Susuk Mustika Ular

Susuk Mustika Ular
Pantangan


__ADS_3

"Sudah bangun?" Sayup-sayup kudengar Mbah Sugiono bertanya.


Kepala terasa pusing, lemas seakan tak ada tenaga. Persis seperti musafir yang sudah lama berkelana di gurun tanpa membawa bekal untuk menyambung kehidupannya. Rasa haus menyerang, karena kerongkongan ini mengering.


Sesaat aku tersadar, dengan sigap langsung memungut pakaian yang berserakan di lantai, kemudian menutup tubuh ini yang tak ada sehelai benang pun yang menempel.


"Mbah pergi dulu, sana!" pintaku sambil melotot ke arah Mbah Sugiono yang juga memelototi tubuhku. Ia menyeringai seperti tak merasa bersalah sedikit pun, setelah itu barulah ia beranjak dari hadapanku.


Aku jadi berpikir, apakah Mbah Sugiono juga ikut menikmati tubuhku sewaktu aku tak sadarkan diri?


"Mbah, aku numpang mandi. Di mana kamar mandinya?" tanyaku saat menghampiri Mbah Sugiono yang tengah asyik mencuci sebilah keris.


Ia masih diam sambil menatap benda kuno yang berada di atas baskom terbuat dari perak itu. Karena merasa jengkel, aku kembali bertanya dengan sedikit berteriak.


"Mbah! Memang enggak dengar, apa pura-pura enggak dengar?"


"Itu," jawab Mbah Sugiono sambil menunjuk sebuah sumur yang terletak di samping rumah.


"Nah, gitu, dong!" seruku, kemudian beranjak dari depan pintu.


Aku menghampiri sumur tersebut, sebuah sumur tua yang sangat tidak terawat. Banyak sampah berserakan di mana-mana, ingin berbalik arah karena merasa jijik, tetapi tubuhku memang benar-benar butuh disiram dengan air, walaupun tidak bersih. Akhirnya kupaksakan untuk melanjutkan menimba.


Krekk! kreek!


Bunyi katrol tua yang sudah berkarat. Serbuk-serbuk karatnya mulai berguguran masuk ke dalam timba. Bau seperti amis darah tercium di indra penciuman, tak ada yang terpikir selain membersihkan bekas-bekas lendir yang sudah mulai mengering di permukaan kulit. Satu persatu mulai membentuk seperti sisik ular. Takut? Sudah tentu. Karena takut akan berubah wujud menjadi siluman.


"Aduuh! Gimana mau mandi bersih, sementara airnya juga tercemar," gerutuku sambil mondar-mandir dan sedikit menjambak rambut.


"Disaring aja!" teriak Mbah Sugiono.


"Saring pakai apa, Mbah?" tanyaku sembari melongok dari balik papan pembatas sumur.


"Itu ada kain penyaring tergantung di sebelah kiri," jawabnya.


Kuputar posisi tubuh membelakangi Mbah Sugiono, kemudian celingak-celinguk mencari keberadaan kain tersebut. Ternyata memang ada kain putih kecokelatan. Lalu, kugunakan kain tersebut untuk menyaring air, berulang-ulang, karena perlu kerja keras untuk mendapatkan air yang agak jernih.


Selesai mandi dan beberes, aku berpamitan pada Mbah Sugiono. Karena susuk kedua juga sudah terpasang, aku merasakan wajah ini tambah berkilau dan semakin cantik. Tak sabar rasanya menghampiri Qenan, walau bayangan yang menjijikkan itu masih menari-nari dalam benakku.


***


"Bik, Mas Qenan nanyain aku, enggak?" tanyaku pada Bik Imah setelah sampai di rumah.


"Ada, Nyonya. Nanti malam, tuan mau ke sini," terang Bik Imah.

__ADS_1


"Oke. Terima kasih, Bik." Lalu, aku langsung masuk ke dalam kamar, dan memutuskan untuk mandi, karena walaupun sudah mandi di tempat Mbah Sugiono, tetap saja tidak bersih. Setelah selesai, kuhempaskan tubuh di kasur yang empuk, sampai akhirnya tertidur pulas.


Hingga malam menjelang, aku masih enggan bangkit dari pembaringan. Ponsel berdering entah berapa kali, karena saat tidur, sayup-sayup kumendengarkan suara deringan. Segera kuraih ponsel yang tergeletak di atas meja rias. Ternyata ponselnya mati.


"Tadi bunyi apa-an, ya? Perasaan ada suara ponsel yang berdering tiada henti." Saat gelisah memikirkan apa yang terjadi, entah itu nyata, entah itu hanya mimpi, tiba-tiba tanganku merasakan sesuatu di bawah selimut.


Tok! tok! tok!


"Sayang, kamu ngapain? Buka pintunya, dong!" panggil Qenan dari depan pintu kamar.


"Iya sebentar, Sayang."


Setelah kuraba lagi, tidak ada apa-apa. Tadi aku merasakan sesuatu yang panjang dan berlendir?


