
Pagi kembali datang, perputaran waktu terasa cepat. Ini adalah hari ke enam puluh satu berada di rumah sakit. Banyak kejadian yang mewarnai hidupku. Namun, bukan warna pelangi yang indah, tetapi warna dari kesedihan, keanehan, dan ketakutan.
Niat hati ingin jalan-jalan di taman rumah sakit, kucoba membangunkan Clara agar bisa menjaga Karel sebentar saja. Akan tetapi apa yang terjadi, orang yang akan dijaga itu tak ada di tempat tidurnya.
"Clara! Bangun!" seruku panik.
"Duh, ada apa, sih, Kak?"
"Karel mana, dia enggak ada, Clar!" Aku kembali berseru, perasaan mulai tak enak.
Dokter dan beberapa kru rumah sakit langsung datang berbondong-bondong, setelah Clara memencet tombol mikrokontroller.
"Ke mana Karel, Dok?" tanyaku sambil sesegukan.
Berita menggemparkan ini membuat orang-orang di rumah sakit ikut membantu mencari keberadaan kekasihku. Tak berapa lama, polisi beserta teman-teman Karel pun turut serta.
"Sabar, kak. Oppa pasti ketemu, kok. Kakak yang tenang, ya," ucap Clara.
"Gimana aku bisa tenang? Tak ada tanda-tanda ia akan bangun, dan ... dan ... tiba-tiba mengh ...."
"Iya kak, iya aku paham." Clara memotong ucapanku dan langsung merangkulku ke pelakunya.
Aku semakin tergugu ketika orang-orang yang mencarinya kembali berkumpul di ruangan ini. Mereka hanya menggeleng saat aku menanyakan.
"Selamat siang, kak.
Perkenalkan--Aryo--Kombes setempat yang sudah lama bekerja sama dengan Mas Karel." Pria itu mengulurkan tangannya, lalu aku menyambut dan mencoba untuk tersenyum.
"Rafe," ucapku kemudian.
"Sebaiknya untuk sementara, Kak Rafe dan Clara tinggal di rumah dulu, biar lebih aman selama pencarian Mas Karel," ucap Aryo menyarankan.
"Tapi ...."
"Serahkan semuanya pada kami," sambut Aryo memotong ucapan Clara.
__ADS_1
"Oke, Mas. Kalau begitu, aku ajak Kak Rafe pulang dulu." Clara menggenggam telapak tanganku dan membawaku keluar dari ruangan yang sudah kuhuni dalam dua bulan lebih ini.
Sedih tak tertahankan, hati terasa remuk redam, air mata kembali bercucuran, tak menghiraukan lagi orang-orang yang menatapku iba.
Wangi bunga lavender tercium olehku dari rumah sakit sampai Clara memarkirkan mobil di garasi. Aku tahu kalau makhluk yang tak diketahui jenisnya itu, mengikuti sampai ke rumah ini.
"Aku tahu kamu di sini. Mau ngapain? Apakah sampai aku mandi dan berganti pakaian akan tetap kamu ikuti?" tanyaku sambil membuka mata lebar-lebar dan melihat ke segala arah.
Suara tawa kecil dan bunyi kepakkan sayap terdengar mengibas-ngibas di udara.
"Kamu tahu aja," ucapnya setelah menampakkan diri.
"Aku sedang tak mau bercanda, silahkan datang dilain waktu," ucapku sedikit ketus.
"Wih, cintaku lagi marah ceritanya ini," ucapnya mencoba berseloroh.
"Kamu kelihatan senang banget, apa kamu yang mencuri Karel dari rumah sakit?" tuduhku tanpa basa-basi.
"Untuk apa aku mencuri kekasihmu itu? Walau pun ia masih hidup, aku tetap menjadi jodohmu, bukan dia," ujar makhluk itu berhasil membuatku kembali terperangah.
"Sudahlah, aku enggak mau membahas itu. Hidupku sudah benar-benar hancur dan aneh. Bercinta dengan siluman ular, setelah diselamatkan Karel, takdir buruk pun kembali datang dalam hidupku. Kamu! Kamu salah satunya yang membuat stres!" Suaraku mendadak tinggi karena amarah tiba-tiba tak terkendali.
"Berheti! Kamu jangan pernah mendekat, apalagi sampai menyentuhku."
"Rafe? Jangan begini, aku menci ...."
