
Mendengar pertanyaan itu, Aliya terdiam, ia menatap Reno yang sudah kembali melontarkan pertanyaan.
"Al, aku tidak menyangka, setelah apa yang kamu alami, tetapi, kamu bisa terlihat baik, bagaimana caranya?"
Aliya tersenyum, ia menatap suaminya, lalu menjawab, "Entah, kurasa karena sudah ada yang di hatiku."
"Bagaimana caranya, bisa secepat itu?" Reno kembali bertanya, ia sedikit tertawa, menertawakan Aliya yang begitu apa adanya.
"Tergantung kemauan, Pak. Kalau Bapak mau kenapa tidak," jawab Aliya yang merasa buruk, ia bosan untuk ditertawakan oleh Reno.
Aliya pun bangun dari duduk. Ia meninggalkan cemilannya di meja begitu saja, lalu, Aliya harus berbalik badan saat Reno memanggilnya, "Al, kamu belum menjawab pertanyaanku?"
"Maafkan saja dia, supaya hati Bapak tidak memiliki beban," jawab Aliya, setelah itu, Aliya pun masuk ke kamar.
Ia mengunci pintu kamarnya dan Reno merasa heran dengan Aliya, Reno hanya mengedikkan bahu, setelah itu, Reno menonton televisi seraya menakan cemilan Aliya.
****
Di kamar, Aliya yang tengah berbaring itu menatap langit-langit kamarnya. Ia merasa berada diantara Reno dan Serena.
"Apakah akhirnya aku harus pergi?" tanya Aliya pada diri sendiri.
Tak terasa, air mata Aliya menetes, ia merasa kalau telah berharap pada Reno yang belakangan ini sudah bersikap baik padanya.
Tak ingin berlarut, Aliya pun memilih untuk menjemput mimpinya, Aliya memejamkan mata, berharap Reno yang sebagai mimpinya itu akan menjadi kenyataan.
****
Setelah beberapa hari, Reno yang sudah berusaha memaafkan Serena itu meminta sesuatu pada Aliya, Reno meminta Aliya untuk membantunya melupakan perasaannya pada Serena.
Aliya yang mendengar itu pun menatap Reno sementara Reno, ia tetap fokus mengemudi.
Keduanya dalam perjalanan pulang setelah memenuhi panggilan makan malam Reka.
"Aku harus berbuat apa? Sementara melakukan itu sangat sulit, kamu tau, Mas? Melupakan cinta yang lama, kamu harus memiliki cinta yang baru, cinta yang akan membuat kamu melupakan masalalu, cinta yang akan mengisi keseharian kamu."
Mendengar itu, Reno merasa kalau Aliya sebenarnya bukanlah anak kecil dan Reno pun bertanya, "Al, dari mana kamu belajar itu semua, sedangkan kamu masih kecil?"
"Pengalaman pribadi," jawab Aliya singkat.
Ya, Aliya melupakan cintanya pada Gilang karena sekarang sudah ada Reno yang mengisi hatinya, sayangnya, cinta itu masih bertepuk sebelah tangan.
"Apa di hati kamu sudah ada yang lain, selain mantan kamu itu?" tanya Reno seraya memarkirkan mobilnya dan Aliya tidak menjawabnya.
"Kalau ku katakan, pasti dia akan mengatai ku bodoh dan gadis gila!" kata Aliya dalam hati.
Setelah itu, Aliya turun dan Aliya memberikan tas tangannya pada Reno.
"Tolong, bawakan!"
Reno pun menerima tas itu dan Aliya berjalan lebih dulu, ia meninggalkan Reno yang berjalan santai di belakangnya.
__ADS_1
"Al, kamu kenapa? Apa karena hormon?" tanya Reno dalam hati.
Sesampainya di apartemen, Reno dan Aliya melihat Serena sedang meminum teh seraya menonton televisi.
Aliya menggeleng, lalu Aliya berlalu, ia pergi ke kamar, merasa lelah terus menerus harus mengurus Serena dan Reno yang membuatnya pusing.
"Tugas kuliah menumpuk, mereka juga terus-terusan membuatku pusing," gerutu Aliya seraya menjatuhkan dirinya di ranjang.
Sementara itu, di ruang tengah, Reno meletakkan tas tangan Aliya di meja, ia meminta pada Serena untuk segera pergi dari apartemen.
"Ren, aku memaafkan kamu, tetapi, bukan berarti kamu bisa seenaknya keluar masuk tempat tinggalku!" kata Reno yang masih berdiri di depan Serena.
"Terima kasih karena telah memaafkanku, bukankah itu tandanya kita akan menjadi teman?" tanya Serena seraya berdiri.
