Susuk Mustika Ular

Susuk Mustika Ular
Perjalanan Rafe


__ADS_3

Gemercik air menderu di atas atap yang sudah mulai lapuk dan berkarat. Aroma tanah menguap dari lantai yang tidak bersemen sejengkal pun.


Apalagi dinding-dinding yang terbuat dari anyaman bambu, sudah mulai reot dan hampir rubuh.


Aku merindukan suasana yang dulu, di mana pada saat itu aku masih bisa tidur di atas kasur dan berselimut, walau hanya terbuat dari karung tepung. Kini tak ada satu pun yang bisa dipakai. Semenjak tragedi dua tahun yang silam, aku hidup terlunta-lunta. Karena Ayah dan ibuku tewas di lokasi kebakaran. Iya, itu semua akibat kesalahan sendiri. Berkali-kali ibu melarangku jangan memainkan korek api, tetapi aku tidak mendengarkan. Pura-pura tuli, bergeming di sudut dapur. Hingga terjadilah kebakaran akibat ulahku.


Duaaaar!


Tabung gas LPG meledak, Ibu dan Ayah yang sedang terlelap, hangus terpanggang. Sementara aku selamat. Padahal yang seharusnya mati, adalah aku, karena jarak dengan tabung itu hanya berjarak beberapa meter.


Mungkin Tuhan menghukumku. Membiarkan hidup dalam kesendirian, tanpa orang tua dan tanpa sanak saudara. Hanya segelintir orang yang peduli padaku. Kadang diberi makan oleh Om Rendra, yang juga memberikanku tempat tinggal ini. Itu hanya sesekali, karena istri Om Rendra tidak sebaik dirinya. Jadi, ia hanya mencuri kesempatan disaat istrinya terlengah.


"Rafe lapar, ya?" tanya Om Rendra, lalu aku menjawab dengan anggukan lemas.


"Om punya nasi goreng, nih. Kamu makan, ya," tawar Om Rendra.


"Iya, Om. Terima kasih banyak," ucapku sambil menyambar piring yang terbuat dari plastik di tangan Om Rendra.


Hidup segan, mati tak mau. Mungkin seperti itulah aku di mata istri Om Rendra. Yanti namanya, dia sangat membenciku, bahkan dia selalu mengatakan aku sebagai benalu di kehidupannya.


***


Tiga belas tahun telah berlalu, dengan bantuan Om Rendra, akhirnya aku lulus juga dari bangku SMA.


"Selamat, ya, Rafe. Akhirnya kamu lulus dengan nilai tertinggi," tutur Om Rendra sambil berdecap kagum.


"Ini semua berkat, Om. Kalau bukan karena Om Rendra, mungkin aku tidak akan pernah mengecap yang namanya bangku sekolah. Terima kasih banyak, Om. Aku tidak akan melupakan jasa-jasa om sekeluarga," ucapku dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


Tante Yanti hanya mendengkus kesal, saat mendengarkan percakapanku dengan om Rendra. Karena selama ini, ia tak pernah sudi berurusan denganku, apa lagi sampai mengeluarkan uang untuk biaya pendidikanku. Akan tetapi, itu semua tidak didapati secara cuma-cuma. Aku diperlakukan seperti budak, walaupun ikhlas dalam membantu pekerjaan rumah, memasak, dan mengurus ladang dan ternak setiap pulang dari sekolah. Itu masih belum membuat Tante Yanti merasa puas. Ia selalu membentakku, memaki, bahkan sering melakukan kekerasan fisik terhadapku.

__ADS_1


"Dasar anak tak tahu diri!" Begitulah yang selalu terucap dari bibir Tante Yanti, ketika aku melakukan kesalahan. Banyak lagi kata-kata yang menyakitkan, yang tidak mungkin akan kulupakan.


Kini cukuplah sudah, setelah ini aku akan mencari pekerjaan di kota. Dengan berbekal ijazah SMA, aku terus mengayunkan langkah. Dengan semangat menggebu, optimis menatap masa depan yang sedang menanti di sana.


