
Terdiamku saat mendengar perkataan Qenan, seperti mengandung sesuatu. Sesuatu yang akan merugikan diriku.
"Bik Jum, bereskan meja makan. Nanti sisa makanan yang belum tersentuh, simpan aja di dapur. Oh iya, Bibik kalau belum makan, makan aja dulu," tawarku pada Bik Jum setelah jamuan selesai.
Kamar Tuan Haryu bersebelahan denganku, padahal kamar tamu sudah disediakan di lantai bawah. Malah lebih mewah isi beserta perabotan yang lain dibandingkan dengan kamar yang terdapat di sebelahku.
"Eh, hari ini aku, kan, mau ke rumah Mbah Sugiono. Sampai lupa, huh."
Aku berpamitan pada Qenan, dengan alasan pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan Tuan Haryu.
Berharap mendapat jawaban dari Mbah Sugiono tentang misteri Bik Imah yang selalu menghantuiku, yang membuat hari-hari dicekam ketakutan dan membuat hidup tak nyaman.
"Semoga ada solusinya," bisikku penuh harap.
Perjalanan kali ini lumayan lancar, tak sampai satu jam, aku sudah berada di atas bukit sebelum rumah Mbah Sugiono.
"Mbah ... Mbah Sugiono!" teriakku dengan napas yang tersengal-sengal.
"Mau apa lagi kau ke sini?" Tiba-tiba suara Mbah Sugiono mengagetkanku dari arah yang berlawanan.
"Aku mau konsultasi, Mbah."
"Tentang apa?"
"Aku enggak disuruh masuk dulu, nih?"
"Kamu ke sini dengan siapa?"
"Maksud, Mbah?" tanyaku mengernyitkan dahi.
"Masuk!"
Kuikuti Mbah Sugiono dari belakang, sesampai dalam rumah, langsung menceritakan kejadian-kejadian yang telah menimpaku. Sesekali ia mangut-mangut, pertanda paham dengan permasalahan yang tengah kuhadapi.
"Kenapa aku saja yang dihantui?"
"Seperti ada yang janggal, karena seingatku, roh Bik Imah sudah disempurnakan oleh Nyai Keling," terang Mbah Sugiono membuatku tak mengerti.
Hening. Mbah Sugiono terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku pun begitu, menunggunya membuka suara lagi.
Pok! pok! pok!
Suara tepuk tangan dari teras, membuatku dan Mbah Sugiono serentak menoleh.
"Akhirnya aku menemukanmu, Mbah!" seru pemuda yang memakai jaket kulit dan kaca mata hitam.
"Siapa kau? Berani-beraninya kau meninggikan suara kepadaku." Suara Mbah Sugiono tak kalah garang, sambil membusungkan dada, ia menunjuk pria itu dengan telunjuk kiri.
__ADS_1
Aku berjalan mengikuti, lalu mengintip dari balik punggung Mbah Sugiono. Lalu, si pria berjaket hitam membuka kaca matanya.
"Karel?" Aku terkesiap.
"Kau kenal? Tanya Mbah Sugiono membelalakkan matanya ke arahku.
"Aku pernah bertemu dengannya dua kali," ucapku sambil melirik Karel.
"Tidak perlu menanyai wanita itu, karena dia tidak tahu apa-apa!" Karel membentak lagi, sehingga mbah Sugiono semakin murka.
"Lancang kau anak muda! Pergilah, sebelum nyawamu terbuang sia-sia."
Karel malah tertawa mendengar ucapan Mbah Sugiono. Berkali-kali aku mengedipkan mata ke arahnya. Namun, ia tetap tak menghiraukan. Aku takut kalau si dukun membunuh Karel seperti ia membunuh Bik Imah.
Benar saja, Mbah Sugiono mulai membaca mantra, mirip seperti mantra pemanggilan siluman ular. Aku mulai menggigil ketakutan, keringat dingin mengucur deras. Tak mungkin aku menyaksikan kematian manusia untuk yang kedua kalinya.
"Sudah, Mbah. Jangan terlalu ditanggapi. Mungkin Karel hanya iseng." Sambil memegang bahu Mbah Sugiono, aku memohon.
"Aku tidak bercanda, Rafe. Menyingkirlah dari sana!"
"Tapi ...."
Sssssss!
Kalimatku terpotong, suara desisan ular begitu keras. Tanah yang kupijak bergetar, Ya Tuhan!
Kuedar pandangan mencari tempat persembunyian, karena saat siluman ular itu melewatiku, dia sempat melirik dengan tatapan mata yang mengerikan.
Karel mulai menengadahkan kedua telapak tangannya, sambil berkomat kamit, lalu ia berteriak, "Allahu Akbar!"
