Susuk Mustika Ular

Susuk Mustika Ular
Pemasangan Susuk


__ADS_3

Dreet! drett!


Gawaiku bergetar beberapa kali, kuperiksa notifikasinya ternyata pesan WhatsApp dari Yosi.


[Rafe, kamu sudah tidur?]


[Mau tidur, ada apa?] balasku balik bertanya.


[Aku cuma mau mengingatkan, kamu kan anak baru, ya. Jadi jangan coba-coba menggodanya, apa lagi berpikir bisa memiliki dia. Paham kamu?]


[Ciyeee ... kamu iri, ya? Secara pak Qenan langsung menghampiriku tadi siang] balasku dan tidak lupa melampirkan emoticon tertawa dan mengejek.


[Bedebah!] balas Yosi mengakhiri percakapan melalui whatsApp.


Aku terbahak memikirkan tingkah si Yosi yang begitu takut kehilangan lelaki pujaannya itu. Kuakui ia memang cantik, tetapi selera makannya sangat tinggi, hingga membuat bodinya tidak seseksi diriku. Wajar saja Qenan tidak melirik dirinya. Walaupun begitu, aku masih pesimis kalau hanya mengejar cintanya dengan tangan kosong.


Kembali kubayangkan tentang rencana yang sudah tersusun dengan matang. Berhasil atau tidaknya, usaha dulu tidak akan ada salahnya. Aku cantik, jika pun nanti Qenan tak bisa dimiliki, masih ada pria-pria kaya yang bisa diburu, demi kenyamanan dalam hidup, menjadi istri kedua pun aku jabani.


***


Minggu pagi aku berangkat menuju rumah Mbah Sugiono, dengan menaiki bus, naik ojek, dan menempuh jalanan setapak. Aku mengira akan gampang mencapai tujuan, ternyata setelah jalan kecil dan sempit ini dilalui, aku harus merangkak naik menuju rumah Mbah Sugiono yang terletak di atas perbukitan.


"Sial! Aku kira jalannya nggak seribet ini, mana pakai high heel lagi," gerutuku sambil membuka sendal, kemudian berjalan tanpa alas kaki.


Duri-duri kecil mulai menjamah telapak kakiku, sedikit demi sedikit darah mengalir, tidak terlalu banyak, hanya sebesar gigitan nyamuk. Namun, rasa perih tetap terasa.


Dari kejauhan aku sudah melihat sebuah gubuk yang beratapkan daun rumbia. Hanya itulah rumah satu-satunya yang terdapat di atas bukit ini. Saat kumelangkah mendekati, dari balik pepohonan aku mendengarkan suara seperti berbisik.


"Jangan lakukan hal sekonyol itu, nanti kamu akan menyesal." Aku mengabaikan suara itu, kemudian terus berjalan mendekati rumah Mbah Sugiono.


Tiba-tiba sesosok makhluk tanpa wajah menghalangi perjalanan, dengan mengaku kalau ia adalah ibuku. Keringat dingin mulai merembes dari setiap pori-pori, detak jantung kian tak beraturan, aku nyaris pingsan di tempat itu. Namun, Mbah Sugiono entah dari mana datangnya, sudah berdiri tepat di sampingku.


"Astagfirullah!" seruku, karena aku lebih kaget melihat Mbah Sugiono yang datang tiba-tiba. Rambutnya gondrong, berkumis tebal, gigi bagian depannya berwarna hitam, dan satu matanya ditutup pakai kain, persis seperti bajak laut.


"Jangan menunda waktu," bisik Mbah Sugiono. Tanpa bertanya apa-apa walau sebenarnya agak heran, aku langsung mengikuti Mbah Sugiono menuju rumahnya yang terkesan angker dan sedikit kumuh.

__ADS_1


"Emh, begini, Mbah. Aku ....”


"Iya, aku sudah tahu apa tujuan kau datang kemari," Mbah Sugiono memotong ucapanku, sambil terkekeh memutar-mutar kumisnya.


Dalam hati mulai mengagumi kehebatan Mbah Sugiono. Belum tuntas kumengutarakan maksud, ia sudah terlebih dahulu menjawab semua keluhan yang mengganjal dalam hati.


"Syaratnya apa, Mbah?" tanyaku setelah diam beberapa saat.


"Syaratnya gampang, kok. Kamu harus datang ke sini setiap bulan purnama muncul," jawab Mbah Sugiono datar.


"Itu saja, Mbah?"