Tidak butuh waktu lama aku diterima di sebuah perusahaan garment terbesar nomor dua di Indonesia. Kecantikan yang aku miliki, menghantarkan ke posisi seorang model. Awalnya hanya bergerak dibidang finishing, hingga takdir baik menghampiriku. Mulai dari tawaran pemotretan untuk model baju-baju yang akan launcing, sampai sesekali aku terlihat di stasiun televisi swasta.


"Rafe, ya?" tegur seseorang dari belakang, saatku berada di ruang make-up.


"Yup. Pak Qenan, ya?" tanyaku ragu, karena tidak menyangka kalau pemilik perusahaan ini datang menemuiku.


Dengan ramah dan senyuman yang memikat, lalu Qenan berkata, "Yup, salam kenal, ya."


Aku langsung terbuai dalam mimpi sekejap, andai saja dia menyukaiku, tentulah tidak perlu capek-capek bekerja keras seperti ini lagi.


Semenjak hari itu, Qenan yang biasanya jarang mampir ke cabang perusahaan ini, kini dia datang setiap hari, bahkan kadang sampai dua kali sehari.


"Jangan-jangan, Pak Qenan lagi mengintai seseorang," tebak Yosi pada Mila setengah berbisik.


Aku yang mendengarkan itu, langsung merasa kege-eran. Karena pada siang kemaren, Qenan sengaja menghampiriku.


"Entahlah, sepertinya aku harus segera bertindak, agar Qenan tidak diembat oleh si Yosi, sainganku itu," batinku berkata dan mulai berpikir untuk menempuh cara instan.


Angin malam mulai berembus, terasa menusuk seluruh pori-poriku.


Qenan, wajahnya kembali menari-nari di pelupuk mata ini, senyumannya begitu membuatku gila. Untuk yang kedua kalinya aku merasakan suka dan jatuh cinta, setelah dicampakan oleh Alif, si pedagang cilok itu.


Hubungan dengan Alif tidak bertahan lama, hanya berjalan dua bulan saja, dia memutuskan hubungan denganku hanya gara-gara aku yang terlalu banyak minta ini dan itu. Aku rasa wajar saja wanita seperti itu, tapi Alif malah mengatakan aku wanita matre dan tidak pandai bersyukur.


"Kita putus!" bentak Alif, di tepi jalan dan disaksikan oleh beberapa pembeli cilok, ia menjatuhkan harga diriku.

__ADS_1


"Alasannya apa?" tanyaku sambil menatapnya nanar.


"Aku capek, Fe. Kamu tidak pernah mengerti posisiku. Aku ini hanya pedagang cilok, bukan direktur."


"Terus?"


"Ya, putus. Aku nggak sanggup memenuhi apa yang kamu minta, mending kamu cari saja pria lain."


"Oke! Kalau itu yang jadi alasanmu, aku terima," cebikku menahan sakit dalam hati.


"Oke!" balas Alif tanpa ada rasa bersalah di raut wajahnya.


"Aku bisa mendapatkan cowok yang lebih dari kamu!"


"Silahkan," ucapnya datar.


***


"Laki-laki mental kere memang begitu," rutukku setelah sampai di indekos.


Aku langsung masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuh yang terasa lepek. Selesai mandi, kurebahkan tubuh di kasur sambil memainkan ponsel.


Facebook adalah tujuan utama untuk mengusir rasa jenuh. Kuperiksa beberapa akun di friend list, mata ini langsung tertuju pada sebuah postingan. Ia menuliskan tentang kisah nyata, tanpa malu dan tanpa memedulikan nyinyiran dari netizen, ia blak-blakan membuka aib di beranda. Intinya adalah, ia sukses mendapatkan orang yang dicintai dengan menggunakan jasa dukun sakti, yang terletak tidak jauh dari daerah tempatku bermukim.


"Akun fake? Ah! Apa salahnya mencoba hal yang beginian," gumamku.


Kembali aku scroll postingan tersebut, banyak yang berkomentar menghujat sampai mengeluarkan kata-kata kasar, yang membuat perutku ngilu menahan tawa.


"Bodo amat dengan tanggapan mereka itu, mereka hanya tidak tahu bagaimana rasanya dicampakkan dan mencintai orang yang tidak mungkin bisa didapatkan. Yang pastinya kisah ini sangat menarik buatku," gumamku lagi sambil menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2