"Oh tidak, apakah itu siluman ular?" tanyaku bergidik, sambil terus meraba-raba.


"Sayang, buka pintunya." Terdengar lagi Qenan memanggil.


Aku bangkit dari tempat tidur, kemudian mengibas-ngibaskan selimut, Nihil. Tidak ada apa-apa di bawahnya, tetapi tetap saja merasa waswas, mana tahu ular itu mengikutiku.


"Masuk, Sayang." Qenan pun mengangguk, lalu ia mengendus-endus rambut dan bahuku.


"Ada apa, sih?" tanyaku penuh selidik. Aku cemas kalau Qenan mencium bau anyir yang masih melekat di seluruh tubuhku.


"Wangi," jawab Qenan sambil terus mengendus.


"Bobo, yuk!" ajak Qenan, lalu ia memapahku ke atas ranjang. Sebenarnya seluruh tulangku terasa rontok, tetapi demi menyenangkan dia, aku terpaksa melayaninya.


***


Hari-hari kian berlalu, minggu pun berganti bulan, tetapi tidak ada kepastian dari Qenan. Perasaan ini mulai tak menentu, aku seolah-olah menjadi pelampiasan semata.


Pada suatu malam, kutanyakan lagi tentang janji yang pernah terucap. Namun, ia meminta waktu lagi sampai proyek besar sedang diburunya bisa terlaksana dengan baik dan lancar.


"Sampai kapan?"


"Sabar, Sayang. Apa pun itu, semuanya butuh proses dan pematangan jati diri. Karena pernikahan itu bukanlah suatu hal yang mudah." Qenan kembali memainkan ponselnya.


"Tatap mataku! Apakah kamu tidak mencintaiku?"


"Cinta. Seperti yang aku katakan tadi, rumah tangga itu tidak hanya mengandalkan cinta semata," ujarnya terus meyakinkanku.


"Iya, kamu benar, Mas. Tapi, bukankah kita sudah berkecukupan? Bahkan lebih dari cukup," lirihku berkata.

__ADS_1


"Materi juga belum bisa menjadi landasan." Qenan terus saja mengelak, hingga perasaan dongkol menggelayut di hulu hatiku.


"Sial! Apakah susuk itu tidak mempan?" rutukku, tanpa berkata apa-apa lagi, aku langsung masuk kamar dan mengunci pintu.


Tak lama setelah berada di kamar, mobil Qenan terdengar meninggalkan rumah ini. Pecah juga tangisku akhirnya, ia bahkan tidak ada niat membujukku sama sekali.


"Bersusah payah mendapatkan cintamu, tetapi kamu malah membuatku seperti boneka." Aku tergugu, ditambah lagi mengingat kejadian beberapa tahun yang silam. Kedua orang tua kandungku tewas gara-gara aku.


"Tidak ... tidak! Aku tidak mau bertobat dulu, sebelum aku benar-benar bisa memiliki Qenan dengan utuh dan menguasai hartanya." Kuseka air mata, lalu mencoba menghubungi Mbah Sugiono dengan bisikan batin.


"Mbah, aku perlu bantuan. Datanglah, Mbah."


Hehehehehe!


"Aduh, Mbah. Bikin kaget aja." Tiba-tiba Mbah Sugiono sudah berdiri di dekat jendela, sambil cekikikan seperti hantu.


"Ada apa kau memanggilku?"


"Sepertinya susuk itu tidak mempan, Mbah. Sudah lewat seminggu dari bulan yang telah kekasihku janjikan, tapi ia urung juga melamarku."


"Itu salahmu!" Bentak Mbah Sugiono membuatku terkesiap.


"Salahku bagaimana, Mbah?" tanyaku tak mengerti.


"Kamu telah melanggar pantangan. Aku bilang jangan makan pisang emas, tapi kamu tetap memakannya." Aku semakin tak mengerti, karena seingatku, tidak ada makan pisang dalam bulan ini.


"Mau mengelak lagi?"


"Sumpah, Mbah. Aku enggak ada makan pisang," terangku meyakinkan Mbah Sugiono.


"Kue pisang!"


"Apa?" Mataku melotot, pikiran menerawang. Bik Imah pernah memberi kue, tetapi aku tidak bisa merasakan adanya pisang maupun sari pisang dalam kue tersebut.


"Terus bagaimana lagi ini, Mbah? Apakah tidak bisa diperbaiki, atau mengulang ritual dari awal lagi?" tanyaku memberondong Mbah Sugiono.


"Batalkan!"


"Maksud, Mbah? Tapi kata Mbah bukankah tidak bisa dibatalkan? Dan Mbah bilang nyawa taruhannya."


"Iya, kau betul sekali. Memang nyawa taruhannya."


"Mbah membiarkan aku mati begitu saja?" tanyaku mulai ketakutan.

__ADS_1


"Siapa bilang kau yang bakalan mati?"


"Kekasihku? Tidak Mbah, jangan dia. Aku mencintainya, Mbah."


__ADS_2