SUAMIKU TAKDIRKU

SUAMIKU TAKDIRKU
Kebahagiaan Aliya, Reno Dan Isa


__ADS_3

Setelah lamaran, sekarang, Reno dan Aliya sedang duduk di depan penghulu, keduanya kembali menikah dan kali ini pernikahan tersebut dengan syarat saling setia, menemani sampai maut memisahkan.


Kali ini, pernikahan keduanya digelar secara sederhana di rumah Aliya dan malam ini adalah malam pertama Aliya dan Reno.


Reno yang baru saja menidurkan Isa itu segera masuk ke kamar pengantin, terlihat, Aliya sedang menyisir rambutnya di depan cermin meja rias.


Reno yang masih berdiri di pintu itu menatap Aliya di pantulan cermin, Reno tersenyum dan tidak lupa mengunci pintu.


"Mana Isa?" tanya Aliya seraya menatap Reno yang berjalan mendekat kearahnya.


"Sudah tidur, selesai momong Isa, sekarang, aku harus momong Ibunya, kan?" tanya Reno yang sekarang sudah berdiri di depan Aliya, Reno yang masih merasa grogi itu tersenyum seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Reno ingin meminta itu, tetapi, Reno tidak berani mengatakannya. Walau begitu, Aliya tau apa maksudnya, Aliya yang sudah wangi dengan parfumnya itu menggoda, ia ingin Reno mengatakan keinginannya.


Aliya melingkarkan lengannya di leher Reno. "Kenapa menatapku seperti itu?"


"Al, kamu sudah siap?" tanya Reno yang meletakkan dua tangannya itu di pinggul Aliya.


"Apa itu?" tanya Aliya yang seolah tak mengerti.


"Aku yakin, kamu tau maksudku," jawab Reno seraya mengeratkan pelukannya dan Aliya melepaskan tangan Reno.


"Kenapa?" tanya Reno yang melihat Aliya membelakanginya.


"Aku belum memaafkan, Bapak!"


"Astaga, aku yakin, setelah kita melakukannya, kamu akan memaafkanku!" kata Reno yang kemudian membopong Aliya, membawa Aliya ke atas ranjang dan sekarang, wajah Reno sudah berada sangat dengan Aliya.


"Bagaimana aku bisa melakukan itu kalau aku masih marah," jawab Aliya seraya mendorong dada bidang Reno dan Aliya pun segera turun. Aliya mengambilkan selimut dari lemari dan memberikan selimut itu pada Reno.


"Bapak tidur di bawah!" perintah Aliya dan Reno menerima selimut itu, tetapi tidak dengan perintah Aliya.


"Kenapa? Aku ini suamimu," kata Reno seraya melemparkan selimut itu ke ranjang.


"Aku ini Reno Pradipta, berani sekali kamu menyuruhku seperti itu!" kata Reno seraya membopong Aliya yang berdiri di depannya. Kemudian, Reno membawa Aliya kembali ke ranjang dan kali ini Reno mengunci tangan Aliya dan bibirnya mengunci bibir Aliya yang bawel.


Awalnya, Aliya meronta, tetapi, lama kelamaan, Aliya membalas Reno dan saat Reno sudah mendapatkan lampu hijau, Reno pun membuka kancing piyama istrinya.


"Aku sudah tidak dapat menahannya, Al!" ucap Reno setelah melepas ciumannya.

__ADS_1


Dan Aliya menahan tangan Reno yang sedang beraktivitas. "Aku masih belum memaafkan," kata Aliya yang ingin mendengar kata maaf dari Reno dan Reno yang mengakui kesalahannya.


"Aku harus apa, Al?" tanya Reno, dua mata itu saling menatap dan Aliya yang teringat masa itu menitikkan air matanya begitu saja.


"Jangan menangis, aku akan menebus semua kesalahanku di masalalu," kata Reno seraya menghapus air mata itu.


Setelahnya, Reno mengecup kening Aliya, lalu, pipi dan kemudian bibir tipis dan mungilnya.


Lalu, Reno dan Aliya harus segera menghentikan aktivitasnya saat pintu kamar Aliya terketuk.


Ya, Isa yang terbangun itu tak melihat Reno di kamarnya, lalu, Isa turun dari ranjang untuk mencari Reno ke kamar Aliya.


Dan itu membuat keduanya seolah tertangkap masa, segera bangun dan merapikan penampilannya.


