
Sepulang dari salon, aku bertemu dengan dua orang wanita yang sudah cukup matang usianya.
Mereka bekerja sebagai pengemis. Terlintas di pikiranku untuk mengajak mereka bekerja di rumahku.
"Lima ribu, Neng. Dari pagi kami belum makan," ujar salah satu wanita berambut ikal.
"Benaran belum makan, Bu?" tanyaku sedikit peduli.
"Demi Allah, Neng."
"Oh, kalau begitu, Ibu ikut aku aja, ya. Ibu-ibu mau kerja, kan?"
"Mau, Neng. Apa saja, yang penting kami bisa makan," terang Ibu yang memakai jilbab ungu.
Setiba di rumah, ekspresi mereka tak kalah heboh dibandingkan denganku sewaktu pertama dibawa Qenan. Norak, mereka sampai guling-guling di lantai karena terlalu kagum dengan rumah mewah ini. Dan yang tidak mereka sadari, rumah ini sudah dikuasai oleh hantu Bik Imah.
"Ini kamarnya, Bu. Mulai besok, aku panggil kalian berdua dengan sebutan Bibik, ya."
"Baik, Neng," jawab mereka serempak.
"Eith, panggil Nyonya," saranku.
"Iya, Nyonya." Aku tersenyum kemudian berlalu dari hadapan mereka, yang jelas aku tidak merasa kesepian lagi. Sudah ada dua pembantu yang akan menemaniku dan mengurus rumah.
Tak berapa lama aku beranjak dari kamar kedua pembantu itu, aku mendengarkan suara orang berteriak.
"Gawat! Secepat ini kah Bik Imah bereaksi?"
Buru-buru kuhampiri mereka, suara teriakan itu semakin jelas.
"Ada apa, Bik?" tanyaku setelah mendorong pintu kamar. Mereka tercengang, lalu saling bergantian bertatapan.
"Enggak ada apa-apa, Nyonya. Kami baru selesai beberes. Apa Nyonya membutuhkan sesuatu?"
"Enggak, Bik. Lupakan saja, mungkin aku hanya kelelahan."
"Baik, Nyonya. Nanti kalau butuh apa-apa, kami langsung siap melayani," ucap mereka serempak.
"Oh, ya, nama Bibik siapa?"
"Saya Saodah."
"Dan saya Jumiati, panggil Bik Jum aja, Nyonya."
"Oke, mulai besok, Bibik sudah boleh bekerja. Sekarang silakan istirahat dulu. Kalau lapar, ambil saja di dapur. Ada gulai ikan kakap dan sop kepiting. Bibik panasi aja sebelum makan, ya."
"Baik, Nyonya. Terima kasih atas kebaikannya."
Aku mengangguk, kemudian kembali lagi ke dalam kamarku.
"Sebaiknya aku pergi ke rumah Mbah Sugiono untuk menanyakan perihal ini. Tapi, besok ada tamu. Kira-kira siapa, ya, tamunya?"
Malam semakin larut, perasaan waswas membuat sulit mata terpejam. Qenan pun malam ini tidak datang, karena mempersiapkan segala sesuatu untuk penyambutan tamu.
__ADS_1
"Mbah ... Mbah Sugiono, bisa dengar aku, enggak?" kucoba memanggil Mbah Sugiono, berharap panggilan batin masih bisa terhubung. Tapi nihil.
"Mungkin karena aku sudah terbebas dari susuk itu, makanya Mbah Sugiono tidak bisa lagi mendengarku," pikirku.
Kriiiiiing!
Alarm dari ponselku berbunyi, waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Dengan malas aku mencoba bangkit dari tempat tidur karena Bik Jum memanggil di depan pintu.
"Nyonya, Tuan sudah datang."
"Iya, Bik. Sebentar, aku mau mandi dulu."
Tok! tok! tok!
"Iya, ada apa lagi, Bik?"
"Tuan sudah datang, Nyonya."
"Lho, bukannya tadi Bik Jum sudah memanggilku?"
Aku bergegas turun dari ranjang, kemudian berjinjit sampai pintu.
Cekreeek!
"Bibiiik ... ! Bikin kaget aja." Bik Jum berdiri mematung di depan pintu. Rambutnya tergerai dan ia juga sedang memegang pisau.
"Maaf, Nya. Apakah tampang saya menyeramkan?" tanya Bik Jum polos.
"Bibik ngapain bawa-bawa pisau segala? Emangnya enggak bisa diletakan dulu, apa?" tanyaku. Dalam hati sedikit merasa terancam.
"Ya, udah. Aku mau mandi dulu. Nanti suruh Tuan Qenan menyusul ke kamar."
"Baik, Nyonya."
