Susuk Mustika Ular

Susuk Mustika Ular
Jaring Sudah Ditebar


__ADS_3

Setelah pemasangan susuk selesai, aku langsung bertanya, "Pantangannya apa, Mbah?"


"Pantangannya adalah, kau tidak boleh makan sate, pisang emas, belut, jantung pisang, dan daun kelor," jawab Mbah Sugiono sambil kembali memelintir kumisnya yang setebal tumpukan jerami.



"Baik, Mbah. Kalau begitu, aku pamit dulu. Soalnya langit sudah terlihat gelap," ucapku sambil menyalami tangan Mbah Sugiono dengan amplop berisi uang. Mbah Sugiono pun mengangguk dan terkekeh setelah melihat nominal yang terdapat di dalam amplop tersebut.



"Kenapa, Mbah? Kurang, ya?" tanyaku mengerutkan dahi, karena mengira Mbah Sugiono sedang mengejekku.



"Tidak, ini sudah cukup, kok."



"Oke, Mbah. Aku pamit dulu, ya," ucapku. kemudian langsung meninggalkan Mbah Sugiono yang masih asyik menghitung uang yang aku berikan.



Gaji selama dua bulan yang sudah aku kumpulkan, kini ludes untuk membayar mahal si dukun tersebut. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu, esok lusa uang itu harus berlipat ganda, tentunya akan didapati dari Qenan, pria kaya raya, berwajah Pakistan, yang telah membuat selera makanku berkurang.



\*\*\*



Suasana di tempat kerja masih terlihat sepi. Aku yang terlalu bersemangat, sudah tiba sejak pukul enam lewat dua puluh tiga menit. Belum ada siapa-siapa di sini selain Rodi, satpam penjaga gerbang.



"Tumben datang sepagi ini, Neng," tegur Rodi cengengesan, sementara matanya terus memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kakiku.



"Berusaha untuk disiplin aja, Mas. Aku takut kesiangan soalnya," jawabku berbohong.



"Masih lama, Neng. Kantor kan bukanya jam delapan." Rodi sengaja menambah-nambah pembicaraan.



"Iya, sih. Tapi aku ingin keluar pagi-pagi, sumpek dalam rumah. Apa lagi kemarin libur, enggak kerja rasanya badan pegal-pegal," ujarku lagi.



"Oke, Neng. Tapi ... sepertinya terlihat ada yang berbeda, ya?" Rodi menatapku sambil meletakan tangan kiri di dagunya.



"Apa, sih? Biasa aja kali," kataku sambil cengar cengir enggak jelas.



"Iya, si Neng sekarang tambah cantik." Pujian Rodi sungguh membuatku semakin percaya diri. Ia yang biasanya tak pernah seakrab ini denganku, tiba-tiba berubah sepagi ini.



"Ah, Mas Rodi bisa aja," jawabku sambil mengibaskan telapak tangan ke udara.



"Ya, udah, Neng. Aku mau keliling dulu." Aku mengangguk tanda setuju, kemudian beranjak dari pos security menuju kantor.



Dag-dig-dug!


__ADS_1


Berdebar menanti kedatangan calon kekasih, dengan menganggap semuanya telah clear. Karena merasa yakin, Qenan akan terpesona melihat kecantikan yang terpancar dari wajah dan tubuhku.



Sampah!



Naluriku berbisik, mengapa aku melakukan semua ini. Dan tantangannya pun tidak ringan. Ingin berbalik, percuma. Penuturan dari Mbah Sugiono masih terngiang dalam ingatan. Namun, risiko ini kupastikan bisa mengatasinya, walau nyawa menjadi taruhan, aku tak peduli, yang penting bisa menikmati hasil sebelum aku kembali terjatuh.



"Eh, Mil. Aku dengar, Pak Qenan mau datang lagi entar siang," kata Yosi pada Mila. Mereka berbincang di koridor kantor sebelah kanan. Sedangkan aku berjalan di koridor sebelah kiri, pura-pura tidak melihat mereka, sambil terus menajamkan pendengaran.


Yosi yang menyadari keberadaanku, langsung berbisik-bisik dan melirik sinis. Tak ambil pusing, aku mencoba bersikap acuh tak acuh.


"Bodo amat," gumamku sambil mencibir.



Gelisah. Aku berjalan ke sana-kemari, jarum jam di arloji sudah menunjukan pukul 12 siang, tetapi masih sama, seperti tidak ada tanda-tanda kedatangan Qenan.



"Huh! Apa aku pura-pura salah tekan nomor aja, ya?" Ide cemerlang muncul tiba-tiba di benakku. Walau terkesan kampungan, tetapi tidak ada salahnya kan, mencoba hal seperti ini?



