
Mulutnya sudah mulai bersiap-siap melontarkan cacian ke arahku. Menunduk, itulah hal satu-satunya yang bisa kulakukan. Selain itu, apa salahnya berpura-pura menjadi wanita lemah di depan Qenan. Paling tidak, aku tak terkesan memburu perhatiannya dan dianggap wanita yang tidak egois.
"Cery?" Qenan lumayan terkesiap dengan kedatangan wanita itu.
"Ya! Aku menelepon tidak kamu angkat, dicari ke kantor, kamu tidak ada. Ternyata kamu di sini rupanya." Kata wanita yang bernama—Cery-- sambil menatap tajam ke arah Qenan.
"Maaf, Pak Qenan. Apa aku harus pergi dulu?"
"Nggak usah, lanjutkan saja makannya."
"Tapi, Pak ...."
"Kamu pergi saja!" bentak Cery dengan lantang dan terlihat emosi.
"Cery!" Qenan balik membentak, karena ia melihatku gelagapan. Pengunjung restoran yang lain pun mulai menyadari suasana tidak enak sedang berlangsung.
"Kamu jangan coba-coba merayu tunanganku, ya. Awas saja kalau kau macam-macam!" Cery mengancamku sebelum Qenan menyeretnya keluar dari restoran.
Selang beberapa menit, Qenan kembali ke meja yang di mana aku masih menunggunya dengan duduk manis. Matanya merah dan kulihat napasnya tidak teratur. Dan inilah waktu yang tepat buatku untuk pura-pura simpati.
"Sabar ya, Pak. Fitrahnya perempuan itu adalah pencemburu," ucapku sok-sokan memberi pengertian.
"Dia over, cemburunya sangat berlebihan. Sementara aku adalah seorang pimpinan, mau tidak mau, aku harus bertemu dengan banyak relasi yang tidak sedikit yang perempuan, bahkan lebih banyak yang muda-muda dan masih singel."
"Emh, iya, juga sih. Tapi nanti lama-lama Mbak Cery pasti bakalan paham, Pak," ucapku meyakinkan Qenan.
"Terlambat! Aku sudah terlalu muak dengan tingkah dan sifatnya."
"Lalu?"
"Aku putuskan," ucap Qenan dengan mimik wajah yang terlihat santai. Bahkan ia seperti melepaskan napas lega. Itu membuatku sangat senang dan punya kesempatan untuk masuk ke dalam kehidupannya.
Selesai makan aku dan Qenan pun kembali ke kantor. Di perjalanan, dalam mobil kami tetap mengobrol dengan santai. Tak membahas soal Cery, mau pun membahas masalah pekerjaan. Sesekali Qenan melirik ke arahku dan tersenyum dengan penuh arti.
***
Mentari mulai beranjak dari peraduan. Di tepi jendela kutatap mega yang mulai menghitam. Sesekali aku tersadar, hidup ini akan dibawa ke mana? Aku cantik, tetapi tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri. Sudah terlalu jauh aku melangkah, tak mungkin untuk berbalik arah. Percuma!
Mata indah berbulu lentik, kini telah basah untuk yang pertama kali, pertama untuk menyesali sesuatu yang buruk, yang aku lakukan untuk mengejar seorang lelaki. Sulit untuk menjelaskan, rasanya sangat sesak dalam dada.
Angin malam berembus masuk melalui celah jendela. Tiba-tiba aku mencium bau anyir, entah itu bau darah, entah bau ikan basah.
"Perasaan aku belum belanja, deh. Kok, bisa ada bau ikan di kamarku?"
Aku berjalan ke dapur, untuk memeriksa isi kulkas. Akan tetapi, dalam frezer tak ada satu pun ikan, di rak bawah hanya ada air putih dan dua buah salak. Bingung pastinya, tidak mungkin bau ikan dari rumah tetangga sampai ke rumah kontrakan ini terendus oleh indra penciumanku. Saat memikirkan aroma itu berasal dari mana, sosok yang mirip Mbah Sugiono tiba-tiba berdiri di samping. Sontak aku terpekik, kemudian cepat-cepat kubekap mulut sendiri. Untungnya tak ada tetangga mendengar apalagi curiga dengan suara gaduh yang timbul malam-malam begini.
"Ingat pesanku, jangan berpikir untuk lepas, kalau tidak, kamu akan membayar mahal karena keingkaranmu!" bentaknya seolah-olah mengancamku.
"Mbah Sugiono?" tanyaku memastikan.
"Ya! Ini aku, ini sukmaku."
"Oke, Mbah," jawabku singkat.
Dalam hitungan detik, Mbah Sugiono menghilang. Aku kembali masuk ke kamar dan menghempaskan tubuh di atas kasur.
__ADS_1
Dentangan jam kuno terdengar sepuluh kali dari rumah pemilik kontrakan. Namun, mataku enggan terpejam. Sesekali kulirik hordeng jendela yang melambai-lambai, seperti ada yang memainkan.
"Bodo amat!"
Kuraih gawai dan memainkannya, berpikir bisa mengundang kantuk, tetapi mata tak jua bisa terpejam. Bola mata ini malah semakin terbuka lebar menatap postingan-postingan yang lewat di beranda Facebook.
Keluhan, nyinyiran, dan segala dipamerkan. Sesekali aku mendengus kesal, karena malam sudah semakin larut, dan mata pun terasa lelah.
Mencoba trik lain yang biasa aku tonton di youtube, yaitu menghitung anak-anak domba. Sampai hitungan kedua ratus, bukannya kantuk yang didapatkan, malah jengkel kurasakan.
"Agghh!"
