
Memang tak tahu diuntung, dan gampang mendua. Hati ini benar-benar seakan terbagi. Walau dua pria itu berbeda dunia, tetapi aku tak bisa membohongi hati sendiri, kalau rasa nyaman ada ketika Bintang berada di sisi ini.
"Ya Tuhan!" Ingin rasanya mencungkil hati ini, lalu mencucinya di sungai Amazon. Tetapi itu adalah hal yang mustahil, aku pasti akan mati kalau sempat melakukannya.
Tiga hari telah berlalu, aku sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Akibat sering telat makan, asam lambung jadi kumat. Itulah penyebabnya aku sering merasakan pusing tiba-tiba, dan juga mual.
"Ayo kita pulang, Kak Rafe!" Clara memapahku ke dalam mobil.
Di perjalanan kembali teringat pada sosok Bintang yang belum terlihat sampai sekarang. Dalam hati dan otakku dipenuhi tanda tanya, mungkinkah masanya sudah habis untuk mengunjungiku ke dunia?
"Ah! Tiba-tiba aku kembali merinduinya," ucapku mencelos dalam hati.
"Kak, kita mampir dulu ke mini market, ya?" tanya Clara yang membuatku terkesiap.
"E-eh, iya, Clar."
"Lho, kakak kenapa, sih? Melamun lagi?" tanyanya lagi, sambil tersenyum melihat ke arahku.
"Iya, nih. Aku pengin istirahat rasanya, Clar. Kamu belanja aja sendiri, ya."
"Iya, Kak. Kakak tunggu di dalam mobil aja," ucap Clara menepikan mobil setelah sampai di mini market.
***
Kicauan burung pagi membuatku terjaga. Rasa letih yang dialami tubuh akhir-akhir ini, membuatku enggan beranjak dari pembaringan. Tetapi kupaksakan untuk bangkit, dan mencoba berolah raga, lari-lari kecil di sekeliling kompleks.
"Rafe!" tegur seseorang. Aku langsung memutar posisi dan mencari sumber suara tersebut.
Suara itu sangat tidak asing. Ya! Si pria yang sudah membantuku untuk menghancurkan hidup sendiri, siapa lagi kalau bukan Qenan.
Aku kembali berusaha memalingkan wajah, pura-pura tak melihat, sambil berlari menjauhi pria itu.
Hati ini sudah terlanjur sakit. Walau sesering apa pun ia mengatakan cinta mati, aku tak peduli lagi. Ingin rasanya meremas dan menampar mulutnya. Membantai ia dengan sadis, agar tak jelas lagi rupanya. Bahkan kini lidahku sudah terlalu jijik menyebut namanya dalam hati.
Aku benci sampai ke akar-akarnya, semua tentang dia, apa yang pernah dia beri, aku benci!
"Rafe!" Lagi-lagi ia berteriak memanggilku.
Kupercepat langkah, tanpa menoleh ia yang terus meneriakkan namaku. Akhirnya sampai juga di rumah, dan kupastikan ia tak lagi mengikuti. Karena beberapa polisi sedang berdiri di depan gerbang, mengobrol dengan Clara.
"Kak!" Clara berseru, lalu memberi kode kalau pencarian sampai saat ini tak menemukan apa-apa. Jelas saja, karena yang menyembunyikan Karel bukanlah manusia, melainkan siluman sialan itu. Apakah aku harus menyerahkan diri agar kekasihku tetap hidup?
__ADS_1
Akan tetapi hati ini kembali ragu, teringat pesan--Bintang--kalau aku tidak boleh gegabah mengambil keputusan.
"Clar, aku masuk dulu ke dalam, ya," ujarku berpamitan.
"Oke, Kakak," sahutnya, kemudian ia melanjutkan obrolan dengan Aryo.
Setiba di kamar, aku bergegas masuk dan berendam di dalam bathtub yang sudah disediakan rempah-rempah oleh bik Rohaya. Selain minum obat dari anjuran dokter, aku juga menuruti apa-apa saja yang disuruh oleh asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumah ini. Ya, aku memang sudah merasa dekat dengan mereka, walau mereka selalu menganggapku nyonya di rumah ini.
Wusssh!
Sekelebat cahaya biru mengitari kamar mandi. Aroma rempah-rempah tadi berganti menjadi harumnya bunga lavender.
"Bintang? Itu pasti kamu, kan?" Aku langsung menyambar handuk yang tergantung di samping buthtub.
"Kamu tahu aja," jawabnya, kemudian menampakkan diri.
"Ya, ampun! Kamu itu nggak sopan banget, ya. Aku lagi mandi, lho," celetukku sambil melotot ke aranya.
"Ge-er! Kalau aku mau, bisa kok, mengintip kamu tanpa diketahui."
