SUAMIKU TAKDIRKU

SUAMIKU TAKDIRKU
Oh, Kancil Ku!


__ADS_3

Lalu, Aliya yang melihat Bunda mertuanya itu seolah terburu-buru pun mengajaknya untuk makan malam bersama.


Melihat itu, Reno pun menatap Aliya.


"Siapa yang akan memasak? Enggak mungkin aku hubungi Lela karena wanita itu sudah tak bekerja lagi disini!" kata Reno.


Lalu, Reka pun menanyakan itu pada Reno.


"Dia berhenti karena harus mengurus keluarganya!" jawab Reno seraya menatap Reka yang masih berdiri di ruang tengah itu.


Dan karena itu lah, Reno mengajak Reka untuk makan malam di luar dan Aliya yang merasa lelah juga malas keluar itu ingin menunjukkan skill memasaknya pun mencegah.


"Biar Aliya yang memasak untuk Bunda dan suami tercinta Aliya," ucap Aliya seraya melingkarkan lengannya di lengan Reno.


"Astaga, enggak habis juga ide dia buat aku dalam kepura-puraan." Reno membatin seraya mengusap pucuk kepala Aliya dengan terpaksa dan senyum yang dipaksakan.


Tak ada jawaban lain selain mengiyakan, Reno melepaskan tangan Aliya dari lengannya.


"Ya, masaklah!"


Aliya pun tersenyum dan segera berjalan ke arah dapur.


Aliya langsung memakai celemek dan tanpa Aliya tau, ternyata, Reka menyusulnya ke dapur.


"Bunda, ngapain? Biar Aliya aja Bun!" kata Aliya yang melihat Reka juga mengenakan celemek.


"Tidak apa, biar Bunda bantu, Bunda tidak suka kalau hanya menunggu dan melihat!" jawab Reka seraya mengambil pisau dan Reka menanyakan akan memasak apa untuk makan malam.


Lalu, Aliya membuka kulkas yang ternyata stok bahan masakannya tersisa sedikit. Beruntung, masih ada sepotong paha ayam kampung, Aliya pun ingin membuatkan sup untuk keduanya.


"Bagaimana kalau sup ayam, Bun?" tanya Aliya seraya menunjukkan ayam tersebut dan Reka pun mengiyakan.


"Apa aja, Bunda bukan pemilih dalam hal makanan," jawab Reka yang kemudian membantu Aliya menyiapkan bahan lainnya.


Sementara itu, di ruang tengah, Reno tengah berdiri seraya menyaksikan keduanya yang langsung terlihat akrab.


Dan sekelebat, Reno membayangkan kalau yang sedang bersama dengan Reka adalah Serena.


"Seandainya itu kamu! Aku pasti sudah merasakan kebahagiaan!" kata Reno dalam hati.


"Astaga, kenapa aku membayangkan dia! Dia harus mati dalam hati ini! Tidak ada lagi dirinya di dalam hati ini!" kata Reno seraya berbalik badan.


"Bagiku, dia sudah mati!" batin Reno.


Dan sebenarnya, Aliya melihat wajah Reno yang terlihat bersedih.


Aliya berpikir kalau Reno sedang menahan amarahnya karena di apartemen ada Reka.

__ADS_1


Aliya pun melanjutkan memasaknya.


Setelah beberapa menit menunggu, sekarang, masakan pun sudah siap.


Aliya memanggil Reno untuk segera bergabung di meja makan. Dan Kali ini, Aliya pun ikut duduk bersama.


Malam ini, Aliya seolah benar-benar menjadi istri Reno yang sesungguhnya. Aliya meladeni Reno, mengambilkan nasi beserta lauknya.


Dan karena Reno tak mengucapkan kata terimakasih, Aliya pun mengingatkan dengan mengucapkan terimakasih pada dirinya sendiri.


"Terimakasih," ucap Aliya seraya tersenyum dan Reno menatap datar Aliya, sementara Reka, ia tersenyum dengan Aliya yang ternyata juga jahil.


Semua orang pun menikmati masakan Aliya yang terasa nikmat.


Setelah itu, Aliya yang sebenarnya adalah pelupa, ia mencatat kalau dirinya besok harus berbelanja kebutuhan rumah.


Reka yang masih berada di kursi meja makan pun bangun untuk mengusap rambut hitam Aliya yang panjang sebahu.


