
"Kok tahu?"
"Tahulah, kamu pasti berpikir seperti itu. Pasti."
"Bukan itu, maksudku, kenapa kamu tahu kalau aku berhubungan dengan Mbah Sugiono?"
"Dari baumu."
"Apa?" Aku terperanjat dan langsung mengendus-endus kulit yang bisa terjangkau oleh hidungku.
Karel terbahak melihat tingkahku, tanpa sadar, aku mendorong pipinya. Ah, dia menggenggam telapak tanganku, lalu ia menatap.
"Ayo kita pulang," ucapku sambil cepat memalingkan wajah.
***
Di persimpangan jalan, aku meminta Karel meminggirkan mobil. Karel pun sepertinya paham, walau ia tidak tahu rumah siapa yang aku tuju.
Ting nong!
Derap langkah terdengar menuju pintu.
"Eh, Nyonya. Tuan mencari Nyonya tadi, sepertinya Tuan marah," terang Bik Jum.
"Ya sudah, Bibik istirahatlah, sudah malam," ucapku.
Aku langsung buru-buru masuk kamar. Akan tetapi, lampu kamar mati. Perasaan mulai tidak enak, lalu kucoba meraba sakelar lampu.
Cteekk!
Alangkah terkejutnya aku, pria yang sedang tidur di atas dipan adalah si tua bangka itu. Tuan Haryu. Saat membalikkan badan hendak meninggalkan kamar, tiba-tiba seorang pengawal mendorongku hingga terjungkal.
"Lancang kamu, ya!" bentakku.
"Maaf, Nyonya. Ini perintah Tuan Qenan. Silahkan melayani Tuan Haryu dengan baik," ucap pengawal. Lalu ia menutup pintu kemudian menguncinya.
"Bukaaaak ... bukaaaak ...!" Aku terus berteriak dan menendang-nendang pintu.
Namun, itu hanyalah perbuatan yang sia-sia.
Tua bangka itu menyeretku, menjambak rambutku. Dia memperlakukanku seperti binatang.
"Ayolah, Sayang. Kamu diberi kesenangan kenapa menangis? Uluh ... uluh ...."
"Bedebah, aku enggak sudiiii ..." Dia tak menghiraukan, tangannya begitu gesit memereteli pakaianku. Aku yang masih lemah tidak bisa melawan. Akhirnya hal yang kutakuti pun terjadi. Berkali-kali.
"Ya Tuhan! Inikah hukuman yang Engkau berikan padaku," cecarku dalam hati.
"Chikara zukeru!" seru tuan Haryu setelah ia puas menggagahiku.
__ADS_1
Akhirnya Tuan Haryu terlelap. Kukemasi pakaian, serta barang-barang yang bisa dibawa. Akan tetapi, nasib mujur tidak berpihak padaku. Empat orang pengawal kembali menyeret ke dalam rumah beserta koper pakaian.
Aku meronta, berteriak minta pertolongan. Namun, Bik Jum hanya bisa menangis menatapku, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena takut dengan gertakan para pengawal.
Jijik! Jijik melihat daging yang terongok di atas dipan itu. Jijik melihat bayanganku di dalam cermin dan aku benci dengan pria yang bernama Qenan. Ia tega menjual kekasihnya demi menyelamatkan perusahaannya.
Inginku mengakhiri hidup pada malam ini juga. Namun, aku bingung harus memakai cara apa. Mondar-mandir mencari sesuatu, akhirnya aku menemukan pisau pencukur alis.
"Dapat!" Seperti menemukan setumpuk berlian, lalu aku mulai menempelkan pisau itu ke nadiku.
"Rafe sudah pulang?" Aku mendengar suara Qenan di depan pintu.
"Bukak! Tolong buka pintunya, aku mohon Qenan. Biarkan aku pergi!" jeritku.
"Buka pintunya!" perintah Qenan pada pengawal. Setelah pintu terbuka, aku langsung menyerang dengan pisau pencukur alis.
"Aaugh!"
Secepat kilat pengawal menangkis tanganku dan memelintir ke belakang.
"Siapa yang menyuruh kamu kasar pada, Rafe!" bentak Qenan, lalu ia menampar pengawal tersebut.
"Maaf, Tuan."
"Sudah! Pergi sana."
"Baik, Tuan."
"Kamu enggak apa-apa, Sayang?" Qenan buru-buru mendekatiku.
"Bedebah!" teriakku sambil melayangkan satu pukulan ke wajahnya.
