
"Yudi, kamu ke luar dulu. Jangan lupa bayar ongkos taksinya!" perintah Qenan sambil memberi kode pada anak buahnya.
"Mau apa kamu? Jangan mendekat, kalau kamu mendekat, aku teriak," ucapku mengancam.
"Silahkan berteriak sesuka hatimu, di sini, palingan Tarzan atau hewan-hewan hutan yang akan mendengarkan suaramu," ujarnya, sambil terus bertingkah seperti orang yang kelaparan.
Berharap akan sebuah pertolongan menghampiri, karena aku tak sudi disentuh oleh Qenan, apalagi melihat reaksinya yang bernafsu ingin menjamahku.
"Tuhan, berikanlah keajaiban kali ini padaku," bisikku lirih.
Kupejamkan mata, terbayang orang yang dicinta sedang berjuang melawan maut di rumah sakit sana, sedih. Hati ini begitu pilu, mungkinkah kali ini aku benar-benar tak bisa keluar dari penjara terkutuk yang dipasang oleh Qenan?
Bugg!
Suara benturan tubuh menyentuh lantai. Satu persatu, anak buah Qenan tergeletak. Penasaran dengan apa yang terjadi, aku berusaha melongokkan kepala untuk memeriksa siapa yang datang.
"Karel?" Tak masuk di akal, tetapi aku langsung teringat dengan kejadian di rumah sakit.
Ya, itu memang benar malaikat yang menjadi penolongku. Namun, kali ini penampilannya berbeda, tanpa sayap, dan pakaiannya layak seperti baju yang dikenakan manusia biasa.
Setelah semua anak buah--Qenan--habis terkapar, ia membebaskanku dengan cara yang luar biasa. Satu jentikan jari, tali yang mengikat tangan dan kakiku terlepas.
"Mari." Ia merentangkan tangan seperti sedang menyambut, lalu aku mendekat. Wangi bunga lavender kembali menyapu rongga hidung, dan tiba-tiba, aku sudah berada di halaman rumah sakit.
Kebingungan masih melanda pikiran, tak mungkin bermimpi, karena di bajuku terdapat daun kering yang mungkin ikut terbawa saat keluar dari hutan tersebut. Wangi bunga lavender pun masih terasa.
"Iya, itu nyata. Aku tak mungkin gila atau berhalusinasi pada siang bolong begini."
***
Sinar mentari mulai meredup, semilir angin malam mulai menyapu jendela. Suasana tak seseram malam kemaren, karena ada Clara yang menemaniku.
Kubuka password ponsel, lalu menelusuri pencarian di Google. Tentang reinkarnasi dan hal mustahil lainnya yang terjadi pada hidupku saat ini.
__ADS_1
Tertera di sana, reinkarnasi berasal dari bahasa latin yang berarti lahir kembali 'Old soul'. Merujuk pada kepercayaan masing-masing, bahwa seseorang yang sudah mati dapat dilahirkan kembali.
Mungkin saja aku sudah benar-benar frustasi, sampai menanyakan hal sekonyol ini. Tak mungkin pria yang kucintai pergi begitu saja, meninggalkan arwahnya berwujud malaikat bersayap itu. Lalu, dari mana datangnya makhluk tersebut?
"Kak, kak Rafe!" Panggilan dari Clara membuatku terkejut.
"Duh, Clara ...."
"Kakak kaget, ya?" tanyanya langsung.
"Sedikit," jawabku, lalu kembali fokus menatap layar ponsel.
"Tidurlah, Kak. Sepertinya kak Rafe kelelahan," saran Clara padaku.
"Aku belum ngantuk, Cla. Kamu aja yang tidur duluan, ya. Entar kita gantian jaga," ujarku mengutarakan pendapat.
"Oke, Kak," sambut Clara, lalu ia berjalan menuju tempat tidur yang tersedia di samping Karel.
Selagi asyik membaca sebuah artikel, tak sadar diriku sudah berada di sebuah pekarangan. Rumah kuno berarsitektur unik dan dipenuhi bunga lavender di samping kanan pekarangannya. Aku melangkah perlahan, mencoba kembali sadar dari halusinasi. Gugup ketika melewati beberapa koridor yang tiap tiang penyangga rumah yang berukuran raksasa itu, dijaga oleh para wanita cantik yang bersayap seperti kupu-kupu.
"Astaga! Apa yang sedang berlaku?" ucapku lagi dan bertanya-tanya dalam hati.