"Besok, Bunda akan menemani kamu!" kata Reka dan Aliya pun mengiyakan, gadis yang tengah berbadan dua itu menganggukkan kepala.


Aliya pun mengusap perutnya dan Reka mengira kalau Aliya sedang sakit perut.


"Ah... Aliya hanya kekenyangan, Bun," jawab Aliya seraya menatap Reka.


"Kalau begitu, Bunda pulang dulu, terimakasih hidangannya!" kata Reka dan Aliya pun menganggukkan kepala.


Dan karena sebuah panggilan, Reno pun tetap berada di depan, sementara Aliya, ia harus segera kembali ke dapur untuk membereskan dapurnya.


Aliya yang sedang cepat-cepat itu memikirkan Reno, ia memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.


Sementara itu, sekarang, Reno sedang berdiri tidak jauh dari belakang Aliya, menatapnya tajam.


Lalu, Reno berjalan cepat ke arahnya.


Dan Aliya yang merasakan kehadiran Reno pun menjadi takut.


"Aku enggak boleh terlihat takut!" ucapnya pada diri sendiri.


"Astaga, kehadirannya aja bisa aku rasakan, udah kaya hantu aja dia!" kata Aliya dalam hati, Aliya pun menarik nafas dalam.


Lalu, Aliya yang mencium aroma tubuh Reno itu pun merutuki dirinya sendiri yang menyukai aroma itu.


"Astaga, apa yang ku pikirkan! Bodoh, dia itu singa! Jangan sampai aku jatuh duluan!" batin Aliya.


Reno pun menarik lengan Aliya supaya melihat ke arahnya. Dan karena itu, Aliya harus melepaskan begitu saja piring yang sedang ia pegang, beruntung, piring itu hanya jatuh di wastafel.


Aliya pun sedikit mendongakkan kepala untuk menatap Reno yang berbadan tinggi.

__ADS_1


"Sepertinya, kamu melupakan dengan siapa kamu berurusan!" kata Reno yang masih mencekal lengan Aliya.


Aliya pun mengibaskan tangan Reno. Dan Aliya sendiri sudah menduga kalau ini akan terjadi.


"Dengar, kamu harus memiliki batasan dalam berpura-pura!" ucap Reno, masih dengan menatap tajam istri kecilnya.


"Apakah yang boleh berpura-pura hanya Bapak?" tanya Aliya seraya menatap Reno.


Aliya sudah berkaca-kaca dan Reno yang melihat itu pun kembali mengatai Aliya cengeng.


"Cengeng! Jangan pernah lupakan batasan diantara kita!" ucap Reno.


Dan Aliya hanya diam saja.


Setelah Reno pergi, Aliya pun mengusap matanya yang basah.


Aliya memperhatikan Reno yang masuk ke kamarnya dan rupanya, Reno melupakan untuk memerintah Arman menggantikan kaca yang pecah.


Reno memilih untuk mandi dan melupakan kekesalannya sejenak.


Sementara itu, Aliya, ia pun sudah kembali ke kamar, Aliya kembali menangis.


Aliya membayangkan saat Reno yang seolah akan menjadi penyelamatnya waktu itu, waktu di jembatan. Aliya pun mengatai dirinya bodoh.


"Bodoh banget sih, aku! Mau aja diajak kerja sama sama orang yang sama sekali enggak ku kenal!" kata Aliya seraya menghapus air matanya. Aliya pun memilih untuk segera tidur.


Ingin melupakan sejenak kesedihan hatinya.


****


Keesokan harinya.


Aliya tengah memasak untuk Reno dan Reno yang baru saja keluar dari kamar itu mengatai Aliya lemot seperti keong.


"Keong, masak aja lama banget! Jangan sampai aku telat bekerja karena kamu!" kata Reno yang sedang menyiapkan tas kerjanya.


Aliya tak menjawab karena pagi ini, Aliya sedang merasa sedikit pusing dan ingin menghindari pertikaian dengan suaminya yang kerasa seperti batu.


Reno yang sekarang sedang memakai sepatunya itu memperhatikan Aliya dari sofa.


"Tumben dia enggak jawab?" batin Reno.


Reno pun merasa sedikit sepi karena Aliya hanya diam saja.


Jangan lupa like dan komen, ya, all. Gift, Vote dan subscribe juga πŸ’™


Mohon maaf untuk typonya_^

__ADS_1


__ADS_2