
"Masuk. Untuk sementara waktu, kamu tinggal di sini dulu, sampai keadaan kembali aman." Karel tersenyum, lalu ia mengacak-ngacak rambutku.
Ah, sejenak aku melupakan betapa pahitnya kehidupanku, saat tatapan teduh itu kembali menghujam jantungku. Di sini, di sudut hati yang terdalam.
***
Pagi dini hari terdengar suara Karel sedang membaca Kitab suci. Diam-diam kudekati kamarnya, dan duduk di depan pintu.
Sangat merdu, sehingga tanpa disadari air mataku menitik.
Aku bahkan sudah lupa bagaimana bentuk hurufnya, apa lagi disuruh membaca.
"Aku tak pantas berada dalam rumah ini, tapi aku harus ke mana," bisikku menyadari.
"Rafe, ngapain duduk di situ?"
"Eh ... anu ...," jawabku gugup
"Anu apa-an?"
"Enggak apa-apa."
"Ya, udah. Kamu mandi dulu, aku tunggu di meja makan." Karel berlalu dari pandanganku, sesekali ia menengok ke belakang.
Setelah Karel menghilang dari balik tangga, kuhempaskan napas yang tadi tiba-tiba sesak, lalu lari ke dalam kamar dan mengunci pintu.
Tok! Tok!
"Neng, Tuan menunggu di meja makan."
"Iya Bik, sebentar. Aku lagi pakai baju," sahutku dari dalam kamar.
Tak berapa lama, aku keluar menuju ruang makan. Baju kaos oblong dan celana training milik Karel, itulah kostumku pagi ini. Karena Karel tidak punya saudara perempuan, dan enggak mungkin juga aku meminjam baju asisten rumah tangganya yang semua berukuran jumbo.
"Astaga, Rafe!"
"Ya?" tanyaku heran.
"Itu baju untuk dalemanku, kenapa dipakai? Aduh."
"Maaf Karel, tadi Bik Milah bilang, kamu nyuruh pakai baju punyamu. Ya udah aku pakai," jawabku merasa sungkan.
"Iya, memang aku yang nyuruh Bik Milah. Tapi bukan yang ini, Rafe. Bik ... bibik!" seru Karel.
"Iya, Tuan?"
__ADS_1
"Ambilkan baju yang lain, kalau bisa yang warna hitam."
Bik Milah melirik ke arahku, kemudian mengganti pandangan ke arah Karel yang terlihat risi, lalu ia tersenyum sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Bibik kenapa?" tanyaku penuh selidik.
"Ayo, Neng. Kita ganti baju dulu." Bi Milah menggandengku masuk ke dalam kamar, kemudian ia menyuruhku berkaca.
"Ya ampun!" Aku langsung kaget, karena baju yang kukenakan ternyata sangat transparan.
Setelah berhari-hari berada di rumah Karel, kami pun semakin dekat. Perkenalan yang pertama menggetarkan jiwa, sampai saat ini aku sudah berada di dekatnya, di dalam rumah yang sama.
Di setiap kesempatan, Karel selalu mengajakku mengobrol, bahkan terkadang ia memberikanku hadiah-hadiah kecil berupa cokelat Silver Queen, atau pun setangkai bunga yang ia petik dari pot bunga yang bertengger di samping teras rumah.
Jika dalam keadaan tidak menyadari, aku menikmati keindahan itu, akan tetapi, disaat menyadari siapa diri ini, rasanya memang benar-benar tidak pantas mendapatkan semuanya.
Diam-diam aku masuk ke dalam kamar Karel, mengambil buku yang berisi tetang tata cara salat lima waktu dan salat Taubat. Kamar yang berukuran sangat besar dan lengkap dengan perabotan antik, ada beberapa foto ayah dan ibunya, juga fotonya entah dengan siapa. Yang jelas saat menatap foto itu, ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyerang dadaku. Mungkin cemburu? Dan lagi aku mencoba menepis rasa itu, karena sekali lagi aku merasa tidak pantas.
"Rafe? Sedang apa kamu di kamarku?" Tiba-tiba saja Karel sudah berdiri di belakangku.
"Ini," jawabku sambil memperlihatkan buku yang sedang aku pegang.
"Owh, kamu mau belajar salat taubat?"
"Iya, Karel. Aku mau belajar dan semoga tobat ini diterima," lirihku berkata.