"Hehehe ... belum ... belum, itu baru syarat yang pertama. Saat kau datang pada purnama penuh, kau harus membawa sepasang ayam cemani untuk makan malam Raden Naga Purwa," terang Mbah Sugiono yang sudah mulai bersiap-siap membakar kemenyan.


"Ada lagi, Mbah?" tanyaku sedikit mendesak.


"Ooo ... ada dong, aku harap kau tidak menolak syarat yang terakhir, karena ini adalah satu-satunya mendapatkan mustika Raden Naga Purwa," terang Mbah Sugiono lagi.


"Berarti sekarang aku belum bisa memasang susuk itu, Mbah?" Lagi-lagi aku bertanya untuk meyakinkan, persyaratan apa yang akan kutemui setelah ini.


"Baik, Mbah. Aku paham. Ada lagi, Mbah?" tanyaku sambil tersenyum simpul, karena merasa senang dengan syarat yang begitu mudah pikirku.


"Hehehe ... jangan senang dulu, Cantik!" seru Mbah Sugiono sedikit lantang dan ia menatapku tajam.


Tiba-tiba perasaanku berubah menjadi tak enak. Detak jantung mulai tak beraturan. Suara berisik di balik tirai berwarna hitam, membuatku bergidik.


"Tidak usah takut, syarat yang terakhir ini tidak perlu kau lakukan sekarang," tukas Mbah Sugiono meyakinkanku.


"Iya, syaratnya apa, Mbah?"


"Sabar, kau tidak usah emosi seperti itu,"


"Iya, Mbah," ucapku berusaha menenangkan diri dari rasa takut bercampur dongkol.


"Setiap bulan purnama penuh, kau harus melayani Raden, seperti tugas seorang istri pada suaminya."

__ADS_1


Deg!


Mendengar penuturan dari Mbah Sugiono, aku langsung lemas, dilema tiba-tiba merasuki jiwaku. Pikiran menjadi kacau, tak tahu harus mengeluarkan kata-kata apa lagi.


"Kalau kau tidak sanggup melakukan itu, lebih baik katakan dari sekarang. Jika susuk yang pertama sudah terpasang, kau tidak bisa lari lagi dari perjanjian yang sudah terpatri," ujar Mbah Sugiono membuyarkan lamunanku.


Aku kembali terdiam, otak dan hatiku mulai berdiskusi. Jawaban terakhir yang keluar dari mulutku adalah "Iya"


Aku menyetujui perjanjian tersebut, rasa cinta dan ingin hidup dalam gelimangan harta membuat diri ini buta, aku tak berpikir lagi risiko apa yang akan kuhadapi di masa depan.


Sambil berkomat-kamit mulut Mbah Sugiono membaca mantra, mataku liar memandang ke segala arah. Angin mulai bertiup dengan kencang, suara gesekan dari batang bambu menimbulkan irama yang tidak beraturan. Tiba-tiba suara petir menggelagar di angkasa, menambah kesan mistis yang terjadi pada petang ini. Mungkin Tuhan sedang menegur alam dan seisinya.


Duaar! Duaar!


Sontak aku terhambur ke sisi kanan, karena merasa kaget yang luar biasa.


"Sudah, silakan mendekat ke mari," ucap Mbah Sugiono, ia mengulurkan sebuah batu yang berukuran kecil berwarna ungu.


Aku pun beringsut seperti orang yang berjalan menggunakan kedua lutut. Kemudian sedikit menundukkan kepala setelah mendapat aba-aba dari Mbah Sugiono.


"Siapa targetmu?" Mbah Sugiono menatap wajahku.


"Qenan, Mbah," ucapku pelan.


"Siapa?" Mbah Sugiono mengulangi pertanyaan, mungkin ia tidak mendengar nama Qenan dengan jelas.


"Qenan."


"Oh, pengusaha muda itu, ya?" tanya Mbah Sugiono menebak.


"Benar sekali, Mbah," jawabku sedikit malu-malu.


"Kamu enggak usah sungkan, banyak orang yang datang ke sini, kok. Ada istri muda yang menginginkan istri tua tersingkir, ada para pedagang yang meminta pelaris, pokoknya macam-macamlah. Bukan kamu aja yang datang." Mbah Sugiono kembali tertawa, bau mulutnya menguar di udara, sehingga membuatku sedikit mual.


Aku tersenyum sejenak, pikiran kotor mulai terbahak dalam otak. Sedikit merinding membayangkan bulu-bulu halus di dada Qenan yang sebentar lagi bisa kusentuh.

__ADS_1


__ADS_2