"Stop! Aku bilang jangan mendekat, jangan bicara lagi padaku, jangan kau sebut cinta."
Kuhela napas berat, lalu menghempaskan dengan kasar. "Tahu apa kamu tentang cinta? Aku ini manusia, sedangkan kamu apa, hah?" tanyaku lagi menambahkan.
"Oke!" jawabnya singkat.
Wusssss!
Sekejap mata, ia sudah berdiri di depanku. Kini jaraknya tak sampai lima senti meter. Dan ... sebuah kecupan hangat mendarat di kening ini. Seperti sebelumnya, aku hanya diam tanpa melawan, menikmati.
__ADS_1
***
"Kamu jangan marah-marah lagi, ya. Tenangkan dirimu," ucapnya sambil membelai rambutku.
Aku hanya mengangguk tanda setuju. Hati yang tadi gundah gulana, terasa mereda. Seperti terhipnotis, semuanya menjadi kembali normal. Dia tak ada lagi di ruangan ini, entah kapan menghilang meninggalkan diriku dengan posisi tangan masih terangkat.
Langit mulai gelap, bintang dan bulan pun ikut membingkai tanpa senyum di bibir ini. Angin di luar terdengar kencang menderu, yang membuat mataku susah terpejam. Iya, aku kembali teringat pada Karel yang kini entah berada di mana.
Setiap kali ingin memejamkan mata, suara berisik yang ditimbulkan angin, membuatku kembali membuka mata lebar-lebar, lalu beberapa saat kemudian, terdengar suara bisikan memanggil namaku. Kucoba mengabaikan, lalu kembali memejamkan mata dan akhirnya terlelap sampai pagi.
Ada kekuatan seiring harapan yang pernah terlupakan. Keraguanku tentang kemampuan untuk melupakan sebuah tragedi yang pernah menimpa, kini sirna sudah karena berganti dengan kesedihan atas kepergian Karel yang menghilang tiba-tiba.
Memang kuakui, tak selamanya perjalanan hidup ini akan berjalan mulus seperti yang kita inginkan. Noda hitam yang pernah menempel di kehidupan ini, tak henti-hentinya menimbulkan masalah sampai kini.
Membangun rumah tangga dengan orang yang kucintai, semakin tersendat dan membuat harapan menipis dengan adanya makhluk yang belum kuketahui namanya.
Kini hidup menumpang di rumah orang yang belum resmi menjadi pasanganku, menimbulkan cibiran dan pikiran miring dari orang-orang sekitar. Kabar kehilangan Karel pun tak menjamin aku akan baik-baik di sini, ada yang mengira aku adalah dalang dari semua ini, karena mengincar harta. Sakit ketika dituduh macam-macam, mereka mengira aku segila dan sehina itu.
"Selamat pagi, Neng," sapa seseorang dari belakang, aku kaget, seketika itu lamunan buyar. Mau tak mau, aku langsung beranjak dari kenangan yang pernah tercipta sebelum saat ini.
"Qenan?" Aku terperanjat dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Bagaimana bisa dia dengan gampang masuk ke halaman rumah orang yang berusaha ia lenyapkan?
"Lagi apa, Sayang?" tanya Qenan yang membuatku ingin muntah pada saat itu juga.
"Qenan! Kamu jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Kamu memang tak punya perasaan, dan ... dan ...."
"Dan apa, sayang?" tanyanya memotong ucapanku.
"Pergi kamu, pergi!!" bentakku, lalu segera berlari masuk ke dalam rumah.
Qenan memutar arah dan berjalan meninggalkan halaman rumah Karel. Aku terus mengintipnya dari balik kerai jendela untuk memastikan apakah dia benar-benar pergi.
Memang membingungkan. Sampai sekarang aku berpikir, untuk apalagi dia mencariku, sedangkan di depan matanya dan juga berbarengan pria lain menjamah tubuh ini.
***
__ADS_1
Siang hari terasa dingin, aroma tanah basah masih menyeruak karena tersiram air yang jatuh dari langit. Kutatap cakrawala yang kian gelap, sepertinya hujan akan tetap menemani siang ini.
Kembaliku termenung di sudut kamar, terbayang lagi tiga laki-laki yang hadir dalam hidup ini. Satu terlepas, satu lagi menghilang, dan makhluk astral entah itu jin atau alien, aku tak tahu. Yang jelas ia sanggup meredakan kesedihan sesaat dalam hati ini.