Aku mulai sibuk mengacak-ngacak gawai, mencari nomor Qenan yang entah siapa aku beri nama di kontak.



"Oh, iya. My Lovely," ucapku setelah menemukan nomornya.



"Halo." Terdengar suara Qenan dari dalam gawaiku.




"Hey! Ini aku--Qenan--masak udah lupa?"



"Aduuh ... maaf ... maaf! Maaf banget, Pak. Saya kira nomor Mbak Santi."



"Heheh ... enggak apa-apa, kamu udah makan siang belum?"



"Yes, pertanyaan yang sangat kuharapkan. Ini adalah awal dari segalanya," bisikku dalam hati.



"Halo, Rafe. Kamu masih di sana?"



"I-iya, Pak. Aku masih di sini," jawabku tiba-tiba gugup.



"Udah makan siang belum?"



"Kebetulan belum, Pak," jawabku sambil tertawa kecil.


__ADS_1


"Kamu tunggu di kantor, ya. Sebentar lagi aku sampai."



"Iya, Pak," sahutku singkat, setelah Qenan memutuskan sambungan telepon, aku langsung melompat-lompat kegirangan.



Sambil menari pelan aku mengambil kaca, menambahkan lipstik agar terkesan semakin sensual, tidak lupa mengoles blas-on untuk pipiku yang kurang merona.



"Diihh! Kamu stres, ya? Joget-joget seperti orang gila aja," teriak Yosi dari meja kerjanya.



"Biarin, syirik aja kamuh," ucapku dengan nada suara yang menggelikan.



"Sorry ye, nggak level syirik sama orang macam kamu," imbuh Yosi mencibirku.



"Awas! Nanti kalian bakalan menyesal telah berurusan denganku," balasku mencibir dalam hati.



Perputaran waktu terasa lambat kurasakan, walau hanya menunggu lima menit, tetapi rasanya lama. Aku benar-benar tidak sabar ingin memanas-manasi Yosi dan Mila.



"Rafe!" panggil Qenan dari depan pintu ruangan tempatku bekerja.



Jas hitam terbalut indah di tubuh Qenan yang seksi, kaca mata hitam pun menambah ketampanannya. Halusinasi pun muncul tiba-tiba, merangkul dan bergelayut manja di pundaknya itu. Benar-benar pikiran yang tak terkendali.



"Iya, Pak," sahutku lembut, sengaja kutekan suara agar terdengar syahdu di telinga Qenan.



Sementara kulihat wajah Yosi memerah, ia menatap tajam ke arahku, sambil \*\*\*\*\*\*\*-\*\*\*\*\* ujung dress yang ia kenakan.


Kujulurkan lidah ke arah mereka, lalu berkata, "Bye ... bye ... Markonah."


"Dasar!" kata Yosi setengah berteriak.


Aku tak menghiraukan lagi, karena semakin dilayani, Yosi semakin mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar sama sekali.



\*\*\*



Kami berangkat menuju restoran Jepang. Tempat yang selalu ingin kudatangi. Karena aku yang meminta ke sana, Qenan menurutinya, walau ia tidak menyukai masakan yang terdapat di restoran tersebut. Sushi adalah makanan favoritku, itu pun hanya bisa menikmati sebulan sekali, ketika gaji sudah cair. Sekarang dan untuk nanti, tidak perlu lagi menunggu gajian, setelah jadian dengan Qenan, aku akan mengajaknya setiap hari ke sini. Ia pasti tidak akan keberatan. Benar, merasa percaya diri dan terasa sudah memiliki itu pasti terbesit dalam benakku.



"Rafe, kamu mau makan apa?" tanya Qenan membuyarkan lamunanku tentangnya.



"Sushi, Pak," jawabku mantap. Sementara tatapan matanya tak beranjak juga dari wajahku.



Qenan langsung menjentikkan jemarinya, lalu pelayan restoran datang membawa menu daftar makanan. Bermacam ragam nama-nama yang aneh menurutku, dengan harga yang membuat ngilu isi dompet. Itu sih bagi orang sepertiku. Akan tetapi, ini belum seberapa bagi orang seperti Qenan. Membeli restoran ini beserta pelayan dan pemiliknya pun, ia pasti sanggup. Kukulum senyuman menahan gejolak dalam dada, bahagia bisa duduk di depannya, bangga bisa makan dengan seorang bos besar. Aku seolah-olah menjadi pusat perhatian oleh pengunjung lainnya pada siang ini.


Selagi asyik memilih makanan, tiba-tiba ada seorang wanita menghampiri meja kami. Wanita cantik yang lumayan seksi dengan balutan dress berwarna merah hati, memasang wajah tak suka menatapku. Perasaan ini mulai tidak enak.

__ADS_1


__ADS_2