah menunggu.
Kemudian, semua orang pun segera ke butik, di sana, Aliya harus menggunakan korset untuk menutupi bentuk tubuhnya yang sudah mulai terlihat berbeda.
Dalam hati, Aliya berharap kalau semua orang tidak akan menyadari itu.
Dan Aliya yang menggunakan gaun pengantin berwarna putih tulang itu terlihat sangat cantik, melihat itu, Reka membelai wajah Aliya.
"Sangat cantik, pantas saja Reno jatuh hati!" kata Reka dan Aliya hanya tersenyum.
Memang benar adanya, karena sekarang, Reno tak berhenti memikirkan Aliya.
Waktu yang sangat singkat, hanya membutuhkan beberapa hari saja bagi keduanya untuk saling memikirkan.
Reno yang sekarang sedang berbaring di sofa ruangannya itu berpikir untuk memanggil Lela untuk kembali. Tepatnya, Reno tidak lagi ingin membebani Aliya dengan pekerjaan rumah.
Reno pun merubah posisinya menjadi duduk. Pria yang sebenarnya sedang gundah gulana itu menghubungi Arman dan Arman pun segera datang.
Arman menanyakan keperluan Reno.
"Bawa Lela kembali!" perintah Reno dan Arman mengangguk, mengiyakan perintah itu.
Setelahnya, Arman pun keluar dari ruangan Reno, di depan pintu, Arman mengendurkan dasinya, ia harus mencari Lela berada.
"Tuan, anda sendiri yang memecatnya dan sekarang anda mencarinya!" kata Arman dalam hati.
Dan Arman yang masih berdiri di depan itu terkejut saat tiba-tiba pintu jangan CEO itu kembali terbuka.
"Kenapa masih di sini?" tanya Reno yang baru saja keluar dari ruangan, ya, Reno harus pergi ke butik untuk fitting baju pernikahan.
"Maaf, Tuan." Arman menjawab lalu segera pergi.
Singkat cerita, Arman yang sudah duduk di bangku kemudinya itu menghubungi Lela.
Lela pun memberikan alamatnya berada.
****
__ADS_1
Sementara Reno sedang fitting baju, Arman sedang membujuk Lela untuk kembali.
"Maaf, Tuan. Tapi, saya sudah bekerja," jawab Lela setelah mendengar permintaan Arman.
"Anda sudah mengenal Tuan Reno, untuk waktu yang lama, saya mohon pada Bu Lela untuk kembali pada Tuan," pinta Arman.
Lela yang sedang menjemur pakaian itu terlihat memikirkan permintaan Arman dan sedikit sulit untuk membawa Lela kembali pada Reno.
"Baiklah, karena saya sudah menganggap Tuan sebagai keluarga, saya akan kembali," kata Lela dan Arman pun merasa lega.
****
Di butik, Aliya masih terlihat diam pada suaminya, walau dalam hati memuji ketampanan Reno.
Dan Reno terlihat memperhatikan Aliya, Reno pun meminta pada pemilik butik untuk membuatkan gaun yang tidak terlalu sempit.
Reno tak ingin terjadi sesuatu pada bayi Aliya dan sepertinya Aliya mengerti maksud dari apa yang Reno lakukan.
Setelah fitting baju, Reno harus pamit pada semua orang, Reno kembali ke kantor dan sesampainya di kantor, Reno pun melihat Arman yang juga baru saja sampai.
"Bagaimana?" tanya Reno dan Arman menjawab kalau sore ini, Lela sudah berada di apartemen Reno.
"Bagus!" kata Reno yang kemudian melanjutkan langkah kakinya dan diikuti oleh Arman.
****
Ya, Reka sepertinya mengetahui kalau masalah Aliya dan Reno belum terselesaikan dan Reka tak ingin Aliya lari dari masalahnya dengan melarangnya berada di rumahnya.
Sesampainya di apartemen, Aliya melihat Lela dan bukannya senang, Aliya mengira kalau ini adalah pura-pura dari Reno.
"Bapak pura-pura menjadi baik, dengan membawa Bi Lela kembali? Biar apa, Pak?" tanya Aliya dalam hati.