"Maaf, Rafe. Maaf ...."
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu," selaku memotong ucapannya.
"Ya, terus bagaimana lagi? Haruskah aku bersujud di kakimu?" tanya ia dengan mimik wajah memelas, tetapi aku merasa itu hanyalah akting.
"Untuk apa, hah? Puas kamu menghancurkan hidupku. Puas kamu!" bentakku penuh dengan emosi dan air mata.
Plaaak!
Lima jari Qenan menempel di pipiku. Kuat. Sehingga badanku terhuyung, nyaris terbentur ke dinding kamar.
"Maaf. Sebaiknya jaga sikapmu, aku masih mencintaimu, tapi aku enggak mau mengalami kebangkrutan besar di masa pandemi ini. Bertahanlah, Rafe."
"Aku mohon, lepaskan aku, Qenan. Si tua bangka itu gila, dia maniak ***." Kututupi wajahku, kembali terbayang perlakuan Tuan Haryu.
"Rafe ..." Suara Qenan membesar, tetapi aku tidak peduli itu. Hati ini sudah terlalu membenci. Aku kembali ke kamar, lalu menghempaskan pintu.
__ADS_1
Braaaak!
Tuan Haryu langsung terjaga, ia memaki-makiku. Qenan pasti mendengarkan itu, karena aku tahu ia masih berada di depan pintu.
****
Cahaya mentari merambat dari celah jendela. Kulirik jam dinding, ternyata sudah pukul sembilan pagi. Badanku panas, tetapi menggigil karena semalaman tidur di lantai tanpa alas dan selimut. Benar-benar seperti gundik, terbuang dan terhina. Setetes air jatuh di tanganku, kemudian dilanjutkan dengan tetesan-tetesan air mata yang kian deras.
"Siapakah yang akan menolongku? Tuhan, pandanglah aku," ucapku lirih.
Aku masih mendekam di dalam kamar, meringkuk di tepi ranjang. Sesekali melirik ke atas dipan, kembali teringat lagi hal yang membuatku mual. Ingin kabur, di depan ada pengawal, ponselku pun disita.
Aku berjalan ke arah jendela, lalu melongokkan kepala, ternyata Qenan sedang duduk santai sambil menikmati kopi yang dihidangkan oleh Bi Jum.
"Sebegitu inginnya ia menghancurkan hidupku, sampai-sampai dijaga begitu ketat," gumamku sambil menyeringai.
Dalam keterpurukan, kembali mengingat semua yang telah kulakukan. Flashback kematian kedua orang tua kandung, yang disebabkan olehku. Kenakalan yang berlanjut pada usia yang seharusnya kini sudah berbahagia dengan pasangan. Apa yang kudapat dari semua ini? Ditiduri oleh orang yang kucintai, dicumbu oleh siluman yang menjijikan, dan lebih parahnya lagi, aku diperlakukan seperti binatang oleh si tua bangka itu. Semua salah siapa?
"Hahahahhaha ...."
Dalam tangisan aku tertawa, kembali berdiri di depan cermin memandangi tubuh yang indah. Namun, tubuh itu penuh luka dan lebam. Untuk pertama kalinya, pipiku bergambar lima jari, itu adalah hadiah terindah dari kekasihku.
Tok! tok! tok!
"Bibik mau ngapain?" Kudengar seorang pengawal bicara pada bik Jum.
"Mau ngantar baju buat Nyonya, Pak."
"Sini! Saya periksa dulu kantong, Bibik." Pengawal itu menghardik bik Jum.
"Mau periksa apa toh, Pak? Mana berani saya macam-macam."
"Ya sudah! Awas saja kalau Bibik macam-macam," ancam pengawal itu sembari membuka kunci pintu.
Setelah bik Jum masuk, pengawal langsung menutup setengah pintu. Sesekali bik Jum melihat ke belakang. Aku tahu, sepertinya bik Jum membawakan sesuatu.
"Ini baju ganti, Nyonya. Silahkan mandi dulu, nanti Bibik antarkan makan siang."
"Makasih ya, Bik."
"Iya, Nya. Di dalam baju ada ponsel, Nyonya," bisik Bik Jum ketakutan.
Tiba-tiba pengawal masuk ke dalam kamarku.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Pengawal itu langsung menyambar baju yang dibawakan bik Jum.
Plaaak! plaak!
Tanpa menaruh hiba pada wanita yang sudah tua, pengawal itu menampar bik Jum dan menyeretnya keluar.
__ADS_1
Gedebuuuuk!!