Kukedipkan mata berkali-berkali, lalu memadamkan lampu tidur.
Tik!
Akhirnya aku tertidur dalam suasana kamar yang gelap. Suara berisik segerombolan tikus di atas loteng tak kuhiraukan lagi. Iya, aku benar-benar tertidur sepertinya, karena saat membuka mata, cahaya matahari sudah mulai merangkak melalui celah-celah jendela.
***
Suasana kantor sudah mulai ramai, tampak Yosi dan Mila sudah bersiap-siap di depan komputer mereka.
"Sial! Ternyata aku telat lagi," aku menggerutu sambil menggaruk-hidung yang tidak gatal.
"Rafe, hey! Kamu kenapa cantik?" tegur seseorang dari arah yang berlawanan.
"Hah, aku enggak salah dengar, nih?" tanyaku pada diri sendiri.
"Rafe?"
"Sudah sarapan?" tanya Qenan.
"Aduh! Suaranya terdengar manja di telingaku. Ingin rasanya menjambak rambutmu, lalu kubisikkan sesuatu," bisikku di hati sambil mengatur napas yang tiba-tiba sesak tak menentu.
"Rafe, sarapan dulu, yuk!" Qenan menggenggam jemariku, lalu mengajakku ke kantin, dekat kantor.
Semua mata tertuju menatap kami, tak dipungkiri juga dengan bisik-bisik karyawan yang tercengang melihat Qenan menggandengku. Atasan dengan bawahan? Tak ada yang tak mungkin, apalagi semuanya sudah kuatur serapi mungkin.
Setiba di kantin. Qenan menyeret kursi dan mempersilahkan duduk. Rasanya seperti sudah menjadi sepasang kekasih, walaupun dia tak kunjung mengutarakan isi hatinya.
Ternyata setelah sarapan selesai, Qenan kembali memegang tanganku yang sengaja aku letakan di atas meja.
"Rafe, maukah kamu menjadi pacarku?"
Deg!
Sesuatu yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dengan sedikit jual mahal, aku pura-pura diam sambil menatap matanya, lalu mengalihkan wajah menatap jendela.
"Rafe?"
"Iya, Pak. Apakah secepat ini? Dan ... dan pacaran tidak menjamin sebuah hubungan akan bertahan lama," ucapku kembali berpura-pura keberatan, dengan hanya menyandang status sebagai pacar.
"Eh, bukan begitu maksudku. Kita jalani saja dulu, jika kamu merasa sudah nyaman bersamaku, kita bisa lanjutkan hubungan ini ke hubungan yang lebih serius lagi," ucap Qenan meyakinkanku.
"Pak Qenan serius?" tanyaku.
__ADS_1
"Yup," jawab Qenan sambil menyunggingkan senyumannya, lalu kubalas juga dengan senyuman.
***
Rembulan malam tampak memamerkan keindahannya, menambah rasa bahagia di dalam hati. Misi akhirnya berhasil, tanpa ada halangan dari siapa pun. Wanita yang bernama--Cery-- itu, tak kan bisa lagi mengancamku, apa lagi Yosi dan Mila yang hanya karyawan biasa sepertiku, yang sebentar lagi akan menjadi bawahanku.
"Bulan?"
Aku langsung teringat pada persyaratan yang diberikan oleh Mbah Sugiono. Ketika bulan penuh, aku harus mengantarkan sepasang ayam cemani.
"Berarti tiga hari lagi tanggal lima belas? Oh tidak, besok aku harus mencari ayam itu."
"Rafe, kamu lagi ngapain, Sayang?" Suara itu menghentikan lamunanku, ternyata Qenan sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Eh, Pak Qenan?"
"Jangan panggil pak," ucap Qenan, kemudian ia mengerucutkan bibir seksinya.
"Jadi panggil apa, dong?" tanyaku manja.
"Panggil sayang kek, cinta kek, atau mas juga boleh."
"Hehehe ... oke, Sayang."
"Lagi ngapain?" kata Qenan balik bertanya, dan langsung menghampiriku yang berdiri di dekat jendela.
"Emh, lagi menatap sesuatu," jawabku sambil menunjuk bulan.
"Owh, bulan. Kamu suka bulan?"
"Dulu aku sangat menyukai bulan," sahutku pelan.
"Sekarang masih suka, kan?"
"Sekarang aku lebih suka padamu dari pada bulan itu," ucapku sembari melempar jauh pandangan ke depan.
Qenan tertawa renyah mendengarkan penuturanku. Iya, karena dia tidak tahu apa-apa. Ia tidak akan tahu kalau aku kini sangat membenci bulan, karena bulan yang bulat sempurna menandakan ada sesuatu yang akan terjadi.
"Aku benci bulan itu, aku benci harus ditiduri oleh siluman ular," aku membatin dan bergidik ngeri.
"Sayang, kamu kenapa melamun?" tanya Qenan, aku hanya membalas dengan senyuman pertanyaannya.
Qenan mendekat, tanpa berucap apa pun, lalu ia memapahku ke ranjang yang hanya berukuran kecil.
Deg!
Jatungku seakan terasa copot, napas kian memburu. Baru saja jadian, kelakuannya sudah seperti ini. Ingin menolak, tapi aku berpikir kembali.
"Dari pada siluman itu yang merenggut mahkota ini yang selalu terjaga kesuciannya, lebih baik pasrahkan saja untuk kekasihku," bisikku lirih.
"Rafe, jangan takut. Bulan depan aku akan melamarmu," bisik Qenan di telingaku.
"Tapi ...."
"Percayalah." Qenan menggenggam jemariku dan terus membujuk.
__ADS_1