
Dreet! Dreet!
Ponselku bergetar beberapa kali. Kubuka, ternyata panggilan dari Aryo, Kombes—sahabat Karel.
"Halo."
"Halo, selamat siang, Kak Rafe," sahutnya.
"Siang juga. Bagaimana perkembangannya, Mas?" tanyaku.
"Sampai sekarang masih nihil, rekaman di CCTV pun tak membantu sama sekali. Di layar semuanya terlihat putih," terangnya.
"Oh, aku mau kabar yang membuat hati ini tak terluka, Mas. Aku tutup, ya," ucapku mengakhiri pembicaraan.
Hujan semakin deras, kuputuskan untuk kembali meringkuk di ranjang. Menatap lepas ke jendela yang basah terkena bias air yang berjatuhan.
Tangan kekar membelai pipiku. Sontak aku kembali kaget, karena dalam situasi pikiran kosong.
"Karel?" Aku langsung membalikkan badan.
Sialnya, lagi-lagi dia yang datang. Dia pasti akan membaca mantra biar aku luruh dan tak marah-marah kepadanya.
"Bikin kaget aja!" seruku, kemudian langsung bangkit dari ranjang.
"Kan udah aku bilang, jangan marah-marah, jangan sakit hati, karena amarahmu membuat seseorang mencium jejak keberadaanmu," terangnya terlihat berbicara serius.
Aku semakin tertarik mendengar penjelasannya, lalu mengubah posisi duduk agar bebas memandangnya saat mengungkapkan hal-hal yang ingin kutanyakan.
"Terus?" tanyaku sambil menopang dagu.
"Memang apa yang mau kamu ketahui?" jawabnya balik bertanya.
"Emh, sebelum kamu menghilang lagi, aku ingin tahu siapa namamu dan kamu itu sebenarnya jenis apa?"
"Yang pasti aku ini adalah potongan hatimu." Jawabannya membuatku geram, karena masih sama dengan jawaban yang sebelumnya.
"Aku serius!" seruku lantang sambil menatap lekat matanya.
"Waw, kekasihku mulai marah lagi," ucapnya sembari mencubit hidungku.
Tak mau berbasa basi lagi, kudekati dia, lalu memegang tangannya erat. Berpikir dengan sentuhanku bisa membuatnya langsung berbicara dengan jujur.
Duaaarr!
Suara petir menggelegar, hujan pun semakin deras di luar sana. Tiba-tiba kepalaku terasa sakit, tubuh menggigil dan basah?
Bingung sudah pasti, karena sebelumnya aku berada dalam kamar berasa dia. Perasaan nyeri dalam dada yang tiba-tiba memaksa air mataku melompat dari kelopak mata yang terus ditimpa air hujan.
__ADS_1
Di sana aku melihat orang yang dicinta terkulai lemas dalam lilitan ular besar. Saat ingin berteriak, mulutku langsung dibekap oleh makhluk yang berdiri di sampingku.
"Iya, merekalah yang membawa Karel," ucapnya berbisik di telingaku.
"Tapi mengapa kamu tidak menolongnya? Apa kamu sengaja membiarkan Karel mati, agar kamu bebas mendekatiku, hah? Kamu benar-benar kejam ... jahat!"
"Jika aku jelaskan, apakah kamu akan percaya?"
Aku diam tanpa menjawab pertanyaan dan tak melihat ke arahnya.
"Di duniaku ada masanya diperbolehkan bertempur dan dilarang bertempur. Saat ini kami mengalami fase pemulihan kekuatan, jadi aku tak bisa membantu. Maafkan," ucapnya sambil menunduk.
"Apakah Karel masih hidup?"
"Masih, tapi aku enggak tahu sampai kapan ia bisa bertahan. Semoga Karel kuat, sambil menunggu aku pulih," ujarnya.
"Jadi, otak dari penculikan itu adalah Qenan, benarkan?" tanyaku.
"Iya, dia bekerja sama dengan siluman ular itu dan dukun yang pernah kamu bayar." Aku benar-benar terkesiap mendengarkan penjelasannya. Dari mana Qenan bisa mengenal mbah Sugiono?
"Antar aku pulang, kepalaku sakit," ucapku sambil menghapus air mata.
Sesampainya di kamar, pakaianku tak basah lagi. Tetapi aku sudah maklum dengan kejadian ini, karena sudah terbiasa dengan hal-hal yang berbau mistis dan fantasi tak masuk di akal manusia.
"Tunggu!" Aku mencoba menghentikannya sebelum ia kembali menghilang.
