Susuk Mustika Ular

Susuk Mustika Ular
Ritual


__ADS_3

"Bukan dia juga. Dari awal dia memang sudah menyukaimu, tetapi ambisimu terlalu kuat, hingga menempuh jalan seperti ini."


"Jangan ceramah, deh. Aku itu butuh bantuan, bukan mau diceramahi. Lagian nggak cocok juga Mbah yang ceramah," ejekku.


"Lancang sekali mulut kau!" Mbah Sugiono terlihat geram.


"Iya, Mbah ada-ada aja, sih. Sudahlah, aku mau istirahat dulu."


"Apakah kau tidak mau tahu jalan keluarnya?" Mendengarkan perkataan Mbah Sugiono, aku langsung bangkit lagi dari tempat tidur, kemudian menghampirinya di sudut jendela.


"Apa, Mbah? Apa pun itu, pasti akan aku lakukan, asalkan Qenan bisa menikahiku."


"Aku hanya akan menunjukkan cara untuk memutuskan hubungan dengan Raden."


"Owh. Jika sudah putus, apakah Qenan tetap mencintaiku dan memandangku sebagai wanita tercantik?"


"Tentu saja, karena kekasihmu mencintai bukan karena susuk itu, melainkan murni karena adanya ketertarikan. Dan aku juga tidak menduga kalau kekasihmu punya penangkal."


Deg!


Detak jantungku tiba-tiba berhenti sesaat. Pikiran kembali kacau. Mungkinkah Qenan tahu kalau aku mengguna-gunai dia? Ah! Dalam hati mulai resah gelisah.


"Tenang saja, dia tidak tahu, kok," ucap Mbah Sugiono sambil memelintir kumisnya.


"Iya, Mbah," jawabku pelan.


"Besok silahkan temui Nyai Keling."


"Beli ayam cemani lagi?" Keningku mengernyit, sedikit menyipitkan mata untuk mengartikan pernyataan dari dukun sakti ini.


"Bukan. Nyai Keling tugasnya adalah memutuskan hubungan antara manusia dan penghuni alam lelembut," terang Mbah Sugiono membuatku sedikit mengerti.


"Baik, Mbah. Terima kasih atas segala bantuannya," imbuhku mengakhiri pembicaraan.


Kreeeng!


Seperti bunyi talenan yang jatuh ke lantai di depan pintu kamar. Sontak aku terperanjat, begitu juga dengan Mbah Sugiono.


"Gawat, Mbah. Bik Imah menguping." Detak jantungku tak kalah cepat dengan deru napas yang memburu. Berpikir kalau Bik Imah akan melapor pada Qenan, majikannya.


"Gimana ini, Mbah?" Aku mulai gemetaran, berpikir saat itu akan menjadi hari terakhirku di rumah ini.


"Kebetulan!" Mbah Sugiono seolah-olah menemukan ide cemerlang.

__ADS_1


"Kebetulan apa, Mbah?"


"Udah, jangan banyak bicara. Ayo ikut aku!" seru Mbah Sugiono sambil menyeretku keluar dari kamar.


"Kita mau ngapain?" tanyaku curiga dan merasa takut.


"Cari pisau atau perkakas dapur yang lainnya. Cepat!" perintah Mbah Sugiono.


Kakiku semakin gemetaran, dengan sigap, Mbah Sugiono menyambar parang dari tanganku.


Sreeeeg!!


"Tidaaaaakk!" teriakku histeris, sambil menatap Mbah Sugiono yang berlumuran darah.


Kepala Bik Imah terpental ke lantai, lalu menggelinding dan berhenti tepat di kakiku. Matanya melotot, itu yang membuatku semakin histeris.


"Diam!" bentak Mbah Sugiono sambil membekap mulutku. Tangannya yang berlumuran darah, membuatku mual ketika mengenai hidung.


Wuueek!


"Cepat bersihkan semua percikan darah itu, sebelum kekasihmu tahu." Aku akan bawa Bik Imah ke rumah Nyai Keling," sambung Mbah Sugiono.


"I-iya, Mbah," ucapku terbata-bata


Seluruh tulang belulangku terasa rontok, kalau dituruti kata hati, ingin rasanya menghempaskan badan ini ke lantai saking gemetar dan lemas.


Mbah Sugiono langsung memungut kepala Bik Imah, tanpa merasa geli dan takut di wajahnya lalu kemudian ia menghilang. Tetapi wajar saja sih, dukun sakti itu sudah lama berbaur dengan para lelembut, tentu saja ia tidak akan pernah takut dengan hanya menghabisi nyawa seseorang dan menenteng mayat tersebut dengan santai.


Malam semakin larut, kendaraan sudah mulai sepi. Aku berjalan sambil mencari ojek. Nasib baik berpihak padaku, masih ada ojek berada di pangkalan yang tak jauh dari kompleks perumahan elit.