"Jangan membuat alibi!" seruku sambil membulatkan telapak tangan.
"Wow! Jangan marah, dong. Kamu mau, baumu tercium oleh siluman ular itu?" tanyanya menakut-nakuti.
***
"Oke, bahas tentang hubungan kita aja, ya?" selorohnya kemudian.
"Aku mau tahu tentang kabar Karel. Bisakah bawa ke sana lagi?" tanyaku.
Bintang menggeleng, karena kehadiran kami waktu itu, membuat keadaan Karel bertambah sulit. Bukan mbah Sugiono namanya, jika tidak mengetahui keberadaan kami. Hanya saja ilmu yang dimiliki oleh Bintang lebih tinggi dibandingkan siluman ular dan si dukun sakti yang tidak mati-mati juga. Tetapi sayangnya--Bintang--dalam keadaan tidak boleh bertarung.
"Oke, aku pamit dulu, ya. Untuk kelanjutannya, tunggu aku pulih dulu." Bintang menghilang sekejap mata. Hanya bau harum yang tertinggal di ruangan ini.
***
"Rafe, bangun!" Suara yang tak asing terdengar di gendang telingaku.
Kubuka mata perlahan, samar-samar ada wajah Karel di sana. Tak yakin juga itu Karel atau bintang? Yang jelas, kini kuterbaring di ruangan yang dikelilingi beberapa orang dokter.
"Rafe, kamu bisa mendengarkan aku?" Lagi-lagi suara itu kembali terdengar.
__ADS_1
Semampuku dan sekuat tenaga mencoba membuka mata lebar-lebar, berhasil! Benar saja, sekarang aku sedang berada di rumah sakit, yang tak disadari entah kapan dan sebab apa berada di sini.
"Syukurlah ..." Serentak orang-orang yang berada di ruangan ini berucap.
"Karel?" Aku benar-benar tersentak dari pembaringan.
Karel mendekat langsung memelukku, sedangkan aku hanya tercengang dengan keadaan ini. Pertanyaan demi pertanyaan menghujam di kepala.
"Ada apa ini?" tanyaku tak percaya.
"Lho, apakah kamu tak ingat apa-apa?" jawab Karel balik bertanya.
"Ingat apa? Bukankah kamu hilang saat mengalami koma? Dan ... dan kamu yang terbaring di sini?"
"Sayang, kamu istirahat lagi, ya. Mungkin kamu masih lelah karena baru siuman," saran Karel yang membuatku semakin sangat-sangat bingung.
"Jawab dulu!" bentakku tanpa ragu.
"Baiklah. Kamu masih ingat saat beberapa bulan yang lalu, yang di mana saat itu aku melamarmu di tepi pantai?" Aku mengangguk.
"Lalu, kamu tertembak, kan?" tanyaku kemudian.
"Bukan aku tapi kamu yang tertembak, Sayang," jawab Karel.
"Enggak mungkin!"
"Nyatanya?"
"Aku masih ingat kalau kamu yang tertembak. Lalu, aku membawamu ke sini. Clara mana? Clara manaaa?!"
"Clara siapa?" tanya Karel. Keningnya mengernyit seolah kebingungan dengan pertanyaanku.
Suasana di ruangan ini seketika menjadi sunyi. Orang-orang saling bergantian menatap sembari mengangkat kedua bahu mereka.
Iya! Ternyata selama beberapa bulan belakangan ini, aku hidup dalam dunia ilusi yang jika diungkapkan pada dunia, mereka-mereka justru akan mengatakan kalau aku sudah gila setelah terbangun dari koma berbulan-bulan.
***
Dua bulan kemudian, Karel kembali melamarku. Kami menyelenggarakan resepsi pernikahan di sebuah hotel bintang lima. Menjadi ratu dan raja semalam, membuatku melupakan sejenak tentang mimpi buruk yang nyata kualami. Biarlah kisah itu terkubur dalam, seiring berjalannya waktu, semua akan menjadi kembali normal.
Qenan terciduk karena melakukan hubungan kerja sama ilegal dan positif pengguna narkoba, sedangkan Mbah Sugiono mati dibunuh oleh siluman ular. Menurut cerita yang beredar, si dukun tak mampu lagi mencari target untuk dipersembahkan.
__ADS_1
Kini aku dan Karel hidup berbahagia, dikarunia dua orang bayi kembar, yang kami beri nama Clara dan Starla. Sebab, Clara dan Starla adalah sebuah wujud yang susah diungkapkan, yang jelas nama-nama itu menjadi penyelamatku disaat tersesat di alam antah berantah.
Note: Untuk bab 1-22 masih versi asli menggunakan POV 1, season selanjutnya saya akan menggunakan POV 3. Jadi, mohon maaf jika ada reader tersayang merasa heran nantinya. Terima kasih.