Dan malam ini, Reno terpaksa harus menjinakkan juniornya yang sudah kepalang tanggung di kamar mandi.


Aliya yang masih berdebar itu mencoba tenang, lalu menidurkan Isa, tetapi, Aliya yang merasa lelah itu justru ikut tertidur dan Reno yang sedang memeluk keduanya pun ikut memejamkan mata.


****


Keesokan paginya, Reno dan Aliya keluar dari kamar bersamaan, terlihat kalau keluarga besar sudah menunggu di meja makan.


"Kenapa? Ada yang aneh kah dengan Aliya?" tanya Aliya pada semua orang yang menatapnya.


Surti, Reka dan Edi menggeleng, lalu, semua duduk di kursi masing-masing.


Di sela-sela makannya, Reka yang mengerti perasaan Reno itu menyarankan untuk berlibur atau bulan madu.


Dengan polosnya, Isa yang tak mengetahui itu menanyakan, "Omah, bulan madu itu apa?"


"Ibu dan Ayah harus pergi, lalu, pulangnya membawa kabar kalau Isa akan memiliki adik," jawab Reka seraya membelai rambut hitam Isa yang tersisir rapi.


"Isa boleh ikut?" tanya Isa dengan begitu polosnya.


Reno yang mencintai Isa pun tak keberatan kalau Isa harus ikut dan kali ini Reno akan membawa suster mengurus Isa supaya tidak mengganggu bulan madunya.


****


Benar saja, sekarang, keluarga kecil itu sudah berada di Turki. Reno ingin mengajak Aliya dan anaknya untuk naik balon terbang.

__ADS_1


Awalnya, Isa menolak dengan suster karena Isa baru melihat dan mengenalnya.


Tetapi, Aliya memberikan pengertian kalau suster itu adalah yang akan menjaga selama Isa tidak bersamanya.


"Memangnya, Ibu dan Ayah mau pergi kemana?" tanya Isa dengan begitu polosnya, ia menatap Aliya yang sedang memeluknya.


"Ibu ada, kan Isa sudah besar, sebentar lagi punya adik, Isa harus mau bobo sendiri, ya," ucap Aliya seraya membelai pipi gembul Isa.


"Baiklah, Isa sudah besar dan Isa harus berani bobo sendiri," kata Isa yang menirukan ucapan Aliya.


"Kalau Isa menjadi pemberani, Ayah akan membelikan hadiah," timpal Reno yang juga ikut duduk di sampingnya.


Setelah itu, Isa yang tengah merasakan kebahagiaan karena memiliki keluarga utuh itu turun, ia mengatakan kalau dirinya bisa tidur terpisah walau di tempat asing.


"Tos dulu, jagoan," ajak Reno seraya mengangkat tangannya dan Isa pun membalas tos dari Reno.


Setelah Isa keluar dari kamar, Reno segera mematikan lampu dan kali ini, pria yang menuju tua itu tak ingin gagal lagi.


Reno yang tak mau menunggu apapun itu segera melucuti pakaian istrinya.


Reno dan Aliya melakukannya dengan baik, dengan penuh gairah, penuh kerinduan asmara yang sempat tertunda.


Aliya yang sekarang dalam pelukan Reno itu memejamkan mata dan Reno mulai bercerita betapa dirinya tersiksa saat harus sembunyi-sembunyi.


"Kamu tau, Al. Aku selalu melihatmu dari kejauhan, aku merindukanmu, tapi aku malu, aku tidak seberani kamu untuk menyatakan cinta," kata Reno seraya terus mengusap rambut hitam Aliya.


Sudah berbicara panjang lebar, Reno yang tak pernah mendapatkan jawaban apapun dari Aliya itu tersadar kalau Aliya ternyata tidur pulas dalam pelukannya.


Reno tersenyum, dalam hatinya, Aliya tetaplah kancilnya yang cerdik dan Reno juga merindukan keseruannya dulu saat berpura-pura dengan Aliya. Sekarang, semua itu terbayar sudah dan tak perlu lagi berpura-pura.


Reno mengecup kening Aliya dan Aliya yang merasakan itu mengeratkan pelukannya.


Tamat...


Aliya dan Reno pun hidup bahagia.


Untuk episode selanjutnya adalah bonus chapter, ya, all.


Terima kasih yang sudah menemani keseruan Aliya dan Reno.

__ADS_1


__ADS_2