Dan Aliya hanya tersenyum tipis pada Lela yang sedang merapikan apartemen, lalu, Aliya masuk ke kamarnya.
Aliya tidak keluar dari kamar, ia memilih untuk mengerjakan tugasnya, sampai Lela mengetuk pintu kamarnya untuk pamit pulang.
Aliya membuka pintu dan mempersilahkannya.
"Terimakasih, Bi. Hati-hati di jalan!" kata Aliya dan Lela mengucapkan terimakasih.
Setelah itu, Aliya kembali ke kamarnya, ia menjatuhkan dirinya di ranjang, menatap langit-langit kamarnya, matanya selalu melihat bayang-bayang wajah Reno.
"Kenapa ada yang lain sama Bapak?" tanya Aliya. Ya, Aliya merasa kalau Reno sedikit berbeda, bahkan Reno mulai mengkhawatirkan bayi Aliya.
Aliya memikirkan Reno sampai tertidur dan Aliya terbangun saat mendengar suara pintu yang terketuk.
__ADS_1
Ya, Reno yang baru kembali pulang itu mencari Aliya ke kamarnya.
Dan Aliya yang membuka mata itu melihat jam di layar ponselnya.
"Jam 7, ya ampun, bisa begadang semalaman ini aku!" kata Aliya seraya turun dari ranjang, Aliya memakai sandalnya, lalu membuka pintu dan terlihat ada Reno yang sedang berdiri seraya menatapnya.
"Ada yang harus kita bicarakan!" kata Reno dan Aliya yang masih diam itu pun keluar dari kamar, Aliya berjalan ke ruang tengah dan Reno mengikutinya di belakang.
Aliya yang sudah sampai di sofa itu duduk dengan menyilangkan kakinya bersila.
"Ada apa? Cepat katakan, aku sangat sibuk!" kata Aliya seraya bersedekap dada.
Mendengar itu, Reno tersenyum. Reno menggelengkan kepala seraya menjawab perkataan Aliya, "Dasar anak kecil, kebanyakan gaya!"
Lalu, Reno mengacak pucuk rambut Aliya. "Yang seharusnya sibuk itu aku! Bukan kamu!" kata Reno yang kemudian menurunkan tangannya saat Aliya menepiskan tangan Reno.
Aliya berdecak, menunjukkan rasa tak sukanya saat disentuh oleh Reno, padahal, hatinya sedang berdegup kencang, jantungnya seolah akan lepas dari tempatnya.
Dan Aliya memilih diam, ia tak ingin Reno mengetahui kalau dirinya sedang grogi.
Tetapi, Reno terus menatap Aliya dan Aliya meminta pada Reno untuk berhenti menatapnya.
"Mau sampai kapan Bapak memperhatikan ku? Jangan lupa, katanya, ada yang ingin Bapak sampaikan!" kata Aliya seraya memalingkan wajahnya.
"Al, sebenarnya... aku takut!" kata Reno dan Aliya kembali menatap Reno, tak mengerti apa maksud pria itu yang memanggilnya hanya untuk memberitahu kalau dirinya takut.
"Aku minta maaf, semua atas perlakuan ku! Aku seperti itu hanya karena takut, takut jatuh cinta!" kata Reno yang menundukkan kepala.
Dan Aliya menertawakan Reno dalam hati.
"Hahaha, orang keras seperti anda, ternyata... takut jatuh cinta!"
Dan Reno mengerti kalau Aliya pasti menertawakannya dan Reno pun melanjutkan pengakuannya.
"Dulu, aku pernah mencintai dan aku terluka, setelah itu, bagiku cukup satu kali untuk jatuh cinta dan satu kali terluka!" kata Reno seraya menatap Aliya.
Dan Aliya pun menjawab, "Cerita cinta ku yang paling menyedihkan!"
Ya, bagi Aliya, masa lalunya lah yang paling menyedihkan.
Keduanya saling menatap dan apa yang akan terjadi setelah ini?
Jangan lupa like dan komen setelah membaca, ya. Dukung author dengan vote/giftnya.
Terimakasih π
__ADS_1