"Ojek, Bang," sapaku pada tukang ojek yang lagi asyik memainkan ponselnya.


"Mau ke mana malam-malam begini, Neng?" tanya dia sambil memperhatikanku dari ujung rambut sampai kaki.


"Ke rumah saudara, Bang. Tadi dapat telepon dari Bibik, katanya Tante saya demam," jawabku berbohong.


"Oke, Neng. Cuuss ..." ucapnya sedikit berseloroh.


Lima belas menit kemudian, aku sengaja memberhentikan tukang ojek, di persimpangan. Karena aku masih tetap jaga-jaga, kalau seandainya ada sesuatu yang akan terjadi dikemudian hari.


"Duh! Mana masih jauh lagi." Aku terus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, jalanan begitu sepi, lampu penerang jalan pun sesekali hidup mati.


Kalau bertemu hantu atau makhluk astral lainnya, aku bisa minta bantuan sama Mbah Sugiono, tetapi, kalau tiba-tiba ada preman mabuk, gimana?

__ADS_1


"Oh tidak!" gumamku pelan, sembari terus melirik ke kiri dan kanan.


Benar saja dugaanku, dua orang bertubuh kekar yang berbau alkohol, berdiri di depanku. Mereka terus mendekat sambil berjalan sempoyongan.


"Mau apa kalian?" tanyaku ketakutan.


"Hey! Selalu itu saja kata-kata yang diucapkan oleh wanita, ketika mereka dihadang oleh pria-pria tampan seperti kami. Enggak ada kalimat yang lain, kah?" tanya dari salah satu preman itu yang semakin membuatku takut.


Wussss! Wuuss!


Tiba-tiba terdengar seperti bunyi angin yang menyapu dedaunan. Satu kedipan mata, aku sudah berada dalam ruangan. Rumah Nyai Keling?


"Kau sangat lamban!" seru Mbah Sugiono dan disusul suara tawa renyah Nyai Keling.


"Maaf, Mbah. Tadi aku ...."


"Sudah-sudah, jangan kebanyakan drama. Cepat ambil ember itu!" perintah Mbah Sugiono memotong pembicaraanku.


Aku berjalan mendekati meja persembahan, lalu mengambil ember berwarna hitam. Dalam ember tersebut ternyata berisi sesuatu. Bentuknya seperti jantung manusia. Aku bergidik dan mual.


"Cepat! Ritual akan segera dimulai." Aku gelagapan, dari tadi Mbah Sugiono selalu meninggikan suaranya, sementara detak jantung ini belum juga stabil ditambah melihat sesuatu yang masih bergerak dalam ember tersebut.


"Niat ingsun .... " Mbah Sugiono mulai membaca mantra. Menggunakan bahasa yang tidak kupahami sama sekali. Setelah menunggu lima menit lamanya, pembacaan matra pun selesai.


Cuih! Cuih! Cuuiih!


Mbah Sugiono meludahi ember yang berisi jantung Bik Imah, sebanyak tiga kali, ia memijit perlahan, lalu memungutnya dan menyodorkan ke hadapanku.


"Untuk apa ini, Mbah?" tanyaku sembari menutup mulut dan hidung karena menahan mual.


"Sapukan ke wajah enam kali, lalu gigit ujungnya, telan," terang Mbah Sugiono sambil menunjuk bagian jantung paling bawah.


Belum selesai Mbah Sugiono memberi aba-aba, muntahku sudah berserakan di lantai.


"Aduuh, ini gimana mau menyelesaikan ritualnya!" serunya sambil menepuk jidat beberapa kali.


"Maaf, Mbah. Aku tidak bisa. Sumpah!" ucapku pelan.


"Nyai, berikan dia obat." Mbah Sugiono menyuruh Nyai Keling sambil memberi kode menautkan jempol dan telunjuknya. Entahlah, aku tidak tahu apa yang mereka maksud, yang jelas, setelah aku meminum ramuan dari botol kecil yang diberikan oleh Nyai Keling, rasa mual dan jijik menghilang.


Nyap! Nyap! Nyap!


"Sudah cukup, jangan kau habiskan semua. Sisakan buat ayam cemani Nyai Keling."

__ADS_1


Mbah Sugiono menyambar jantung Bik Imah dari tanganku. Akan tetapi rasa lapar tak urung beranjak dari nafsu ingin melahap jantung itu sampai habis. Akhirnya terjadilah saling tarik menarik untuk beberapa saat.


Ritual pertama selesai, ritual yang terakhir adalah proses pemisahan antara aku dan Raden. Sempat terhambat, karena ternyata Raden tidak mau dipisahkan, dengan alasan dia mencintaiku.


__ADS_2