Bongkahan cahaya berwarna putih keluar dari telapak tangannya. Sontak mataku terbelalak, yang awalnya mengira kalau Karel membaca mantra seperti yang dilakukan Mbah Sugiono. Ternyata hal yang dilakukan oleh Karel berpengaruh juga terhadapku.
Badan panas, tetapi hawa dingin terasa di setiap persendian dan tulang-tulangku. Seiring kematian siluman ular itu, aku mengeluarkan batu kecil dari dalam mulut, kemudian diikuti muntah darah. Batu itu pun terlempar ke udara, lalu meledak.
"Rafe! Bangun, Rafe." Samar-samar aku mendengar suara Karel. Lalu kubuka mata perlahan, ternyata langit sudah gelap.
"Ayo, kita turun. Semua sudah usai." Karel memapahku sampai turun dari bukit.
"Kamu masih kuat?" tanya Karel melirik ke arahku. Sementara aku masih menopang pada bahunya.
"Kita berhenti dulu, kakiku terasa lemas." Karel langsung menggendongku menuju jalan utama. Sesekali ia menatap wajahku.
"Ah! Jangan begitu, Karel. Aku tidak mau memalingkan hati dari Qenan," batinku.
Sesampainya di jalan utama, ternyata mobil milik Karel sudah terparkir. Aku kembali melirik ke arah jalan setapak.
"Sudah, semuanya sudah usai. Jangan berpikir lagi untuk melangkah ke sana, apalagi menggunakan jasa dukun yang akan membuat hidupmu tambah menderita." Aku hanya diam menunduk.
__ADS_1
"Ayo masuk," ucap Karel sambil membuka pintu mobil.
"Iya," sahutku pelan.
Di pertengahan jalan terdengar suara azan berkumandang. Karel memberhentikan mobilnya, lalu mengajakku ke mesjid. Namun, aku menolaknya dengan alasan-alasan yang membuat Karel mengerutkan dahi.
"Ya, sudah. Kamu tunggu di dalam mobil aja. Ingat, jangan ke mana-mana. Oke?"
"Oke," sahutku sambil menyunggingkan senyuman dari wajah yang lelah.
Aku enggak tahu harus memberikan alasan apa pada Qenan, saat sampai di rumah nanti. Notifikasi panggilan tak terjawab berjejer di layar ponselku.
"Duh! Qenan pasti marah," gumamku.
Kuedarkan pandangan ke sekitar mesjid. Masih sepi. Lalu menatap jalanan yang dilewati beberapa pasangan, entah itu pasangan suami istri, entah itu pacaran, yang jelas aku sudah lupa kapan Qenan mengajak jalan bersama. Sudah beberapa bulan hanya keluar sendirian, dan selama itu jugalah mendekam dalam rumah mewah milik Qenan yang katanya untukku.
"Hey! Melamun lagi, nanti kesambet lho," seloroh Karel mengagetkanku.
"Kita mampir ke minimarket dulu, ya. Aku mau beli camilan buat di rumah."
"Asyiaaap ..." kata Karel. Lalu mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang.
"Kamu kok, bisa tahu kalau aku berada di rumah Mbah Sugiono?" tanyaku membuka pembicaraan setelah dari minimarket.
"Aku mengikutimu. Mau tahu semuanya?"
"Iya."
"Papaku tewas gara-gara Mbah Sugiono."
"Apa?" Aku langsung mengangkat setengah badan dari tempat duduk, karena kaget.
"Enam tahun yang lalu ada seorang wanita yang menggunakan jasa si dukun itu, ia memikat papaku dengan cara-cara yang haram. Setelah Papa menikahi si perempuan, harta kami dikuras, lalu Papa kena serangan jantung, parahnya lagi, perempuan itu membiarkan Papa tergeletak tanpa membawa ke rumah sakit." Karel memukul setir mobil, matanya kulihat berair.
"Maaf, jika membuatmu mengingat masa lalu. Sudah cukup, jangan dilanjutkan."
"Tidak! Aku mau kamu tahu semuanya."
"Emh, ya, udah. Kita berhenti di sana aja. Aku takut kenapa-kenapa saat kamu nyetir mobil," tawarku sambil menunjuk bangku taman yang terletak di tepi jalan raya.
"Sebenarnya apa yang kamu ceritakan tentang teror hantu Bik Imah pada Mbah Sugiono, itu tidak nyata. Semua itu adalah caraku untuk menemukan kediaman si dukun sialan," terang Karel.
Kulihat tatapan matanya tajam dan tangannya mengepal.
Aku hanya diam tak mengerti, kenapa dia memanfaatkan aku?
"Kamu jangan merasa dimanfaatkan, tapi percayalah, hanya itu jalan satu-satunya untuk menemukan dia."
__ADS_1