Cahaya biru kembali terlihat, mengitari pohon yang terdapat di pinggir taman, lalu ia mendarat di tanah dengan ditemani dua orang bidadari. Entahlah, itu bidadari atau jin dan setan, aku tak tahu. Yang jelas kalau terus seperti ini, aku benar-benar akan menjadi pasien di rumah sakit jiwa, atau dipasung oleh orang yang menyadari kalau aku mulai aneh semenjak Karel terbaring di atas ranjang dengan bernapas memakai peralatan.
"Kak Rafe!" panggil seseorang. Ternyata ia adalah Clara.
Suasana yang tadi aneh kembali menjadi normal. Tak ada pemandangan menapjubkan seperti dunia kayangan, yang ada hanya Clara dan Karel, serta bunyi langkah pengunjung rumah sakit datang silih berganti.
"Tidur, Kak. Udah larut," ucap Clara lagi, membuatku benar-benar tersadar.
"I-iya, Clara," jawabku gugup.
"Kakak kenapa, sih? Kok, seperti orang habis melihat hantu?" tanya Clara sambil memperhatikan wajahku dengan heran.
__ADS_1
"Enggak apa-apa, Clar. Yuk, tidur!" ajakku, kemudian aku berbaring di samping Clara sampai suara orang-orang kembali berisik berlalu lalang.
Badan ini terasa kaku, sepertinya ada masalah dengan otot-ototku saat diikat dengan kuat di hutan kemarin. Qenan tak tahu nasibnya seperti apa sekarang, yang jelas mulai sekarang aku harus hati-hati dan mengumpulkan bukti kalau dia telah mencelakai Karel. Ucapan yang terlontar dari bibirnya, tak cukup untuk dijadikan alat bukti, karena tak ada rekaman audio maupun video.
Penderitaanku belum berakhir, melihat Karel masih terbaring, hati ini semakin pilu. Selera makan pun jadi rusak, yang pada akhirnya aku agak kurusan.
"Karel, kamu kapan bangun, Sayang? Aku menunggu di sini, cemas dan sedih, Yang," ucapku sembari mengelus lembut di pipinya.
Kekasihku diam tanpa kata, hanya suara detak jam dinding dan bunyi ventilator yang terdengar. Sedangkan Clara berpamitan pulang ke rumah untuk bersih-bersih badannya yang dari kemarin belum tersentuh air.
Tak lama kemudian, aku pun tertidur di samping Karel. Baru terasa beberapa menit memejamkan mata, hujan turun sangat lebat. Sesekali terdengar suara petir menggelegar di angkasa, cahaya kilat pun terlihat dari jendela kamar ini.
Suasana semakin mencekam tatkala lampu tiba-tiba mati. Tetapi alat yang terpasang di tubuh Karel masih menyala. Mungkinkah bola lampunya putus?
Aku berlari keluar mencari penjaga rumah sakit, karena alat untuk pemanggil dalam keadaan darurat tak berfungsi.
Mustahil! Ketika membuka pintu, semuanya tampak gelap dan tak ada satu pun orang yang lewat di koridor ini. Bulu kudukku mulai berdiri, bau amis menguar di udara, dan bunyi suara gesekan benda tajam terdengar dari belakang tempatku berdiri. Tak berpikir lama, aku segera masuk lagi ke dalam ruangan tempat Karel dirawat, kemudian mengunci pintu.
Jam baru menunjukkan pukul delapan malam, aku mencoba menghubungi Clara. Namun, nomornya tidak aktif. Lima menit kemudian, kucoba menghubungi lagi, ternyata tersambung. Akan tetapi, hanya terdengar suara-suara aneh seperti radio yang telah tutup siaran.
Mencoba melawan rasa takut, tapi sia-sia saja. Bunyi gesekan benda tajam itu terdengar lagi. Aku takut jika Qenan yang merencanakan semua ini, membayar pembunuh bayaran untuk melenyapkan Karel.
"Apa yang aku risaukan, bukankah malaikat penyelamat itu akan selalu datang," gumamku pelan, sambil terus menatap gagang pintu.
Ceklek!
Gagang pintu akhirnya bergerak naik turun. Suara ketokan berkali-kali membuatku benar-benar tak bisa berpikir dengan jernih, yang terbayang hanyalah ketika orang itu mendobrak pintu, kemudian mereka membantaiku dan Karel.
"Oh, Tuhan. Bagaimana ini?" Aku berusaha menggoyang-goyang tubuh Karel.
"Kak ... kak Rafe!" Ternyata yang datang adalah Clara.
Aku bergegas menuju pintu kemudian membukanya. Di luar ruangan semua lampu nyala, kubalikkan badan melihat ke ruangan Karel, lampu pun juga sudah nyala.
__ADS_1
"Kenapa, Kak?" tanya Clara, sejenak ia menatapku kemudian melongok ke dalam.