Aku pun menuruti langkahnya, tapi tetap saja tidak bisa mengatur pernapasan saat disentuh oleh Karel. Genggaman tangannya begitu lembut kurasakan, hangat. Sehingga aku mulai merasa jijik lagi pada diri ini, tidak bisa membedakan sentuhan perhatian karena hiba dengan sentuhan seorang kekasih.
"Ah! Kamu memalukan sekali, Rafe," bentakku dalam hati.
"Hey! Melamun lagi, 'ntar kesambet lho." Karel menjentikkan jarinya tepat di wajahku.
"Enggak kok, aku lagi enggak melamun. Cuma mikir aja, apa bisa membaca pakai huruf Arab begini," ujarku pura-pura.
"Kan ada huruf latinnya. Yang ini." Karel menunjuk bagian di bawahnya.
"Owh, iya, iya."
Waktu terasa cepat berlalu, jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dengan berat hati dan berat langkah meninggalkan kamar Karel. Di sini terasa nyaman, aku merasakan damai. Akan tetapi, Karel menyuruhku keluar dengan bahasa yang lembut, tetap saja aku merasa lain dalam hati, inginnya tetap di sini, di sampingnya.
"Besok kita lanjut belajarnya. Dadah." Karel melambaikan tangan dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.
"Padahal dikit lagi udah hafal." Aku terus mengulur waktu.
"Eith, jangan nakal."
__ADS_1
Deg!
Mendengarkan kata nakal, jantungku tiba-tiba bermasalah. Detaknya mulai tak karuan, kenangan buruk itu kembali menyembur dari otakku, mata ini memanas, dan perlahan air mataku mulai menggenang.
"Eh, aku salah ngomong, ya?" tanya Karel.
"Enggak, lupakan aja."
"Apa sih? Kok kamu sewot gitu?"
"Enggak ada, Karel. Udah malam juga, aku pamit tidur."
"Jangan gitu, Rafe. Aku jadi enggak enak, nih." Karel memegang bahuku ketika aku mulai melangkah meninggalkan kamarnya.
"Maaf telah mengganggumu, permisi."
Suasana menjadi hening, hanya ada suara langkahku menuju kamar sebelah. Karel terdiam tanpa kata, sampai aku menutup pintu kamar, barulah terdengar suara pintu kamarnya juga tertutup.
Menangkap malam di peraduan mimpi, bersimbah peluh ketika kubenamkan wajah di bawah bantal. Berharap napas ini berhenti. Namun, rasa sesak membuatku kesakitan, akhirnya kulepaskan wajah dari bantal yang sempat digunakan untuk menutup wajah.
Memang sedikit gila tingkahku malam ini, sehingga dalam titik otakku mengatakan seperti itu. Gilanya jangan tanggung-tanggung, mengakhiri hidup kenapa tidak dari dulu? Bodoh, kesalahan begitu besar, membuat hilang kepercayaan pada diri sendiri.
Malam semakin larut, mataku enggan terpejam. Sesekali melirik jam di dinding, ternyata sudah hampir pagi. Sungguh insomnia akut, hingga dunia pun menertawaiku. Namun, aku masih berharap pada sang mentari pagi, memberiku kehangatan walau pun tak pasti. Karena kita tidak akan tahu, apakah esok hujan atau cerah.
***
"Rafe mana, Bik?" Aku mendengar suara Karel di balik pintu kamar.
"Belum keluar dari tadi pagi, Tuan. Bibik sudah memanggil berkali-kali, tapi ...."
"Serius, Bik?" tanya Karel memotong ucapan Bi Milah.
"I-iya, Tuan." Terdengar ucapan Bik Imah terbata-bata.
"Rafe! Buka pintunya," seru Karel memanggilku.
Aku tetap bergeming di atas ranjang, menahan sakit di perut karena sedari pagi belum memakan apa-apa.
"Rafe, kamu baik-baik aja, kan? Jangan membuatku cemas, ya."
"Enggak ada kunci duplikat, Tuan?"
"Enggak ada, Bik."
Setelah Karel bicara pada bik Imah, sesat suasana kembali hening, dan ....
__ADS_1
Braaakk!
Pintu kamar akhirnya jebol karena tendangan. Aku sempat terpekik karena kaget, lalu melongo melihat raut tegang di wajah Karel.