***
Selesai mandi, aku langsung berdandan. Dress terbaik berwarna marun, melekat indah di tubuhku. Dan tidak lupa menyemprotkan minyak wangi yang dibelikan oleh Qenan, sewaktu ia pergi ke luar negri beberapa hari yang lalu.
"Pagi, Sayang," sapa Qenan sambil melambai.
"Pagi juga, Sayang." Kuhampiri Qenan, lalu mengecup pipinya mesra.
"Sebentar lagi Tuan Haryu, tiba. Kamu siap-siap, ya. Tetap jaga sikap," bujuk Qenan.
"Iya, Sayang. Pasti!" ucapku meyakinkan.
Tak lama berbincang-bincang dengan Qenan, Limusin berwarna silver datang. Aku melihat turun beberapa pengawal. Penasaran dengan Tuan Haryu, aku sampai memiringkan badan, hanya untuk memastikan seperti apa orang yang sangat dihormati oleh kekasihku itu.
Pria pendek, perut buncit, matanya sipit. Ternyata dia adalah pengusaha yang berasal dari Jepang. Iya, orang itu adalah Tuan Haryu. Dia menghampiri kami, lalu berjabat tangan dengan Qenan. Saat aku mengulurkan tangan juga, Tuan Haryu malah mengecupnya. Aku kaget dan risi, karena Tuan Haryu menatap liar. Dia seakan-akan ingin menerkamku saat itu juga.
Aku melirik ke arah Qenan, tetapi ia malah mengedipkan matanya untuk memberi kode, agar tetap bersikap biasa. Terpaksa mengikuti permainan ini, demi orang yang kucintai.
Tak sampai di situ saja, Tuan Haryu menggandeng tanganku erat saat menuju ruang makan.
__ADS_1
Gelisah tak menentu, walau wajah Qenan sudah terlihat memerah, tetapi ia tetap berusaha melayani Tuan Haryu sekaligus memaksakan senyumannya. Entahlah, apakah itu cemburu karena ia juga mencintai, entah karena sesuatu yang tak bisa kutebak sama sekali.
Aku jadi berpikir, sebenarnya Qenan itu seperti apa orangnya?
Sudah beberapa bulan berhubungan dengannya, bahkan layaknya sepasang suami istri, tetapi aku belum juga mengenalnya lebih dalam.
"Sayang, aku ke kamar dulu, ya," ucapku pelan.
"Ngapain?" tanyanya mengerutkan dahi dan menyipitkan mata penuh selidik.
"Aku mau istirahat," jawabku seadanya.
"Nanti aja, habiskan makanannya dulu."
Qenan terus menghalang-halangi niatku untuk meninggalkan acara di ruangan makan ini.
"Tapi aku capek, lagi enggak enak badan juga."
"Enggak boleh, nanti malam aja kamu istirahatnya."
Aku semakin kesal, Qenan tetap melarang meninggalkan acara jamuan ini. Kenapa hantu Bik Imah tidak menggorok leher tua bangka itu? Agar ia cepat-cepat enyah dari dunia ini.
"Parah, cuma aku saja yang dikerjai hantu Bik Imah," gerutuku dalam hati.
"Tuan, koper Tuan Haryu mau diletakan di mana?" tanya seorang pengawal.
"Di kamar atas sebelah kiri," ucap Qenan menjelaskan.
Darahku berdesir, tiba-tiba perasaan semakin tidak enak karena kamar itu bersebelahan dengan kamarku. Bisa saja tua bangka itu tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam kamarku.
"Maksudnya apa, Yang?" Aku berbisik lagi pada Qenan.
Qenan langsung menarik tanganku menjauhi meja makan.
"Tuan Haryu tinggal di sini selama di Indonesia."
"Gila kamu, Mas. Apa enggak bisa di hotel saja? Pengusaha terkenal, kok nginapnya di rumah relasi."
"Dia yang minta di sini, aku bisa apa?" tanya Qenan sambil mengangkat kedua bahunya.
"Aku pindah dululah, sampai Tuan Haryu meninggalkan Indonesia."
"Tidak! Tidak bisa, Sayang."
"Kenapa tidak bisa?" tanyaku lumayan kaget.
"Karena kamu nantinya yang akan mengatur keperluan Tuan Haryu."
"Memangnya aku pembantu!" kataku mulai benar-benar geram.
"Kamu cinta enggak, sih, sama aku?"
"Yang perlu dipertanyakan itu adalah kamu! Mana ada laki-laki yang membiarkan wanitanya dicium dan ditatap liar oleh pria lain. Aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini ...."
__ADS_1
"Sudah! Jangan berdebat, ikuti apa kataku. Nanti setelah jamuan makan ini, aku akan menjelaskan padamu secara rinci."