
Gedebuuuk!!
Aku mendengar suara benturan keras di lantai. Lalu, darah segar merembes masuk ke sela pintu.
"Bajingan! Otak kalian enggak ada, apa?
Tega-teganya kalian membunuh orang yang tidak bersalah."
"Tutup mulutmu. Dasar sampah!" seru pengawal itu dari balik pintu.
Perih, seorang pengawal saja sudah berani memaki. Bagaimana dengan orang-orang di luar sana, jika mereka tahu siapa aku.
"Karel, seandainya aku tidak pulang malam itu," lirihku berkata.
"Hendra, Yudi, sini dulu!" seru pengawal yang berjaga di pintu.
Tidak berapa lama, dua pengawal yang dipanggil pun datang.
"Iya, Rik."
"Buang mayat bibik ini ke danau."
"Oke!" pengawal yang bernama Yudi menjawab.
"Buka pintunya! Aku mau lihat Bi Jum untuk yang terakhir kalinya. Aku mohon."
"Alasan! Nanti kamu malah kabur."
"Tidak, aku janji."
Saat Yudi membuka pintu, aku langsung dihadapkan dengan kepala bik Jum yang menganga. Entah dengan cara apa mereka melenyapkan bik Jum, yang jelas aku hampir pingsan melihat pemandangan siang itu.
Tak bisa berkata apa-apa, aku hanya menangis melihat Bi Jum dimasukan ke dalam karung, lalu mereka seret seperti menyeret sampah. Bi Saodah yang sudah duluan kabur, membuatku sedikit tenang. Paling tidak, pembunuhan di rumah sialan ini jadi berkurang.
Semburat jingga menghiasi mega, kutatap wajah sendu di atas sana, perlahan, merajuk menjadi gelap. Malam kembali merangkak, rasa takut kembali menguar dalam otak dan hati.
Deru mobil dari kejauhan perlahan mendekat. Si tua bangka itu datang lagi, mendatangiku untuk melampiaskan keserakahan birahinya. Qenan, aku kembali menyalahkan nama itu.
"Tuan, tolonglah lepaskan aku. Aku mohon." Aku menghiba, bersujud di kakinya. Namun, tuan Haryu menyeringai. Ia semakin gemas melihat tingkahku.
"Ayolah, Sayang. Kita teguk dulu manisnya madu di malam minggu ini."
Kuseka air mata dan mencoba mengancamnya. Percuma! Dia semakin gila, bahkan ia meraih ponselnya menyuruh Qenan untuk datang segera.
Selang waktu berlalu lima belas menit, Qenan pun datang mengetuk pintu. Ketika pintu terbuka, aku lari menerobos di sela ketiak Qenan yang saat itu ia sedang melambaikan tangan pada tuan Haryu.
__ADS_1
Aku lolos. Sampai di lantai bawah, Yudi dan Hendra menghadangku. Tuan Haryu dan Qenan sengaja berdiri di bibir tangga. Mereka terkekeh melihatku yang terus meronta.
"Masukan dia ke dalam kamar! Aku mau siap-siap dulu," perintah Qenan pada kedua pengawalnya. Sementara pengawal yang lain, masih sibuk bermain catur. Sesekali mereka juga ikut menertawaiku.
Sesuatu hal yang tak pernah terpikirkan di benakku, Qenan dan tuan Haryu masuk ke dalam kamar. Wajah itu yang pernah aku cintai dulu, berubah seperti wajah iblis yang tengah kehausan. Sedangkan tuan Haryu duduk di kursi menghadap ranjang sambil memegang handycam.
Deg!
Jantungku tiba-tiba seakan meledak. Dua pria aneh sedang memainkan perannya sebagai aktor dan sutradara. Perlahan Qenan mendekatiku, lalu dengan beringas ia menciumku, berlanjut pada aksinya sebagai pria pemain film biru.
"Iblis! Terkutuklah kalian ..." Aku berteriak sekuat tenaga saat mereka menggilirku, bahkan aku dipaksa melayani sekaligus.
Setelah puas, mereka langsung meraih handycam yang terletak di meja kecil, kemudian mereka tertawa saat memutar video yang ada dalam handycam tersebut.
Petir menggelegar saling bersahutan, ribuan rintik hujan mulai terdengar menderu di atas genteng. Aku menepi di sudut kamar, sementara dua monster sudah tidur seperti bayi. Mataku kembali berair memandang langit yang sesekali diterangi kilat. Kubiarkan air mataku saling berpacu dengan derasnya hujan.