"Namaku Bintang Cakra, dan aku adalah makhluk yang berasal dari planet lain, yang patut kamu cintai," imbuhnya lagi.
"Oh!"
"Cuma itu saja?" tanya Bintang sambil menyunggingkan senyumannya.
"Iya, itu sudah cukup."
"Oke! Kamu istirahat, ya. Jaga kesehatan, jangan sakit," ucapnya lagi. Kedipan matanya sebelah kiri, tiba-tiba membuat dadaku bergemuruh. Bahkan aku sampai lupa, kalau kini saatnya waktu berduka.
Ini bukanlah kali pertama setiap ia pergi menghilang, aku seperti orang linglung, walau sebenarnya sudah terbiasa dengan keadaan ini.
Mentari sudah berada di titik puncak. Suhu di sekitar pun terasa lebih panas dibandingkan sebelumnya. Kuraba remot-AC, lalu menyalakannya dan duduk di tepi ranjang sambil menikmati segelas susu dingin rasa cokelat.
Tok! Tok! Tok!
"Kak Rafe!" Panggil Clara di depan pintu.
"Ya!" sahutku singkat.
"Aku mau keluar sebentar, Kak. Mau nitip apa?" tanya Clara setelah ia melongok ke dalam.
__ADS_1
"Aku enggak mau nitip apa-apa," jawabku sambil memainkan sedotan minuman.
"Atau kakak mau ikut denganku?" tanyanya menawarkan.
"Emh," gumamku sambil berpikir.
"Ayolah, mana tahu kita bisa menemukan hal-hal baru di luar sana. Sekedar penghilang jenuh dan rasa sedih yang terjadi belakangan ini," ungkapnya sambil terus membujuk.
"Tapi ...."
"Ayo, buruan, Kak. Nggak usah pakai tapi-tapi," ucap Clara memotong omonganku.
Kami pun berangkat dengan mobil milik Karel yang dikendarai oleh Clara. Mobil berkecepatan 90 KM/jam kemudian merapat di parkiran mall.
Saat turun dari mobil, tiba-tiba hujan turun begitu lebat, kemudian menjadi redup di sekitarku. Kutengadahkan kepala ini, apa yang sedang berlalu, ternyata ada seseorang yang menutup menggunakan jas. Clara masih di dalam mobil, berusa melongokkan kepalanya untuk memastikan siapa yang berada di depanku.
"Kamu kehujanan, nanti sakit, lho," ucap pria itu ramah.
"Terima kasih. Maaf, Anda siapa, ya?" tanyaku sambil terus melihat wajahnya.
"Aku hanyalah seseorang yang kebetulan lewat di sini. Karena kamu mematung di bawah derai hujan, aku kira kamu butuh payung," terangnya berucap dengan sopan.
"Oke, terima kasih perhatiannya, tapi aku punya payung, kok," ujarku setelah Clara mengulurkan sebuah payung.
"Baiklah. Kalau begitu, aku masuk ke dalam dulu," ujarnya, kemudian berpamitan dan berlalu dari pandanganku.
"Ayo, Kak!" ajak Clara menuntunku.
Sesampainya kami di dalam mall, aku langsung memilih barang-barang yang akan di beli, begitu juga dengan Clara tengah asyik memilih pakaian untuk dipakai di dalam rumah. Sebab, ia tak banyak membawa pakaian ganti saat ia ingin menemaniku sampai Karel ditemukan. Alasannya malas bolak balik ke Surabaya, rumah orang tua kandungnya.
Setelah selesai belanja, aku dan Clara menghampiri meja kasir. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba kepala ini terasa sakit, pandangan mulai tak beraturan. Kulirik pelayan mall dan orang-orang sekitarnya menjadi tambah banyak.
Buugh!
Beberapa saat kemudian kubuka mata lebar-lebar, ternyata aku sudah berada di tempat lain. Ruangan yang penuh dengan cat putih dan bau obat-obatan tercium olehku.
"Clara, aku ada di mana?" tanyaku memastikan.
"Kita ada di rumah sakit, Kak," jawab Clara.
"Oh, pantesan baunya tidak asing," ujarku kemudian.
Clara tersenyum sambil mengusap lembut tanganku. Sejak Karel terbaring, Clara menjadi penyemangat dan penjagaku, juga si Bintang makhluk dari alam entah berantah.
"Tapi dia sekarang di mana, ya? Kok, dia enggak muncul?" gumamku pelan.
"Kakak bicara apa? Dia siapa yang kakak sebut?" tanya Clara dengan kening yang mengernyit.
__ADS_1
"Ah, bukan siapa-siapa, Clar. Cuma ingat Oppamu saja," jawabku berbohong.