Ia menyentuh dasi Reno, memperbaiki dasi yang terlihat kendur.
"Jangan lakukan ini, yang berhak melakukan ini adalah Aliya," ucap Reno seraya menyingkirkan tangan Serena.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau pergi, terserah," kata Reno yang kemudian pergi meninggalkan Serena, Reno mengambil tas Aliya kembali dan Reno mengetuk pintu kamar Aliya.
Aliya membuka pintu dan tanpa permisi, Reno masuk ke kamar itu.
"Biarkan aku tidur di sini, untuk malam ini," pinta Reno dan Aliya pun mengiyakan.
Aliya mengambil bantal kemudian berbaring di sofa panjang dan Reno melarangnya.
"Kenapa kamu yang tidur di sofa?" tanya Reno seraya mengambil bantal Aliya.
"Lalu, apa kita harus tidur satu ranjang?" tanya Aliya seraya mengambil kembali bantal itu.
Aliya hanya mengerucutkan bibirnya, perasaannya sedang kacau dan benar-benar sangat ingin istirahat.
"Biar aku yang tidur di sofa karena ini kamarmu," kata Reno yang kemudian menarik lengan Aliya supaya cepat berdiri.
"Kenapa tiba-tiba Mas Reno tidur di sini?" tanya Aliya dan Reno menjawab, "Karena ada Serena, dia harus melihat kalau kita pasangan!"
Mendengar itu, Aliya pun tau kalau Reno dan Aliya harus berpura-pura menjadi pasangan sungguhan. Aliya bangun dan segera berbaring di ranjang. Aliya yang tidak dapat tidur itu menatap Reno yang terlihat sudah pulas.
"Mas, sampai kapan kamu akan melihat bahwa ada aku di sini? Apakah aku tidak pantas untukmu?" tanya Aliya dalam hati.
Sementara itu, Serena menunggu di luar, berulang kali Serena menatap pintu kamar itu, berpikir kalau Aliya dan Reno tengah memadu kasih.
Memikirkan itu, Serena menjadi gerah.
****
Keesokan paginya, Aliya yang bangun lebih dulu itu ingin menyiapkan sarapan dan Aliya hari menggeleng saat melihat Serena masih tertidur di sofa.
"Menyebalkan," gerutu Aliya dalam hati.
Singkat cerita, selesai dengan memasak, Aliya pun membangunkan Reno untuk sarapan bersama.
__ADS_1
"Mas, dia masih di sini, katanya kita harus pura-pura. Jadi, bangunlah, kita sarapan bersama," kata Aliya seraya menggoyangkan lengan Reno.
Reno pun segera bangun dan mencuci wajahnya.
Setelah selesai dengan itu, Reno segera bergabung di meja makan dan tanpa rasa malu, Serena sudah menunggu di meja makan.
Reno menyapa Aliya dan mengusap pucuk rambutnya, Aliya tersenyum mendapatkan perlakuan manisnya.
Sementara Serena, ia merasa menjadi nyamuk pagi ini.
Dan Serena semakin sebal saat mendengar ajakan Reno pada Aliya, Reno mengajaknya untuk bermain golf.
Aliya pun mengiyakan.
Serena yang terabaikan itu memilih untuk pergi dari apartemen Reno.
Setelah itu, Reno pun menyuruh Aliya untuk bersiap.
"Kemana?" tanya Aliya seraya menatap Reno.
Reno menjawab, "Bukankah kita akan bermain golf."
"Aliya kira itu hanya pura-pura," jawab Aliya seraya membereskan meja makan.
"Supaya tidak bosan, selain bekerja dan mengerjakan tugas, kita harus berlibur," kata Reno.
"Baiklah," jawab Aliya.
****
"Sudah siap?" tanya Reno pada Aliya yang baru saja keluar dari kamar dan Aliya mengangguk.
Setelah itu, keduanya pun berangkat ke tempat tujuan. Banyak cerita selama perjalanan dan itu membuat Aliya semakin tak dapat menahan perasaannya.
Sesampainya di lapangan golf, Aliya yang berdiri di samping Reno itu memanggilnya.
"Mas," lirih Aliya dan Reno pun menoleh.
"Iya, ada apa?" tanya Reno.
"Ada yang ingin ku katakan," kata Aliya, ya, Aliya merasa kalau dirinya harus mendapatkan kepastian atas perasaannya.
Aliya pun bertekad dan akan mengakui kalau dirinya telah jatuh cinta..
"Aku sudah jatuh cinta, sama kamu," kata Aliya seraya menatap Reno.
Reno pun tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Jawaban apa yang akan Aliya terima?
Jangan lupa like dan komen, ya, all.
__ADS_1
Dukung karya ini dengan vote/giftnya.
Terima kasih. π