Kulipat kedua tangan, melingkari kedua kaki karena kedinginan. Berharap malam ini Tuhan mencabut nyawaku. Rasanya sudah tak ada guna untuk bertahan hidup.
Beberapa waktu kemudian, aku membuka mata, terbangun dengan mata yang sembab. Kedua monster itu sudah tak ada lagi di dalam kamar, karena hari ini adalah keberangkatan tuan Haryu ke Jepang.
"Yudi!" Aku memanggil pengawal yang sedang berjaga di depan pintu. Hanya dia satu-satunya menjagaku, karena yang lain mengawal Qenan dan tuan Haryu ke bandara.
"Ada apa?" tanya Yudi sedikit keras.
"Kamu udah lama kan, ikut Qenan?"
"Kamu enggak ada niat menikah, kah?"
"Ngapain kamu nanya-nanya, itu bukan urusanmu," jawabnya.
Sementara di dalam kamar, aku sedang bersiap-siap dandan secantik mungkin dan menggunakan pakaian seksi. Ya, aku berharap bisa lolos dengan trik seperti itu.
Ckleekk!
Ketika pintu terbuka, aku mulai bertingkah seperti kupu-kupu malam, menari, melenggang lenggok bak cacing kepanasan. Yudi mulai terpengaruh, kulihat jakunnya naik turun, dengan sigap aku mendorong tubuh kekar itu ke atas dipan.
"Ayo!" Yudi mendesakku.
"Buka dulu baju kamu," ucapku dengan bernada centil.
Saat Yudi sibuk membuka kancing bajunya, aku langsung lari ke pintu dan menguncinya. Beruntung, pintu depan sedang terbuka lebar. Sekuat tenaga terus berlari, sampai menjauhi rumah megah itu. Tak ada yang bisa kubawa, selain handuk untuk menutupi pakaian seksiku.
"Mampus kau! Palingan kepalamu nanti yang bakalan di 'dor' oleh Qenan," rutukku sambil tersenyum lebar.
Tin! tiiin!
__ADS_1
Suara klakson mobil membuat kaget. Cepat-cepat kutarik handuk untuk menutupi wajah, ternyata itu adalah mobil milik Qenan. Aku lari saat mereka memutar haluan, tiba-tiba, mobil sport berwarna merah datang dari arah berlawanan.
Ciiiiiiit!
Nyaris saja mobil itu menabrakku.
"Maaf, Mbak." Seperti suara yang aku kenal.
Sementara Qenan sudah mendekat, tak kupikirkan lagi suara itu milik siapa. Aku langsung masuk ke dalam mobil.
"Bang, buruan masuk!" teriakku.
Orang itu masuk, lalu menancap gas dengan kecepatan penuh. Serasa melayang, andainya saja sedang berada di atas motor, mungkin aku sudah terjungkal ke belakang.
Mobil kejar-kejaran, saling menyalip, sesekali bunyi rem berdecit. Aku pasrah, walau pun harus mati pada saat itu juga. Putus asa mulai menggerogoti jiwa, aku serasa berada dalam film Fast & Furious, hanya menunggu tertangkap, lalu diseret lagi ke dalam rumah itu.
Kulepaskan handuk yang menutupi kepala, lalu memejamkan mata, sampai orang yang sedang menyetir itu menyebut namaku.
"Rafe?"
"Karel?"
"Ada apa ini, bisa dijelaskan?" tanya Karel menatapku sekilas.
"Fokus dulu menyetirnya, please! Bawa aku yang jauh." Mataku berkaca-kaca, akhirnya aku bertemu dengan orang yang tepat.
"Oke, kita coba menepi dulu di kantor polisi."
"Jangan! Enggak usah, Karel. Dia itu orang yang berbahaya. Bisa saja nanti kita yang ditodong oleh polisi."
Karel merogoh sakunya seperti mencari sesuatu, lalu ia memperlihatkan sebuah lencana.
"Kamu ...."
"Iya, Aku polisi." Karel memotong ucapanku.
"Bukannya kamu pengusaha?"
"Yup. Enggak ada salahnya seorang polisi jadi pengusaha, kan?"
"Emh, iya," jawabku singkat.
"Sepertinya orang itu tidak mengejar kita lagi."
"Syukurlah," ucapku sambil menghela napas lega.
__ADS_1
Di halaman rumah yang tak kalah mewah dengan milik Qenan, Karel mematikan mesin mobil. Beberapa asisten rumah tangga datang menyusul. Mereka sangat ramah dan menyambutku dengan baik.